
Shaina mengetahui cerita tentang Aira dari Arkana, semua telah diceritakan pada Tantenya itu karena Arkana tidak ingin suatu saat ada kesalah pahaman yang akan berakibat pada keluarganya.
Arkana dan Dira masih tertidur lelap didalam kamar, Shaina menyambut Aira dengan baik sebagai tamunya. Shaina mengajaknya untuk duduk diruang tamu, lalu menyuguhkan segelas minuman segar.
"Ayo silahkan diminum dulu, kamu pasti lelah telah mencari kesana kemari bukan?" ucap Shaina dengan ramahnya
"Terimakasih banyak nyonya.." jawab Aira, lalu menerima segelas jus jeruk itu, lalu meneguknya karena memang benar-benar haus.
"Maafkan kami Nyonya, jadi merepotkan begini" ucap Aira setelah meneguk minumannya
"Tidak, tidak repot kok.. tidak perlu minta maaf" jawab Shaina sembari memegang tangan Aira
"Sebenarnya kamu ada masalah apa? Kok sampai bisa seperti ini, anak mu tidak ada yang jaga, memangnya kamu tidak ada keluarga di kota ini?" tanya Shaina yang penasaran dengan Aira, yang juga belum Arkana tahu
"Sebenarnya keluarga ku juga tinggal di kota ini, bahkan asli orang sini, tapiii.." jawab Aira terhenti seketika
"Tapi apa? Maaf bukan saya ingin mencampuri urusan kamu, saya hanya ingin tahu.." ucap Shaina sembari serius memandangi Aira
"Orangtua saya berada di pedesaan, Ayah saya tidak ingin saya kembali kesana untuk menemui mereka, karena saya sudah membuat mereka semua malu" ucap Aira menyambung jawabannya
Terlihat wajah Aira menahan sedih, suaranya lirih, tatapannya terus kebawah, menunduk.
"Memangnya kenapa? Mengapa seperti itu? Bukankah kamu mahasiswa berprestasi, seperti yang Arkana bilang pada saya.." lagi-lagi tanya Shaina penasaran
"Aku telah larut dalam kesalahan besar, aku sangat mencintai Zidan pacarku kala itu, sampai aku rela memberikan semua untuknya. Sampai aku dihamili olehnya, memang aku dinikahi olehnya, tapi keluarga ku di hina, di maki habis-habisan oleh keluarga Zidan, itu yang membuat kedua orangtua ku marah besar.." ucap Aira sejujur-jujurnya, air matanya kembali menetes membasahi pipinya
__ADS_1
Shaina dengan spontan langsung memeluk tubuh Aira, dan membiarkannya menangis dalam pelukannya.
"Maaf jika semua ini kembali membuat mu menjadi sangat sedih.." ucap Shaina dengan lembut
"Aaaahh tidak, tidak apa-apa nyonya.." jawab Aira sembari menghapus air mata di pipinya
"Saya sangat bangga dengan kamu, walau kini kamu sendiri, kamu tetap menjadi seorang Ibu yang luar biasa.." ucap Shaina kini matanya menahan air yang akan menetes
"Ah tidak, aku bukan seorang Ibu yang baik untuk Dira. Aku belum bisa membahagiakannya, belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk nya.." jawab Aira sembari susah payah menahan air matanya
"Tapi setidaknya kamu sudah kuat melahirkan putri secantik Dira, tidak seperti aku.." ucap Shaina tertahan, air matanya mulai menetes
Aira lalu memegang tangan Shaina, Aira sudah mengira bahwa Shaina belum memiliki seorang anak.
Arkana sebenarnya sudah kebangun karena mendengar percakapan mereka, diam-diam Arkana menguping pembicaraan mereka sedari tadi.
"Halooo anak cantik.. Kamu sudah bangun?" ucap Arkana menyapa Dira yang masih berguling-guling diatas kasur
Aira dan Shaina yang mendengar semua itu langsung menghampiri ke kamar Arkana lagi.
"Halooo udah bangun anak cantik?" sapa Shaina dengan lembut
Dira terlihat begitu senang, ia hanya senyum-senyum sedari tadi.
"Mamiii" ucap Dira ketika melihat Aira yang berada dibalik Shaina
__ADS_1
"Halo nak" ucap Aira lalu menyambut Dira yang sudah siap untuk memeluk
Shaina lalu mengajak Aira dan Arkana untuk kembali ngobrol di ruang tamu.
"Kamu sudah datang? Apa tidak bekerja?" tanya Arkana pura-pura tidak tahu sedari tadi ada Aira
"Aku izin, karena aku mencari kalian. Aku lupa, kami tidak saling bertukar nomor ponsel, aku juga lupa tidak menanyakan kamu akan membawa putri ku kemana.. Terimakasih banyak ya Arka, Nyonya Shaina.. Maaf sudah merepotkan" ucap Aira panjang lebar
"Sama-sama, tidak kok tidak repot.." jawab Arkana dan Shaina berbarengan
"Aira, jika mau titipkan Dira pada ku saja biar kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk jasa penitipan anak. Aku sangat suka pada Dira, anaknya gak rewel, dan aku juga tidak ada kegiatan penting sebenarnya.." ucap Shaina menawarkan diri
"Tidak perlu, Nyonya. Ini akan membuat mu repot.." jawab Aira yang sembari menggendong Dira
"Tidak, justru saya akan sangat merasa senang. Saya kesepian selama ini.. Pernikahan kami seumur Arkana, 22 tahun tapi belum dikarunia seorang putra.." ucap Shaina sembari mengelus kepala Dira
Aira begitu senang dengan sambutan hangat dari Shaina yang sangat ramah. Kini Aira tahu bahwa Arkana juga seorang anak keturunan kaya dan keluarga yang sangat ramah.
"Oh iya bagaimana kalau kamu bekerja disini, di Resto kami? separuh waktu, jadi kamu bisa kuliah dulu, dan Dira bersama ku.." ucap Shaina menawarkan pekerjaan.
Sebenarnya ini adalah solusi agar ia bisa bersama dengan Dira.
"Tapi Nyonya.. apa itu tidak akan merepotkan?" jawab Aira karena ia merasa menjadi beban untuk orang lain
"Tidak, aku justru senang.." ucap Shaina dengan senyum lebar
__ADS_1
Semenjak saat itu, Aira jadi bekerja di Resto peninggalan Papa, Dira juga selalu bersama Shaina. Arkana yang tetap juga ikut mengurus Resto itu, bahkan jadi semakin dekat dengat Aira.