Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
59. Masa Lalu Aeesha Nyssa


__ADS_3

Nyssa sudah bersiap untuk makan malam bersama keluarga Bambang. Ia mengenakan midi dress warna wardah dengan tambahan rok plisket putih dan hijab warna coklat susu. Sedangkan Azmy memakai kemeja warna abu dengan tangan terlipat dan celana kain warna hitam.


Sebenarnya Azmy enggan, karena perbedaan keyakinan. Makanan yang dimakan pun berbeda. Tetapi Nyssa mengatakan untuk tetap datang untuk menghormati Bambang. Sampai di sana tidak makan pun tidak masalah jika hanya makan buah.


"Perbedaan bukan untuk dihindari, tetapi dihargai. Siapa tahu dengan seringnya berkumpul bersama, mereka menjadi tertarik untuk masuk islam." Kata-kata Nyssa membuat Azmy kagum.


"Tetap Nyssa yang dulu, dengan kenyataan yang berbeda." Batin Azmy.


Brenda sudah menunggu mereka, sehingga setelah Nyssa dan Azmy keluar kamar. Mereka segera menuju lantai 2, dimana kediaman Bambang berada.


Saat memasuki kediaman Bambang, Nyssa dibuat takjub oleh tatanan barang antik koleksi Bambang yang tertata rapi di ruang tamu dan keluarga. Ada keramik, guci, patung, lukisan dan gramafon. Desain apartemen ini pun berbeda dengan apartemen yang ditinggalinya, terkesan lebih sederhana dengan nuansa kayu.


Azmy menggandeng Nyssa menuju meja makan, membuat Nyssa tersadar dari rasa takjubnya.


Leni menyajikan makanan terpisah untuk mereka. Bambang mengatakan jika makanan tersebut tidak mengandung babi. Nyssa tersenyum menanggapi kata-kata Bambang dan berterimakasih. Azmy hanya menganggukkan kepalanya dengan dingin. Ia masih belum tahu informasi detail Milea, jadi harus tetap waspada.


Tetapi, saat mencium bau makanan, Nyssa membekap mulutnya merasakan mual. Leni segera membawa Nyssa ke toilet, di sana Nyssa memuntahkan isi perutnya di wastafel. Leni menggosok lembut punggung Nyssa dan memberikan minyak angin. Justru bau minyak angin menambah mual yang dirasakan Nyssa. Sampai tersisa cairan kuning dalam muntahnya.


Leni merasa bersalah dan meminta Azmy untuk membawa Nyssa kembali pulang, mungkin lain kali ia akan memasak makanan yang tidak berlemak. Ia tidak tersinggung, karena itu hal yang biasa dialami oleh ibu hamil.


Azmy pun membawa istri kecilnya pulang dan menyuruh Brenda untuk tetap tinggal menikmati makan malam.


Nyssa duduk di kursi meja makan, ia merasa heran dengan kehamilannya sendiri. "Mengapa di trimester 2 ia mengalami mual? Apa karena hamil kembar?" Tanya Nyssa dalam hati.


"Mau makan apa sayang?" Tanya Azmy. Nyssa mengingat jambu kristal yang disimpan di kulkas, kemudian berdiri ingin mengambilnya tapi dicegah Azmy.


"Biar aku saja. Katakan apa yang kamu inginkan." Nyssa tersenyum lebar. Ini pertama kalinya Azmy akan membuatkan makanan untuknya. "Tidak boleh disia-siakan." Batin Nyssa.


"Rujak jambu kristal." Azmy mengernyit.


"Yang lain sayang, sore tadi sudah rujak." Tapi respon Nyssa diluar dugaan, Nyssa terisak mendengar kata-kata Azmy.


"Baiklah sayang, jangan menangis. Bagaimana membuatnya?" Nyssa masih menangis, tidak menjawab pertanyaan Azmy.


"Sayang.." Azmy memeluk tubuh Nyssa dari samping dan mengusap kepalanya lembut.


Nyssa melepaskan diri dari pelukan Azmy, kemudian berjalan menuju kulkas. Mengeluarkan jambu kristal, mengambil gula halus dan bubuk cabai. Azmy tidak mau menghentikan istri kecilnya lagi, takut Nyssa akan menangis lagi jika dihentikan. Ia pun mencuci tangannya, membantu mengupas kulit jambu kristal dan memotongnya.


"Jangan sampai bijinya ikut!" Kata Nyssa.


