Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
96. Anak-anak Rindu


__ADS_3

Rencana hanyalah rencana, jika Allah tidak berkehendak.


Pukul 04.00 pagi waktu Eastern, Azmy mendapatkan telepon dari Papi Agam jika anak mereka Zayden dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Segera setelah menerima telepon tersebut, Azmy dan Aeesha bergegas kembali ke Central.


Pukul 07.30 waktu Central, mereka sudah tiba di bandara dan segera menuju rumah sakit tempat Zayden dirawat. Saat mereka memasuki ruang rawat, Zayden sedang disuapi Mami Sita. Sedangkan Zayn masih terlelap dipangkuan Papi Agam.


"Hai sayang.." Aeesha memeluk Zayden, kemudian menempelkan dahinya di dahi anaknya untuk memastikan demam Zayden sudah turun.


"Bunda harusnya pulang besok saja, Iden tidak apa-apa." dengan wajah pucat nya, Zayden mencoba menampilkan senyumnya.


"Ya sudah, Bunda sama Daddy pergi saja yaa.." Aeesha hendak berdiri, namun dicegah oleh Zayden.


"Di sini saja Bunda, temani Iden." Aeesha memeluk anaknya sekali lagi.


Mami Sita tersenyum melihat interaksi mereka. Dari awal ia sudah tahu Zayden berbeda dengan anak seusianya persis dengan Azmy sewaktu kecil. Beruntung menantunya tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya. Kini Aeesha yang mengambil alih mangkuk bubur yang ada ditangan Mami Sita dan menyuapi Zayden.


Sedangkan Mami Sita bergabung bersama Papi Agam dan Azmy. Zayn yang masih terlelap, sudah ada dalam pelukan Azmy. Azmy bertanya tentang kondisi Zayden. Papi Agam menjelaskan jika Zayden hanya demam biasa, dokter yang tidak menemukan adanya kejanggalan dalam kondisi Zayden hanya dapat menjelaskan jika kerinduannya terhadap orang tuanya lah yang membuatnya demam.

__ADS_1


Azmy menghembuskan nafas lega, Aeesha yang juga memasang telinganya pun tersenyum. Anaknya ini memang berbeda. Jika Zayn akan mengekspresikan suasana hatinya, Zayden kebalikannya. Ia akan memendam semuanya sendiri. Kemarin dia terlihat tegar dan tenang melepas kedua orangtuanya, tetapi dalam hati sangatlah rapuh. Sehingga setelah selesai sarapan dan minum obat, Aeesha menawarkan diri untuk memeluk Zayden sampai ia tertidur. Zayden dengan senang hati menerima tawaran tersebut.


Aeesha tidak memperlakukan Zayden seperti anak kecil, melainkan teman untuk berbagi sehingga interaksi mereka tidak canggung. Dan Zayden tidak merasa diperlakukan seperti anak kecil maupun dikasihani.


Azmy hanya memperhatikan interaksi keduanya, karena disaat seperti ini hanya Aeesha yang bisa mengerti Zayden. Ia tidak terlalu dekat dengan Zayden karena ia merasa anaknya membuat pembatas diantara mereka. Azmy tidak memaksa, selama anaknya nyaman dan masih mendengarkan nasihatnya itu sudah cukup.


Setelah dzuhur, Zayden sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Mereka semua kembali ke mansion, di ruang tamu mereka sudah disambut tumpukan hadiah. Azmy meminta sopir yang menjemputnya tadi pagi untuk membawa barang dan hadiah pulang ke mansion. Ia tidak menyangka ada ide seperti ini.


Anak-anak menyukainya, tetapi Zayden harus beristirahat terlebih dahulu sebelum dapat bermain. Aeesha menemani Zayden dan Zayn bersama Azmy. Zayden sudah tidur pulas saat ini, Aeesha pelan-pelan keluar kamar dan melihat Zayn dalam gendongan suaminya yang juga tertidur. Azmy membawanya masuk kedalam kamar anak, setelah memastikan keduanya pulas barulah ia keluar menyusul istri kecilnya didalam kamar.


Aeesha sedang berada didalam kamar mandi, Azmy mengetuk kamar mandi sampai ketukan ketiga barulah Aeesha membuka pintu.


Setelah berkutat selama 2 jam, 5 masakan sudah siap dihidangkan. Ada 2 macam semur ayam dan daging dengan tambahan kentang, karena Zayden lebih suka semur ayam dan Zayn semur daging. Tumis brokoli wortel dan tauge, tahu bakso goreng, dan balado telur puyuh.


Zayn dan Zayden sudah mandi bersama Azmy. Sehingga saat Aeesha menyelesaikan masakannya, mereka bertiga sudah menunggu di meja makan. Zayn bersemangat melihat masakan yang dihidangkan Bundanya. Mereka terbiasa dengan masakan Aeesha, jadi saat Aeesha tidak ada mereka hanya mau makan masakan Omanya. Mami Sita dan Papi Agam juga ikut bergabung dengan mereka.


