Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 10


__ADS_3

12 tahun sudah kini umur Arkana. Semakin tua juga Nisa, sang Ibu tentunya.


Diusia ini, Arkana sangat menunggu-nunggu janji Ibu nya untuk kembali tinggal di Surabaya, dirumah peninggalan ayahnya.


Arkana dan Nisa sudah siap untuk pindah ke Surabaya, semua berkas kepindahan juga sudah diurus. Kepindahan sekolah untuk Arkana pun sudah di urus oleh Rio, sang asisten Almarhum Ayahnya yang masih bekerja hingga sekarang.


******


Umma yang semakin tua, semakin senja. Tak banyak yang bisa ia kerjakan, kini badannya sudah semakin lemah. Umma hanya tinggal dirumah. Fatir, kakak Nisa kini memilih untuk kembali tinggal di ponpes melanjutkan segalanya. Begitu juga Salma, kini ikut mengurusi.


"Umma..." ucap Nisa dengan lembut, karena takut mengagetkan Umma yang sedang memandang keluar jendela


Umma seketika menoleh ke arah Nisa. Hari tuanya yang semakin ia rasakan begitu sepi, karena telah ditinggal sang suami, tapi ia juga merasa senang karena anak-anaknya tak membiarkan dirinya kesepian, semua selalu bergantian untuk pulang dan tinggal di ponpes.


"Iya kenapa ndoo.." jawab Umma dengan kelembutannya


"Maafkan Nisa..." ucap Nisa dengan langsung memeluk tubuh Umma yang semakin renta itu


"Maaf, Nisa dan Arka harus meninggalkan Umma untuk sementara.. Maaf, bukan Nisa tak memikirkan perasaan Umma, tapiii..." lanjut Nisa panjang lebar, seketika terhenti


"Tapi apa?" tanya Umma penasaran


"Umma mengerti.. Arkana harus bahagia, Arkana harus tahu apa yang akan menjadi tanggung jawabnya.." lanjut Umma tiba-tiba


Nisa mengangguk pelan, air matanya semakin deras, membasahi jilbab Umma.


"Kuatkan hati mu sayang.." ucap Umma sembari mencium kening Nisa yang tepat didadanya


******


Hari ini adalah hari keberangkatan Nisa dan Arkana. Nisa dan Arkana sudah berpamitan dengan semua keluarga yang ada, dengan air mata yang tak henti-hentinya.


Arkana dan Nisa langsung menuju bandara untuk ke Surabaya.


Sesampainya di Surabaya, Nisa dan Arkana langsung dijemput oleh Rio dan Lia. Ini adalah kali pertamanya lagi Nisa bertemu langsung dengan keduanya, tentu saja tidak mengenalinya.


"Bu Annisa..." ucap Rio sedikit berteriak saat melihat wanita bercadar dengan dress berwarna serba hitam sembari bergandengan dengan anak laki-laki berwajah bule, mirip sekali dengan Almarhum Alfath.


Nisa menghentikan langkah kakinya, ia menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. Terlihat Rio dan Lia sedang melambai-lambaikan tangannya.


"Itu mereka.." ucap Nisa pada Arkana

__ADS_1


Arkana sudah tahu akan dijemput oleh Rio dan Lia, orang yang bekerja untuk perusahaan ayahnya itu.


"Assalamu'alaikum.." ucap Nisa sembari bersalaman pada Lia, lalu menempelkan pipi kanan dan kirinya, lalu bergantian menyalami Rio hanya mengangkat kedua tangannya dikuncupkan, diikuti oleh Arkana yang menyalami mereka bergantian.


"walaikumsalam.." jawab Rio dan Lia berbarengan


"ya Allah, Bu Nisa... Kangen banget deh.." ucap Lia sembari memasang wajah sumbringahnya


"Iya yaaa, lama tak bertemu.." jawab Nisa sembari merangkul tangan Lia


"Iya, gak nyangka deh bisa ketemu lagi.. Arkana juga sudah besar, mirip banget Almarhum Pak Alfath.." ucap Lia seketika berubah menjadi lirih


"Kamu ganteng jagoan.." ucap Rio mencairkan suasana


Arkana hanya tersenyum manis, wajah bule nya semakin terlihat tampan.


Nisa dan Arkana diantar oleh Lia dan Rio menuju rumah mereka yang sudah lama tak ditempati.


"Oh iya, rumahnya apa sudah disiapkan?" tanya Nisa pada Lia dan Rio


"Sudah Bu.. tadi sudah saya cek juga.." jawab Rio, kebetulan sudah datang kerumah itu tadi pagi.


