
Arka dan Zahra sudah memberitahukan kabar gembira itu pada Nisa juga Umi, mereka sama-sama ikut merasa bahagia.
Hari ini Arka membawa Zahra ke dokter kandungan, karena ingin memastikan kehamilannya.
Sesampainya di rumah sakit, Arka dan Zahra langsung menuju ruang spesialis kandungan, karena mereka sudah mendaftar lewat online jadi membuat mereka tak harus antri lagi.
Zahra dan Arka langsung dipanggil oleh suster untuk segera diperiksa.
"Ibu Azzahra.." ucap suster yang baru saja keluar dari ruangan itu
Zahra dan Arka bergandengan lalu masuk kedalam ruangan dokter yang sudah menunggu itu.
"Selamat pagi, Ibu, Bapak.. Mari silahkan Ibunya berbaring disini" ucap dokter Atin dengan ramahnya
Zahra lalu menuruti ucapan dokter untuk berbaring di bed dekat alat usg.
Suster lalu mengoles gel di atas perut Zahra, lalu dokter dengan cepat menempelkan alat usg ke perut Zahra, lalu memeriksanya dengan cermat.
"Alhamdulillah, Bapak, Ibu sudah terlihat ada kantung janin didalam rahim Ibu Azzahra" ucap dokter Atin dengan senyum lebarnya
"Alhamdulillah.." ucap Arka dan Zahra bersamaan
Setelah cukup lama dokter memeriksa lalu suster kembali membersihkan sisa-sisa gel di perut Zahra. Lalu Zahra ikut duduk bersampingan dengan Arka di depan dokter Atin.
"Bu Azzahra, tolong jaga kesehatan, jangan aktivitas berat, banyak makan makanan sehat, buah, sayur dan daging.." ucap dokter Atin memberi saran
"Insya Allah dokter.." jawab Zahra dengan cepat
"Ini saya resepkan vitamin kandungan, juga obat anti mualnya.. Oh iya jangan lupa minum susu ibu hamil 2 kali sehari ya Bu, untuk menambah asupan gizinya" ucap Dokter Atin pada Zahra sembari menyodorkan kertas resep
Arka dan Zahra lalu berpamitan dan meninggalkan ruangan dokter Atin, lalu hendak ke apotek untuk membeli obat yang ada di resep dokter itu.
Arka dan Zahra langsung menemui Azam dan Tiara, orangtua Zahra. Karena sudah lama sekali mereka tidak pernah lagi bertemu setelah kecelakaan pesawat waktu itu.
Sungguh Zahra sangat merasakan rindu pada Ibu juga Ayahnya itu.
Arka mengajak Zahra untuk berkunjung kerumah orangtuanya dengan mendadak, Arka dan Zahra hanya mampir disebuah toko kue lalu membelikan beberapa kue untuk oleh-oleh pada orangtuanya.
Sesampainya disana, Zahra langsung turun dengan tak sabar. Ia ingin segera memberikan kabar gembira untuk kedua orangtuanya itu. Arka melihatnya dengan ikut merasakan gembira.
Zahra langsung mengetuk pintu rumah orangtuanya.
Tiara terburu-buru membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum Maaa.." ucap Zahra sedikit berteriak dengan ekspresi gembiranya
"Walaikumsalam.. Sebentar, Nak.." jawab Tiara sembari terburu-buru memasang cadar karena akan membukakan pintu keluar rumah.
"cekrek" suara pintu terbuka
Tiara langsung menyambut putri juga menantunya dengan wajah gembiranya.
"Assalamu'alaikum Mama.." ucap Arka lalu mencium punggung tangan Ibu mertuanya itu, dengan satu tangannya memegang kantong berisi 3 kotak kue
"Walaikumsalam, Nak.." jawab Tiara dengan ramahnya
__ADS_1
Lalu Tiara mempersilahkan masuk anak juga menantunya itu, lalu sama-sama duduk di ruang tamu.
