
Seorang pemuda dengan kursi roda, sedang termenung di sebuah taman rumah sakit. Ia baru saja terbangun dari 1 tahun komanya.
Pagi ini, ia seperti bangun dari mimpi panjangnya. Ia seperti orang linglung, Orang-orang yang ada di sekitarnya terasa asing dan keberadaannya di rumah sakit menimbulkan banyak pertanyaan. Setelah melalui pemeriksaan tadi, dokter menyatakan jika dirinya hilang ingatan. Pasalnya ia tidak mengenali perempuan paruh baya yang ada di sana, yang mana merupakan ibunya.
Dari situlah ia mengetahui jika namanya adalah Abiyu Emran. Perempuan paruh baya yang mengaku sebagai ibunya yang memberitahukannya. Ibu tersebut juga menceritakan jika dirinya koma setelah kecelakaan kendaraan bermotor akibat rem yang disabotase oleh selingkuhan pacarnya. Dikatakan bahwa hari itu dirinya memergoki pacarnya yang sedang selingkuh di apartemen yang diberikannya. Dirinya marah dan mengambil kembali kunci apartemen tersebut. Na'asnya, saat ia mengendarai motor dengan keadaan marah tidak menyadari jika ada yang salah dengan motornya. Hingga saat kecepatannya mencapai 120 km/jam, ia hilang kendali dan menabrak truk didepannya. Beruntung saat itu ada sahabatnya yang memang mengikutinya sejak dari apartemen. Sehingga bisa segera melakukannya ke rumah sakit. Sedangkan mantan dan selingkuhannya sudah dijebloskan ke jeruji besi malam itu juga.
Pemuda itu masih mencerna informasi dengan linglung. Ia merasa, yang diceritakan oleh ibu tersebut bukanlah ingatannya. Ia sedari tadi hanya diam, karena berusaha waras menerima keadaannya. Ia merasa semuanya tidak masuk akal.
Ia yang sebelumnya berusia 50 tahun dan mengalami penurunan fungsi organ tubuh, hari-harinya dihabiskan diatas tempat tidur. Ingatannya melayang pada ketiga anaknya dan 2 cucunya yang menangisi kepergiannya. Anaknya Zayn sudah menikah dan memiliki 2 anak, sedangkan Zayden belum menemukan pendamping yang diinginkan seperti Bundanya. Dan Daneena sedang fokus dengan study nya sebagai dokter obgyn. Ya, dia Azmy. Entah takdir apa yang membawanya hingga ia terbangun ditubuh yang masih muda, sekitar umur 25an tanpa ingatan apapun.
"Apakah seperti ini yang dirasakan Aeesha dulu?" gumamnya. Tiba-tiba ia merindukan istri kecilnya. Sudah 5 tahun sejak kematian istri kecilnya, tetapi ia masih saja merindukannya.
"Permisi.." sapa seorang perempuan dengan penampilan tertutup. Azmy yang tersadar dari lamunannya pun mendongak.
"Maaf, bolehkah saya izin mengambil bola di bawah kursi roda anda?" tanya perempuan tersebut. Azmy hanya mengangguk tidak menjawab.
Perempuan tersebut pun berputar dan berjongkok di belakang kursi roda untuk mengambil bola.
"Mama.. Mama.. Mama.." seorang anak laki-laki berjalan dengan tertatih kearah perempuan tersebut. Dengan sigap perempuan tersebut menangkap anak tersebut sebelum sempat terjatuh.
Azmy memperhatikan interaksi keduanya, ia teringat dengan Aeesha. Tutur kata perempuan yang ada dihadapannya sama persis dengan istri kecilnya saat membantu Zayn yang jatuh saat berlarian.
"Pelan-pelan sayang.. Ada yang sakit?" anak kecil tersebut menjulurkan tangannya, terlihat tangannya kotor. Perempuan tersebut membersihkannya dengan sapu tangan dan mengatakan jika tidak ada luka di sana.
Kemudian membawa anak tersebut dalam gendongannya dan berterimakasih kepada Azmy. Melihat tidak ada jawaban dari Azmy, perempuan tersebut meninggalkannya begitu saja. Azmy yang sudah sadar dari lamunannya, merasa heran kemana perginya perempuan tersebut.
