Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
80. Curiga Akan Siasat Orangtua


__ADS_3

Azmy membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berdenyut dan perutnya pun terasa nyeri saat ingin bergerak.


Samar-samar terlihat Papi Agam menghampirinya, juga ada suara lemah Leon di sampingnya. Saat pandangannya sudah jelas, ternyata ia berada di rumah sakit. Disamping ranjangnya ada Leon yang bersandar di brankar dengan infus masih terpasang sam seperti dirinya.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak." seru Papi Agam dengan wajah lelahnya.


"Bagaimana aku sampai disini? Dan mengapa Leon juga sama?" Papi Agam dan Leon saling melempar pandangan mencari penjelasan. Rian yang sigap segera memencet tombol untuk memanggil dokter.


Beberapa saat kemudian dokter datang, memeriksa keadaan Azmy. Dokter memberikan beberapa pertanyaan, kemudian menyudahi pemeriksaannya dan meminta Papi Agam pergi ke ruangan dokter.


Papi Agam mengikuti dokter ke ruangannya bersama Rian. Sesampainya di ruangan, dokter menjelaskan hasil pemeriksaan Azmy. Dokter mengatakan jika Azmy mengalami Amnesia Traumatik (Post Traumatik). Hal ini disebabkan peradangan yang terjadi akibat pukulan yang didapat Azmy tepat mengenai kepalanya yang pernah gegar otak ringan 2 tahun yang lalu. Azmy kehilangan ingatan 2 tahun terakhir, dokter tidak bisa memastikan akan permanen atau sementara. Tetapi dari beberapa kasus, ingatan bisa pulih kembali seiring berjalannya waktu.


Dokter menyarankan untuk tetap mengikuti kebiasaannya selama 2 tahun terakhir, tetapi tidak memaksakan ingatan. Hanya perlu stimulasi-stimulasi saja, karena jika dipaksakan Azmy akan mengalami sakit kepala. Peradangan yang Azmy alami akan sembuh dengan mengkonsumsi obat secara teratur. Jadi, pihak keluarga harus sabar menghadapi Azmy yang sekarang.


Begitulah penjelasan dokter, Papi Agam merasa lemas saat keluar dari ruangan dokter. Untungnya ada Rian yang menangkapnya disamping. Rian membawa Papi Agam untuk duduk dan pergi membeli air mineral untuk Tuannya. Sepeninggalnya Rian, Papi Azmy menghubungi istrinya dan menyampaikan hasil pemeriksaan Azmy. Terdengar tangisan Mami Sita diujung telepon, Papi Agam bisa merasakan kesedihan istrinya. Yang jadi masalah sekarang, bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada Nyssa, istri Azmy. Mami Sita mengatakan akan menyampaikannya kepada Nyssa pelan-pelan nanti. Papi Agam pun merasa lega, kemudian memutuskan sambungan telepon.


Azmy yang berada di ruangan bersama Leon, menginterogasi Leon tentang apa yang terjadi padanya. Belum sempat Leon menjelaskan kejadian yang mereka alami, Azmy menambahkan jika ingatan terakhirnya adalah menghindari anak kecil dan menabrak pembatas jalan. Leon yang mendengar penuturan Azmy hanya bisa melongo. "Ada yang salah dengan otak Tuan Muda." tidak sengaja kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Leon.

__ADS_1


"Oh, berikan aku surat pengunduran diri atau sekarang juga aku kabulkan." seringai Azmy yang seketika membuat Leon pucat.


"Tidak keduanya Tuan Muda!" teriak Leon yang membuat lukanya terasa nyeri, namun ditahannya. Dimana lagi ia bisa mendapatkan pekerjaan seperti sekarang.


Leon mulai menjelaskan jika yang diingat olehnya adalah ingatan 2 tahun yang lalu. Kemudian Leon memberitahu semua kronologis yang mereka alami, termasuk dalang dari penyerangan tersebut yang sudah diketahui tetapi belum ada tindakan. Mereka menunggu keputusan Azmy. Sayangnya, tidak ada satu pun dari penjelasan Leon yang diterima oleh Azmy. Ia merasakan ada yang ganjal, namun dirinya tidak bisa mengingat kejadian yang dipaparkan Leon.


Azmy menghela nafas, memorinya berhenti di 2 tahun yang lalu. Saat mencoba mecari-cari memorinya 2 tahun ini, kepalanya terasa berdenyut. Azmy memegangi kepalanya, Papi Agam yang baru saja datang segera menenangkan Azmy.


"Tenanglah nak, jangan dipaksakan." Papi Agam mendengar percakapan Azmy dan Leon sebelumnya. Seperti yang dikatakan dokter, jika dipaksakan maka Azmy akan mengalami sakit kepala.


"Tapi kamu janji jangan memaksakan untuk mengingat jika kamu tidak ingat. Cukup dengarkan saja penjelasan Papi." Azmy menganggukkan kepalanya patuh, ia penasaran dengan 2 tahun yang ia lupakan. Hatinya saat ini terasa hampa, seperti ada yang hilang.


Papi Agam mulai bercerita saat Azmy sadar dari koma 2 tahun yang lalu. Pernikahannya dengan Nyssa, dan kelahiran anak kembar mereka. Papi Agam sengaja hanya menceritakan bagian Azmy dan Nyssa, bagian yang lain tidak penting untuk sekarang.


