Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
81. Ragu


__ADS_3

Azmy tak lagi memperhatikan Nyssa, semakin memperhatikan semakin bingung ia dengan dirinya sendiri.


Aeesha yang tidak mengetahui keberadaan Azmy, berlaku seperti biasa. Saat ini pun dirinya sedang menyusui kedua malaikatnya yang terbangun. Setelah kenyang, keduanya Aeesha letakkan di bouncer. Mereka berdua tersenyum melihat mainan gantung, sedangkan Aeesha lanjut memompa ASInya.


"Brakk!" terdengar suara benda jatuh dikamar Azmy. Zayden menangis karena terkejut, disusul tangisan Zayn. Aeesha yang baru saja selesai mencuci tangan, segera menyalakan mesin goyang yang ada di bouncer. Merasakan ayunan dan usapan lembut di kepala, mereka pun berhenti menangis. Mereka kembali menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


Melihat kedua malaikat sudah tenang, Aeesha meninggalkan mereka untuk melihat kamar sebelah. Betapa terkejutnya Aeesha, melihat Azmy tersungkur di depan kamar mandi dengan keadaan hanya terlilit handuk di bagian bawah, sehingga terlihat perban diperut Azmy yang basah. Suaminya baru saja selesai mandi jika dilihat dari rambut yang basah. Aeesha melihat ada nampan berisi buah tercecer, suara benda jatuh tadi berasal dari nampan tersebut.


Aeesha berusaha mendudukkan Azmy, ditepuk-tepuk tidak merespon. Dengan sekuat tenaga Aeesha memapah Azmy ketempat tidur. Perbedaan tinggi dan berat badan membuat Aeesha kewalahan, untungnya ia berhasil sampai ditempat tidur. Setelah mengambil nafas cukup, Aeesha menata kaki Azmy keatas tempat tidur. Ia mengambil pakaian ganti dan kotak obat.


"Pasti kamu memaksakan diri untuk mandi." gumam Aeesha dengan tangan yang bergerak mengganti perban di kepala dan perut Azmy. Untungnya perban yang dikenakan anti air, sehingga air tidak mengenai luka. Selesai mengganti perban, Aeesha memakaikan pakaian berupa kaos lengan pendek dan celana pendek.


"Kamu sedang apa!" seru Azmy yang melihat Aeesha memegang celana di pahanya. Sontak seruan Azmy membuat Aeesha kaget dan terjerembab kearah yang tidak semestinya.


Azmy merasa geram, bisa-bisanya ada perempuan yang berani menghilang kesempatan darinya. Seketika Azmy bangun dan menggeser tubuhnya. Segera ia menaikkan celana dan menutupnya dengan handuk yang ada di sampingnya. Aeesha mencoba menetralkan perasaannya, "sabar.. Azmy tidak mengingatku."


"Maaf.." cicit Aeesha yang segera berdiri di sebelah tempat tidur.


Azmy merasa bersalah telah membentak Nyssa, tetapi ia juga tidak menyangka jika Nyssa seberani itu. "Tunggu dulu, bukankah aku baru saja mandi tadi?" tanya Azmy pada dirinya sendiri. Disentuhnya perban di kepala dan perutnya yang kering.


"Apa kamu yang mengganti perban ku?" tanya Azmy dengan suara dalam. Aeesha hanya menganggukkan kepala.


"Kemari!" perintah Azmy agar Nyssa mendekat. Aeesha menurut saja mendekat kearah suaminya. Azmy menarik tangan Nyssa, membuat Nyssa jatuh kepangkuan Azmy.


"Suami.." teriak Aeesha yang terkejut.


"Benarkah aku suamimu?" tanya Azmy yang sekarang menatap lekat wajah Nyssa. Aeesha menelan air liurnya, tidak menyangka Azmy yang dingin sedominan ini membuatnya tegang.


"Iya." jawab Aeesha lugas.


"Apa buktinya?" Aeesha bingung dengan pertanyaan Azmy, bukti apa yang dimaksud suaminya? Hanya buku nikah saja yang terlintas di kepalanya saat ini.


"Buku nikah ada di laci itu." Aeesha menunjuk meja riasnya. Azmy masih tidak percaya.

