Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 87


__ADS_3

Arka tidak ingin pusing dengan kemunculan Risa kembali, ia berusaha menenangkan dirinya, dan memilih untuk memperbaiki kinerja perusahaannya agar tetap di percaya oleh banyak clientnya.


Arka kini lebih bisa mengendalikan dirinya untuk lebih bersikap dewasa dalam setiap permasalahan yang datang.


Hari berganti senja, Arka sudah kembali pulang kerumahnya sebelum magrib. Entah kenapa ia lebih gampang merasakan rindu pada istrinya yang kini sedang mengandung anaknya itu.


"Assalamu'alaikum.." ucap Arka yang baru saja tiba dirumahnya


Zahra yang sudah mandi sore, bersiap untuk menyambut kepulangan suaminya itu di ruang tamu. Semenjak tahu hamil, Zahra sudah tidak pernah lagi naik turun tangga, ia juga sudah tidak masak sendiri dan benar-benar hanya beristirahat total mengikuti saran dokter, karena usia kehamilannya yang juga masih rentan.


"Walaikumsalama Mas.. Aku rindu sekali" jawab Zahra lalu memeluk suaminya dengan erat


Arka tersenyum geli, istrinya sekarang yang mulai posesif membuat Arka semakin senang.


"Mas juga rindu kalian.." ucap Arka yang sebenarnya sama merasakan gampang rindu pada istri dan calon anaknya itu.


Lalu Arka mencium kening Zahra, bergantian mencium perut Zahra yang masih datar itu.


Zahra merasa senang dengan perlakuan suaminya itu.


"Oh iya, Mama tadi kesini tapi sudah pulang sebelum ashar.." ucap Zahra memberitahu pada suaminya


"Oh iya syukur kalau gitu.. Mama kalau kesini, pulangnya minta di antar oleh supir yaaa jangan dibiarkan pulang sendiri" jawab Arka lalu memberitahukan Zahra


"Iya Mas.." jawab Zahra singkat


Semenjak kepulangan waktu itu, Arka dan Zahra tidak tidur di kamar mereka di lantai 2, mereka tidur di kamar tamu dibawah, yang bersampingan dengan kamar Nisa.


Malam berganti pagi, Arka masih harus kembali ke kantor karena pekerjaannya belum terurus semua. Zahra memaklumi itu, ia juga senang dirumah karena ditemani oleh Ibu mertua juga Mama nya yang sering datang.


Seusai sarapan, seperti biasa Arka mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor. Sementara Nisa dan Zahra tinggal dirumah saja. Setelah suaminya pergi, Zahra yang juga sudah mandi itu berniat untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi dihalaman belakang rumahnya sembari berbaring di kursi santai.


"Bu, Aku mau berjemur dulu yaaa di kursi santai.." ucap Zahra sembari menunjuk kearah pintu belakang yang selalu terbuka


"Iya sayang, kamu harus hati-hati yaaa.." jawab Nisa dengan lembut sembari mengelus perut menantunya yang masih datar itu.


Zahra mengangguk dengan cepat.


"Ibu juga hati-hati yaaa jangan aktivitas berat.." ucap Zahra yang tiba-tiba mengkhawatirkan Ibu mertuanya


"Iya sayang.. Ibu mau buang air dulu" jawab Nisa dengan cepat


Zahra berlalu dari hadapan ibu mertuanya itu, langsung menuju halaman belakang. Nisa pun langsung masuk kedalam kamarnya menuju toilet.


2 asisten rumah tangganya sedang membersihkan rumah dengan tugas yang berbeda. Rani baru saja selesai mencuci baju dan sedang menjemurnya dekat dengan Zahra, sementara Ijah sedang menyapu lantai hendak akan mempel lantai di ruang keluarga.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara yang membuat Ijah terkaget.


"Ggggrrrbbbuuukkk.." suara jatuh yang cukup keras


Ijah yang baru saja selesai menyapu kamar Zahra dan Arka, kini akan berganti menyapu kamar Nisa, begitu terkaget dengan suara jatuh yang terdengar begitu keras.


"Astagfirullah.. Apa itu?" tanya Ijah dengan panik


Ijah mendengar jelas suara itu berasal dari kamar Nisa, dengan cepat ia membuka pintu kamar yang sedikit terbuka itu.


"Innalillahi.." teriak Ijah begitu kaget ketika melihat Nisa sudah tergeletak tak sadarkan diri di depan pintu toilet


Zahra mendengar teriakan Ijah itu, ia sangat kaget. Zahra berusaha jalan dengan sedikit berlari.


"Bu Zahra pelan-pelan, biar Rani saja yang lihat" ucap Rani menahan Zahra agar tidak terburu-buru, Rani langsung lari dengan cepat masuk kedalam


Rani mencari asal suara teriakan Ijah.