"Iya sayang, ini rata-rata tidak berbiji jadi aman." Azmy menyerahkan semangkuk penuh jambu kristal kupasannya.


Nyssa mengambil toples kosong, memasukkan potongan jambu kristal kedalam toples, ditambahkan sedikit garam, gula halus dan bubuk cabai. Kemudian dikocok sampai tercampur rata, barulah dikeluarkan dari toples dan siap dinikmati.


Azmy yang biasanya tidak makan pedas saat malam, ikut memakan rujak Nyssa. Rujak buatan Nyssa memang aneh baginya, tetapi rasanya enak. Masakan Nyssa selalu enak dan cocok di lidahnya.


Selesai makan rujak, Azmy membuatkan susu untuk Nyssa dan dibawa kedalam kamar. Nyssa sudah siap dengan mukenanya, menunggu Azmy.


Setelah salam, Azmy mengulurkan tangannya yang disambut Nyssa dengan mencium punggung tangannya. Azmy mengecup puncak kepala Nyssa, kebiasaannya masih sama. Azmy semakin mantap melanjutkan hubungan mereka berdua, raga Nyssa dengan jiwa Aeesha Nyssa baginya tidak masalah. Karena Aeesha Nyssa yang selama ini dinikahinya dan mengerti akan dirinya.


Sayangnya, malam itu Nyssa tidak mengijinkan Azmy tidur di kamarnya. Azmy pun tidur dikamar tamu sebelah Nyssa, mengalah.


"Sabar Azmy, selain Aeesha Nyssa masih canggung ada pengaruh hormon kehamilan juga. Sabar.." Ucapnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Azmy pun memutuskan untuk melaksanakan sholat istikharah seperti yang dikatakan Nyssa. Meskipun waktu terbaik adalah di sepertiga malam, tetapi setelah melaksanakan sholat isya' juga tidak masalah sampai sebelum waktu subuh.


Nyssa sekarang sendirian dikamar, duduk di sofa meminum susu yang dibuatkan Azmy.


Nyssa sudah ikhlas melepaskan kehidupannya yang lalu, ia juga ikhlas menjalani kehidupan yang sekarang. Nyssa tidak membenci Azmy, justru merasa nyaman berada di dekatnya. Tapi ia masih merasa canggung didekat Azmy. Seperti ada pembatas kasat mata yang mencegahnya menerima Azmy. Nyssa pun melaksanakan sholat istikharah untuk menenangkan pikirannya dan meminta petunjuk kepada Allah.


Di sepertiga malam, Azmy terbangun dan melaksanakan sholat tahajud. Selesai sholat, ia ingin menemui Nyssa. Kerinduannya sudah tak terbendung, hati dan raganya menginginkan Nyssa. Biasanya istri kecilnya juga akan bangun di sepertiga malam, jadi ia pun membuka perlahan pintu kamar Nyssa. Tetapi, lampu dikamar Nyssa masih temaram. Hanya ada penerangan lampu tidur di sebelah tempat tidur, tandanya Nyssa masih tertidur. Azmy mendekati Nyssa dan duduk disebelahnya.


Diperhatikannya wajah istri kecilnya.


"Jika ini wajah Nyssa, bagaimana dengan wajah Aeesha Nyssa?" Batin Azmy.


Nyssa tidur masih dengan hijabnya, sejak pengakuannya hari itu Azmy belum melihat istri kecilnya melepaskan hijab.


"Apa ini caranya menghindari ku?" Tanya Azmy. Azmy pun beranjak dari tempat tidur, tetapi gerakannya justru membangunkan Nyssa.


"Azmy.." Lirih Nyssa.


"Ya, ini aku." Azmy mendekati Nyssa, dan duduk kembali. Ia sudah tidak mempermasalahkan panggilan Nyssa untuknya.


"Pukul berapa sekarang?"


"Pukul 03.30 sayang.."


Nyssa bangun dan duduk bersandar. Dalam cahaya temaram, terlihat rambut Azmy berkilat yang menandakan rambutnya basah. Mereka sama-sama diam, saling memperhatikan satu sama lain. Azmy beranjak untuk menyalakan lampu.


"Sayang, bagaimana penampilanmu dulu?" Tanya Azmy.


