
Tiga minggu berlalu, selama itu pula hubungan Nyssa dan Azmy semakin dekat. Mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan harmonis. Banyak waktu mereka habiskan berdua untuk mendalami perasaan masing-masing, menerima kekurangan juga kelebihan.
Meski masih tersimpan rasa enggan dan terpaksa, Nyssa selalu mengabaikannya. Karena baginya yang terpenting sekarang ini, meningkatkan keharmonisan rumah tangganya agar dapat langgeng. Nyssa sudah tidak canggung lagi melepas hijabnya jika berada dikamar atas permintaan Azmy. Juga ia dengan sukarela mengenakan gaun malam untuk menyenangkan suaminya.
Mengerti dengan kebutuhan biologis seorang laki-laki, Nyssa seperti ada ketakutan. Ketakutan jika Azmy tidak mendapatkannya dari istrinya, maka akan "jajan di luar". Meskipun hal tersebut tidak mungkin, mengingat sikap dingin suaminya. Namun jika syaitan bertindak, maka ada saja jalan menuju maksiat. Jadi, sebisa mungkin Nyssa mengimbangi kebutuhan biologis Azmy.
Nyssa baru saja keluar kelas, ia mencari tempat duduk di area taman dekat gerbang. Hari ini ia ada kelas sampai siang. Sambil menunggu suaminya, ia mengambil ponsel dari tas. Ponselnya berada dalam mode silent selama kelas berlangsung, saat ingin mengaktifkan suara, ternyata ada beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab dari rumah orang tuanya, juga dari Azmy.
Sejak ia menjadi pengganti, dan melihat sikap orang tuanya sewaktu pernikahannya, Nyssa tidak pernah memperdulikan keadaan rumah. Baik ada, maupun tidak, kehadiran Nyssa tidak berarti di sana, jadi untuk apa Nyssa menjaga perasaan mereka. Siapa yang akan menjaga perasaannya?
Tapi mengapa orang rumah menelponnya, apakah ada masalah di rumah? Ia mengabaikannya, jika memang penting mereka akan menghubunginya lagi nanti.
Nyssa bermaksud menghubungi Azmy, namun suaminya sudah datang menghampirinya dan segera Nyssa sambut dengan mencium punggung tangan suaminya, yang dibalas kecupan dipuncak kepala Nyssa.
Tanpa berkata apapun, Azmy membawa Nyssa kesebuah rumah sakit swasta, Nyssa yang memang mengikuti suaminya tidak banyak berkomentar. Saat akan turun dari mobil, barulah Azmy menjelaskan bahwa Ayah Nyssa dilarikan ke rumah sakit, karena serangan jantung.
__ADS_1
Sekarang ayahnya masih menjalani perawatan intensif di ICU, belum ada yang boleh menjenguk. Nyssa tidak memberikan respon, hanya diam mendengarkan. Azmy hanya menghela nafas, ia tahu penyebab reaksi tenang Nyssa. Ia membayangkan Nyssa yang menangis, tapi yang ada dihadapannya hanya wajah istri kecilnya yang diam dan tenang. Apakah istri kecilnya sudah mati rasa? Bagus jika begitu, maka Azmy akan mendukung apapun keputusan Nyssa.
Azmy pun mengajak Nyssa masuk, menggandeng tangan Nyssa sepanjang jalan menuju ruang ICU. Dibangku tunggu terlihat ibu dan adik tirinya duduk, tanpa ada raut kesedihan. Nyssa tak mengatakan apa-apa, hanya mengikuti Azmy yang mengajaknya duduk. Beberapa menit kemudian dokter memanggil kelurga dari pasien Abraham, ibu Rosa segera berdiri dan mendengarkan penjelasan dokter. Nyssa yang masih duduk, mengeratkan pegangan tangannya. Azmy yang merasakannya pun memeluk istrinya. Meskipun Nyssa seorang anak yang tidak merasakan simpati atas keadaan ayahnya sekarang ini, tetapi ada bagian dari hatinya yang merasakan nyeri.
