Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
9. Mami Sita


__ADS_3

Mereka menonton tanpa suara, meski Nyssa duduk satu sofa dengan Azmy, posisi mereka sama-sama berada diujung menyisakan rung ditengah-tengah mereka. Azmy duduk menyandar, sedangkan Nyssa duduk dengan memeluk bantal sofa.


Nyssa melihat jam tangannya, ternyata sudah satu jam mereka menonton. Ia pun berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Nyssa sayang..." teriak Mami Sita saat memasuki rumah. Azmy mengernyitkan alisnya, tidak seperti biasa Maminya berteriak seperti itu. Sehebat itukah Nyssa bisa merubah Mami?


"Mami.." Nyssa yang baru akan membuka kulkas, segera menghampiri Mami Sita, mencium punggung tangannya dan dibalas pelukan serta cium pipi kanan kiri oleh Mami Sita. Papi Agam dibelakang tersenyum melihat kelakuan istrinya, dan mengelus kepala Nyssa saat Nyssa mencium punggung tangannya.


"Sungguh, jika aku tidak menyaksikannya mungkin aku tidak akan percaya jika itu adalah Mami. " batin Azmy sambil menggeleng.


Nyssa menanyakan kabar Mami Sita dan Papi Agam, juga menanyakan apakah beliau sudah makan. Mami Sita menjawab dengan bahagia, mengatakan mereka sudah makan. Nyssa membawa keduanya duduk di ruang tamu bersama Azmy.


Nyssa pamit ke belakang untuk mengambil minuman, sambil membawa gelas kosong. Mami Sita dan Papi Agam melirik anak tunggal mereka yang mengacuhkan kedatangan mereka.


"Bagaimana menurutmu sayang?" Mami Sita menanyakan pendapat anaknya tentang Nyssa.


"Azmy kira Mami sudah lupa sama anak sendiri. " sindir Azmy.


"Iya,, Mami lupa kalau anak Mami ini beruang kutub." ejek Mami Sita.


"Maa.." Azmy mengeluh tidak Terima.

__ADS_1


"Kamu harus menyayangi Nyssa, dijaga dengan baik, jangan sakiti hatinya." pesan Mami Sita kepada Azmy.


"Iya, tanpa diminta juga Azmy tahu tugas Azmy."


"Sudah sayang ternyata Pi, Mami jadi bisa tenang Nyssa bersama anak kita."


"Yang anak Mami ini siapa, kenapa aku merasa jadi orang asing."


"Nyssa sekarang anak Mami, wajar kalau Mami seperti ini." Azmy yang mendengar penuturan Mami Sita hanya terpaksa menerima, sedangkan Papi Agam hanya tersenyum seperti setuju dengan Mami Sita.


Obrolan mereka berlanjut ke arah bisnis, Papi Agam sudah menyerahkan berkas-berkas kepada Leon, sisanya Azmy yang akan mengurusnya karena pelelangan dimenangkan oleh perusahaan mereka. Seluruh perizinan dan kontrak sudah disiapkan, tinggal menunggu tanda tangannya saja.


Menyuguhkan isi nampan di depan Mami Sita dan Papi Agam. Tak lupa juga Azmy dan dirinya sendiri. Mempersilahkan mereka untuk menikmati sajian.


"Emm.. Apapun yang kamu buat selalu enak sayang." puji Mami Sita.


"Mami kan baru pertama ini merasakan. Seperti sudah langganan saja." protes Azmy.


"Selama kamu koma, Nyssa sering bawain makan siang buat Mami. Iyakan sayang? " Nyssa hanya menjawab dengan senyumannya agar Mami Sita puas, karena ia tidak merasa sering hanya beberapa kali saja.


Sebenarnya Azmy tidak percaya, tapi ia mengalah karena tidak mau membuat mood Mami nya jelek.

__ADS_1


"Sayang, minggu depan kita langsungkan acara pernikahannya. Mami sama Papi sudah siapkan semuanya, kalian Terima beres. " ucapan Mami Sita sontak membuat Nyssa tersedak.


