Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
39. Bisakah Saya Menceritakan Sesuatu?


__ADS_3

"Masih mau lanjut baku hantam?" tanya Nyssa menyindir suaminya. Untungnya kafe sedang tidak banyak pengunjung, jadi Nyssa bisa sedikit tenang tidak ada mata yang memperhatikan.


Azmy hanya diam acuh, Edward mengutarakan ketidakadilan yang di terimanya. Nyssa memahami perasaan Edward, karena bagaimanapun suaminya yang bersalah telah memukul wajah orang.


Mungkin, ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah. Selain untuk meluruskan kesalahpahaman mereka, sekalian dengan masalah Alexsa. Bismillah.. Nyssa ingin mencoba, apapun hasilnya serahkan semuanya kepada Allah yang Maha membolak-balikkan hati.


"Pertama, saya Nyssa dan sudah menikah. Ini suami saya Azmy Al Fatah. Kedua, saya minta maaf atas sikap suami saya yang memukul anda tanpa sebab." Azmy segera memotong kata-kata Nyssa.


"Bukan tanpa sebab!" Azmy tidak Terima Nyssa meminta maaf.


Edward yang mendengar penjelasan Nyssa, merasakan patah hati. Baru saja menemukan cinta pada pandangan pertama, tapi harus pupus sebelum diungkapkan.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, saya jatuh hati pada pandangan pertama. Sehingga saya tidak memperhatikan hubungan kalian."


"Playboy jatuh hati? Siapa yang percaya!" ketus Azmy, Nyssa menggelengkan kepala atas sikap suaminya.


"Sedari tadi, saya merasa kalian berdua mengenal saya. Apakah kita pernah bertemu? Atau saya ada masalah dengan kalian?" tanya Edward penasaran dengan sikap Azmy dan Nyssa yang mengetahui dirinya seorang playboy. Meski bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, tetapi julukan tersebut membuatnya terkenal dan ia menikmatinya.


"Bolehkah saya menceritakan sesuatu?" tanya Nyssa yang diangguki oleh Edward. Azmy memegang tangan Nyssa ingin mencegah, namun istri kecilnya membalas dengan menggenggam tangan suaminya menandakan tidak apa-apa.


"Mohon maaf sebelumnya,, sebenarnya ini bukan hak saya menyampaikan. Akan tetapi, jika tidak saya ungkapkan, saya akan merasa bersalah karena menutupi kebenaran." Nyssa menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan. "Semoga keputusan ini membawa kebaikan.. Aamiin." doa Nyssa dalam hati.


"Ada seorang perempuan yang sedang berpesta merayakan ulang tahun temannya. Perempuan tersebut mabuk, tidak dapat mengingat apapun. Saat sadar, kesuciannya sudah terenggut oleh orang tak dikenal. Karena malu, perempuan tersebut kembali ke kampung halamannya dalam keadaan mengandung." sampai disini, Edward mengingat kesalahannya yang lalu.


"Perempuan itu sedang mengalami morning sickness yang parah. Tapi tetap mempertahankan kandungannya karena anak adalah anugerah dari Tuhan." Nyssa menjeda ceritanya sambil melihat ekspresi Edward yang mulai merasa bersalah.


"Apakah ada yang ingin kak Edward sampaikan?"


Edward menyiapkan hatinya, ia sudah merasa bersalah sejak hari itu. Berusaha mencari perempuan itu pun ia tidak bisa menemukannya. Nyssa mengatakan jika perempuan itu hamil, ia semakin merasa bersalah.


"Aku ingat perempuan itu, tapi aku tidak tahu namanya dan dimana dia sekarang. Hari itu murni kesalahanku, aku yang juga dalam keadaan mabuk, salah mengira jika dia adalah partner ku karena warna baju mereka sama. Saat aku sadar pagi itu, aku baru tahu jika perempuan itu masih perawan. Dengan panik aku melarikan diri, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku juga tidak ingat, apakah aku menggunakan pengaman atau tidak. Benarkah perempuan itu hamil?" tanya Edward dengan wajah muram.

