Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
8. Makan Malam


__ADS_3

Nyssa baru saja membuka mata, melihat jam tangannya menunjukkan pukul 17.00 ia bergegas mandi dan melaksanakan sholat ashar. Kemudian turun kebawah menuju dapur karena ia merasa lapar.


Nyssa membuka kulkas multi door yang ada didapur, satu kata yang muncul diotaknya "minimarket". Bagaimana tidak, bagian atas berisi beberapa jenis buah dan sayur, berbagai jenis saus, acar, telur, juga berbagai minuman mulai dari susu, jus, soda, yogurt dan beberapa jenis keju. Di bagian bawah, ada daging, ikan, ayam, produk olahan daging sapi, ayam dan ikan, sayur beku, ice cream. Jiwa ibu rumah tangganya dengan cepat melotot total harga kasar isi kulkas, setara dengan satu bulan uang belanja dan susu serta popok anaknya. Hal ini membuatnya semakin penasaran dengan isi kitchen set, maka ia membuka satu persatu-satu untuk melihat isinya. Semua bahan kering tersedia, perlengkapan makan dan perlengkapan memasak tertata rapi. Bahkan baru kali ini Nyssa memegang kualitas premium, biasanya ia membeli produk yang standar dengan harga ramah di dompet. "Memang sultan. Tapi Alhamdulillah juga bisa merasakan memakai dan memasak bahan premium. Terimakasih pemilik tubuh." Batin Nyssa.


Karena ia sudah lapar, jadi ia sudah tak lagi mengagumi yang lain-lain. Segera ia mengeluarkan beefbelly slice, bakso, sayuran, bumbu, telur dan sosis. Ia juga mengeluarkan beberapa alat masak dan memakai celemek. Selama hampir satu jam ia memasak, tiga hidangan sudah siap disajikan. Beefbelly lada hitam, capcay goreng bakso, dan sosis telur. Ia juga membuat salat buah yang telah ia simpan di kulkas agar terasa lebih segar saat dinikmati setelah makan malam. Diiringi senandung lirih ia menyiapkan makanan diatas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji, kebiasaannya karena takut ada hewan hinggap karena akan ia tinggalkan. Ia pun mengingat letak utensil meja makan yang pernah ia lihat di sebuah drama, ia menata 4 set dengan rapi.


Setelah selesai Dan merasa puas dengan tata letak, Nyssa kembali ke dapur untuk mencuci peralatan masak dan membersihkan meja dapur. Menggantung celemek ke tempat semula, kemudian ia menuju kamar Azmy yang berada disebelah kamarnya.


Ia mengetuk dua kali dan mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban dari dalam. Sebelum meninggalkan kamar Azmy, ia mengatakan bahwa makan malam telah siap. Ia akan melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu sebelum bergabung. Ia juga mengingatkan untuk segera makan agar dapat meminum obat. Berharap Azmy mendengarnya, ia pun melangkah menuju kamarnya dan melaksanakan kewajibannya.


Nyssa tidak tahu, jika kegiatannya sedari tadi dipantau Azmy lewat CCTV di ruang kerja. "Semakin menarik" sambil menunjukkan senyum smirknya.


Saat Nyssa kembali ke meja makan, ternyata Azmy sudah berada disana.


"Mengapa ada empat piring?" tanya Azmy yang tidak menunggu Nyssa duduk terlebih dahulu.


"Kakak belum makan?"


"Saya bertanya, kenapa kamu balik bertanya?"

__ADS_1


"Maaf, saya menghitung empat orang. Kak Azmy, Pak Leon, juga Kak Rara." Jawab Nyssa yang kemudian membuka tudung saji dan ia baru sadar melupakan sesuatu yang paling penting, nasi. Segera ia berlari mengambil nasi dari penanak nasi, dan diletakkan ke dalam casserole. Nyssa meletakkannya di meja makan, dan duduk di tempat yang jauh dari Azmy.


Azmy yang melihatnya pun mengernyitkan alis. "Kenapa kamu duduk terlalu jauh? Kamu duduk disebelah kanan saya! " perintahnya dengan nada dingin.


"Ok" tanpa basa-basi Nyssa berpindah, namun sebelum ia duduk, ia bertanya "Apa kakak akan mulai makan sekarang?"