"Kamu disini nak, ayo ibu antar ke ruang rehabilitasi medik. Sebentar lagi sesi terapi dimulai nak." Azmy hanya mengangguk. Ia masih canggung dengan keadaannya saat ini.
Azmy mengingat kata-kata Aeesha, jika Allah Maha Berkehendak. Maka Azmy akan menerima ketetapan Allah dengan ikhlas, mungkin Allah telah menyiapkan skenario indah untuknya. Prioritasnya sekarang adalah sembuh, jika ia sudah sembuh barulah ia bisa bebas bergerak.
Setelah melalui serangkaian terapi, Azmy merasakan lelah hingga ia mengeluarkan banyak keringat. Benar-benar perjuangan, sebelumnya ia sudah pernah mengikuti sesi terapi. Tetapi mengapa sekarang terasa berbeda? Pikir Azmy.
Selesai melepaskan alat bantu pada tubuh Azmy, perawat mendorong kursi roda Azmy menuju ruang dokter. Di Sana dokter menjelaskan jika patah tulang yang dialami Emran sudah tidak ada masalah. 12 nail yang terpasang pada pen tulang kaki kirinya sudah bisa menyangga beban tubuhnya, dan tulang rusuknya sudah sembuh total selama satu tahun komanya. Sehingga hanya perlu melakukan terapi rutin. Maka Emran akan bisa berjalan normal seperti semula. Akan tetapi untuk sementara ini, Emran tidak diperbolehkan terlalu membebani kaki terlebih dulu. Apalagi dirinya yang koma selama 1 tahun akibat trauma yang menyebabkan pembengkakan otak, gerakannya pun masih terbatas.
Azmy terkejut dengan penjelasan dokter, ternyata cidera yang dialami pemilik tubuh sangat parah. "Lalu, apakah pemilik tubuh meninggal sehingga aku yang mengisi tubuhnya sekarang?" Pikir Azmy.
Emran didorong oleh perawat keluar dari ruang rehabilitasi medik dan disambut ibu pemilik tubuh yang menyambutnya dan mengambil alih kursi roda Emran. Ibu tersebut menyerahkan beberapa foto kepada Azmy dan bercerita sambil mendorong Emran. Mulai dari sahabat Emran yang bernama Fahri dan Fahri lah yang saat itu menolongnya. Ayahnya bernama Hartanto dan ibunya bernama Erna, juga mantannya, Siska. Ibu tersebut menekankan jika dirinya bertemu perempuan tersebut jangan luluh lagi. Cukup sekali saja kebodohannya mempercayai perempuan tersebut. Jangan sampai terulang, apalagi dengan keadaannya yang hilang ingatan ibu tersebut takut perempuan tersebut akan memanfaatkan keadaan.
Azmy melihat beberapa foto tersebut dan menemukan foto perempuan berhijab, ada getaran aneh dalam hatinya. Kemudian ia menanyakannya kepada ibu Erna.
__ADS_1
"Itu Nafisa, dia.." belum sempat ibu Erna menyelesaikan ceritanya, mereka sudah sampai di kamar Emran.
Setelah membantu Emran naik ke atas tempat tidur, ibu Erna mengatakan jika sebaiknya anaknya fokus untuk sembuh dan tidak memikirkan hal lain. Ia pun berpamitan untuk membelikannya makan siang.
Azmy yang melihat sikap ibu Erna menjadi curiga, pasalnya penjelasannya belum selesai. Seperti ada yang disembunyikan oleh beliau. Tetapi, ia juga merasa jika beliau adalah orang yang bisa dipercaya. Sayangnya Azmy tidak bisa memaksa, dengan keadaannya sekarang sulit baginya untuk berbuat sesuatu. Jadi, sekarang ia akan fokus dengan kesembuhannya terlebih dahulu.
Di kantin rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Dion nak?" tanya Ibu Erna kepada seorang perempuan yang bernama Nafisa.
"Baik bu, dokter bilang sudah tidak perlu ke rumah sakit lagi. Cukup terapi mandiri dan kontrol setiap 1 bulan sekali." ibu Erna membelai Dion yang ada di pangkuannya.