"Abi, ada Zahra dan Arka.." ucap Tiara sedikit berteriak agar terdengar oleh suaminya yang sedang di dalam kamarnya
"Kalian apa kabar?" tanya Tiara pada Zahra dan Arka
"Alhamdulillah Mama, kami baik-baik saja" jawab Zahra dengan senyum manisnya
"Kami punya kabar gembira, Mama.." ucap Arka dengan senyum mengembang
"Kabar gembira apa nih?" tanya Azam yang baru masuk kedalam ruang tamu
Zahra dan Arka tak langsung menjawab, mereka menyalami lebih dulu ayah nya itu.
"Abi, Mama sebentar lagi kalian akan punya cucu" ucap Arka lagi-lagi dengan senyum mengembang dan ekspresi bahagianya, sembari mengelus perut Zahra yang memang masih datar.
Tiara dan Azam tersenyum bahagia sembari saling pandang.
"Alhamdulillah ya Allah.." ucap Tiara dan Azam bersamaan
"Kamu jaga kesehatan, jaga diri mu dan calon anak mu ya sayang" ucap Tiara lalu memeluk tubuh mungil Zahra
Zahra hanya menganggukan kepalanya, sembari tersenyum bahagia dalam pelukan Ibunya itu.
*****
Zahra menikmati dirinya sekarang menjadi seorang ibu hamil. Arka sebagai suami semakin tambah mencintai Zahra istrinya, sebisa mungkin ia selalu menjaga Zahra, dan selalu membantu Zahra dalam urusan rumah, juga menjaga Oma dan Ibunya.
Begitu juga dengan Nisa, ia sangat menjaga Zahra agar tidak kecapean, Nisa sangat mengharapkan cucunya yang ada dalam kandungan Zahra itu.
Tapi akhir-akhir ini Zahra mengalami demam, juga sakit di area bawah perutnya, membuatnya hanya berdiam diri di kamar.
Sudah hampir satu minggu, Zahra belum juga membaik, ia selalu menolak jika akan dibawa ke dokter oleh Arka.
Matahari sudah tenggelam, meninggalkan bumi, sinarnya sudah semakin tak terlihat. Langit malam mulai menyapa.
Waktu sudah menunjukan untuk sholat magrib, Zahra mencoba berjalan ke toilet untuk berwudhu. Zahra berjalan sedikit demi sedikit, sembari berpegangan pada tembok untuk menopang tubuhnya yang merasa lemas itu. Semakin kakinya melangkah, semakin merasa sakit dibagian bawah perutnya itu.
"Sayaaang.. Kamu mau kemana?" tanya Arka yang melihat setelah berganti pakaian menggunakan baju takwa, sarung dan pecinya lengkap karena akan sholat, sebenarnya Arka panik melihat istrinya menahan sakit
"Sayang lebih baik kita periksa ke dokter yaaa" ucap Arka dengan sangat panik
"perutku sakit sekali Mas.." ucap Zahra dengan menahan rasa yang amat sakit itu
Dengan cepat Arka menggendong Zahra keluar kamar, menuruni anak tangga, dan langsung dengan cepat masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
Nisa dan Umi mendengar suara grasak grusuk, setelah sholat magrib mereka keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga. Melihat disana Ijah dan Rani sedang terlihat panik.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Nisa masih menggunakan mukena membalut tubuhnya
"Ada apa ini?" tanya Umi menimpali
"I-itu Bu.." ucap Ijah terbata-bata
"I-itu.. Den Arka tergesa-gesa menggendong Bu Zahra, lalu masuk kedalam mobil dan melaju cepat" ucap Rani dengan nada ragu
__ADS_1
Nisa dan Umi langsung beradu pandang, mereka tak tahu harus bagaimana.
"Astagfirullah.. Ada apa ini?" ucap Nisa dengan perasaan begitu cemas
"Astagfirullah.." ucap Umi yang sama-sama cemas
*****
Dirumah sakit, Zahra langsung dibantu oleh suster di tidurkan dibed lalu dibawa ke ruang UGD. Arka dengan cemas menunggu diruang tunggu. Ia mengusap kasar wajahnya, terlihat Arka sangat cemas, ia sudah berpikiran negarif, ia juga sudah putus harapan dengan kandungan istrinya itu.
