Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 97


__ADS_3

Azam baru saja kembali dari ruang donor darah itu, ia melihat pemandangan yang sangat tidak enak. Arka, Nisa dan Tiara menangis dan begitu bersedih. Perasaanya berubah menjadi tak enak, gelisah tak karuan, rasanya ingin tahu tapi tidak ingin mendengar berita buruk.


Azam melangkah perlahan, selangkah demi selangkah mendekat ke arah Tiara yang sedang duduk sembari menangis sesegukan itu.


Arka menyadari kedatangan ayah mertuanya itu, ia langsung menoleh ke arah Azam. Tiba-tiba Arka bangkit dari duduk dan berlari mendekat ke arah Ayah mertuanya itu, lalu memeluk erat, dan menangis lagi dalam pelukannya.


"Arka ada apa?" tanya Azam penuh perhatian, suaranya sendu karena ragu untuk bertanya takut mendengar berita buruk yang tak mengenakan


Arka menumpahkan air matanya lagi dalam pelukan ayah mertuanya itu.


"Zahra kritis Bi.." ucap Arka dengan suara berat


Seketika Azam terdiam, tak mampu berkata-kata, pandangannya kosong ke sembarang arah. Azam tak kuasa menahan sedihnya, baru kali ini ia merasa putrinya sangat lemah. Tak terasa air matanya menetes langsung dengan deras membasahi pipinya.


Tak lama Zahra yang sedang kritis dibawa keluar oleh Suster untuk dipindahkan ke IGD, dengan terburu-buru.


Arka, Azam, Nisa dan Tiara melihat Zahra yang tak sadarkan diri itu, terbaring lemah tak berdaya diatas bed itu.


"Zahraaaa..." ucap Tiara seketika melihat Zahra yang sedang kritis itu, tak kuasa ia menahan ingin memeluk tubuh putrinya itu


Nisa menahan dan memeluk Tiara, karena Zahra benar-benar belum bisa ditemui, Suster membawanya dengan terburu-buru, Azam dan Arka pun hanya terdiam melihat tubuh lemah Zahra yang ada dibed itu. Hanya air mata yang terus mengalir deras.


Azam dan Arka saling terduduk, mencoba menenangkan dirinya. Tiara dan Nisa masih berdiri dan saling berpelukan.


Tak lama Ahsan, adik Zahra satu-satunya tiba dan menghampiri semuanya yang masih diruang tunggu depan ruang operasi itu.


"Abi.. Mbak Zahra kenapa?" tanya Ahsan karena terkejut melihat Zahra yang dibawa dalam bed dengan terburu-buru itu


Azam tak langsung menjawabnya, ia langsung memeluk tubuh Ahsan putra bungsunya itu, dan kembali meneteskan sisa-sisa air matanya dalam pundak putranya itu.


"Mbak Zahra sudah melahirkan.. Alhamdulillah anaknya kembar, laki-laki.." ucap Azam setelah menenangkan dirinya dan menyeka air matanya, terlihat senyumnya menyungging dipaksakan


"Kamu sudah menjadi paman.." lanjut ucap Azam yang mencoba menenangkan Ahsan agar tak ikut panik


Ahsan masih terlihat bingung, karena Mamanya juga Nisa dan Arka kakak iparnya itu masih saja larut menangis.


"Bukannya usia kandungan Mbak Zahra baru 7 bulan ya?" tanya Ahsan kebingungan


Arka tersenyum tipis pada Ahsan setelah menyeka air matanya.


"Mbak Zahra melahirkan prematur, san.." ucap Arka mencoba menjawab pertanyaan Ahsan.


Lalu Arka menjelaskan semua kodisi Zahra dan kedua anaknya itu pada Ahsan. Tapi kali ini Arka sudah terlihat lebih lega.

__ADS_1


Ahsan hampir saja lupa dengan jinjingan yang ia bawa.


"Mama, Abi, Bu Annisa.. Mas Arka.. makan dulu nih, Ahsan bawakan makanan.. Kalian pasti belum makan kan sedari tadi pagi?" ucap Ahsan sembari membuka kantong putih yang ia bawa, untuk menenangkan suasana untuk sementara


Nisa membantu menyiapkan makanan, untuk Tiara, Azam juga Arka, putranya itu. Nisa membagikan pada semuanya.


"Kalian harus makan, biar tidak sakit. Zahra dan cucu kita, anak mu Arka, membutuhkan kita semua.. Kita harus tetap sehat untuk Zahra dan bayinya" ucap Nisa mencoba membujuk semuanya yang masih bersedih itu


Arka benar-benar lapar, tapi ia merasa tak nafsu makan. Selera makannya hilang ketika mengingat kondisi istri juga kedua anaknya.


"Mas Arka, ayo makan.." ucap Ahsan sembari menyunggingkan senyumnya


Arka lalu mengangguk, dan mulai menatap kearah makanan yang dibawakan oleh Ahsan.


