
Acara resepsi telah selesai satu jam yang lalu, kini tinggal lah Nyssa dan Azmy dikamar presidential suite yang telah dihias layaknya kamar pengantin.
Azmy berada di ruang tamu, duduk di sofa dengan serius mengoperasikan laptopnya. Sedangkan Nyssa masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Di kamar mandi telah disiapkan satu set gaun tidur transparan dan kimono. Namun Nyssa enggan untuk mengenakannya, ia masih merasa belum siap. Setelah memastikan terlebih dahulu jika Azmy tak berada didalam kamar. Barulah ia keluar mengenakan bathrobe dan handuk di kepala, mengambil baju ganti di koper yang sebelumnya dibawakan oleh Rara.
Saat Nyssa sedang mencari baju di koper, ia tidak menyadari jika Azmy sudah masuk ke dalam kamar dan memperhatikan gerak-geriknya. Nyssa sudah mengambil satu set dalaman dan gaun tidur tertutup beserta hijab kaos, ia pun masuk kembali ke dalam kamar mandi. Melihat Nyssa mengambil baju ganti sendiri, Azmy merasa kecewa. Ternyata yang menyediakan gaun tidur dikamar mandi adalah dirinya.
Nyssa telah keluar dari kamar mandi. Azmy yang sudah menunggu, kekecewaannya pun bertambah dengan penampilan Nyssa yang tertutup. Bukankah malam ini adalah malam pengantin mereka, mengapa terasa seperti malam biasa bagi Nyssa?
Azmy tak peduli lagi, segera ia memeluk Nyssa. Respon Nyssa sudah tidak terkejut seperti awal-awal kontak fisik mereka. Azmy mengecup puncak kepala Nyssa, membuat perempuan itu bisa merasakan hembusan nafas hangat di kepalanya, dan aroma maskulin dari tubuh Azmy. Mencium bau wangi shampoo dari kepala Nyssa, Azmy merasakan adanya dorongan untuk menundukkan kepalanya dan mencium bibir Nyssa. Lidahnya dengan cepat menelusup masuk kedalam mulut Nyssa, dan dengan kuat merasakan rasa manis yang ada didalam mulutnya.
Saat ini Nyssa merasa membeku, setelah sadar dari ciuman Azmy ia menahan nafasnya. Nyssa takut dosa jika menolak keinginan suaminya, namun kini nyalinya mulai menciut. Perasaannya dejavu itu muncul kembali dalam benaknya, membuatnya ragu. Berbeda dengan Azmy yang menikmati momen sekarang ini.
"Tetap bernafas sayang." kata Azmy, yang kini sudah mengangkat tubuh Nyssa. Nyssa hanya menunduk, menutupi gejolak perasaannya.
Posisi mereka kini duduk saling berhadapan di atas tempat tidur, Azmy menatap lekat wajah istri kecilnya.
"Bolehkah kulepaskan hijab ini?" Nyssa menganggukkan kepalanya tanda persetujuan, bagaimanapun Azmy sekarang ini berhak atas dirinya. Apalagi Azmy meminta izinnya untuk melepaskan hijab, membuat Nyssa merasa nyaman.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Azmy melihat Nyssa tanpa hijab dalam jarak dekat. Rambut hitam yang panjang sangat pas dengan kulit Nyssa. Anak rambut yang menjuntai, disematkan nya di belakang telinga Nyssa.
"Cantik." puji Azmy sambil mengelus pipi Nyssa.
Tubuh Nyssa dibaringkannya perlahan, Azmy memposisikan dirinya berada di atas istri kecilnya tersebut dengan lengan sebagai tumpuan. Wajah mereka sekarang ini sejajar dan begitu dekat, hembusan nafas Azmy membuat wajah Nyssa memerah. Azmy menatapnya lekat dengan tatapan membara seolah ingin menelannya, membuat nyali Nyssa semakin menciut dan ia hanya bisa menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, antara gugup dan ragu. Satu tangan Azmy memegang kedua tangan Nyssa di atas kepalanya. Saat Azmy semakin mengikis jarak diantara mereka, Nyssa tersentak saat ia merasakan aliran hangat dibawah sana. Segera ia melepaskan diri dari kungkungan Azmy, dan berlari ke kamar mandi.