__ADS_1


Nyssa tersenyum, seperti ada harapan memperbaiki keadaan Alexsa. Azmy hanya diam sambil membuka email yang berisi bukti-bukti yang telah dikumpulkan Leon. Ia menyiapkannya, jika saja dibutuhkan.


"Ya, sekarang sudah berusia 2 bulan lebih."


"Bolehkah aku menemuinya? Jika dia bersedia, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat." kata Edward tulus.


Melihat ketulusan Edward, Nyssa memandang suaminya. Meminta pertimbangan, karena ia tidak bisa memutuskannya sendiri.


"Serahkan saja semuanya pada Alexsa. Mau tidaknya, lihat saja nanti." Nyssa mengangguk.


"Terimakasih.. Aku akan membawa keluarga ku untuk meminta maaf." Nyssa menyerahkan kartu nama ayah Abraham kepada Edward. Selanjutnya, tergantung pada ketulusan Edward dan keputusan Alexsa. Biarkan takdir mereka berjalan.


Masalah selesai, Azmy membawa Nyssa kembali ke tempat parkir meninggalkan Edward yang masih termenung.


Mami Sita yang melihat Azmy menggandeng istrinya, merasa lega masalah mereka sudah selesai dengan damai.


Azmy segera melajukan mobilnya pulang kerumah. Ternyata Alexsa sudah menunggu diruang tamu. Kedatangan Nyssa disambut gembira oleh Alexsa yang sudah tidak sabar dengan masakan Nyssa. Tetapi, Alexsa tidak sendiri, melainkan bersama Ayah Abraham dan ibu Rosa yang saat ini sedang berbincang dengan Papi Agam.


Azmy yang sedari tadi memasuki rumah dengan wajah kesal, semakin kesal dengan Alexsa yang sekarang ini menguasai Nyssa. Setelah berpikir, ia pun membuka mulutnya. Ia meminta semuanya duduk untuk mendengarkannya.


Hal ini ia lakukan demi istri kecilnya, jika Alexsa tidak mengganggu Nyssa maka waktu untuk dirinya tidak akan terbagi. Gara-gara Alexsa juga istri kecilnya berlama-lama di pandangi laki-laki. Sungguh menyebalkan baginya, apalagi Mami Sita yang tidak membelanya sedikit pun. "Apa aku masih anaknya?" kesal Azmy.


Kemudian Azmy mengirimkan bukti ke ponsel Ayah Abraham, yang langsung disaksikan bersama ibu Rosa. Azmy tidak menceritakan bagian Edward yang salah kira, biarkan itu menjadi perjuangan untuknya. Jika memang tulus, maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah. Memikirkan perjuangan Edward membuat wajah dinginnya menyeringai.


Ayah Abraham merasa bersyukur, meskipun masih dengan rasa kecewa. Laki-laki tersebut mau bertanggung jawab, putrinya akan ada pendamping yang menemani di masa mendatang. Ayah Abraham akan menyerahkan semuanya kepada Alexsa. Sedangkan ibu Rosa pikirannya sudah travelling menyusun rencana pernikahan tanpa bertanya bagaimana persaan Alexsa. Alexsa sendiri sedang bimbang, apakah ia bisa menerima Edward atau malah membencinya.


Nyssa yang sedari tadi duduk di dekat Alexsa, menggenggam tangan Alexsa erat. Menyadarkan Alexsa dari lamunannya.


"Semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu mau menerimanya, atau menolaknya tanyakan pada dirimu sendiri. Dan ingatlah pada bayi yang ada di dalam kandungannya. Setiap musibah, pasti ada hidayah yang menyertainya."