"Sama tertutup seperti sekarang, karena memang yang tertutup aku, bukan Nyssa. Tetapi tinggi badan ku hanya 160cm, berat badan ideal, bulu mata tidak lentik, mata sedikit sipit, hidung mancung rata-rata tidak semancung Nyssa. Kulit ku putih, tetapi tidak Putih oriental seperti Nyssa. Putih rata-rata keturunan Jawa, atau bisa dibilang langsat terang. Karena kebanyakan saudara-saudaraku berkulit kuning langsat dan sawo matang. Rambut lurus hitam legam, sepanjang pinggang." Jelas Nyssa.


Azmy semakin penasaran dengan kehidupan Aeesha Nyssa.


"Apakah dulu kamu banyak penggemar?" Nyssa tertawa mendengar pertanyaan Azmy.


"Bisa dibilang seperti itu, aku berasal dari keluarga sederhana yang kolot. Menganggap jika perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena kewajiban perempuan adalah mengurus rumah tangga, menyenangkan suami dan mengasuh anak.


Tetapi aku selalu menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan diluar sekolah. Karena kecantikan yang jarang ada dilingkungan ku, hampir semua orang mengenalku. Tapi aku tidak, karena aku tidak menyukai lingkungan tempatku tumbuh.


Karena prestasi dan kecantikan juga, adik kelas maupun kakak kelas sewaktu SMP dan SMK juga tahu aku siapa. Hanya saja aku tidak mengenal mereka, karena aku termasuk orang yang mudah melupakan nama seseorang jika hanya sekali atau dua kali bertemu.


Kejadian seperti penculikan kemarin juga pernah terjadi, tetapi dulu aku bisa membela diriku sendiri. Sehingga tidak ada yang bisa menyentuhku.


Orang tua ku tidak pernah bangga atas prestasiku, mereka mengetahui ketenaranku setelah aku menikah. Justru orang tua ku, menerima 3 pelamar untukku saat aku SMK tapi aku menolak semuanya.


Pernikahanku dengan suamiku karena ta'aruf dan tanpa restu orang tua. Mereka terpaksa menerima suamiku karena aku mengancam akan pergi dari rumah. Mereka luluh dan menerima suamiku setelah aku melahirkan anak pertama."


Azmy merasakan nyeri dihatinya, masa lalu Aeesha Nyssa tidak lebih baik dari Nyssa.


"Bagaimana kamu bisa berta'aruf?"


"Bagaimana yaa? Seperti mengalir begitu saja."


"Mengalir bagaimana?" Azmy penasaran, laki-laki seperti apa suami Aeesha Nyssa.

__ADS_1


"Kami berkenalan saat bekerja, dia bekerja sebagai subcon dari perusahaan tempat ku bekerja. Kemudian aku resign karena orang tua ku menyuruhku untuk bekerja ditempat yang lebih dekat. Kami tidak pernah berhubungan secara langsung, tetapi tiba-tiba dia menghubungiku dan berkata akan berkunjung ke rumah. Tidak ada pikiran macam-macam, aku mempersilahkannya. Setelah kunjungannya, ia mengutarakan ingin melamar ku secepatnya. Karena niat baik, baik disegerakan.


Waktu itu bertepatan dengan seorang laki-laki hidung belang mendekatiku. Jadi, aku memancingnya apakah dia benar-benar serius. Dia sudah yakin kepadaku, jadi aku sholat istikharah. Hatiku mantap dan menyuruhnya satu minggu dari sekarang untuk melamar ku.


Dia datang membawa semua keluarganya menepati kesanggupannya. Sebelum rombongan datang, aku sudah mengancam orang tuaku untuk menerima lamarannya. Mengingat hari itu aku merasa berdosa."


Azmy tidak menyangka perjalanan pernikahan Aeesha Nyssa rumit seperti itu. "Apakah ini yang menyebabkannya sangat mencintai suaminya?" batin Azmy.


"Apakah kamu sangat mencintainya, sehingga kamu berani menentang orang tuamu?" Azmy tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Bukan cinta, semua seperti mengalir begitu saja. Awal pernikahan kami juga tidak mulus. Butuh waktu satu bulan bagi ku untuk menerima pemahamannya. Setelah itu semuanya mengalir, mengikuti ketetapan Allah. Jika memang jalan-Nya, maka akan ada cara melaluinya." Nyssa menarik nafas panjang, kemudian ia hembuskan perlahan dan melanjutkan ceritanya.