Alexsa, adik tiri Nyssa menatap sinis kearah mereka. Ia memang tidak ada perasaan terhadap Azmy, yang membuatnya tidak suka adalah perhatian Azmy. Orang sedingin Azmy bisa bersikap hangat seperti itu kepada Nyssa, tapi tetap menatapnya dengan dingin.
Setelah kepergian dokter, barulah ibu Rosa mengeluarkan kata-kata pedas kepada Nyssa. Menganggap Nyssa anak yang tidak berbakti, tanpa sungkan didepan Azmy. Azmy yang telah melepaskan pelukannya, kini menggenggam erat tangan Nyssa seakan menyalurkan kekuatannya. Tidak tahan dengan kata-kata Ibu Rosa yang menyudutkan Nyssa, segera Azmy membawanya pergi dari sana, tanpa berpamitan dengan ibu Rosa. Hal itu semakin membuat ibu Rosa marah, merasa Nyssa sombong setelah menikah. Biasanya saat ia mengomel, Nyssa hanya diam menunduk sambil menangis mendengarkannya. Sekarang yang dilihatnya, Nyssa yang tidak menunjukkan kesedihan maupun ketakutan.
Di taman rumah sakit, Azmy dan Nyssa duduk di salah satu bangku. Azmy masih setia memeluk istri kecilnya, tanpa mengatakan apa-apa. Ia tahu, istri kecilnya butuh waktu. Setelah merasa tenang, Nyssa akhirnya bersuara.
"Siapa "kak" yang kamu maksud sayang?"
"Suami Nyssa, kak Azmy."
"Sejak kapan suamimu ini jadi kakak?" Melihat wajah Azmy yang dingin, segera Nyssa sadar. Ia sudah membuat suaminya marah dengan panggilannya.
__ADS_1
"Maaf, suamiku sayang." segera meraih tangan Azmy dan mencium punggung tangan suaminya.
"Good girl" Azmy mengecup puncak kepala Nyssa. Kegiatan seperti itu menjadi kebiasaan baru Azmy setelah menikah dengan Nyssa. Seperti sudah menjadi ritual setiap kali Nyssa mencium punggung tangannya, maka ia akan mengecup puncak kepala Nyssa seperti sekarang ini.
"Not a girl anymore, i am now a women." protes Nyssa.
Azmy hanya mengiyakannya, Nyssa sudah menyebutnya berarti istri kecilnya sudah dalam mood yang bagus. Lalu membawa Nyssa ke tempat administrasi untuk mengurus pembayaran. Nyssa ingin menggunakan kartu yang diberikan oleh Azmy, namun Azmy mengatakan bahwa ia yang akan menanggung semuanya. Sedangkan kartu itu adalah nafkah untuknya, jadi Azmy menyuruh Nyssa untuk menggunakannya untuk keperluannya sendiri.
Azmy tahu istri kecilnya enggan menunggu di rumah sakit, jadi ia membawanya pulang. Saat sampai di rumah, makan malam sudah disiapkan pelayan, jadi mereka segera makan. Karena mereka melewatkan makan siang saat berada di rumah sakit.
Saat Azmy keluar dari kamar mandi, ia melihat Nyssa sedang duduk di sofa yang ada di balkon sambil membaca, ada gelas susu yang masih tersisa setengah di meja. Azmy mendekati Nyssa, memintanya untuk segera menghabiskan susunya. Setelah memastikan masalah di rumah sakit tidak menjadi beban pikiran istri kecilnya, Azmy berpamitan untuk ke ruang kerja.
Nyssa mengiyakan, dan bertanya apakah perlu dibuatkan kopi namun Azmy menjawab tidak perlu. Ia hanya ingin Nyssa beristirahat. Sebelum Azmy pergi, Nyssa memberikan kecupan di pipinya. Lumayan sebagai mood booster baginya. Pekerjaannya cukup menumpuk karena demi menemani Nyssa di rumah sakit, Azmy melewatkan meeting dengan para arsitek yang menangani proyek barunya.
Leon yang melihat mood atasannya sedang bagus, seolah diberi kesempatan untuk bersantai sejenak. Dan benar tebakannya, Azmy mengerjakan semua berkasnya sendiri. Leon hanya duduk menunggu, sesekali menjawab pertanyaan atasannya tersebut.
__ADS_1