"Uhuk.. Uhukk.. " Azmy segera menyerahkan lemon tea yang kebetulan ia pegang kepada Nyssa. Nyssa menerima dan langsung meminumnya. Setelah terasa lega, barulah ia sadar jika yang diminum adalah minuman milik Azmy, minumannya masih duduk manis di hadapannya. Seketika pipinya memerah, Azmy yang memperhatikannya tersenyum puas. Meskipun tadi adalah gerakan reflek namun dampaknya membuat hatinya senang bisa membuat Nyssa tersipu. Mami Sita dan Papi Agam yang memperhatikan mereka berdua pun saling melempar senyum.


"Maafin Mami yaa sayang. Mami tidak bermaksud mengejutkan kamu. Karena acara pernikahan yang seharusnya sempat ditunda, sekarang waktu yang tepat sayang. Karena Azmy sudah sembuh dan perusahaan juga dalam keadaan stabil. Kalian juga tidak baik tinggal serumah lama-lama tanpa status." terang Mami Sita yang ditanggapi anggukan Papi Agam. Azmy hanya menyimak sambil memperhatikan reaksi Nyssa.


Dalam hati Nyssa ingin menangis, namun tak dapat ia lakukan. Karena pemilik tubuh telah terikat perjanjian dengan keluarga Azmy. Janji adalah hutang yang harus ditepati. Nyssa memantapkan hati untuk menjalani kehidupan pemilik tubuh maka ia akan menanggung segala konsekuensinya.


"Nyssa ikut saja bagaimana baiknya Mi. Karena keluarga Nyssa sudah menyerahkan semua keputusan kepada Mami Sita dan Papi Agam."


"Iya,, Mami jadi ingat! Keterlaluan si Rosa. Dia langsung lepas tanggung jawab setelah kamu menggantikan anaknya yang plin-plan itu. Ingin Mami labrak tapi Mami tahan karena kamu sayang. Bagaimana Mami bisa kenal Rosa dulu, sampai mau menjodohkan anak Mami. Menyesal Mami!" keluh Mami.


"Sudah Mam, jangan emosi nanti Mami sendiri yang rugi." Papi Agam menenangkan istrinya.


Azmy yang mendengar perkataan Mami, merasa tak percaya jika Nyssa sudah terbuang dari keluarganya. Pantas saja Mami nya menyiapkan kamar khusus untuk Nyssa, meskipun mereka belum menikah. Ada rasa tidak Terima Nyssa diperlakukan seperti itu, mungkin jika waktunya tiba ia akan membuat perhitungan.


"Jangan sedih yaa sayang, Mami sama Papi ini orang tua kamu sayang." seraya mendekati Nyssa dan memeluknya.


Air mata mengalir begitu saja, Nyssa merasakan kelegaan dari pemilik tubuh. Kasih sayang orang tua yang selalu didambakan pemilik tubuh, didapatkannya dari Mami Sita dan Papi Agam yang akan menjadi mertuanya. Nyssa merasakan kebahagiaan pemilik tubuh yang ironi, merasa bahagia tapi juga merasakan sakit secara bersamaan. "Pemilik tubuh, kuatkan hatimu. Tutupi lukamu dengan kebahagiaan yang sekarang kamu rasakan. Karena aku tahu, luka yang diberikan orang tua mu tidak akan bisa disembuhkan. Kehidupan mu kedepannya akan lebih berwarna, Allah sudah menyiapkan rencana-Nya untukmu dan aku akan menemanimu. Ikhlaskan hatimu, agar semua kehendak Allah dapat kita syukuri bersama." batin Nyssa menenangkan pemilik tubuh.


Azmy yang melihat interaksi kedua wanita beda generasi itupun menghangat. Ia berjanji akan memperlakukan Nyssa dengan baik, sebagaimana ia memperlakukan Mami nya. Azmy dengan sadar mengakui, ia sudah terpikat oleh Nyssa dari awal pertemuan mereka. Karena Nyssa juga ia tidak dapat bersikap dingin didekatnya. "Benar kata Mami, aku sudah menyayangimu." batin Azmy.

__ADS_1


__ADS_2