Makan malam berlangsung ramai, karena Zayn yang sangat bersemangat. Dari situlah Aeesha tahu, anak-anak nya tidak bisa jauh darinya. Meskipun sudah dibiasakan mandiri, semua kebiasaan mereka sudah teratur dengan adanya dirinya, mungkin setelah mereka berumur 7 tahun barulah mereka bisa mandiri tanpa dirinya.

__ADS_1


Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang tamu dan mulai membuka mainan satu persatu. Zayn lebih tertarik dengan robot dan figurine, sedangkan Zayden lebih suka puzzle dan lego. Keduanya berbeda dari kepribadian dan kesukaan, tetapi saya ingat keduanya sama tajamnya. Dan untuk pengenalan alfabet dan perhitungan Zayden lah yang unggul tetapi Zayn tetap cemerlang. Azmy sudah menyiapkan pendaftaran sekolah mereka, lebih cepat lebih baik. Meski awalnya Aeesha tidak setuju, melihat perkembangan keduanya ia pun akhirnya setuju. Karena anak-anak nya juga perlu bersosialisasi. Dan besok adalah hari pendaftaran mereka.


Aeesha membawa keduanya masuk kedalam kamar diikuti pelayan yang membawakan mainan mereka. Di dalam kamar, Zayden menata lego yang telah ia susun ke dalam lemari mainannya. Sedangkan Zayn meletakkan Robot dan figurine nya diatas nakas dekat tempat tidur. Sisa mainan lain yang belum dibuka dibiarkan berada diatas karpet. Mereka berdua sepakat untuk membaginya besok.


Mereka sudah berwudhu dan berganti piyama, kebiasaan sebelum tidur ini sudah Aeesha ajarkan sejak mereka berumur 2 tahun. Setelah itu mereka mengecup pipi Bundanya dan naik keatas tempat tidur. Aeesha memasangkan selimut dan mengecup puncak kepala mereka satu persatu dengan doa "Robbi habli minas sholihin..". Barulah ia mengecup kening dan pipi mereka. Tak menunggu lama keduanya pun terlelap, Aeesha kembali ke kamarnya melihat suaminya sedang berkutat dengan laptop. Ia pun turun kebawah, membuatkan secangkir teh untuk suaminya.


"Suamiku, minum tehnya dulu selagi hangat." Aeesha menyodorkannya secangkir teh ke hadapan suaminya.


"Terimakasih sayang.." Azmy menerimanya dan meminumnya perlahan.


"Apakah masih lama?"


"Tidurlah dulu sayang, nanti aku menyusul." Aeesha mengangguk dan memberikan kecupan di pipi kanan suaminya. Kemudian berlalu masuk kamar mandi mengganti gamisnya dengan gaun tidur dan masuk kedalam selimut.


Azmy memperhatikan istri kecilnya, jika saja pekerjaan tidak mendesak mungkin ia sudah akan menemani Aeesha didalam selimut. Ia pun kembali berkutat dengan laptopnya. Ia ingin membuka proyek bersubsidi di daerah utara, tetapi tidak ingin mengulang masalah dengan pemerintah. Proyeknya yang kemarin menjadi tidak terkendali karena campur tangan pemerintah. Sehingga tujuannya tidak tercapai dengan maksimal, masih banyak keluarga menengah kebawah yang menempati rumah tak layak huni. Ia berharap dengan proyek subsidi yang ada di utara ini tidak ada campur tangan pemerintah lagi.


Sistem awalnya adalah memberikan subsidi perumahan type 36 sebesar 35% dan type 45 sebesar 27% sudah termasuk pajak. Akan tetapi, karena adanya tambahan pajak yang diminta oleh pemerintah sebesar 5% untuk pembuatan sertifikat. Jadi, pembeli perumahan tetap membayar sebesar 65% dan 73% sedangkan tambahan pajak 5% Azmy yang membayarkan nya kepada pemerintah. Dan beberapa penghuni rumah subsidi merupakan kerabat dari beberapa pejabat. Hal inilah yang tidak disukai Azmy dari pemerintah.

__ADS_1


Program pemerataan pemerintah banyak yang tidak tepat sasaran akibat pejabat yang korup dan sebagainya. Tetapi disaat ada dermawan yang turun tangan, justru dikenakan pajak tambahan dan proses yang dipersulit. Dan pajak tambahan tersebut masuk kas negara atau tidak, Azmy tidak peduli. Itu urusan mereka dengan Tuhan mereka. Andaikan mereka bisa berpartisipasi secara aktif, mungkin Azmy tidak terlalu membenci mereka. Dengan kinerja mereka yang hanya mementingkan sengketa akibat pajak dan setelah itu mereka tidak ambil pusing. Azmy semakin membenci mereka. Untung saja ada beberapa pejabat yang mendukungnya sehingga sengketa tidak berlarut-larut. Mereka juga ikut menyumbangkan uang untuk pembangunan rumah bersubsidi.


Kali ini, Azmy akan memastikan pemerintah tidak ikut campur sama sekali


__ADS_2