
Arka jalan tetap sembari bergandengan dengan Zahra. Sebenarnya Arka ada perasaan kesal pada Zahra, mengapa dalam situasi seperti ini masih saja sempat-sempatnya merasa cemburu, tapi ia sudah tahu bahwa sifat wanita memang pecemburu.
Arka dan Zahra kembali keruangan Nisa, mereka melewati orang-orang yang sedang duduk diruang tunggu. Khadijah melihat pemandangan itu. Hatinya berdebar tak menentu, perasaanya yang masih untuk Arka membuatnya tak enak melihat pemandangan itu. Khadijah menundukan pandangannya, seolah tak ingin melihat pemandangan itu.
Zahra belum bertegur sapa dengan siapapun, Arka langsung mengajak Zahra untuk masuk kedalam ruangan Ibunya itu.
Di dalam Nisa langsung memegang tangan Arka, matanya seperti menahan air yang akan mentes dengan susah payah itu.
"Arka.." ucap Nisa dengan suara lirihnya
"Iya Bu.." jawab Arka sembari memegang tangan Ibunya yang kini tepat menyentuh wajahnya dengan lembut itu
"Ibu tadi bertemu Ayah, Ibu mau ikut sama Ayah, tapi kamu menangis, membuat ayah menahan Ibu untuk tidak ikut dengannya, Ayah sangat mengkhawatirkan mu.." ucap Nisa dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan
Arka lalu memeluk tubuh Ibunya yang masih lemah tak berdaya itu. Air matanya tumpah sejadi-jadinya dalam pelukan Ibunya itu.
Arka tahu itu semua dibawah alam sadar Ibunya sewaktu tadi ia kehilangan denyut jantungnya.
"Arka janji sama Ibu, Arka akan menjaga Ibu, Arka tidak akan meninggalkan Ibu lagi.. Arka akan terus melindungi Ibu semampu Arka.." ucap Arka dengan tangis yang tak mampu ia tahan
Zahra yang melihat pemandangan itu pun tak mampu untuk menahan air matanya. Ia mengelus lembut punggung suaminya itu, mencoba menenangkan suaminya itu.
Nisa hanya menyunggingkan senyum yang terlihat dipaksakan diatas tangisnya. Nisa sangat meras sedih, hatinya ingin sekali ikut dengan suaminya, tapi di sisi lain ia kasihan pada anaknya ini.
*****
Shaina dan Alif sudah kembali lagi ke Inggris, sementara Umi tetap tinggal di Surabaya bersama Arka dan Zahra.
Nisa masih dalam perawatan di rumah sakit, sementara Kedua orangtua Zahra sudah kembali pulang dan kembali beraktivitas.
Zahra kini ikut tinggal dengan Arka dirumah orangtuanya. Arka kembali disibukan dengan perusahaannya, juga dengan Ibunya yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
Zahra sangat mengerti dengan kesibukan suaminya itu, Zahra sering menggantikan Arka untuk memperhatikan Ibu mertuanya itu, juga mengurus Oma yang kini semakin tua.
Zahra juga kini yang mengatur semua keperluan rumah, dirinya sangat sibuk.
Hari berganti hari, hari ini adalah hari sabtu. Arka biasanya sudah off dalam pekerjaannya, dan fokus pada keluarganya. Matahari pagi sudah menyapa, Zahra yang sudah sibuk sedari pagi dengan mengurus Oma, membantu Oma untuk mandi, sarapan, lalu mengajaknya untuk berjemur.
Arka memperhatikan semua yang Zahra lakukan secara diam-diam.
"Masya Allah istri sholeha ku.. Dia mau bersusah payah merawat Oma ku, Ibu ku, padahal dia tidak pernah dibesarkan oleh keluargaku.. Ia rela meninggalkan keluarganya demi bersama ku, bahkan jarang menemui orangtuannya" ucap Arka dalam batinnya
Zahra melihat Arka yang terpergok sedang memperhatikannya dari pintu untuk ke halaman belakang, dimana Zahra sedang berjemur dengan Oma. Zahra hanya menyunggingkan senyum manis pada suaminya itu.
__ADS_1
Oma memperhatikan mereka berdua.
"Zahra, akhir-akhir ini kamu selalu sibuk mengurus Oma juga Nisa, kamu pasti lelah bukan? Dan suami mu jarang kamu layani.." ucap Oma tiba-tiba
"Layani suami mu, habiskan waktu bersamanya, mumpung dia sedang libur. Biarkan Oma bersama Ijah, dan Rani yang akan mengunjungi Nisa.." lanjut ucap Oma pada Zahra
"Zahra tidak lelah Oma, Zahra senang bisa merawat Oma juga Ibu.. Zahra dan Mas Arka masih ada waktu kok untuk berdua" ucap Zahra dengan lembut
"Oma sebentar ya Zahra tinggal dulu, Zahra akan melihat kedapur sebentar" ucap Zahra berpamitan pada Oma
Oma hanya mengangguk, dengan senyum manis diwajahnya. Zahra lalu berjalan masuk kedalam, dan berlalu.
Ketika Zahra hendak masuk ke dapur, ia melihat suaminya yang sedang berbaring di sofa ruang tengah.
Zahra menghampirinya, lalu mendekat ke wajah suaminya itu.
"Mas.. rasanya aku rindu waktu kita berdua.." ucap Zahra dengan pelan berharap Arka tak mendengar ucapannya, sembari mengelus wajah suaminya dengan lembut.
