
Nisa kini melanjutkan hidupnya di Surabaya kembali memegang perusahaan dan bekerja setiap hari ke kantor. Sementara Arkana melanjutkan sekolahnya, seperti biasa di sekolah Negri biasa layaknya anak-anak lain.
Kegiatan Nisa pun setiap harinya berbeda, ia selalu mengunjungi panti asuhan, yayasan dan lainnya.
Kehidupan itu kini kembali normal, Nisa dan Arkana sudah terbiasa ditempat baru ini.
Tak ada lagi canggung, dan sudah sangat hafal jalan-jalanan di Surabaya. Nisa sudah sangat mandiri, ia selalu berusaha sebisa mungkin menyelesaikan keperluan dan kebutuhannya sendiri, tanpa melibatkan Rio sang asisten Almarhum suaminya, yang otomatis kini menjadi asistennya.
Waktu Nisa benar-benar dihabiskan untuk bekerja dan melakukan aktivitas bersama putranya.
Hari ini adalah hari Jum'at pagi, Nisa sudah menyiapkan sarapan untuk putranya, dibantu oleh asisten rumah tangganya.
Nisa duduk untuk menunggu Arkana turun dari kamarnya, tentunya kamar baru milik Arkana sendiri, bersampingan dengan kamar Ibunya itu.
"Arkaaa.. Ayo cepat sarapan, nanti telat.." teriak Nisa agar di dengar oleh putranya itu
"Iya Bu, aku udah siap.." jawab Arkana lembut sembari menuruni anak tangga
Wajah Arkana semakin dewasa semakin mirip sekali dengan Almarhum ayahnya, ketampanan yang begitu diwarisi kepada anaknya itu, membuat Arkana semakin terlihat seperti Bule.
Tiba-tiba ponsel Nisa berdering. Nisa yang sedang mengunyah makanannya pun langsung seketika menghentikan makannya, dan menoleh kearah ponsel.
"Umi?" ucap Nisa pelan
Nisa begitu kaget, tak seperti biasanya Umi menghubungi pagi-pagi seperti ini. Perasaan Nisa mulai tak enak. Kemudian Nisa berdiri dari duduknya, setelah menelan sisa-sisa makanan di mulutnya
"Assalamu'alaikum Umi.." sapa Nisa terlebih dulu
Arkana yang mendengar itu pun langsung menoleh kearah Ibunya yang sedang berbicara, ia tahu yang dipanggil Ibunya Umi adalah Neneknya yang ia panggil dengan sebutan Oma.
"Walaikumsalam Nis, maaf Umi mengganggu. Umi ingin mengabarkan kondisi Papa.." jawab Umi dengan suara yang begitu lirih
"Papa kenapa Umi? Ada apa?" ucap Nisa dengan paniknya
"Papa tadi tertabrak motor, sekarang sedang di ICU..." jawab Umi terbata-bata
"Innalillahi.." ucap Nisa yang langsung merasa lemas, kakinya seolah tak bisa lagi menopang berat badannya, Nisa menyandarkan badannya ke tembok sembari berpegangan kepagar pembatas tangga.
Arkana yang mendengar dan melihat Ibunya yang sampai seperti itu langsung menghentikan makannya, dan berlari ke arah Ibunya.
"Ada apa Bu? Opa kenapa?" tanya Arkana bertubi-tubi dengan penasaran cemasnya
"Opa.." jawab Nisa terhenti, seakan berat sekali
"Opa kenapa Bu? Ada apa?" tanya Arkana sembari memandang dalam-dalam wajah Ibunya
Ijah dan Rani sang asisten rumah tangga pun ikut menghampiri ketika melihat keadaan Nisa yang lemah seperti itu.
__ADS_1
"Ibu kenapa? Apa perlu ke dokter?" tanya Ijah dengan khawatir
"Ah tidak-tidak.." jawab Nisa dengan cepat.
"Tolong bantu siapakan pakaian kami kedalam koper, kami akan ke Inggris untuk sementara waktu.." tiba-tiba ucap Nisa mengejutkan.
"Opa kenapa Bu?" tanya Arkana yang masih penasaran
"Opa sakit sayang.. Kita harus segera kesana, Opa pasti butuh kamu.." ucap Nisa dengan lembut pada Arkana agar tak mengagetkan perasaan Arkana
"Baik bu.. Kapan kita berangkat?" ucap Arkana lagi
"Kamu pergilah ke sekolah dulu, minta di antar oleh Pa Karim yaa naik motor.. Ibu akan mengurus tiket keberangkatannya dulu.." jelas Nisa pada Arkana
Arkanapun mengerti, ia langsung pergi ke sekolah bersama Karim, tukang kebunnya, menaiki motor matic milik Ibunya.
Nisa dengan cepat menghubungi Rio agar datang kerumahnya. Sementara Nisa sembari beberes pakaian untuk dibawa ke Inggris.
"Bi, saya titip rumah yaa.. Kemungkinan saya akan aga lama disana, Ayah mertua saya kecelakaan.." ucap Nisa pada Ijah yang sedang membantu mengemasi pakaian
"Baik Bu.. Semoga lekas sembuh yaa Bu untuk Pa John.. Aamiin.." jawab Ijah sembari mendoakan
Tak lama, Rio datang kerumah Nisa dan sudah dipersilahkan duduk diruang tamu oleh Rani asisten rumah tangga Nisa yang lainnya. Nisa yang sudah diberi tahu, dengan cepat turun kebawah.