Nyssa tidak mungkin menyarankan Alexsa untuk sholat istikharah, karena Alexsa bukan seorang muslim. Dan Nyssa juga tidak akan mengajaknya masuk sebagai muslim, karena menjadi seorang muslim haruslah dari keinginan dan keyakinannya sendiri. Sehingga dengan keyakinannya, seseorang akan istiqomah di jalan Allah.

__ADS_1


Setelah itu, Nyssa izin untuk beristirahat dan meminta maaf tidak bisa memasak untuk Alexsa. Hari ini terasa melelahkan bagi Nyssa yang menghadapi kecemburuan suaminya. Alexsa tidak keberatan, ia pun mengajak kedua orang tuanya pulang untuk membahas masalah ini di rumah.


Di dalam kamar, Nyssa sudah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan gaun tidur tertutup. Nyssa sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.


Azmy memasuki kamar dengan membawa jus alpukat dan makanan untuk mereka berdua. Ia ingat jika istrinya belum makan siang.


"Sayang, makan dulu." ajak Azmy yang sudah menyiapkan makanan di atas meja sofa.


Nyssa mendekati Azmy dan mulai memakan makanannya dengan tenang. Selesai makan, Nyssa mengucapkan terimakasih dan ingin membereskan piring. Tetapi gerakan Azmy menghentikannya untuk bergerak.


Kini Nyssa sudah berada dalam pangkuan Azmy.


"Sayang, apa kamu tidak ingin membujuk ku?" tanya Azmy yang melingkarkan tangannya di pinggang Nyssa.


"Untuk apa?" tanya Nyssa yang tidak mengerti maksud suaminya.


"Aku masih marah sayang. Kamu dengan santainya menyerahkan sapu tangan dan memberikan perhatian kepada laki-laki lain di depan suami mu." terang Azmy.


"Ya Allah,, suaminya cemburu juga dengan hal itu?" batin Nyssa.


"Tapi, Nyssa mau bertanya. Siapa yang menyebabkan semua itu terjadi?" pertanyaan Nyssa seketika membuat Azmy diam.


Melihat keterdiaman suaminya, Nyssa tahu jika Azmy tidak akan mengakuinya karena harga dirinya yang tinggi. Dan menurutnya melayangkan pukulan itu adalah hal yang benar. Nyssa menghela nafas, suami dinginnya tetaplah dingin dengan orang lain. Hanya bersamanya saja suaminya bersikap hangat. Harus ada yang mengalah, jika tidak mereka makan berakhir dengan mendiamkan satu sama lain.


Dengan melingkarkan tangannya di leher Azmy, Nyssa mencium bibir suaminya. Ini adalah pertama kali baginya memulai ciuman bibir, Nyssa merasa canggung. Ciuman Nyssa disambut Azmy dengan senang hati, istri kecilnya sudah mulai berinisiatif, pikirnya.


Nyssa yang memulai, Nyssa juga yang kepayahan. Azmy tidak memberinya waktu untuk bernafas.


"Sayang, ciumanmu masih saja payah. Bernafaslah sayang, aku tidak menutup hidungmu." goda Azmy yang telah melepaskan ciumannya. Dan memainkan hidung istri kecilnya.


Nyssa hanya bisa menghela nafas, suaminya memang seperti itu. Tetapi Nyssa tidak sakit hati, karena ia juga merasa bersalah beberapa hari ini mengabaikan kebutuhan biologis suaminya.

__ADS_1


Akhirnya mereka melanjutkan ciuman mereka di tempat tidur. Kegiatan penyatuan pun mereka lakukan beberapa kali sampai Nyssa tertidur karena kelelahan.


Azmy membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, kemudian membersihkan tubuh istri kecilnya dan memakaikan baju bersih. Ia pun merebahkan badan disebelah Nyssa dan ikut tertidur. Istri kecilnya selalu bisa membuat perasaannya seperti roller coaster. Dari kesal, cemburu, marah, sampai bahagia dengan penyatuan mereka.


__ADS_2