
Nisa sudah menyusun acara kumpul keluarga sebaik mungkin, ia sudah menghubungi semua kakaknya dan mengabari keadaan Umma. Arka pun sudah tahu semuanya, ia mendukung acara Ibunya itu. Umma yang diberi tahu pun sangat senang, ia merasa begitu diperhatikan.
Acara keluarga itu pasti akan dilaksanakan di lingkungan ponpes, yang memang cukup luas dan juga dekat dengan rumah pribadi Umma.
Acara itu akan berlangsung besok, hari minggu dan hari ini kemungkinan semua keluarga akan datang.
Seperti biasa jika Nisa berkunjung ke ponpes ia selalu mengisi kajian, kali ini untuk para warga sekitar ponpes, dan diadakan di masjid ponpes. Warga yang begitu suka dengan kajian dari Nisa, datang berbondong-bondong memenuhi aula ponpes. Kebanyakan dari mereka adalah Ibu-ibu separuh baya, dan hanya beberapa orang wanita muda.
Arka sangat kagum melihat semua itu, ia tahu bahwa ceramah Ibunya dikagumi banyak orang. Arka yang juga ikut disamping Ibunya, kini tak sama seperti dulu saat ia selalu dibawa Ibunya ketika bayi, kini Arka sudah menjadi pria dewasa, kini Arka duduk disamping Ibunya seperti penjaga Ibunya.
Nisa mengisi kajian tentang seorang Ibu, sampai-sampai Nisa pun larut dalam kesedihannya, matanya tak henti meneteskan air matanya.
"Kenapa harus mencintai sosok Ibu, karena perjuangannya tidak akan pernah bisa terbalas oleh seorang anak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dibalas, yang pertama air ketubannya ketika melahirkan putra putrinya, darah yang keluar untuk melahirkannya, belum lagi rasa sakit yang sama seperti dipatahkannya tulang-tulang, kemudian yang kedua air susunya ketika menyusui selama 2 tahun, yang ketiga air matanya ketika ia mendoakan anak-anaknya. Maka dari itu sayangilah sosok Ibu, selama beliau masih hidup bahagiakan ia, berbuat baik padanya, karena itu adalah ladang pahala bagi kalian para anak, ketika sudah tiada jadilah seorang anak yang sholih untuk tetap mendoakannya" ucap Nisa dalam kajiannya
Nisa seketika terdiam, ia mencoba menghapus air matanya, ia begitu mengingat sosok Umma yang banyak membantu dalam kehidupannya untuk membesarkan putranya, kasih sayang Umma yang ia rasakan sampai kini, membuatnya semakin larut dalam kesedihannya.
Arka melihat jelas Ibunya menangis, ia memandangi lebih dalam Ibunya. Ia juga merasakan kesedihan yang luar biasa, Arka masih merasa belum bisa membahagiakan Ibunya yang selama ini menjadi single mom dalam membersamai pertumbuhannya.
Arka berinisiatif untuk memberikan tisu pada Ibunya yang duduk di mimbar itu.
"Terimkasih sayang.." ucap Nisa setelah menerima tisu yang diberikan oleh putranya itu
Semua jemaah melihat kejadian itu, semua berteriak menanyakan siapa anak muda tampan itu. Nisa kembali tersenyum ketika semua jemaah heboh dengan melihat sosok Arka.
"Ustadzah.. itu siapa?" teriak jemaah begitu heboh
"Dia adalah anak saya satu-satunya, namanya Arkana" ucap Nisa sembari tersenyum-senyum
Arka membalas senyum kearah jemaah sembari menundukan pandangannya.
Lalu seorang pengatur acara sebelum menutup acara kajian itu, mengajak ngobrol-ngobrol pada Nisa dan Arka agar semua jamaah tahu.
"Sebelum acara ini ditutup, bagaimana kita berbincang-bincang dulu sebentar dengan ustadzah juga Mas Arka ini?" ucap Deni sang pembawa acara
"Setujuuuuu..." ucap jemaah dengan kompak
__ADS_1
Nisa dan Arka hanya tersenyum pasrah. Lalu Arka berdiri berdekatan dengan Nisa.
"Oh iya tadikan berbicara tentang Ibu, tentang kasih sayang Ibu.. Mas Arka bagaimana sih sosok ustadzah Nisa ini sebagai Ibu?" ucap Deni pada Arka
"Eeemmmhh.." ucap Arka sebenarnya gugup didepan banyak orang
"Ibu itu sosok Ibu yang hebat, single mom yang memiliki hati yang tangguh untuk membesarkan anaknya seorang diri.." lanjut ucap Arka sembari terus menatap kearah Nisa yang berdiri disampingnya
Semua orang terpana mendengar jawaban Arka.
"Apa yang ingin Mas Arka sampaikan untuk sosok Ibu, khususnya untuk Ustadzah Nisa Ibu Mas Arka, umumnya untuk seluruh Ibu hebat di dunia ini.."
"Untuk Ibu ku dan semua para Ibu hebat di dunia ini, terimakasih telah berjuang membesarkan kami, membersamai pertumbuhan kami, anak-anaknya, semoga Allah memberikan Surga tanpa hisab untuk semua Ibu hebat.. aamiin" ucap Arka sembari memegang tangan Ibunya dengan lembut, dan menatapnya dalam-dalam
Nisa begitu terharu mendengar ucapan Arka, ia lagi-lagi meneteskan air matanya tanpa henti.