"Maafkan nenek sayang. Nenek belum bisa jujur dengan ayahmu." ada gurat penyesalan di wajah tuanya.
"Bagaimana keadaan Mas Emran Bu? Tadi, kami sempat bertemu tetapi dia tidak mengenali saya bu. Jadi saya pun bersikap biasa saja."
"Dia hilang ingatan nak. Mungkin itu karma untuknya yang telah mengabaikan kamu dan Dion." kata Ibu Erna memeluk Dion.
Nafisa adalah istri sah Emran, dan Dion anak mereka. Tetapi karena mantan pacarnya yang mengaku hamil anaknya, Emran luluh dan mau kembali menjalin hubungan dengan Siska. Karena memang mereka putus akibat paksaan ibu Erna yang memintanya menikah dengan Nafisa. Nafisa hanya bisa pasrah karena ia tidak bisa menolak maupun meninggalkan Emran karena anak mereka. Dion, memiliki kelainan flat foot pada kakinya sehingga harus terapi dan menggunakan AFO (Ankle Foot Orthosis).
Dalam hati, Nafisa percaya jika suaminya tidak berselingkuh darinya. Foto yang diberikan Siska saat itu hanyalah rekayasa teknologi, karena waktu yang disebutkan Siska adalah waktu dimana Emran sedang sakit. Tetapi, berbeda dengan Emran yang percaya begitu saja karena merasa bertanggung jawab. Jadi, Nafisa hanya bisa mendoakan suaminya agar kembali kepadanya dan Dion. Meskipun pernikahan mereka paksaan, Nafisa menikah atas dasar lillahi ta'ala dan Emran sudah mau belajar menerimanya. Hingga lahirlah Dion, bukti kasih mereka.
"Tidak apa bu, Allah sudah menghendaki kami menJalani ujian ini. InsyaAllah Nafisa sanggup menjalaninya." jawab Nafisa berusaha meyakinkan mertuanya.
"Apa Dion tidak mengenali Emran tadi nak?"
"Ya bu, tetapi karena wajah mas Emran yang dingin Dion tidak berani memanggilnya."
"Setelah bangun dari koma, Emran menjadi dingin sekali nak. Sifatnya yang ramah menghilang, seperti orang lain." firasat seorang ibu memang tidak pernah salah. Tetapi mereka tidak akan mengira jika hal itu benar adanya.
"Sabar bu, mungkin karena mas Emran tidak mengingat apa-apa makanya merasa seperti orang asing."
"Ya, kamu benar nak. Kata dokter, besok Emran sudah bisa pulang. Apa sebaiknya pulang ke rumah ayah ibu dulu?"
"Nafisa ikut saja bu."
Kedua perempuan beda masa itupun saling tersenyum. Dion yang ada dalam pelukan ibu Erna diambil alih oleh Nafisa dan ia pun berpamitan pulang.
Sesampainya ibu Erna dikamar Emran, di sana sudah ada suaminya yang sedang mengobrol dengan anaknya. Mereka membahas bisnis, ternyata Emran tidak kehilangan kemampuannya hanya ingatannya saja. Kemudian, ayah Hartanto menyinggung Nafisa. Ibu Erna pun mengatakan jika Nafisa baru saja pulang setelah sesi terapi Dion selesai.
__ADS_1
"Siapa Nafisa?" tanya Azmy yang sudah penasaran sejak tadi.
"Istrimu." jawab ayah Hartanto.
"Istri? Bukankah ibu bilang aku kecelakaan karena Siska selingkuh?" Azmy dibuat bingung dengan pernyataan kedua orang tua Emran yang berbeda.
Akhirnya ayah Hartanto menceritakan pasal Nafisa dan kebodohan Emran mempercayai Siska. Azmy benar-benar terkejut, betapa bodohnya pemilik tubuhnya. Akibatnya Azmy yang menerima penghakiman "bodoh" dari ayah Emran.
"Lalu, mengapa istriku tidak menjenguk ku?" ayah Hartanto menggeleng mendengar pertanyaan anaknya, sedangkan ibu Erna hanya diam. Melihat kedua orang tua tersebut diam, menandakan jika semua ini disebabkan oleh pemilik tubuh.
