Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
101. Extra Part 3


__ADS_3

"Jadi Dad, siapa sebenarnya Bunda?" tanya Daneena yang tidak mengerti cerita dari Daddynya.


"Secara fisik, Bunda kalian adalah Nyssa. Tetapi secara jiwa, Bunda kalian adalah Aeesha Nyssa."


"Apa itu sebabnya nama Nyssa sering digunakan di rumah kakek dan di area apartemen?" tanya Zayn.


"Ya, karena jiwa Bunda kalian merupakan jiwa yang datang dari dunia lain. Lebih tepatnya negara Indonesia."


"Apa yang membuat Daddy begitu mencintai Bunda, dan menerima keadaan Bunda?" kali ini Zayden lah yang bertanya. Ia sudah bisa mencerna seluruh informasi, ia hanya ingin memastikan kejujuran Daddynya.


Azmy terdiam, menerawang kembali keputusannya yang menerima Aeesha sebagai jiwa di dalam raga Nyssa. Ketiganya memperhatikan wajah Daddy mereka, tersirat sendiri diwajahnya yang tegas. Mereka tahu Daddy dan Bunda mereka saling mencintai. Bahkan ikatan mereka begitu erat sampai mengerti perasaan satu sama lain. Mereka pun bersyukur memiliki kedua orang tua yang saling mengasihi, apalagi Bunda mereka adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan amarah Daddy mereka.


"Jujur, Daddy pernah ingin melepaskan Bunda kalian. Seperti yang tertulis dibuku, Bunda kalian sudah siap melepaskan Daddy kapan saja karena merasa dirinya tidak memiliki hak atas Daddy dan kehidupan lalu Bunda yang membuatnya tertekan jika bersama Daddy." Azmy berhenti sejenak, mengingat kejadian saat itu membuatnya merasakan beban berat di hatinya.


"Disaat Daddy meragukannya, Bunda kalian meninggalkan Daddy saat usia kandungannya 4 bulan untuk memberikan Daddy waktu berpikir. Dengan kehamilan kembar, perut Bunda kalian lebih besar terlihat seperti usia 7 bulan. Bunda kalian pergi ke apartemen, dari sanalah kebenaran mulai terkuak. Daddy merasa menyesal saat mengikuti Bunda kalian yang tengah hamil mengemudi mobil pergi kuliah dan pingsan. Dokter mengatakan jika Bunda kelelahan dan stress."


"Apakah ini sebabnya Daddy menerima Bunda?" tanya Zayden yang mengepalkan tangannya, ia harus mendengar keseluruhan cerita sebelum mengadili Daddynya.


"Tidak sayang. Bukan penyesalan yang membuat Daddy menerima Bunda. Tetapi memang dari awal Daddy mencintai Bunda kalian atau lebih tepatnya Aeesha. Karena sedari awal memanglah Aeesha yang Daddy kenal. Raga Nyssa tanpa jiwa Aeesha adalah cangkang kosong, sehingga Daddy meyakinkan Bunda kalian agar melanjutkan hubungan. Bunda kalian tidak ingin Daddy merasa bertanggung jawab atas bayi dalam kandungan dan memaksa menerima keadaannya. Tetapi Daddy meyakinkannya jika Daddy benar-benar mencintainya sebagai jiwa ataupun sebagai raga. Bagi Daddy semuanya tidak penting, karena Daddy tidak bisa berpisah lama dengan Bunda kalian." Zayden menghela nafas lega. Sedang Zayn dan Daneena tersentuh atas perjuangan kedua orang tuanya.


"Lalu Dad, bagaimana dengan kehidupan Bunda dulu?" tanya Daneena.


"Bunda kalian memiliki keluarga disana, anak perempuan dan laki-laki. Kalian tahu yayasan Bunda mendirikan sekolah khusus untuk penyandang autis?" ketiganya pun mengangguk.


"Itu karena Bunda kalian merindukan anak laki-laki nya yang juga menyandang autis." Ketiga terkejut, mereka tidak pernah merasakan celah dari kasih sayang Bunda mereka. Mereka tidak menyangka Bundanya menyembunyikan perasaannya sangat dalam.


"Mengapa Bunda menyimpannya sendirian?" Zayden menitikkan air matanya, begitu hebat Bunda yang selama ini merupakan sosok yang lembut dan penuh kasih menyimpan duka sedalam ini.

__ADS_1


"Karena kalian juga bagian dari hidupnya sayang." Azmy menepuk bahu Zayden.


"Bunda kalian benar-benar wanita kuat. Daddy dulu pernah meragukan Bunda dalam memperlakukan Daddy sama dengan suaminya di kehidupannya dulu. Tapi ternyata Daddy salah. Bunda kalian sangat dewasa, ia berusaha keras mencintai Daddy dan melupakan suaminya sehingga melakukan hal-hal yang berbeda dengan kehidupannya dulu."


"Lalu bagaimana nasib jiwa pemilik tubuh Bunda?" tanya Zayn.


"Ini sebenarnya rahasia sayang, tapi Daddy akan jujur dengan kalian. Karena kutukan tersebut sudah putus di Bunda kalian, maka tidak akan ada pertukaran jiwa lagi. Dan jiwa Nyssa ada ditubuh Aeesha. Jiwa mereka saling bertukar dan saling menggantikan. Ini adalah keadaan istimewa, karena pendahulu Nyssa jiwanya akan menghilang setelah digantikan jiwa dari dunia Aeesha."


"Amazing Dad.." Daneena mengungkapkan kekagumannya.


"Meskipun tidak masuk akal, aku akan percaya." kata Zayn.


"Apakah Bunda tahu jika jiwa Nyssa menggantikannya?" Zayden tidak peduli, baginya Bunda nya adalah Aeesha.