Azmy yang mendengarkan cerita Papi Agam hanya termenung. Dirinya sudah menikah bahkan sudah memiliki anak kembar? Ia selama ini merasa jika perempuan merepotkan bisa menikah? Apalagi anak kembar yang membuatnya bingung, selama ini ia tidak memiliki hasrat kepada perempuan. Sekalipun perempuan itu telanjang didepannya. Ia perlu perlahan mencerna informasi ini, ia tidak akan percaya begitu saja. Karena Papi Agam biasa berkomplot dengan Mami Sita untuk mengerjainya. Mungkin ini salah satu siasat yang mereka mainkan. Sedangkan informasi yang disampaikan Leon, mungkin bisa ia percaya karena Leon selama ini loyal kepadanya.


Azmy menormalkan kembali ekspresi kebingungan nya. Kemudian meminta Leon untuk meringkus dalang dari kejadian yang dialaminya. Jika perlu bisa libatkan Bagas untuk memberikan hukuman yang setimpal. Leon segera menghubungi orang kepercayaan Azmy dan penjaga bayangan untuk memproses perintah Azmy.

__ADS_1


Azmy membuka ponselnya yang ada disamping brankarnya. Ada banyak panggilan tidak terjawab dan pesan masuk. Ia membuka satu persatu, di sana paling banyak tertera nama "Istriku *Aeesha*". Ia pun mengernyitkan alisnya. " Bukankah Papi Agam bilang jika istrinya bernama Nyssa? Mengapa disini Aeesha?" batin Azmy. Kecurigaannya terhadap Papi Agam dan Mami Sita pun bertambah.


Hari ini mereka diperbolehkan pulang, Papi Agam mengurus segala sesuatunya bersama Rian. Dibantu penjaga bayangan, Azmy dan Leon menunggu Papi Agam di mobil. Setelah itu mereka menuju bandara dan menggunakan jet pribadi untuk terbang ke Selatan.


Mami Sita sudah menunggu mereka di bandara. Begitu melihat Azmy, Mami segera memeluk dan menangis di sana. Dengan perban di kepala, dan wajah yang ditumbuhi bulu halus, membuat Mami Sita sedih. Apalagi ingatan Azmy yang hilang, ingin rasanya Mami Sita memukul kepala anaknya agar mengingat Nyssa dan anak kembar mereka saat ini juga. Tetapi itu tidak bisa dilakukan, karena Nyssa meminta mereka tidak memaksa Azmy untuk mengingatnya. Nyssa sendiri yang akan mengingatkan Azmy dengan caranya.


Sesampainya di rumah, Azmy memasuki kamar di kediamannya. Tetapi tiba-tiba ada perempuan dengan penampilan tertutup menghampirinya dan ingin memegang tangannya. Ia pun refleks menepis nya. Perempuan tersebut tidak tersinggung, justru tersenyum dan mengenalkan diri sebagai Nyssa, istrinya. Ada kehangatan dihatinya melihat senyum perempuan tersebut.


Kemudian perempuan itu menarik tangannya menuju kamar sebelah. Ia heran, sentuhan tangan perempuan tersebut terasa hangat dan ia menyukainya. Ada perasaan rindu juga di sana, tetapi ia tepis mengingat kecurigaannya terhadap orangtuanya. "Sejak kapan kamar ini terhubung?" batin Azmy.


Memasuki kamar sebelah, Azmy disuguhkan dekorasi khas bayi dengan nuansa biru dan hijau. Perempuan tersebut menunjukkan 2 bayi yang ada didalam 2 box bayi. Mengatakan jika nama mereka Zayn dan Zayden dengan nama belakang dirinya. Azmy merasa familiar dengan kedua bayi tersebut, tetapi juga asing. Ia hanya diam saja, Nyssa tetap menggandeng tangannya dan membawanya kebawah untuk makan siang. Satu lagi yang membuatnya bertanya-tanya, Rara yang patuh kepada Nyssa. Rara adalah asisten Mami Sita yang irit bicara dan kaku, bisa membuat Rara patuh kepadanya pasti identitas perempuan ini tidak biasa.


Percakapan Mami dan Nyssa dimeja makan ia abaikan. Ia tidak menolak layanan yang diberikan Nyssa, ia juga menikmati makanan yang disajikan. Seperti memang sudah seperti ini biasanya, tetapi ia masih tidak berkomentar. Mami Sita yang biasanya cerewet, sekarang diam saja melihat sikap cueknya semakin menambah kecurigaannya.


Selesai makan, Nyssa tidak bergabung di ruang tamu. Azmy pun memutuskan untuk keatas memasuki kamarnya. Di pintu penghubung kamar, ia memperhatikan Nyssa yang sedang melepaskan hijabnya, kemudian pakaian yang dikenakannya. Azmy tegang melihat pemandangan tersebut, ada yang mendesaknya dibawah sana. "Apa benar aku berhasrat kepada Nyssa? Tetapi siapa Aeesha?" batin Azmy. Hatinya yang sempat hampa, merasa hangat dengan sentuhan dan perhatian Nyssa sedari tadi. Pikirannya berkecamuk, ia merasa sakit kepalanya merambat. Ia berusaha menahannya.


Terlihat Nyssa melepaskan shoulder support. Azmy bertanya-tanya, cidera apa yang membuat Nyssa harus mengenakannya. Mengapa ia merasakan sakit hati, seperti ada beban berat menimpanya. Apa cidera itu disebabkan olehnya? Azmy tetap diam memperhatikan Nyssa, ia tidak ingin memaksakan ingatannya yang akan membuat kepalanya terasa mau pecah. Nyssa sudah selesai mengenakan pakaiannya kembali. Azmy beranjak merebahkan tubuhnya ditempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2