"Kenapa sayang?" tanya Azmy yang mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi.
"Maaf" cicit Nyssa.
"Kenapa sayang, apa kamu sakit?"
Azmy berfikir sejenak, tamu yang dimaksud Nyssa adalah tamu bulanan kaum perempuan. Ia pun menghela nafas, ternyata tidak ada rejeki baginya menikmati malam pengantin.
Nyssa meminta tolong Azmy untuk mengambilkan pembalut dan baju ganti di koper. Sebenarnya ia malu, namun siapa lagi yang bisa dimintai tolong jika bukan suaminya. Azmy juga tidak keberatan, ia mengerti keadaan istri kecilnya. Setelah mengambilkan Nyssa baju ganti, Azmy menunggu di tempat tidur.
Azmy melihat Nyssa yang keluar dari kamar mandi dengan wajah tertunduk malu. Lalu, ia mendatangi Nyssa dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Kita bisa melakukannya setelah tamunya pergi sayang. Tidak masalah." hibur Azmy.
Mereka memutuskan untuk tidur, namun sebelum itu Azmy mencium, membuat tanda, dan tangannya meraba setiap inci tubuh Nyssa sampai puas. Kemudian memeluk erat Nyssa dan memejamkan matanya agar dapat menekan hasratnya. Nyssa hanya bisa pasrah, karena menyenangkan suami adalah pahala untuknya. Kewajibannya melayani suami, dapat ia tunaikan meski tidak dengan berhubungan badan.
Nyssa menggerakkan badannya dengan pelan karena merasa sesak. Ia ingin bergeser sedikit dari posisinya.
"Jangan bergerak sayang, jika tidak malam ini kamu tidak akan bisa tidur." Seketika Nyssa menghentikan gerakannya. "Ternyata belum tidur." batinnya.
Azmy mengeratkan pelukannya dipinggang Nyssa, dan mengapit kedua kaki Nyssa diantara kakinya. Karena perbedaan tinggi badan, yang terlihat adalah Azmy sedang memeluk guling.
Ketika Nyssa bangun, ia dikejutkan dengan pemandangan dibawahnya. Bukankah tadi malam ia tidur dalam pelukan Azmy, mengapa sekarang ia berada diatas badannya?
Nyssa ingin turun, tapi saat akan menggerakkan tangannya yang ada ia malah memegang dada suaminya, yang entah sejak kapan sudah tidak mengenakan baju. Hal itu membuat Azmy ikut terbangun.
"Sayang, ini masih pagi. Jangan menggoda ku." Nyssa membulatkan matanya tak percaya. Siapa yang menggodanya? Tak apa, ia sudah mulai terbiasa dengan sikap suaminya yang seperti itu.
"Suamiku, aku mau ke kamar mandi." tanpa aba-aba, Azmy menggulingkan badan ke samping dan membawa Nyssa untuk duduk. Kemudian mengangkat tubuh istri kecilnya menuju kamar mandi. Nyssa yang tidak siap dengan tindakan Azmy, refleks mengalungkan tangannya di leher suaminya untuk berpegangan.
__ADS_1
Azmy telah melucuti pakaian mereka berdua yang hanya menyisakan bawahan saja. Ia pun melanjutkan kegiatannya semalam di bawah guyuran shower.
Nyssa hanya bisa pasrah mengikuti keinginan suaminya. Meskipun secara psikis Nyssa masih belajar membiasakan kontak fisik, namun berbeda dengan tubuhnya yang seolah mendamba setiap sentuhan Azmy. Mengapa pikiran dan tubuhnya bisa pro-kontra seperti ini? Nyssa bingung dengan dirinya sendiri, apakah ia memiliki kepribadian ganda? Pikiran Nyssa berkecamuk dengan tubuh yang pasrah bersandar di dada suaminya. Sedangkan Azmy dengan semangat memberikan tanda baru pada tubuh Nyssa, kini tubuh istri kecilnya menjadi candu baginya. Meskipun belum bisa menikmati sepenuhnya, ia sudah cukup puas dengan hasil karyanya saat ini. Tanda ini merupakan tanda kepemilikannya atas istri kecilnya.