Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 11


__ADS_3

Nisa mengajak Arkana untuk naik kelantai atas. Cadar yang Nisa gunakan sudah semakin basah oleh air mata yang tak henti-hentinya itu.


Nisa membuka ruangan yang dekat dengan tangga. Ruangan itu terkunci, membuat Arkana bertanya-tanya.


"Bu, kok yang ini ruangannya dikunci? Kuncinya sama Ibu yaaaa?" tanya Arkana yang merasa heran


"Iyaaa sayang, ini adalah ruang kerja Ayah.." jawab Nisa sembari memutar kunci sampai terbuka, lalu membuka pintu itu perlahan.


"Dulu sewaktu Ayah masih ada, ruangan ini terbiasa dikunci oleh Ayah, katanya banyak berkas-berkas penting, makanya Ibu mengikuti Ayah untuk menguncinya selama tak ditinggali.." lanjut penjelasan Nisa


"Pantas saja, ruangan ini jadi tidak pernah dibersihkan yaaa Bu.." ucap Arkana karena melihat debu yang begitu tebal


"Iyaaa.." jawab Nisa


Lagi-lagi Nisa melamun, melihat meja kerja dengan foto Nisa dan Alfath yang masih terpampang diatasnya. Bayangan kenangan pun terlintas lagi dalam penglihatannya.


Nisa yang membawakan minuman untuk Alfath, Alfath yang menarik Nisa untuk duduk dipangkuannya. Bayangan yang begitu jelas dalam ingatannya


"Ya Allah.." ucap Nisa lalu diikuti dengan air mata yang kembali menetes


Arkana langsung menoleh kearah Ibunya.


"Buuu..." ucap Arkana sembari memeluk Nisa dengan halus


"Pasti banyak banget ya kenangan Ibu dan Ayah.. Ibu jadi tambah rindu yaa sama Ayah?" ucap Arkana


Nisa menganggukan kepalanya. Tak dapat berkata-kata rasanya, lidahnya seakan kelu, tertahan.


"Mas.. sungguh aku sangat rindu.." ucap Nisa yang tak lagi bisa tertahan, tangisnya lagi-lagi pecah


Arkana terus memeluk sang Ibu, tak ia lepaskan begitu saja. Arkana merasakan sesegukan yang luar biasa dari Ibunya.


Nisa mulai menenangkan hatinya, ia sadar malu oleh sang anak.


"Maafkan Ibu, Arka.." ucap Nisa sembari memandang kearah putranya


"Tidak apa-apa Bu.. menangislah.. jika membuat Ibu merasa lebih lega.." jawab Arkana sembari tersenyum manis pada ibunya

__ADS_1


Nisa hanya terdiam, lalu keluar dari ruang kerja itu, diikuti oleh Arkana yang juga keluar lalu menutup pintu itu perlahan.


"Ini adalah kali pertamanya aku melihat Ibu menangis begitu pecah karena rindu pada ayah.. Berarti selama ini, Ibu hanya pura-pura kuat ketika menceritakan rindunya pada Ayah didepan ku.. Ya Allah, persatukan kembali kami di surga mu.. Persatukan kembali Ayah dan Ibu, bahagiakan mereka.. Karena itu adalah kebahagiaan ku.." ucap Arkana dalam hatinya, lalu berdoa pada Allah.


Kini Nisa masuk kedalam sebuah kamar, dimana dulu pertama kali ia tempati bersama Alfath. Mata Nisa tak henti-hentinya melihat keseluruh sudut ruangan itu, lagi-lagi banyak bayangan kenangan dalam penglihatannya, cumbu rayu diatas kasur, bayangan saat sholat berjama'ah bersama, dan masih banyak lagi.


Air mata yang semakin tak tertahankan, mata Nisa mulai mengeluarkan air kembali. Arkana yang berada disamping Nisa melihatnya dengan jelas, bahwa Ibunya kini menangis lagi.


"Buuu.. Maafkan aku, maaf gara-gara aku ingin tinggal disini, membuat Ibu merasa sedih lagi karena rindu pada Ayah.." ucap Arkana dengan lembut dan pelan, sembari menggandeng tangan Ibu nya


Seketika Nisa menoleh kearah Arkana, menatap dalam-dalam pada mata Arkana.


Lalu Nisa berdiri dengan lututnya dihadapan putranya itu.