"Ya, kalian tahu apa kata Bunda saat mengetahui kebenaran tersebut?" tanya Azmy.


"Bunda akan mengatakan jika semua adalah ketetapan Allah, maka tiada yang tidak mungkin. Jika memang Allah berkehendak, maka Bunda akan menjalaninya dengan syukur dan ikhlas." jawab Zayden yang mengerti jalan pikiran Bunda nya.


"Sayang, lihatlah anak yang dulu selalu menempel padamu. Ia sudah tumbuh menjadi anak yang sangat mengerti dirimu." batin Azmy.


"Apakah kalian kecewa dengan Bunda?" tanya Azmy.


"Tidak!" jawab ketiganya serempak.


"Bagi kami, Bunda tetaplah Aeesha Nyssa. Mau itu raga Nyssa kami tidak peduli. Karena yang menentukan sikap dan kasih sayang bukan raga melainkan jiwa yang menggerakkan raga." jawab Zayden yang diangguki kedua saudaranya.


Azmy tersenyum puas dengan jawaban anaknya. "Sayang, ketakutan mu membuat mereka kecewa tidak terbukti. Anak-anak lebih dewasa menerima semua kebenaranmu." batin Azmy.

__ADS_1


Apakah masih ada yang mau ditanyakan?" tanya Azmy melihat ketiga anaknya tenggelam dalam benak masing-masing.


"Mengapa kami tidak boleh masuk ke paviliun?" tanya Zayn.


"Paviliun itu, penuh kenangan Bunda dan Daddy. Tetapi jika kalian mau, kalian bisa menggunakannya. Ada beberapa peninggalan Bunda untuk kalian di sana." Awalnya Azmy mengunci paviliun agar tidak ada yang menyentuh privasinya. Namun, istri kecilnya berpikir lain. Ternyata ia sudah mengubah desain paviliun menjadi ruang santai yang sesuai dengan kesukaan anak-anaknya. Istri kecilnya selalu mendahulukan suami dan anak-anaknya, sampai-sampai hanya buku hariannya saja yang menjadi bukti kegiatan yang ditekuninya.


"Benarkah Dad?" tanya Daneena dengan mata berbinar, selama ini ia juga penasaran dengan paviliun yang sering digunakan orang tuanya menghabiskan waktu akhir pekan.


Azmy menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju mena rias istri kecilnya, mengambil kunci paviliun yang ada didalam laci. Tetapi di sana ia menemukan kotak kado berwarna baby blue, warna kesukaan Aeesha. Kemudian ia mengambilnya dan membukanya karena penasaran dengan isinya. Ternyata sapu tangan yang ada di dalam kotak tersebut dengan sebuah catatan.


"Sapu tangan pertama dari Azmy." Azmy membuka lipatan sapu tangan tersebut, ia ingat jika sapu tangan ini ia berikan pada Aeesha saat menangis di taman. Tetapi ada yang berbeda, terdapat bordiran di salah satunya.


"Ana uhibbuka fillah, suami.." Daneena membaca tulisan bordir yang ada disapu tangan. Azmy menitikkan air matanya.


Mendengar suara Daneena, kedua kakaknya pun mendekat. Seketika terkejut melihat Daddy mereka menangis memegangi sapu tangan.


"Itu Bunda yang bordir. Daneena pernah lihat Bunda membuat bordir menggunakan tangan." kedua kakaknya kemudian membuka seluruh laci yang ada di meja rias. Mereka pun menemukan beberapa kotak kado di sana. Mereka mulai membuka satu persatu kotak tersebut.


Kotak pertama, berisi knit shawl merah muda dengan bordir nama Daneena di sana. Kotak kedua berisi sarung tangan kulit dengan bordir nama Zayn. Kotak ketiga berisi hijab sutra dan sorban dengan bordiran nama Mami Sita dan Papi Agam. Kotak terakhir berisi topi dengan bordir nama Zayden. Mereka berempat pun menangis bersama. Aeesha benar-benar menyiapkan hadiah perpisahan untuk mereka semua.


Mereka belum sempat membersihkan barang-barang Aeesha, sehingga penemuan ini termasuk kebetulan. Setelah mereka semua tenang, Azmy menyerahkan kucing paviliun kepada Daneena.


"Baiklah, sudah waktunya Asar. Setelah sholat, kita kunjungi Bunda kalian." kata Azmy yang ditanggapi anggukan ketiga anaknya dan mereka pun pergi meninggalkan Azmy.


Baru saja Azmy akan memulai sholat, ketiganya masuk kedalam kamarnya dengan membawa peralatan sholat. Azmy sempat akan membangun mushola untuk dipergunakan saat sholat berjamaah, tetapi Aeesha melarang. Karena menurutnya lebih baik sholat dan membaca Al-Qur'an di kamar, daripada mushola di rumah. Sehingga kebiasaan mereka adalah sholat berjamaah di kamar utama.


Azmy tersenyum dan meminta Zayn membaca iqamah. Mereka pun sholat berjamaah. Setelah sholat, masih lengkap dengan perlengkapan sholat mereka berjalan menuju taman belakang dimana Aeesha dimakamkan. Mereka mulai membaca tahlil untuk Aeesha.

__ADS_1


"Sayang, terimakasih." banyak yang ingin Azmy katakan, namun semuanya tidak ada artinya. Ia hanya bisa mengucapkan terimakasih pada pusara istri kecilnya.


"Bunda, terimakasih." ucap ketiganya. Mereka sangat menyayangi Bunda mereka. Ditambah dengan kisah perjalanan Bunda mereka, mereka semakin merindukan sosok Bunda yang selalu lembut dan penuh kasih sayang.


__ADS_2