Waktu sudah dzuhur, sarapannya terlewat dan ini menjadi makan siang untuk Arka , Azam juga Tiara. Setelah sholat Arka, Ahsan dan Azam sholat dzuhur lebih dulu, sementara Nisa dan Tiara menunggu di depan ruang IGD.


Tak lama setelah sholat Arka kembali kedepan ruang IGD, kini bergantian dengan Tiara dan Nisa untuk sholat dzuhur.


Arka masih termenung diam dikursi ruang tunggu itu, tiba-tiba seorang suster berjalan menghampiri Arka.


"Permisi Pak.. Apakah anda ayah dari bayi kembar yang lahir prematur itu?" tanya Suster pada Arka


Seketika Arka dan Azam menoleh ke arah suster itu.


"Mari Pak ikut dengan saya, ada sesuatu yang harus anda isi data juga dokter ingin menjelaskan sesuatu.." ucap Suster sembari menunjukan tangannya kearah kemana harus melangkah


"Baik Sus.." jawab Arka dengan langsung


"Abi, Arka tinggal dulu yaaa.. Tolong kabari Arka jika ada kabar dari Zahra" ucap Arka berpamitan pada Azam yang duduk disampingnya itu


"Iya Ka.." jawab Azam dengan langsung


Arka lalu berjalan mengikuti langkah suster yang lebih dulu berjalan di depannya itu. Arka diajak ke sebuah ruangan samping ruang NICU. Lebih tepatnya ruang konsultasi dengan Dokter penanganan Bayi di ruang NICU.


"Silahkan duduk Pak.." ucap Suster menunjukan kursi yang ada di hadapan meja dokter, karena dokternya belum datang masih di dalam ruang NICU


"Iya terimakasih" jawab Arka sembari meraih kursi itu untuk duduk


Suster langsung mencari berkas diatas lemari yang ada di ruangan itu, Dokter yang melihat kedatangan Arka langsung menghampiri dan ikut duduk berhadapan dengan Arka di kursi kebesarannya.


"Selamat siang Pak.. Saya Bayu dokter spesialis anak penanggung jawab NICU" ucap dr. Bayu dengan ramah, sembari menyodorkan tangannya pada Arka untuk bersalaman


"Siang Dok.." jawab Arka singkat, sembari menerima jabatan tangan dr. Bayu

__ADS_1


Suster berbalik badan dan memberikan beberapa lembar kertas putih pada Dr. Bayu yang sudah ia cari sedari tadi di lemari.


Dr. Bayu membuka lembar demi lembar kertas itu, setelah mengamatinya lalu memberikannya pada Arka.


"Pak, tolong ini diisi dulu yaaa.." ucap dr. Bayu sembari menyodorkan kertas itu beserta pulpennya


"Baik dok'" jawab Arka dengan cepat dan langsung menerima kertas itu.


Arka langsung membacanya dan mengisi formulir yang bertuliskan identitas orangtua bayi.


"Nama Ayah: Muhammad Arkana Swain


Nama Ibu: Azzahra Putri"


Data yang pertama kali Arka isi, lalu dilanjutkan dengan alamat, pekerjaan, dan lainnya.


Tiba-tiba Arka terhenti ketika melihat tulisan nama untuk kedua buah hatinya itu. Sama sekali ia belum kepikiran.


Dokter memperhatikan Arka yang terdiam itu.


"Kenapa Pak?" tanya Dr. Bayu pada Arka yang terhenti itu


"Ini Dok, untuk nama anak-anak saya.. Saya harus bertanya dulu pada istri saya.." ucap Arka dengan lirih


Dr. Bayu termenung mendengar ucapan Arka yang memang kebingungan itu, tak mampu menjawab lagi, karena dr. Bayu tahu ibu dari kedua bayi kembar itu kini sedang kritis.


"Maaf ya Pak.. Saya ikut merasa sedih" ucap Dr. Bayu pada Arka


Arka hanya menganggukkan kepalanya, dengan senyum tipis diwajahnya, terlihat sangat dipaksakan.


"Apa boleh saya melihat dulu kedua anak saya?" tanya Arka karena ia baru sebentar melihat kedua buah hatinya itu.


"Tentu boleh Pak.. Tapi saya ingin menjelaskan semua prosedur dan kondisi anak Pak Arkana.." jawab dr. Bayu dengan ramahnya


Arka mengangguk mengerti dengan ucapan dr. Bayu. Arka mencoba menyiapkan diri untuk fokus mendengarkan penjelasan dari dr. Bayu.


-----------


Hallooo kakak-kakak readers yang selalu setia menunggu novel ini..


Terimakasih untuk semua dukungannya, terimakasih untuk yang selalu support vote dan likenya 😉


Bocoran sedikit, sekarang sudah masuk episode-episode terakhir nih Kakak-Kakak. Kira-kira endingnya akan seperti apa yaaa?

__ADS_1


Tolong bantu masukannya juga dong untuk nama bayi kembar Arka dan Zahra ini, tulis di kolom komentar yaaa 😉


__ADS_2