"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Rio menyapa saat Nisa sudah terlihat diruang tamu
"Innalillahi.. Lalu bagaimana sekarang Bu?" jawab Rio kembali bertanya
"Saya akan berangkat ke Inggris, bisa minta tolong urus tiket keberangkatan kami, saya ingin secepatnya.." ucap Nisa dengan cepat menjelaskan
"Baik Bu, saya hubungi pihak Bandara dulu, ke temen saya siapa tahu bisa bantu.." jawab Rio dengan cepat sembari mengambil ponselnya didalam saku celananya
Rio menghubungi kenalannya yang bekerja di Bandara itu, dengan cepat ia mendapatkan 2 tiket keberangkatan untuk ke Inggris jam 2 siang nanti.
"Terimakasih banyak yaa.. Maaf selalu merepotkan.." jawab Nisa setelah diberi tahu akan tiketnya
"Saya juga titip lagi kantor yaa.." tambah Nisa menambahkan
"Sama-sama Bu, tidak repot sama sekali Bu.. Saya senang bisa membantu Ibu dan Arkana.. Untuk masalah kantor, tenang saja Bu.." jawab Rio panjang lebar.
Kemudian Rio kembali ke kantor, sementara itu Nisa langsung menghubungi pihak sekolah Arkana untuk memberi izin Arkana pulang dan izin beberapa hari kedepan sembari meminta untuk belajar dirumah online dulu agar tidak ketinggalan pelajaran.
Nisa dan Arkana kemudian berangkat ke Inggris, dengan taxi online yang sudah dipesan Nisa untuk mengantar ke Bandara. Nisa dan Arkana langsung mendapatkan tempat duduk di pesawat. Hatinya begitu cemas akan kabar Papa.
Nisa dan Arkana sampai di Inggris sudah larut malam. Nisa lalu menghubungi Umi, Umi begitu kaget ketika Nisa dan Arkana sudah tiba di Inggris, tak menyangka menantu dan cucunya akan datang. Nisa yang tak ingin merepotkan langsung diberi petunjuk saja untuk pulang dulu kerumah Umi dengan taxi dari Bandara. Sesampainya dirumah, disana hanya ada asisten rumah tangga yang di sewa Umi baru saja.
Malam berganti pagi, Nisa dan Arkana sudah membuat sarapannya dirumah Umi hanya berdua, karena Umi tidak bisa meninggalkan Papa. Setelah sarapan, Nisa langsung mengajak Arkana untuk ke rumah sakit. Ini adalah kali pertama Nisa di Inggris tanpa sosok suaminya.
__ADS_1
Nisa dan Arkana menaiki taxi untuk segera sampai dirumah sakit, dengan membawa bekal untuk Umi sarapan.
Umi sudah terlihat, sedang menunggu kedatangan Nisa dan Arkana.
"Umi.." ucap Nisa
"Oma.." ucap Arkana sedikit teriak lalu berlari kearah Neneknya itu
Seketika Umi menoleh kearah suara itu. Dengan cepat Arkana memeluk tubuh Neneknya itu.
"Assalamu'alaikum Umi.." ucap Nisa lalu mencium punggung tangan Umi
"Walaikumsalam.. Alhamdulillah kalian datang dengan selamat.." jawab Umi lalu bergantian memeluk Nisa
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Nisa dengan begitu cemas
"Papa tak sadarkan diri, masih dirawat di ruang ICU.." jawab Umi dengan mata yang begitu sendu, sembari menunjukan kearah ruang ICU dimana kacanya bisa melihat kedalam.
Nisa dan Arkana dengan cepat menengok, menghampiri kaca yang tembus pandang kedalam itu.
Terlihat Papa yang terbaring lemah, dengan beberapa alat di tempel ke dada, selang oksigen kehidung, dan selang yang masuk kedalam mulut.
"Ya Allah Umi.. bagaimana kejadiannya? kenapa separah ini?" ucap Nisa tak lagi mampu menahan air matanya
"Kemarin Pagi, Papa berniat untuk membuang sampah ke depan, lalu ingin membeli roti tawar dan susu fresh ditempat langganannya. Papa bilang setelah subuh, sembari ingin berolahraga dengan sepedanya itu alasannya saat Umi tak mengizinkannya.." cerita Umi panjang lebar
"Setelah itu, Umi mendapat kabar Papa tertabrak dan sudah dilarikan ke rumah sakit ini. Katanya Papa terpental, kepalanya terbentur lalu tersungkur, sepedanya pun rusak parah.." lanjut Umi menceritakan dengan air mata yang ia tahan susah payah
"Innalillahi.." ucap Nisa setelah mendengar cerita Umi, lalu meneteskan air matanya
"Lalu apa kata dokter Umi?" tanya Nisa penasaran
"Yaa dikepala Papa ada pendarahan. Hari ini akan di operasi.. Tulang tengkorak kepalanya pun ada yang retak.." jawab Umi dengan air mata yang tak tertahan
Arkana yang juga mendengar itu, ia terus menangis tak henti-hentinya.
"Ya allah.." ucap Nisa tak mampu lagi berkata-kata
Tiba-tiba datang Shaina dengan sang suami, yang baru saja tiba di Inggris, karena sedang berada di Turkey. Shaina yang tak mampu menahan tangis itu, lalu memeluk Umi dengan erat, dan tangis yang begitu pecah.
Alif terlihat begitu tenang, ia menenangkan kepada semuanya.
Tiba-tiba sang dokter datang, Alif yang langsung menghampirinya.
"Tindakan apa yang akan diambil selanjutnya dokter? Lakukanlah semua yang terbaik untuk ayah mertua saya, saya akan bayar berapapun itu, sembuhkan ayah mertua saya dok.." ucap Alif dengan nada yang begitu cepat
"Baik tuan.. Kami akan lakukan semua yang terbaik, berdoalah.." jawab Dokter yang akan menangani Papa
__ADS_1