__ADS_1


"Buku bisa dicetak, apa kamu bisa menjamin keasliannya?" Aeesha benar-benar ingin menampar Azmy saat ini. Meskipun saat ini Azmy hilang ingatan, kelakuannya benar-benar menyebalkan. Aeesha merasa Azmy meragukannya, Azmy tidak mempercayainya. Sebuah ide muncul di kepala Aeesha.


"Cup" Aeesha mencium pipi kanan Azmy, lanjut pipi kiri, dan bibir. Azmy menegang, ciuman Nyssa terasa panas di kulitnya. Ia tidak bisa menolaknya, merasa seperti dejavu.


Aeesha yang melihat Azmy tegang, tersenyum. Hanya kepala dan perut yang cidera, hasrat suaminya masih tinggi seperti biasa. Ia perlahan membawa tangan Azmy ke pinggangnya dan mengalungkan tangannya di leher Azmy. Membisikkan "Sayang.. Kamu tidak merindukanku?"


Bulu kuduk Azmy meremang, ia ingat tubuh Nyssa siang tadi. Ada yang mendesaknya dibawah sana. Jiwanya pun rasanya hidup kembali. Tetapi ia masih mempertahankan egonya.


"Menggoda seperti ini tidak sesuai dengan pakaianmu!" Aeesha yang sudah menahan malu untuk merayu suaminya justru mendapat kata-kata pedas dari mulut suaminya. Aeesha melepaskan tangannya, kemudian beranjak dari pangkuan Azmy. Tanpa berkata-kata meninggalkan Azmy sendirian terbengong dengan sikap Nyssa.


Sampai dikamar sebelah, terlihat dua malaikatnya sudah terlelap. Aeesha mengangkat mereka satu persatu, meletakkan mereka kedalam box bayi.


"Sayang,, beri bunda kekuatan. Daddy kalian keterlaluan." Aeesha tidak sadar, jika Azmy mendengar keluhannya. Azmy mengikutinya sedari tadi, hanya saja berhenti di pintu penghubung.


Aeesha merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Berurusan dengan Azmy membuat hati dan raganya lelah. Ia perlu istirahat, nanti ia akan memikirkan cara lain untuk mendekati Azmy.


Melihat Nyssa memejamkan matanya, Azmy mendekat kearah Nyssa. Ia merasa yang dilakukan Nyssa kepadanya familiar. Belum lagi respon tubuh bagian bawahnya, baru kali ini ia merasakan hasrat kepada perempuan. Apalagi jiwanya yang terasa hampa beberapa hari yang lalu mulai menghangat.


"Jika kamu istriku, siapa istriku yang bernama Aeesha?" gumam Azmy.


..."Hadiah untuk Nyssa....


...Mami menyayangimu sayang. Terimakasih sudah hadir dalam kehidupan kami, terutama Azmy. Beruang kutub Mami sudah mencair, berubah menjadi beruang madu....


...Semoga kalian selalu langgeng.. Aamiin.."...


Azmy mengernyitkan alisnya, jadi memang Nyssa istrinya. Tetapi siapa Aeesha?


Waktu makan malam pun tiba, semua sudah berkumpul di meja makan. Seperti biasa, Aeesha akan mengambilkan nasi untuk kedua mertuanya dan mengambilkan nasi beserta lauk untuk Azmy. Makan malam berlangsung dengan tenang, tidak ada percakapan diantara mereka.


Azmy merasa masakan kali ini berbeda, tidak selezat masakan yang ia makan siang tadi. "Apa mungkin kokinya ganti?" batin Azmy. Ia sudah selesai terlebih dahulu, kemudian bertanya kepada kedua orang tuanya.


"Dimana istri Azmy, Aeesha Mi?" Aeesha yang sedang minum pun terbatuk karena tersedak. Mami Sita meminta Nyssa untuk minum perlahan. Sedangkan pertanyaan Azmy tidak ada yang merespon. Azmy bertanya sekali lagi, namun yang didapat adalah tamparan dari Papi Agam. Mami Sita dan Aeesha terkejut. Segera Mami Sita menenangkan Papi Agam.

__ADS_1


"Kenapa Papi menampar Azmy?" tanya Azmy tidak Terima.