*****
Semua kakak Nisa sudah berkumpul di rumah, begitu bahagia terpancar dari wajah Umma. Semua cucu dan anaknya berkumpul bersama. Arka terlihat begitu akrab dengan semua sepupunya, walau ia sebenarnya jarang bertemu dengan semuanya.
Acara kumpul keluarga ini diawali dengan membaca ayat suci, mengaji bersama, duduk bersama membuat lingkaran, mengucap syukur atas rahmat Allah SWT. Setelah itu dilanjutkan dengan makan-makan bersama dengan santai, karena memang konsep acaranya sederhana dan santai yang terpenting semua bisa berkumpul.
Semua mata langsung menatap Umma, ramainya obrolan masing-masingpun terhenti seketika.
"Umma mau bicara apa?" tanya Nisa dengan lembut dan sopan
"Untuk semua anak-anak ku, menantu ku, dan cucu ku, terimakasih sudah bisa datang dan berkumpul dihari yang baik ini. Umma, Nenek begitu bahagia sekali.." ucap Umma dengan suara yang bergetar
Seketika tangan Nisa langsung memegang tangan Umma yang mulai dingin itu, Nisa terus menatapnya dalam-dalam.
"Umma ingin berpesan untuk semuanya, kalian harus akur, harus saling memperhatikan adik-adik kalian, terutama perhatikan Nisa, adik bungsu kalian.. Bukan Umma pilih kasih, tapi Nisa sudah tidak ada lagi pendamping hidupnya, tidak bisa Umma tenang meninggalkan Nisa.. Sementara yang lain, yang ada pasangannya masing-masing, kalian harus saling menjaga yaaa.." Ucap Umma dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menetes
"Umma jangan khawatirkan Nisa.. Nisa akan baik-baik saja walau sudah tidak ada Mas Alfath, ada Allah yang selalu menjaga Nisa, ada Arka juga.." ucap Nisa yang larut dalam tangisnya
Umma hanya menganggukan kepalanya. Terlihat jelas badannya mulai lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Untuk semua cucu-cucu ku, kalian harus berbakti pada orangtua kalian, sayangi mereka yang susah payah mengasihi kalian semua, hormati orangtua kalian.. Nenek sangat menyayangi kalian semua.." ucap Umma sembari melihat ke semua cucunya bergantian
Tiba-tiba tubuh Umma lemah seperti tak ada penyangga, seketika ia terbaring lemas.
"Astagfirullah Umma.." teriak Nisa dan Salma yang kebetulan dekat Umma jadi seketika Salma dan Nisa yang menopang tubuh Umma
Fatih dan Ridwan anak laki-laki Umma langsung dengan cepat menghampiri Umma, dan menggendong tubuh Umma untuk segera berbaring di kamar.
Farhan, dan Arya kedua menantu Umma juga dengan sigap membantu dengan memberi jalan ke kamar.
Semua menangis tak tertahan lagi. Terlihat Arka begitu sedih, karena Arka sangat dengan Umma karena pernah tinggal bersama sewaktu kecilnya. Arka menangis lalu memeluk tubuh Ibunya.
Umma sebenarnya sadar, hanya tubuhnya tiba-tiba tak terasa dan sangat lemas. Rahma kakak Nisa langsung menghubungi dokter terdekat untuk datang memeriksa kerumah.
Nisa, Arkana dan keempat kakaknya Nisa, juga keempat Kakak Iparnya berkumpul dikamar yang cukup luas itu.
"Umma kenapa? Apa yang sakit?" tanya Salma dengan air mata yang berderai dipipinya
"Tunggu sebentar yaa Umma, dokter akan datang memeriksa.." ucap Rahma anak perempuan Umma yang juga menangis sejadi-jadinya
"Umma tidak apa-apa.. Hanya saja sekarang Umma tidak dapat merasakan gerakan apapun dari tubuh Umma.." ucap Umma terbata-bata dengan lemasnya
Umma langsung memejamkan matanya seketika, tanpa berbicara apapun lagi.
Tak begitu lama dokter datang untuk memeriksa, semua keluar, didalam hanya Fatih, Nisa, Rahma, dan Salma.
"Bagaimana keadaan Ibu kami dok?" tanya Nisa tak sabar
"Innalillahi wa innalillahi rojiun.." ucap dokter tiba-tiba
"Kenapa dok? Ibu saya kenapa?" ucap Salma tak sabar, sembari terus meneteskan air matanya
"Ibu kalian sudah menghembuskan nafas terakhirnya.." ucap Dokter memberitahu
Pecahlah tangis semua, acara bahagia menjadi acara duka yang luar biasa. Kehilangan sosok orangtua untuk kedua kalinya, setelah kepergian Aba kala itu.
__ADS_1
Semua keluarga dan dibantu oleh warga, mengurus jenazah Umma, sebelum waktu sore tiba sudah selesai dimakamkan.
"Umma orang yang sholiha, orang pilihan Allah, Umma mendapat nikmat yang luar biasa ketika maut menjemput. Subhannallah.." ucap Nisa sembari mengelus Nisan bertuliskan nama Umma, dengan tersenyum yang dipaksakan dalam tangisnya