Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
51. Ingatan di Hari Hujan


__ADS_3

Lamunan Nyssa dibuyarkan oleh suara hujan. Nyssa pun terkejut saat melihat Azmy sudah ada disampingnya.


"Sayang.. Mengapa terkejut seperti itu? Aku suamimu, bukan hantu." Nyssa mengabaikan kelakar suaminya. Menurutnya itu tidaklah lucu.


Fokusnya sekarang adalah suara hujan. Nyssa berjalan keluar kamar, menuruni tangga, menuju pintu belakang. Saat akan membuka pintu, Azmy menghentikannya.


"Diluar sedang hujan sayang."


"Aku ingin mandi air hujan."


"Tapi.." Kata-kata Azmy tidak berlanjut karena Nyssa sudah membuka pintu dan berjalan keluar.


Nyssa menjulurkan tangannya untuk merasakan air hujan. Hingga ada dorongan untuknya masuk ke dalam hujan. Sekilas potongan ingatan, masuk kedalam benaknya. Dimana ada seorang perempuan bersama dengan 2 anak sedang bermain hujan. Anak perempuan dengan tinggi sedada perempuan tersebut dan anak laki-laki sekitar umur 5 tahun.


Mereka menadahkan tangannya, membaca doa turun hujan. Mereka tampak begitu bahagia, tetapi anak laki-laki tersebut terkadang akan merengek.


"Sayang, jangan takut dengan hujan. Hujan adalah rezeki yang diturunkan Allah untuk seluruh makhluk-Nya." perempuan itu menggendong anak laki-laki tersebut. Setelah rengekannya berhenti, perempuan tersebut menurunkannya dan mengajaknya menari.


Nyssa bisa menebak, perempuan tersebut seorang ibu dengan 2 anaknya.


Ingatan lain masuk ke benaknya, terlihat anak laki-lakinya yang sedang kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Perempuan tersebut merelakan jarinya tergigit oleh anaknya sampai meninggalkan bekas yang dalam. Perempuan tersebut juga menangis saat perawat memasangkan infus ditangan anak laki-laki tersebut.


Nyssa mulai menitikkan air mata, ingatan yang baru saja ia lihat di benaknya terasa membekas. Rasa sakit hati, ketidakberdayaan yang dirasakan perempuan tersebut, seperti ia sedang mengalaminya.

__ADS_1


Ingatan lain menggantikan, saat ini terlihat anak perempuannya sedang menangis karena dagunya robek akibat jatuh di kamar mandi. Dengan gemetar perempuan tersebut menghentikan pendarahan. Dengan menangis, mencoba menghubungi suaminya untuk segera pulang. Mereka pun membawa anak mereka ke rumah sakit. Suaminya berkata "Sayang, jangan ikut masuk. Tunggulah diluar." Tetapi, anak perempuan tersebut selalu memanggil namanya. Hatinya menjadi semakin teriris, dengan menggeleng perempuan tersebut mengucapkan basmalah dan ikut masuk ke IGD. Di Sana dokter langsung memberikan tindakan untuk menjahit luka anak perempuan tersebut. Dengan gemetar dan berlinang air mata, perempuan tersebut memegangi anaknya yang masih memanggil namanya dalam tangisnya. "Mimi" itulah panggilannya, panggilan itu terus diucapkan anaknya sampai dokter selesai menjahit. Anak perempuan tersebut tertidur karena efek kelelahan menangis dan menahan rasa sakit. "Sayang, tunggulah disini. Aku akan mengurus administrasi." kata suaminya. "Tidak, biar aku saja. Jaga anak kita!" Perempuan tersebut keluar dari IGD dengan tangan bergetar, keringat dingin dan seperti akan muntah tapi ditahannya. "Tidak apa-apa demi anakku."


Nyssa merasakan tremor ditangannya, ia juga merasakan mual. Perempuan itu phobia darah dan alat medis. Pantas saja suaminya memintanya untuk menunggu diluar.


Nyssa menangis sejadi-jadinya, ia merasakan perasaan perempuan tersebut. Sedih dan ketakutan yang ditahannya mati-matian demi anaknya. Tetapi tubuhnya tetap menunjukkan gejala phobia nya.


Azmy yang sedari tadi ada di samping Nyssa, melihat istrinya menangis dan bergetar segera memeluknya. Mengusap punggungnya untuk menenangkan, tetapi tangisan Nyssa justru


semakin kencang.


Ingatan yang muncul kali ini adalah perjuangan perempuan tersebut mempertahankan kandungannya. Perempuan tersebut terkena cacar air saat usia kehamilan keduanya memasuki 8 bulan. Sudah pergi ke 2 dokter umum yang terdekat tidak membuahkan hasil, malah cacar air itu tumbuh hampir di seluruh tubuhnya. Menyebabkannya pendarahan dan badannya terasa panas. Sampai dokter kandungan yang hanya praktek 1 kali dalam seminggu datang. Memintanya dirujuk kerumah sakit besar. Karena pendarahan yang dialaminya dan detak jantung janin yang melemah. Perjalanannya tidak mudah, butuh waktu 4 jam menggunakan ambulan dengan kecepatan 100 km/jam, menyebrangi laut dengan kapal very 30 menit, dari pelabuhan ke rumah sakit 30 menit. Suami dan anaknya mengikutinya dari belakang ambulan dengan mobil. Selama itu pula, perempuan tersebut tidak menangis. Menahan semua perasaannya, hanya lantunan dzikir "La haula wala quwwata illa billah" yang ia ucapkan dalam hati. Perempuan yang phobia dengan alat medis tersebut harus menahan ketakutannya demi menyelamatkan anak dalam kandungannya. Dokter mengatakan, tidak bisa mengeluarkan bayinya karena usia 8 bulan paru-paru masih belum siap, meskipun sudah siap tetap tidak bisa melahirkan normal dengan kondisinya sekarang. Jika melakukan caesar, kemungkinan kecil bayi tersebut bisa selamat karena usianya yang belum matang juga karena terpapar virus Varicella zoster. Satu-satunya adalah mempertahankannya dengan pemberian suntikan penguat paru janin dan observasi.


