Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 9


__ADS_3

Aba mendapatkan perawatan di IGD cukup lama. Setelah beberapa lama, Aba di pindahkan keruang rawat. Dengan keadaan yang masih belum sadar.


Nisa, Umma, Salma dan Farhan suami Salma, langsung menghampiri dokter untuk menerima penjelasan.


"Pasien mengalami benturan yang cukup keras untuk ukuran lansia seperti beliau, dibelakang kepalanya. Ini yang menyebabkan pasien belum sadarkan diri, dan kemungkinan juga akan mengalami stroke ringan.." ucap dokter menjelaskan panjang lebar


"Ya allah..." ucap Umma begitu kaget


"Astagfirullah.." ucap Salma dengan tak percaya


"Innalillahi ya allah, lalu kami harus bagaimana dokter..." ucap Nisa berbarengan


"Tolong dokter, berikan pengobatan yang terbaik untuk Aba saya.." ucap Farhan sangat memohon


"Insya Allah semua akan diberikan yang terbaik. Banyak-banyak berdoa saja..


Setelah ini kita tunggu sadar dulu, baru kita tahu stroke dibagian mana, yaaa.." jawab Dokter, sembari memberikan arahan


Semua mengangguk mengerti. Belum ada yang diperbolehkan masuk kedalam ruangan Aba, semua hanya melihat dibalik jendela. Ini adalah kali pertama Aba di rawat di rumah sakit, karena sebelum-sebelumnya Aba tidak pernah mau untuk di rawat di Rumah Sakit.


"Umma, istirahat dulu.." ucap Farhan begitu perhatiannya pada sang ibu mertua itu, menggandengnya untuk duduk dikursi tunggu


Umma hanya mengikuti perintah menantunya itu, tubuhnya yang semakin lemas setelah mendapatkan kabar dari dokter tadi.


Nisa masih menghubungi semua anggota keluarganya yang lain.


"Nis, kamu pulang lah dulu. Bersama anak-anak, kasian anak-anak.." ucap Farhan bersama Salma pada Nisa


"Iya Nis, aku minta tolong jaga juga Ara bersama kamu yaaa.." ucap Salma yang menitipkan putrinya


"Iya Mbak, Mas.. Nanti kalau ada apa-apa cepat kabari Nisa ya Mbak, Mas.. Umma gimana?" jawab Nisa sembari mengkhawatirkan Umma


"Umma biar dulu disini, siapa tahu Aba sadar dan mencari Umma.." jawab Farhan dengan pelan


Nisa mengangguk mengerti. Sebenarnya ia tak ingin pulang, karena ingin menunggu Aba. Tapi ia juga harus mengambil alih pekerjaan Aba dan Umma untuk dipesantren, belum lagi anak-anak yang harus sekolah.


*******


2 hari kemudian, Aba sudah sadar dari komanya. Kini ia di vonis stroke ringan, mulutnya tidak lagi bisa berbicara normal seperti biasanya, kakinya pun tak bisa digerakan. Aba dengan ikhlas menerimanya. Tak ada keluh kesah dari mulutnya.

__ADS_1


Umma dengan sabar mengurusi Aba, anak-anak yang jauh pun sudah berkumpul sejak kemarin. Bergantian merawat Aba.


Nisa yang kini diandalkan untuk menghandle pekerjaan Aba di pesantren untuk sementara, di bantu kakaknya Fatir.


********


Ini adalah hari Jum'at pagi, Aba sudah beberapa hari dirawat. Seperti kebiasaan Aba, Jum'at pagi dirinya melakukan bersih-bersih diri, memotong kuku dan lainnya.


Semua Umma kerjakan tanpa mengeluh, walau tubuh Aba yang berisi membuat Umma terkadang kewalahan.


Aba sudah mandi dengan dilap basah oleh Umma, berganti pakaian, dan sedang dipotong kuku oleh Umma.


"Umma.. terimakasih banyak untuk bakti Umma pada Aba..." ucap Aba yang sebenarnya mengucap seperti ini saja sangat lama, terkelu-kelu


"Sama-sama Aba.. Aba semangat yaaa untuk sembuh, kita pulang, memangnya Aba tak rindu ponpes?" jawab Umma yang sembari fokus pada kuku Aba


"Aba sangat bahagia mempunyai istri bidadari surga, yang tidak pernah meninggalkan Aba.." ucap Aba dengan susah payah ia berusaha


Umma tersenyum, langsung menoleh Aba seakan menggodanya. Kebetulan kini diruang rawat belum ada anak-anak yang datang, apa lagi cucu-cucu yang datang.