"Ya, lain kali siapkan untuk kita berdua saja."


Nyssa ingin tertawa mendengar jawaban Azmy, namun ia tahan karena takut merusak mood. Sikap dingin juga perhatian secara bersamaan.


Untungnya lauk masih terasa hangat dan nasi panas, jadi lemak dari beef belly tidak mengental. Segera Nyssa mengambilkan nasi beserta lauk ke piring Azmy, tak lupa memisahkan capcay di mangkuk kecil dan meletakkan di depan piring Azmy. Setelah mengisi gelas dengan air, selanjutnya ia mengambil untuk dirinya sendiri dan mulai duduk membaca doa sebelum menyantap makanannya. Ia sudah benar-benar lapar sehingga tak menyadari jika Azmy memperhatikannya.


Nyssa tersenyum melihat Azmy lahap memakan masakannya. Ia mengira Azmy tidak akan suka, karena ini pertama kalinya Ia memasak untuk Azmy. Tapi ternyata respon Azmy sama dengan Mami Sita sewaktu pertama kali makan masakannya.


"Alhamdulillah,, tidak mubadzir." ucapnya dalam hati dengan tetap tersenyum. Seorang ibu akan puas jika jerih payah memasaknya dihargai, itulah yang dirasakan Nyssa saat ini. Selesai makan, Nyssa membersihkan meja dan mencuci piring.


Azmy masih belum beranjak dari duduknya karena kekenyangan. Tapi Ia berusaha tetap keren dengan memainkan ponselnya. Kemudian Nyssa datan menanyakan dimana ia menyimpan obatnya. Azmy menjawab, berada dinakas dekat tempat tidur kamarnya. Nyssa mengangguk, dengan membawa piring kecil, ia naik keatas menuju kamar Azmy.


Segera Azmy membuka aplikasi di ponsel dan memantau Nyssa lewat CCTV.

__ADS_1


Begitu masuk kamar Azmy, Nyssa langsung merasakan kesuraman. Bagaimana tidak, cat dikamar itu berwarna abu muda dan abu tua sangat berbeda dengan kamar yang ia tempati, dimana catnya berwarna krem dan baby blue. Begitu melihat tempat tidur ia berjalan menuju nakas yang dimaksud. Membuka paper bag obat dan melihat aturan yang tertera di masing-masing obat. Mengambil obat yang perlu diminum dan ia letakkan dipiring yang ia bawa. Menyimpan kembali paper bag obat dan bergegas kembali kemeja makan.


Azmy dikejutkan lagi dengan sikap Nyssa, padahal ia sudah percaya diri jika Nyssa akan mengagumi kamarnya, nyatanya tak sesuai ekspektasinya. Nyssa selalu bisa membuatnya terkejut dengan setiap hal. Azmy tidak tahu, jiwa keibuan Nyssa lebih besar daripada mengagumi sesuatu yang diciptakan oleh manusia.


"Kak, ini obatnya. "


Azmy menerima obat tersebut dan meminumnya. Saat ia akan beranjak, Nyssa menghentikannya.


"Kak, Nyssa membuat salad buah. Apa kakak mau?"


"Ya, bawa ke ruang tamu. Kita makan sama-sama disana. " sebenarnya, Ia sudah kenyang tapi Ia tak bisa menolak makanan dari Nyssa.


"Tunggu satu jam lagi, baru kita makan saladnya. Soalnya kakak habis minum obat." Kata Nyssa yang ditanggapi anggukan Azmy.


Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu. Azmy menyalakan TV dan menanyakan Nyssa ingin menonton apa. Nyssa menjawab, ia menyukai semua jenis film, yang terpenting alur cerita dan pemainnya bagus, kecuali film dengan adegan mutilasi tanpa sensor. Meskipun film menggunakan peraga, tetap saja ia merasa ngeri.


Azmy memilih film "Fast and Furious 9", Nyssa duduk di samping Azmy dan meletakkan dua gelas lemon tea di meja.


"Sejak kapan ia menyiapkannya?" tanya Azmy didalam hati. Padahal ia sudah mengawasinya sejak tadi, tapi masih ada yang luput dari pengawasannya.

__ADS_1


__ADS_2