Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
Extra Part Terakhir


__ADS_3

Selesai sholat isya' berjamaah, Nafisa terlebih dulu membantu Emran naik ke atas tempat tidur sebelum menidurkan Dion. Kini mereka bertiga ada di satu tempat tidur. Azmy merasa canggung, sedangkan Nafisa biasa saja.


"Maaf aku melupakan semuanya. Bisakah kamu menceritakan semua yang aku lupakan? Aku ingin memulai semua dari awal." Kata Azmy memecahkan keheningan. Ia melihat Dion sudah nyenyak, mungkin tidak masalah jika ia berbincang dengan Nafisa.


"Dari mana aku harus memulainya?" Nafisa menimbang-nimbang awal seperti apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Baiklah, aku akan menceritakan awal pertemuan kita. Kita pertama kali bertemu di pemakaman kedua orang tua ku. Dari situlah ibu meminta mu untuk menikahi ku. Awalnya kamu menolak karena saat itu kamu masih berpacaran dengan Siska. Hingga ibu mengancam tidak mau melakukan operasi pengangkatan kanker payudara, barulah kamu mau menikah denganku. Di awal pernikahan, kehidupan kita benar-benar canggung sampai kamu membuat perjanjian cerai. Kamu ingin bercerai setelah 3 bulan pernikahan kita." Nafisa berhenti sejenak. Mengingat kepahitan di awal pernikahannya. Azmy hanya diam, menjadi pendengar yang baik.


"2 bulan pernikahan berjalan, kamu mulai menunjukkan perhatian. Sampai aku berani melepas hijab ku di depanmu. Karena aku menjalani pernikahan ini lillahi ta'ala, aku memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri. Entah mulai kapan, hubungan kita semakin dekat. Sampai ayah memberikan kita liburan ke Batu, Malang. Disanalah kisah kita dimulai dan 9 bulan kemudian Dion lahir. Tetapi, saat Dion berumur 1 tahun kamu mulai berjarak. Sering menghabiskan waktu di kantor dan jarang pulang. Hingga kamu mengatakan jika Siska hamil anakmu. Aku tidak percaya, karena selama ini kamu memperlakukan perempuan dengan sopan." Nafisa mengambil nafas dalam-dalam.


"Aku hanya bisa pasrah, karena saat itu Dion didiagnosa flat foot dan harus menjalani terapi. Aku memilih mengabaikan mu, tetapi aku tidak meninggalkanmu karena Dion. Aku sanggup membesarkannya sendiri, tapi aku akan menjadi perampas papa darinya. Sampai 2 tahun lamanya, kamu tidak pernah pulang kesini." Air mata Nafisa pun luruh, membuat Azmy merasakan sakit dihatinya.


"Maafkan aku." Azmy merutuki kebodohan pemilik tubuh. Sudah memiliki istri sholehah seperti ini mengapa memilih perempuan murahan.


"Tidak apa, aku hanya bahagia. Allah mengabulkan doaku untuk mengembalikan mu ke keluarga kita. Meskipun dengan jalan hilang ingatan."


"Apakah kamu bercadar karena aku yang menyuruhmu?" Tanya Azmy penasaran. Pasalnya istri kecilnya dulu berkata belum siap jika harus bercadar.


"Tidak, 2 tahun ini aku menutup wajahku sebagai pengingat. Pengingat untuk menjaga aib keluarga ku. Jika mas Emran tidak suka, aku tidak akan memakainya lagi."


"Tidak masalah, apapun keputusanmu aku akan mendukungnya. Tapi, mengapa kamu mau dijodohkan denganku?"


"Karena itu permintaan ibu, ibu adalah sahabat mama. Sedari kecil, ibu sudah menjadi bagian dari kehidupanku. Beliau juga satu-satunya keluarga yang ku miliki. Keluarga pihak papa sudah tidak ada, sedangkan keluarga pihak mama tidak menerimaku karena aku bukan lagi keturunan ningrat kecuali aku mau menikah dengan sepupuku yang masih keturunan ningrat." jawab Nafisa.


"Apakah masih ada pemikiran irasional seperti itu?"

__ADS_1


"Bukan irasional, itu merupakan cara tradisional dalam menjaga garis keturunan. Dimana hanya pihak laki-laki yang mempunyai nasab, perempuan tidak."


Azmy berfikir sejenak, apakah ia harus jujur atau diam saja.


"Nafisa, apakah kamu mau mendengar ceritaku?" Nafisa menjawabnya dengan anggukan.


Kemudian Azmy menceritakan siapa dirinya dan darimana asalnya. Nafisa yang mendengarkan cerita Azmy pun terkejut. Bukan terkejut karena Emran yang tiada. Tetapi, Azmy.


Kilas balik kehidupan Nafisa.


Saat berumur 10 tahun, Nafisa mempunyai ingatan sebagai Aeesha. Entah karunia apa yang Allah berikan padanya, Nafisa kecil yang dibesarkan di keluarga agamis pun percaya pada ketetapan Allah. Hingga ia dewasa, dirinya tetap menjalani kehidupannya sebagai Nafisa. Karena Allah telah memberikannya kesempatan kedua untuk hidup. Dan karena ia ada di Yogyakarta, ia pun mulai mencari Fatih di rumah ibunya, Kulon Progo. Akan tetapi, saat ia kesana semua orang pergi ke rumah Eyang yang ada di Purworejo. Dimana merupakan kebiasaan sebulan sekali keluarga besar Fatih berkumpul untuk berziarah ke makam leluhur.