"Suamiku mempunyai ketampanan rata-rata yang dimiliki keturunan dari bangsawan Paku Alaman. Pembawaannya tenang dan berwibawa, tetapi keras kepala apalagi jika berhubungan dengan mendidik anak. Kami tidak pernah mengumbar rasa cinta karena bagi kami mengalir sudah merupakan rasa syukur atas keadaan kami dan karunia Allah. "Anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli." Yang artinya "Menyesuaikan diri dengan mengalirnya air, tetapi tidak terbawa arus." pedoman itu yang selalu dipegang suamiku."


Azmy mendengarkan dengan seksama, ia merasa perlu tahu semua masa lalu Aeesha Nyssa.


"Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengannya disini?"


"Tidak mungkin, mereka berada di tempat lain. Jikalau Allah menghendaki pertemuan kami, suamiku pasti akan merelakan aku tetap berada di raga Nyssa. Karena ketetapan Allah hal yang mutlak. Kami bukan orang yang akan mempertanyakan ketetapan Allah."


Jawaban Aeesha Nyssa meringankan beban di hati Azmy. Sebagian hatinya tidak rela kehilangan sosok perempuan yang ada dihadapannya.


"Apakah kamu merindukan mereka?"


"Dibilang rindu iya, dibilang tidak iya juga. Karena aku sudah mengikhlaskan kehidupan ku yang dulu. Aku tidak ingin terpaku pada masa lalu, yang akan membuatku kufur.


Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Nyssa yang sejak tadi merasa Azmy mengorek masa lalunya karena penasaran.


"Bagaimana perasaanmu untukku?" Nyssa terdiam mendengar pertanyaan Azmy. Saat akan menjawab, suara adzan subuh terdengar dari ponsel Nyssa. Nyssa mengajak Azmy melaksanakan sholat terlebih dahulu.


Setelah selesai sholat, Nyssa menjawab pertanyaan Azmy. Agar permasalahan mereka segera selesai, tidak berlarut-larut.


"Azmy, perasaanku kepadamu sama dengan yang kurasakan atas suamiku. Rasa nyaman, hangat, dilindungi dan perhatianmu sama dengan yang aku rasakan pada suamiku. Untuk rasa cinta, sampai sekarang pun aku tidak tahu. Yang aku tahu rasa cintaku kepada Allah. Aku pun ikhlas menerima semua ketetapan Allah, termasuk menjadi istrimu."


"Apakah kita bisa memulai kembali hubungan kita?" tanya Azmy.


"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan mu?"


"Dari awal aku selalu yakin dengan keputusanku. Setelah meminta petunjuk kepada Allah, hatiku semakin mantap. Kita bisa melalui semua ini. Entah Nyssa atau Aeesha Nyssa, aku menerima semuanya atas nama Allah." Nyssa merasa lega dengan jawaban Azmy, kini ia bisa mengistirahatkan pikirannya. Karena Azmy menerimanya karena Allah, bukan karena kehamilannya atau pun alasan lain.


"Aku mencintaimu sayang.. Jika kamu tidak tahu rasa cinta, maka biarkan aku yang mengungkap rasa cintaku untukmu." Azmy mencium tangan Nyssa.


"Baiklah, tapi jangan sampai rasa cintamu kepadaku jangan lebih besar dari cintamu kepada Allah. Cintai aku sewajarnya saja."


Cinta Azmy memang untuk Aeesha Nyssa dari awal. Azmy baru menyadarinya, kecantikan Nyssa menumbuhkan rasa suka. Tetapi pembawaan, kelembutan, kebijaksanaan, kenyamanan yang diberikan Aeesha Nyssa lah yang dicintainya.


"Baiklah sayang. Aku akan memanggilmu Aeesha mulai dari sekarang. Agar selalu mengingatkanku akan kegembiraanku saat ini." Azmy memeluk istri kecilnya.


"Terimakasih sudah mau menerimaku apa adanya, baik sebagai Nyssa ataupun Aeesha Nyssa."


"Sama-sama sayang. Terimakasih juga telah hadir dalam hidupku." kata Azmy yang kini mengecup kening istri kecilnya.


"Terimakasih Nyssa, terimakasih Aeesha Nyssa, terimakasih ya Allah atas segala rahmat yang engkau berikan kepadaku. Alhamdulillah ala kulli hal.." batin Azmy.

__ADS_1


Mereka mulai membahas tentang anak mereka. Melupakan permasalahan yang dialami keduanya karena mereka sudah sama-sama membuka hati untuk menerima semuanya dengan ikhlas.


Karena semua atas kehendak Allah, Halal dan haram hubungan mereka biarlah Allah yang menakarnya. Karena Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.


__ADS_2