Zahra lalu berjalan menuju dapur, ia hendak menulis daftar belanjaan yang harus dibeli oleh Rani sang asisten rumah tangga.
Arka sebenarnya mendengar ucapan Zahra itu, karena sebenarnya Arka tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya ketika mendengar suara langkah kaki masuk kedalam rumah.
"Kasihan kamu.. Sungguh pasti kamu sangat lelah dengan semua ini, semoga Allah membalas mu dengan surga terindah" ucap Arka sembari melihat Zahra yang berjalan menuju dapur.
"Sayang.." ucap Arka menghampiri Zahra di dapur
"Iya Mas, kamu sudah bangun.." ucap Zahra sembari menoleh ke arah suaminya itu
"Iya Sayang.. Kamu akan mengunjungi Ibu?" tanya Arka setelah melihat kotak makan itu
"Iya Mas, seperti biasa Ibu selalu rindu masakan rumah, kasihan Ibu makan makanan rumah sakit terus" ucap Zahra sembari terus fokus pada bekal makanan itu
"Mari kita berangkat bersama.." ucap Arka mengajak Zahra
Zahra dan Arka lalu berangkat bersama menuju rumah sakit. Di dalam mobil, Zahra yang terlihat lelah, mencoba memejamkan matanya hingga ketiduran. Sungguh pemandangan yang membuat Arka sedih melihat Zahra.
"Sayang pasti kamu sangat lelah.." ucap Arka pelan sembari tetap fokus pada jalanan
Saat sudah mau sampai Zahra terbangun, matanya tiba-tiba terbuka.
Zahra dan Arka berjalan bergandengan mask kedalam rumah sakit, dan langsung menuju ruangan Nisa. Saat melewati sebuah ruang tunggu, Zahra terkejut dengan seseorang yang memanggil namanya.
"Zahra.." sapanya dengan ekspresi gembira
__ADS_1
Zahra dan Arka seketika menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh kearah sumber suara itu.
"Pak Arfan.." ucap Zahra balik menyapanya
"Assalamu'alaikum.." lanjut ucap salam Zahra pada Arfan yang ternyata adalah teman guru Zahra sewaktu mengajar di sekolah dulu
"Walaikumsalam.. Sedang apa kalian kemari?" jawabnya lalu dengan langsung menanyakan
"Saya akan menemui Ibu mertua saya, karena sedang dirawat disini.." jawab Zahra dengan cepat
Arka tak suka, karena pria itu tak sama sekali menyapa dirinya.
"Oh begitu, memangnya kenapa Ibu mertuanya? Jadi kamu sering dong kemari?" lagi-lagi tanya Arfan pada Zahra
"Ibu mertua ku kecelakaan pesawat waktu itu, iya setiap hari saya kemari. Maaf kami permisi" jawab Zahra lalu berpamitan dan meninggalkan Arfan sebelum dirinya sempat menjawab
Zahra sudah tahu suaminya tak suka karena sedari tadi Arka hanya terdiam, jelas dari raut wajahnya ia sangat tak suka pada Arfan.
"Andai saja dulu kau menikah dengan ku, kau tak akan susah payah seperti itu" tiba-tiba ucap Arfan memang tidak kencang, tapi terdengar jelas ditelinga Arka dan Zahra
Wajah Arka semakin memerah, tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya.
"Ingin rasanya aku marah padanya!" ucap Arka dalam batinnya
Zahra sangat takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, Zahra menarik tangan Arka untuk terus jalan ke ruangan Nisa.
Nisa sudah diperbolehkan pulang, selepas makan siang, Zahra membereskan semua barang-barang milik Ibu mertuanya itu, begitu juga dengan Arka dia sibuk mengurus administrasi. Lagi-lagi diruang administrasi Arka bertemu dengan Arfan, jelas Arka tak ingin menyapanya apa lagi berbincang pada pria itu, Arka terlihat biasa saja dia tak menghiraukan Arfan yang sedari tadi memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah selesai dengan urusannya, Arka lalu berjalan hendak kembali keruangan Ibunya, tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti.
"Tunggu!" ucap Arfan sembari menahan tangan Arka
Arka seketika menoleh dengan wajah yang sangat kurang ramah.
"Mau apa?" tanya Arka dengan jutek
"Kau suaminya Zahra, saya titip jangan kamu menyakiti Zahra, atau aku.." ucap Arfan sedikit mengancam
"Atau apa? kau akan apa?" tanya Arka dengan wajah memerah, emosi yang mulai menaik, Arka memotong ucapan Arfan.
Arfan terdiam melihat Arka yang mulai emosi.
"Kalau kau berani menyakitinya, akan ku rebut kembali Zahra! Dia lebih pantas dengan ku, bukan dengan pria bule seperti!" ucap Arfan dengan ancamannya
Arka malas menanggapi pria tak jelas itu, Arka langsung berjalan meninggalkan Arfan yang masih bicara itu. Zahra melihat Arka dan Arfan, perasaannya mulai tak karuan, ia melihat suaminya, wajahnya sudah memerah emosi, Zahra langsung masuk kembali kedalam ruangan Nisa.
__ADS_1
Arka yang baru datang langsung masuk kedalam ruangan Ibunya, mencoba menenangkan hatinya dulu, tanpa memperlihatkan amarahnya, Arka masuk kedalam lalu mengajak Nisa dan Zahra pulang kerumah.