Kemudian ia pergi ke Semarang, dimana keluarganya tinggal. Tetapi rumah di sana sudah dijual, keluarganya sudah tinggal bersama Kakak pertamanya di Bojonegoro. Ia pun mengunjungi pusara orang tuanya, ia bertemu beberapa orang yang ia kenal dengan baik. Tetapi tidak menyapa karena identitasnya. Ada yang bertanya siapa dia, mengapa berziarah di makam tersebut. Nafisa hanya menjawab jika dirinya teman dari Aeesha.


Ia juga pergi ke Kalimantan Selatan, dimana kakaknya tinggal. Bertamu dengan mengaku sebagai teman Aeesha. Saat itu rumah yang dibangun Fatih tidak jauh dari rumah kakaknya kosong, kakaknya mengatakan jika Fatih dipindah tugas ke Kalimantan Tengah dan Aeesha mengikutinya karena takut typus Fatih kambuh jika tinggal di mess karyawan.


Setelah mendapat informasi dari kakaknya, ternyata kakaknya sekarang ini berumur 50 tahun, 10 tahun dari terakhir yang ia ingat. Sedangkan Aeesha sudah menjalani 50 tahun total kehidupan sebagai Nyssa dan Nafisa. Ada perbedaan waktu dari jiwanya yang ber transmigrasi. Tapi ia bisa tenang, semua keluarga dan Fatih menjalani kehidupan mereka dengan baik. Ia pun menyempatkan memeluk kakaknya dan berpamitan.


Dari situlah Nafisa mulai mengejar impiannya sebagai guru dan akhirnya menikah dengan Emran. Allah Maha Berkehendak lagi Maha Pemberi Keputusan, Aeesha mengimani nya.


Kembali ke masa kini.


Nafisa segera turun dari tempat tidur, menuju sisi Azmy. Ia memeluk erat Azmy dan menumpahkan tangisnya di sana.


Azmy yang tidak siap merasa heran dengan kelakuan Nafisa. Memang benar mereka suami istri, tetapi Azmy adalah jiwa yang asing. Mengapa Nafisa menangisi Emran dengan memeluknya? Ia ingin melepaskan pelukan Nafisa, tetapi ia merasakan kenyamanan di sana. Lagipula, tangisan Nafisa membuatnya sesak.

__ADS_1


"Nafisa, tolong jangan seperti ini. Aku masih mencoba menyesuaikan diri." setelah mengatakannya justru Azmy merasa menyesal.


"Suamiku, apakah kamu mengikuti sampai kesini?"


1 detik, 2 detik, 3 detik. Azmy segera memeluk Nafisa setelah menyadari jika panggilan tersebut hanya digunakan oleh Aeesha, istri kecilnya.


"Aku tidak sedang bermimpi kan sayang?" kata Azmy meyakinkan dirinya.


"Tidak." Aeesha membalas pelukan Azmy.


"Sayang.. Aku merindukanmu.." Azmy menangis memeluk Nafisa.


"Aku sempat meragukan Allah sayang. Tetapi aku mengingatmu, sehingga aku menerima ketetapan Allah dengan ikhlas. Tiada akibat tanpa sebab. Ternyata Allah memberikan aku kesempatan untuk menjadi suamimu lagi. Rencana Allah selalu indah dan tidak pernah salah." Azmy melepaskan pelukannya, memastikan jika dihadapannya benar-benar Aeesha.


"Allah Maha Segala-galanya suamiku. Jangan pernah meragukan-Nya." Nafisa menangkup kedua pipi Emran.


"Iya sayang.. Ya Allah, ampuni aku.. Terimakasih telah memberikan hamba kesempatan satu kali lagi. La khaula wala quwwata illa billah."


Mereka pun berpelukan lagi, sama-sama melepas kerinduan. Mereka pun sepakat untuk menjalani kehidupan sebagai Emran dan Nafisa, melupakan Aeesha dan Azmy. Karena mereka ada di hati masing-masing.


Sejak saat itu, tidak ada lagi rintangan yang menghadang perjalanan mereka. Bisnis Emran berkembang pesat ditangan Azmy. Hingga mereka sebulan sekali melakukan perjalanan mengunjungi kota-kota di Indonesia. Emran sangat bersemangat, akhirnya ia bisa mengetahui secara langsung kehidupan Nafisa. Ia pun banyak belajar budaya, memperdalam agama dan tentunya menata kehidupannya dengan Nafisa.


Allah menetapkan jika Azmy adalah jodoh Aeesha yang sesungguhnya hingga mereka dipertemukan untuk kedua kalinya. Sedangkan Fatih hanya berjodoh dengan Aeesha sementara. Karena Allah Maha membolak-balikkan hati manusia.


Semua ketetapan yang telah Allah rencanakan, pasti terselip hikmah yang luar biasa jika disyukuri. Dari perjalanan Aeesha dan Azmy, syukur dan iman kepada Allah adalah mutlak. Maka Allah akan melimpahkan segala rahmat dan karunia. Allah azza wa jalla.

__ADS_1


...Happy Ending...


__ADS_2