Tangisan Nyssa tidak dapat berhenti, perempuan tersebut tetap tersenyum saat anak perempuannya bertanya mengapa ada selang ditangan dan di hidung. Di Satu sisi perempuan tersebut menahan ketakutannya dan rasa sakit, disisi lain perempuan tersebut tetap tegar untuk anak perempuannya.


Pelayan telah menyiapkan air hangat untuk mandi dan segera keluar setelah mendengar perintah Azmy untuk membuatkan minuman jahe dengan gula merah.


Dengan perlahan, Azmy memasukkan Nyssa ke dalam bath tub, kemudian melepaskan pakaian yang dikenakannya. Ia terlebih dahulu mandi dan mengenakan bath robe. Setelahnya barulah memandikan Nyssa dengan air hangat.


Azmy menggendong tubuh Nyssa yang telah dibalut dengan handuk menuju tempat tidur. Merebahkannya, memakaikan pakaian dan mengeringkan rambutnya. Setelah menutup tubuh Nyssa dengan selimut, Azmy mengenakan pakaiannya.


2 cangkir minuman jahe sudah tersedia di nakas, Azmy mengambil satu dan meminumnya. Nyssa membuka matanya, memanggilnya nama Azmy.


"Iya sayang, aku disini." seraya memeluk istri kecilnya.

__ADS_1


Nyssa terisak, perasaan perempuan yang dilihat dalam benaknya masih membekas. Nyssa juga ragu untuk menceritakannya kepada Azmy. Ia pun memutuskan untuk tetap bungkam, suatu hari ia akan menceritakannya.


"Minumlah dulu sayang!" Azmy menyerahkan cangkir minuman jahe yang diterima Nyssa.


"Terimakasih." kata Nyssa dengan suara paraunya.


"Sama-sama sayang, apakah ada yang sakit?" Nyssa menggeleng.


Setelah meminum jahe nya, Nyssa menyerahkan cangkirnya kepada Azmy dan memintanya untuk berbaring disampingnya.


Azmy menuruti istri kecilnya, kehamilan memang benar-benar berat. Ia harus bisa mengalahkan egonya demi mengalah dengan istri kecilnya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00, tetapi Nyssa mengajaknya untuk tidur. Bukan hanya Nyssa yang akan naik timbangannya, ia juga akan naik jika mengikuti pola makan dan tidur Nyssa.


Nyssa yang berada dalam pelukan Azmy saat ini sedang berpikir. "Bukankah tadi aku sedang kesal dengan suamiku? Mengapa aku sekarang menginginkannya?" tanya Nyssa dalam hati. Moodnya benar-benar ajaib, pengaruh kehamilannya membuatnya menyukai dan menikmati setiap kegiatan intim mereka tapi juga terkadang merasa tidak berselera seketika.


Nyssa pernah mencari tahu di internet, penyebab dirinya menjadi bergairah selama hamil. Ternyata hal itu disebabkan oleh peningkatan hormon estrogen yang membuat gairah meningkat.


Meskipun hatinya sedang bergejolak dengan perasaan yang masih membekas. Namun tubuhnya berbeda, tubuhnya mendamba sentuhan suaminya. Nyssa mencoba menahannya, agar saat berhubungan hati dan perasaannya dalam keadaan baik-baik saja, tidak seperti sekarang. Tetapi tangannya sudah mulai bergerak dibawah kaos suaminya.


Azmy hanya diam merasakan tangan Nyssa menelusuri dada dan perutnya. Ia takut akan membuat marah istri kecilnya seperti semalam.


Tangan Nyssa memainkan area dada suaminya, merasa kesal tidak ada respon dari Azmy. Nyssa menggigit dada suaminya yang masih mengenakan kaos, 2 kali gigitan masih tidak ada respon. Nyssa menggigit tulang selangka suaminya yang direspon Azmy dengan mengeratkan pelukannya. Tak berhenti disitu, Nyssa mencoba menggigit telinga suaminya tetapi tidak sampai.


Azmy sudah tidak tahan dengan godaan Nyssa, ia berbalik dan mengukung Nyssa di bawahnya. Istri kecilnya benar-benar bisa membuatnya gila. Sebentar sedih, sebentar tersenyum, sebentar galak, dan sekarang menggodanya. Sejak kehamilan Nyssa, Azmy juga merasakan jika gairah istri kecilnya meningkat. Terbukti dengan inisiatif Nyssa, dan kegiatan intim mereka yang semakin mesra. Jika biasanya Nyssa mencoba mengimbanginya, sekarang mereka bisa sama-sama menikmatinya. Tetapi tidak semua godaan Nyssa bisa diartikan keinginan bersatu.

__ADS_1


Itulah yang membuatnya ragu saat ini, meski nafasnya sudah mulai memburu, ia hanya melihat wajah Nyssa dari jarak dekat. Sampai Nyssa mengalungkan tangannya dileher Azmy, lampu hijau pun disambut Azmy dengan senang hati. Pergulatan mereka pun dimulai dan penyatuan mereka lakukan sampai sama-sama terlelap. Hujan yang masih turun diluar dan hawa dingin AC semakin mengeratkan tidur mereka dalam pelukan.


__ADS_2