"Nyssa satu-satunya istrimu! Jangan harap bisa memasukkan wanita lain kedalam rumah ini!" Papi Agam meninggalkan meja makan, disusul Mami Sita.


Azmy masih diam, tidak tahu salahnya dimana yang membuat Papinya murka. Papi tidak pernah menampar nya, hanya pertanyaan kecil saja Papi bisa menamparnya. "Dimana Aeesha?" batin Azmy yang kemudian beranjak dari meja makan. Sedangkan Aeesha pergi ke dapur membawa es berbalut kain dan teh hangat.


Aeesha pergi ke ruang kerja Azmy, dilihatnya Azmy merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya dengan lengannya. Ia meletakkan nampan dimeja dan mendekat kearah Azmy. Menempelkan kain yang dibawanya di pipi Azmy. Azmy membuka matanya, terlihat wajah Nyssa dengan pandangan teduh. Perhatian Nyssa kepadanya terasa hangat, namun Aeesha yang dicari dan kemarahan Papi Agam membuatnya mengabaikan Nyssa. Ia membiarkan Nyssa melakukan apa saja selama masih batas wajar.


"Suami.." Deg. Panggilan Nyssa terasa menekan hatinya, ada nada kesedihan di sana.


"Papi dan Mami tidak tahu siapa Aeesha. Hanya suami yang tahu siapa Aeesha. Makanya, Papi mengira suami akan membawa istri baru ke rumah." kata-kata Nyssa seolah menjadi tamparan kedua untuk Azmy. Azmy pun duduk dengan tegak, Nyssa mendongak kearahnya.


"Kamu bisa berkata seperti itu, berarti kamu tahu Aeesha?" Nyssa mengangguk. Azmy memegang bahu Nyssa, dan membawanya untuk duduk disampingnya.


"Dimana Aeesha?" tanya Azmy tidak sabar.


"Sebelum itu, apakah suami mengingat tentang Aeesha?"


"Tidak, hanya namanya tertera diponsel." jawab Azmy jujur. Aeesha tersenyum, ternyata suaminya bingung dengan identitasnya.


Kedua telapak tangan Nyssa menangkup wajah Azmy. Mata mereka saling bertemu, jika mata Nyssa memancarkan kasih sayang, mata Azmy memancarkan keraguan.


"Suami,, aku adalah Aeesha dan aku juga Nyssa. Hanya suami yang tahu kenyataan ini. Raga ini milik Nyssa, tetapi jiwa ini adalah aku, Aeesha Nyssa." Azmy bingung dengan perkataan Nyssa.


"Aku tahu kamu akan bingung, tetapi percayalah aku adalah istrimu. Kami tidak akan memanfaatkan hilang ingatanmu. Jangan su'udzon sayang.. Pasti kamu tidak ada sholat kan beberapa hari ini? Sholat lah suami,, minta petunjuk kepada Allah agar diangkat penyakitmu." tutur Aeesha dengan lembut.


Azmy merasakan ketenangan mendengar kata-kata Nyssa. Tanpa sadar, Azmy meraih tengkuk dan ******* bibir Nyssa. Ada keinginan yang tumbuh dalam hatinya. Pikirannya tidak dapat rasional lagi dengan tubuh yang mendambakan perempuan di hadapannya saat ini.


Aeesha menerima perlakuan Azmy, sebagai seorang istri wajib baginya memenuhi kebutuhan suaminya. Baik itu dalam keadaan sehat, sakit, suka maupun duka.


Ciuman Azmy semakin menuntut, tangannya pun sudah ada didalam tunik yang dikenakan Nyssa. Payudara Nyssa yang basah karena ASI, menghentikan gerakan Azmy. Ia pun melepaskan ciumannya, dilihatnya Nyssa dengan seksama.


"Maaf, aku masih nifas suami." cicit Aeesha yang seketika membuat Azmy malu.

__ADS_1


Azmy menyuruh Nyssa untuk kembali ke kamar mereka. Sedangkan Azmy merutuki dirinya diruang kerja. Bagaimana bisa hasrat menguasainya, padahal selama ini ia hidup bagaikan pertapa. Ia ingat kata-kata Nyssa untuk sholat, segera ia bergegas kembali ke kamar dan melaksanakan sholat.


__ADS_2