"Aba sangat bahagia Umma.. Maaf jika Aba tidak lagi bisa mendampingi Umma sampai nanti melihat cicit-cicit kita.." lanjut Aba dengan air mata yang mulai mengalir


Umma selesai memotong kuku Aba, ia bergegas membereskan semuanya.


"Umma.. Aba ingin berwudhu, ingin sholat dhuha.." ucap Aba tiba-tiba


Sholat dhuha adalah rutinitas Aba sebenarnya, selama sakit Aba tetap melakukan Sholat 5 waktunya. Berwudhu dengan Tayamum.


Umma bergegas membantu Aba untuk bertayamum. Lalu membiarkan Aba sholat.


Perasaan Umma tiba-tiba tidak enak, ia langsung menghubungi anak-anaknya yang masih tinggal dirumahnya.


"Fatir, cepat kemari.. Umma takut" ucap Umma pelan karena takut terdengar oleh Aba


Fatir dan Nisa yang sewaktu itu sedang di ponpes karena sudah mulai kembali aktivitas sekolah, langsung dengan cepat mengendarai mobil Nisa menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Nisa dan Fatir berlari menuju lift untuk langsung ke kamar rawat Aba. Sesampainya disana, Umma sedang memperhatikan Aba yang sedang Sholat di atas kasurnya sembari berbaring. Nisa dan Fatir masuk dengan perlahan.


Nisa menghampiri Umma, lalu memeluknya dengan merangkul dari belakang bahunya.

__ADS_1


Fatir sudah mendekat kepada Aba, Nisa mengajak Umma untuk mendekat kepada Aba. Umma masih berderai air mata. Nisa sebenarnya tidak mengerti.


Aba sedang sholat, mulutnya seperti mengucap bacaan-bacaan sholat dengan susah payah.


Tiba-tiba, Aba seperti orang yang sesak nafas. Dadanya terangkat ke atas perlahan, mulutnya masih membaca bacaan sholatnya.


Fatir, Salma dan Umma begitu kaget. Umma langsung memeluk Aba.


"Abaaaa..." teriak Umma dengan pecah air matanya


Sholat yang belum sempat selesai itu, tiba-tiba terdengar dari mulut Aba yang sedang membaca syahadat dengan susah payah.


Fatir dengan cepat membantu, membisikan dalam telinga Aba. Tak lama, mata itu kini tertutup. Dengan cepat Nisa memanggil dokter untuk memeriksa Aba.


"Maaf Pak, Bu.. Pasien baru saja menghembuskan nafas terakhirnya barusan.. Pasien sudah meninggal dunia.." ucap Dokter mengatakan dengan berat hati


Nisa dan Umma langsung menangis, pecah tangisan itu. Fatir juga menangis dan memeluk tubuh ayahnya itu.


Jenazah Aba sudah di makamkan, di pemakaman umum kota dekat ponpes. Pelayad yang banyak mengantarkan Aba ke tempat peristirahatannya, banyak para Ulama yang menghadiri juga beberapa tamu penting Aba.


******


Siang berganti malam, duka masih menyelimuti rumah Nisa. Kenyataan yang pahit harus ditelan bulat-bulat oleh Nisa. Pria yang dekat dengan putranya, yang sudah dianggap sebagai pengganti sosok ayah nya.


Rumah masih ramai oleh sanak saudara yang menginap.


Nisa, dan keempat kakaknya juga Umma duduk bersama untuk berunding diruang keluarga. Semua anak-anak yaitu semua cucu Umma dan Aba sudah tertidur pulas di ruang tamu.


"Ini adalah kali kedua Nisa merasakan duka terdalam.." ucap Nisa dengan air mata yang mengalir tak tertahan


Salma langsung memeluk Nisa, ia begitu mengerti perasaan adiknya. Ditinggal dengan cara yang sama, sama-sama masuk IGD.


Fatir adalah kakak laki-laki paling besar, disini ia harus bisa menggantikan sosok Aba. Ia sudah berpikir untuk menjadi penengah dalam keluarganya ini.


"Kita sepakatkan untuk tidak membagi waris apapun dulu, karena Umma masih ada, dan ini adalah rumah peninggalan Aba begitu juga ponpes ini. Kita harus kelola bersama, dan menjadi milik bersama" ucap Fatir kepada semua


Semua mengerti dan setuju dengan keputusan itu.


"Untuk dana yang didapat dari penghasilan Ponpes ataupun usaha lain, akan di bagi 2 untuk Umma dan yayasan yatim piatu agar tetap mengalir untuk Aba.." ucap Nisa menambahkan

__ADS_1


__ADS_2