Sesampainya di rumah itu, Nisa menginjakan lagi kakinya. Ia berjalan merangkul putranya, sementara Rio dan Lia sedang menurunkan barang-barang bawaan Nisa dan Arkana.


Nisa melangkah dengan pelan, sedikit demi sedikit.


"Bismillah..." ucap Nisa pelan


Arkana melihat jelas, ekspresi Ibunya yang sangat berdebar-debar. Sedari tadi Arkana memperhatikan wajah Nisa, melirik terus ke atas tepat ke wajah sang Ibu.


"Bismillah.. Ibu gak apa-apa kan?" ucap Arkana bertanya pada Ibunya


"Bismillah.. gak apa-apa kok nak.." jawab Nisa menyembunyikan perasaannya.


Ini adalah kali pertama ia kembali kerumah itu, rumah yang menjadi saksi perjalanan rumah tangganya bersama Almarhum suami yang begitu ia cintai. Rumah penuh kenangan, tangis tawa dan bahagia semua ada didalamnya. Nisa pasti akan merasakan lagi semua kenangan itu, yang membuatnya selalu ingat dengan sosok Almarhum suaminya.


Pintu besar, nan megah itu dibuka perlahan oleh Arkana. Nisa terdiam didepan pintu, kakinya seakan terhenti. Mulai terlihat semua yang ada didalamnya, Ruang tamu dengan sofa-sofa, meja, vas bunga, dan juga lukisan, dan foto pernikahan dan foto keluarga yang begitu besar mulai terlihat.


"Waaaawwww..." ucap Arkana sembari memandangi ke semua sisi sudut ruangan itu


"Assalamu'alaikum.." lanjut Arkana mengucap salam

__ADS_1


Nisa terdiam, air matanya menetes tanpa disadari. Dalam penglihatannya, ada kenangan yang kembali ia lihat. Saat duduk bersenda gurau bersama Almarhum Suaminya, dan masih banyak lagi. Air mata itu tak henti-hentinya mengalir.


"Astagfirullah.." ucap Nisa sembari berusaha menghapus air matanya


Rio dan Lia yang membantu membawakan barang-barang Nisa dan Arkana, seketika terdiam memperhatikan Nisa yang sesegukan menangis itu. Arkana yang sudah melangkahkan kakinya kedalam ruangan pun kembali keluar, menghampiri Ibunya.


"Ibu.. are you ok? Ibu kenapa?" ucap Arkana dengan lembut, ketika ia mendengar sesegukan dari tangis sang Ibu


Nisa tak menjawab apapun, ia hanya menganggukan kepalanya. Sembari mengelus kepala putranya.


"Ya Allah, apa aku sanggup masuk lebih dalam kerumah ini... Hati ini semakin rindu.." ucap Nisa dalam hatinya, sembari terus meneteskan air matanya


"Ini yang aku takutkan sedari awal.. Aku semakin mengingat sosok Mas Alfath.." ucap Nisa dalam hati


Rio dan Lia segera menghampiri Nisa dan Arkana.


"Bu.. Ibu gak apa-apa?" tanya Rio


"Bu.." ucap Lia sembari menyentuh pundak Nisa


"Aku gak apa-apa, aku baik-baik saja kok.." jawab Nisa dengan memaksakan senyumnya


"Bu, cerita saja.." ucap Lia yang begitu simpati melihat Nisa dengan air mata yang terus mengalir


Lia kemudian mengajak Nisa untuk duduk di sofa ruang tamu itu. Sementara Arkana, berkeliling rumah dengan perasaan tak sabarnya.


"Ini adalah yang aku takutkan sejak awal.." ucap Nisa dengan lirih pada Lia dan Rio


"Kenangan itu semakin jelas terasa, membuat hati ini semakin rindu, semakin tak bisa move on.." lanjut ucap Nisa menjelaskan


"Iya Bu, Lia ngerti banget perasaan Ibu. Ini adalah rumah kenangan untuk Ibu dan Pak Alfath, pastinya gak mudah yaa Bu.." ucap Lia sembari terus merangkul Nisa


"Iyaaa.." jawab Nisa lirih, sembari menghapus air matanya


"Ibu pasti kuat.." ucap Rio yang duduk berjauhan dengan Nisa


"Insya Allah, doakan yaaa.." jawab Nisa dengan senyum yang dipaksakan


Tiba-tiba Arkana kembali keruang tamu. Mengajak Nisa untuk berkeliling. Sementara Lia dan Rio membantu membereskan barang-barang yang dibawa Nisa.


Nisa menjelaskan semua sudut rumah itu, sama seperti yang ia dapatkan dulu sewaktu pertama kali tinggal dirumah itu. Setiap penjelasan, pasti ada air mata yang menetes.

__ADS_1


__ADS_2