"Jah?" ucap Rani mencari Ijah


"Ran.. Bu Annisa.." teriak Ijah yang keburu histeris


Zahra juga tetap berusaha cepat masuk kedalam walau di dului oleh Rani.


Rani masuk kedalam kamar Nisa, dan melihat kepala Nisa sudah ada di pangkuan Ijah.


"Ya Allah Buuu.." teriak Rani yang juga histeris


"Innalillahi Ibuuuu kenapaaa?" teriak Zahra yang juga histeris


"Cepat panggilkan supir, siapkan mobil kita kerumah sakit, minta body guard untuk bantu mengangkat Ibu.." ucap Zahra mencoba menenangkan dirinya dan berani bertindak


"Pasangkan cadarnya, coba cari didalam sakunya" lanjut ucap Zahra


Zahra dengan cepat membantu Ijah untuk memasangkan cadar Nisa, lalu ia juga menggunakan cadarnya karena body guard pasti segera datang.


Nisa dibawa ke rumah sakit oleh Zahra, Zahra mendampingi Ibu mertuanya itu berbaring di dalam mobil. Seorang body guard pun turut ikut untuk mengawal Nisa dan Zahra.


"Tolong cepat Pak.." ucap Zahra disela-sela tangisnya pada supir


"Baik Bu.." jawab Supir yang semakin mengebutkan mobil yang ia kendarai itu


"Tolong hubungi suami saya ya.." ucap Nisa pada Body guard yang duduk disamping supir itu


"Siap!" jawab Body Guard itu dengan tegas

__ADS_1


Zahra tak membawa ponselnya, jadi ia menyuruh pada orang lain untuk memberitahukan kabar ini pada suaminya, karena Zahra merasa tak sanggup untuk menghadapi ini sendirian.


"Ibu.. kuat yaaa.. sebentar lagi kita sampai" ucap Zahra yang terus menangis


"Ibu harus bertahan demi calon cucu ibu" lanjut ucap Zahra sembari mengelus lembut wajah Ibu mertuanya itu.


Sesampainya dirumah sakit, dengan cepat body guard Zahra itu masuk kedalam dan meminta suster untuk membantu membawa Nisa. Semua suster yang berjaga itu dengan cekatan langsung membawa Nisa dan melarikannya ke IGD untuk segera di tangani oleh dokter.


Zahra terlihat sangat panik sekali ia tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Ibu mertuanya itu.


Body Guard langsung menghubungi Arka.


"Halo Tuan.." ucap Body guard itu lebih dulu


"Halo.." ucap Arka dari sebrang sana


"Tuan, Bu Annisa pingsan.. Sekarang sudah kami bawa ke IGD, kami bersama Bu Zahra yang memaksa ingin ikut" ucap body guard itu memberitahukan Zahra, karena takut dimarahi oleh Arka soal Zahra yang kecapean


Arka tak menjawab apapun, ia sangat merasa syok dengan berita ini. Arka langsung mematikan sambungan teleponnya, dan dengan cepat pergi meninggalkan kantornya.


"Yusuf tolong handle semua, saya harus ke rumah sakit" ucap Arka terburu-buru sembari berjalan meninggalkan kantornya


"Baik.. Siapa yang sakit?'" tanya Yusuf penasaran tapi tak mendapat jawaban karena Arka berlari dengan cepat dan langsung masuk kedalam mobilnya


Zahra menunggu di ruang tunggu yang ada di depan ruang IGD, ia duduk sembari terus menangis dan menyebut nama Allah.


Tak butuh waktu lama, Arka sudah tiba di Rumah Sakit dan langsung menghampiri Zahra yang ada di ruang tunggu IGD itu.


"Sayang.." ucap Arka dengan lembut


"Maaaas.." ucap Zahra lalu memeluk erat suaminya dan semakin pecah tangisnya


"Ibuuu Mas.. Ibuuu" ucap Zahra dalam pelukan suaminya


"Ibu kenapa sayang?" tanya Arka dengan lembut walau sebenarnya ia sangat terkejut dengan berita ini


"Sepertinya Ibu terjatuh tadi sehabis dari toilet, Ijah yang menemukan Ibu sudah tergeletak.. Aku sedang berjemur diluar.." ucap Zahra dengan sesegukan


"Ya Allah Bu.." ucap Arka air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi


"Kamu tenang ya sayang, kamu harus pikirkan calon anak kita juga yaaa.. Kamu harus tenang" ucap Arka berusaha menenangkan situasi


Zahra hanya menganguk mengiyakan, lalu mencoba menyeka air matanya.


Arka terlihat sangat terpukul, dirinya tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Arka lalu bangkit dari duduknya sesekali melihat kepintu IGD yang sebenarnya tidak terlihat itu.

__ADS_1


Arka berjalan mondar mandir didepan ruang IGD itu, hatinya sangat cemas. Pikirannya tak tenang. Hatinya terus berdzikir menyebut Allah, dan terus memohon kesembuhan untuk Ibunya.


__ADS_2