"Ya Allah, cobaan apakah ini? Kuatkan aku ya Allah.." doa Azmy dalam hati. Belum selesai masalah cideranya dan mantan kekasih, ia sudah dihadapkan dengan masalah rumah tangga. Kini dirinya merasakan apa yang dirasakan Aeesha dulu, ia pun meyakinkan diri. Jika istri kecilnya bisa maka ia juga harus berusaha seperti Aeesha dulu.
2 hari kemudian, Azmy diperbolehkan pulang. Azmy sudah mengetahui jika dirinya saat ini ada di Indonesia, dunia Aeesha dulu. Lebih tepatnya di kota Yogyakarta, yang Aeesha ceritakan sebagai kota Gudeg. Setelah menimbang-nimbang, Azmy memilih pulang ke rumah Emran, dimana ada istri dan anak Emran di sana. Karena ia telah menempati raga Emran, maka ia akan menebus kehidupan Emran dengan menjaga keluarganya. Inilah yang dilakukan Aeesha dulu.
Ayah dan ibu Emran mengantarkannya kesana, di sana ia disambut pelukan Dion kecil. Dengan sigap mengangkat Dion untuk duduk di pangkuannya. Azmy ingat anak ini, anak yang pernah ia temui di rumah sakit. Jadi, perempuan yang meminta izin kepadanya adalah istri Emran. Tapi mengapa seperti tidak mengenal?
Nafisa berlari menyambut mereka, mencium punggung tangan kedua mertuanya dan Azmy. Getaran aneh itu timbul lagi, dan sentuhan Nafisa mengingatkan Azmy dengan sentuhan istri kecilnya. Nafisa mempersilahkan mereka untuk makan siang, kebetulan ia baru saja selesai memasak.
Azmy hampir menangis melihat menu masakan yang tersaji di meja makan. Menu yang pernah Aeesha masak untuknya, Gudeg, sambal goreng kentang dan empal goreng. Selesai makan, ayah dan ibu Emran pamit pulang. Ayah Emran masih harus ke percetakan untuk mengecek laporan. Karena sebenarnya percetakan itu adalah perusahaan yang Emran dirikan, sedangkan Ayah Hartanto memiliki perusahaan yang bergerak di bidang finansial.
"Mas Emran, mau istirahat ke kamar atau mau di ruang tamu dulu? Saya ada buat salad buah." kata Nafisa yang kini sudah selesai mencuci tangan Dion.
"Baiklah, aku tunggu di ruang tamu. Sini Dion, ikut Papa." Azmy tidak yakin dengan panggilan yang digunakan Dion biasanya. Tetapi Dion langsung menghambur kearahnya. Nafisa tersenyum melihat Dion yang sudah lama menahan untuk dekat dengan Papanya karena Emran yang jarang pulang.
Nafisa membawa 2 mangkuk salad, air putih dan susu untuk Dion. Setelah meletakkan salad, Nafisa izin menidurkan Dion ke kamar.
Azmy yang ditinggalkan sendiri, kini termenung. Banyak pertanyaan dalam benaknya dan ada yang mengganjal di hatinya. Mengapa Nafisa mengingatkannya kepada sosok Aeesha? Sikap lembut, tenang, masakan dan perhatian, mengapa begitu mirip?
"Mas.. Kenapa tidak dimakan?" tanya Nafisa.
"Aku menunggumu." (Banyak yang ingin aku tanyakan.) batin Azmy, ia tidak sampai hati mengucapkannya.
"Mari makan mas." ajak Nafisa sambil tersenyum.
Selesai makan salad, Nafisa membawa mangkuk kotor ke dapur.
Nafisa merasakan keanehan dari sikap suaminya. Emran memang ramah, tetapi keramahan yang ditunjukkan Emran saat ini berbeda. Masih ada kesan dingin, tetapi perasaan apa ini? Nafisa merasa aneh tetapi juga merasa familiar secara bersamaan.
"Ya Allah, engkaulah maha membolak-balikkan hati manusia. Berikanlah ridho-Mu atas segala sikap dan keputusan hamba." doa Nafisa. Semoga keputusannya untuk bertahan dengan Emran adalah hal yang baik.
__ADS_1