"Tidak nak, kamu tidak salah... Maafkan Ibu yang tak bisa menyembunyikan sedih ini, ibu hanya rindu sekali pada Ayah.." ucap Nisa dengan lembut sembari mengelus tangan putranya itu


"Ini adalah yang Ibu takutkan untuk kembali tinggal disini, tapi kamu juga berhak tahu dan berhak bahagia dengan apa yang seharusnya.. Maafkan Ibu yaaa.." lanjut ucap Nisa panjang lebar


Arkana tersenyum lalu memeluk Ibunya, kepala Nisa yang kini tepat di dada Arkana.


Setelah Nisa menunjukan semua ruangan dilantai atas, kini Nisa dan Arkana turun ke bawah hendak untuk menghampiri Rio dan Lia.


Nisa menghapus dulu air matanya, lalu mencuci mukanya, dan membetulkan jilbabnya didalam kamar sebelum turun kebawah, karena ia tak ingin terlihat lusuh setelah menangis sedari tadi.


Arkana menunggu dengan berbaring di atas kasur, dimana tempat tidur Almarhum ayahnya dan Ibunya sewaktu dulu itu.


Setelah merasa siap, Nisa mengajak Arkana untuk turun kebawah.


Nisa dan Arkana menuruni anak tangga sembari berbincang-bincang seru.


"Buu.. nanti kita tidurnya dikamar yang mana?" Tanya Arkana bersemangat


"Di kamar Ibu saja ya diatas, nanti kita buat dulu kamar untuk mu, membeli barang-barang khusus untuk mu, baru deh kamu punya kamar sendiri yaaa" jawab Nisa dengan lembutnya


"Yeeee asiiikkk.." ucap Arkana begitu senang


Tak lama Nisa langsung menghampiri meja makan, dimana banyak sekali makanan sudah tersaji.

__ADS_1


"Bu Annisa, Arkana mari makan..." ucap Lia dengan ramah sembari menata sendok dan garpu


"Iya Bu, mari makan.. Mau pada makan sekarang?" ucap Rio yang baru saja datang dari dapur dengan teko berisi air minum


"Maaauuu..." ucap Arkana yang sudah lapar sedari tadi


"Kalian siapkan ini? Terimakasih banyak yaaa.." ucap Nisa begitu senang


Dimeja makan tersedia nasi dan lauk pauk, ada bakso kesukaan Nisa dan Alfath, juga rujak kesukaan Nisa dan Alfath.


Rio begitu tahu kesukaan bosnya, lalu berinisiatif untuk menyiapkan semua menu itu, karena ia tahu Nisa pasti rindu makanan Surabaya.


"Ini adalah bakso kesukaan ayah dan Ibu sewaktu dulu, cobain deh..." ucap Nisa pada Arkana


Nisa, Arkana, Lia dan Rio makan bersama menghabiskan semua makanan yang tersaji diatas meja makan.


Setelah semua selesai makannya, kini Nisa ingin berbicara masalah pekerjaan dan kehidupan Nisa dan Arkana yang baru di Surabaya ini.


"Jadi kapan Ibu akan kembali ke kantor? Kami sedang ada proyek baru, semua proyek dari Pak Alif sudah selesai.." ucap Rio pada Nisa


"Mungkin besok saya akan datang dulu ke kantor bersama Arkana.." jawab Nisa


"Baik Bu.." ucap Rio dan Lia berbarengan


"Saya ingin 2 orang untuk membantu dirumah, untuk menemani kami.. Apa kabar dengan Mbok Iyem?" ucap Nisa lalu menanyakan kabar Mbok Iyem


"Mbok Iyem sudah semakin tua, sudah tidak lagi mampu bekerja. Yang suka beres-beres dan bersih-bersih disini adalah Ijah anak Mbok Iyem, Rani menantunya dan Karim anak laki-laki Mbok Iyem.." jawab Rio menjelaskan


"Apa Ibu mau mempekerjakan mereka dan tinggal disini?" lanjut tanya Rio pada Nisa


"Boleh kalau mereka mau.." jawab Nisa


"Baik Bu, saya akan urus.." jawab Rio dengan cepat


Rio dan Lia kini menjelaskan tentang panti asuhan, panti jompo, dan masjid-masjid peninggalan Alfath.


Arkana baru mendengar semuanya, ia terkagum-kagum, Ayahnya meninggal dengan banyak meninggalkan ladang amal untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2