Tiba-tiba seorang suster keluar, dan berlari kesebuah ruangan, membuat Arka tak bisa bertanya. Arka langsung terjaga, matanya fokus pada pintu UGD untuk menanyakan kabar istrinya itu pada siapapun yang keluar.
Tak lama dokter keluar dari ruangan, dan hendak menghampiri Arka.
Arka yang memang menunggu dokter ia langsung bangkit dan menghampiri dokter
"Bagaimana keadaan istri saya dan calon anak saya dok?" tanya Arka dengan cepat karena sangat penasaran
"Begini Pak Arka, Janin yang ada di kandungan istri anda tidak berkembang lagi, itu tandanya janin tidak akan hidup. Makanya itu yang membuat istri anda merasakan sakit dibawah perut yang hebat, belum lagi sempat demam" ucap Dokter Atin menjelaskan
"Astagfirullah.." ucap Arka langsung menundukan pandangannya, dengan susah payah ia menelan salivanya
"Kita harus segera melakukan tindakan, Pak Arka.." ucap dokter Atin lagi sebelum sempat Arka berbicara lagi
"kalau tidak akan membahayakan istri anda.." lanjut ucapnya
Arka sangat terkejut dengan ucapan Dokter, belum sempat ia berpikir apapun, sudah harus mendengar kenyataan pahit.
"Ya sudah dokter, lakukan saja.. tolong selamatkan istri saya" ucap Arka dengan pasrah
Dokter Atin hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Arka yang masih terlihat bingung itu.
"Silahkan diurus dulu administrasinya Pak.." ucap seorang suster sembari menunjukan ruangan administrasi
Arka hanya mengangguk. Ia tak membawa dompet, ataupun ponselnya. Arka yang tadi bersiap untuk sholat jadi pergi dengan baju takwa juga pecinya, ia hanya sempat membuka sarungnya karena akan berlari menggendong Zahra, Arka hanya menggunakan celana panjang tipis.
Arka langsung menghampiri tempat informasi terlebih dulu, ia meminjam telepon untuk menghubungi Rio. Setelah menekan nomor ponsel yang ia Hafal, ternyata tersambung. Arka sebenarnya cemas karena takut salah nomor.
"Halooo.." terdengar dari bali telepon itu
"Hallo Assalamu'alaikum.. Apa ini Pak Rio?" tanya Arka karena takut salah
"Iya benar, ini Arka?" tanya Rio karena mengenali suara Arka
"Iya Pak Rio, Arka mau minta tolong bisa? Arka sedang di rumah sakit, tapi tidak membawa ponsel ataupun dompet. Pak Rio bisa datang kemari sekarang? karena kalau Arka meminta Ibu kasihan sudah malam" ucap Arka panjang lebar
Rio pun mengerti dengan maksud Arka, dan tugasnya. Rio langsung melajukan mobilnya dengan cepat, ke rumah sakit yang sudah Arka beritahu.
Arka sudah menunggu diruang administrasi, Rio yang baru saja datang langsung menghampiri.
"Pak Rio saya minta tolong, untuk urus administrasinya, saya tidak membawa dompet, istri saya harus segera mendapat penanganan" ucap Arka dengan langsung
Rio mengerti dan langsung mengurus semuanya. Arka kembali keruang UGD, dan dokter sudah bersiap mengambil tindakan. Rio menemani Arka dengan setianya.
"Pak Rio, terimakasih.. tidak apa-apa Bapak pulanglah, karena besok harus bekerja. Tolong beri kabar pada Ibu, tapi jangan mencemaskan kami, aku akan pulang besok jika tindakannya sudah selesai" ucap Arka ketika Rio tetap menunggu dan duduk bersampingan dengannya.
__ADS_1