
Waktu menunjukan pukul 11 siang, Arkana sudah selesai kuliah pagi dan hendak ke Resto seperti biasa untuk membantu disana. Arkana berjalan menyusuri koridor kampus, sembari menggunakan jaket jeans kesukaannya. Ia melihat Aira membawa serta Dira ke kampus, ini adalah kali pertamanya.
Terlihat Aira begitu kerepotan, belum lagi barang bawaan Dira satu tas, belum lagi buku-buku yang ia bawa untuk kuliahnya.
Arkana menghampiri karena penasaran dengan pemandangan ini.
"Aira.. Dira.." ucap Arkana menyapa
"Arka.." jawab Aira balik menyapa
"Kok tumben kamu membawa Dira ke kampus?" tanya Arkana sembari berlutut agar sejajar dengan Dira yang sedari tadi sedang meminum susu didalam botolnya
"Aku sedang kehabisan uang untuk menitipkan Dira di penitipan anak" ucap Aira jujur
"Aku juga akan ada ujian hari ini.. Apa kau bisa membantu kami? Aku titip Dira sebentar, aku tidak ingin melewatkan ujian ini.." ucap Aira sembari melihat jam di tangannya itu
"Baiklah, akan ku jaga Dira.." ucap Arkana karena kasihan terhadap Aira
"Terimakasih banyak Arka, disini semua kebutuhan Dira" ucap Aira sembari berlari terburu-buru
Arkana bingung harus memulai seperti apa, tapi Dira pun terlihat baik-baik aja.
Arkana belum pernah mengurus anak kecil secara langsung, tapi dia begitu suka anak kecil. Arkana memutuskan untuk mengajak Dira ke Resto, karena disana pasti sudah menunggunya. Arkana menggendong Dira menggunakan gendongan yang ada didalam tasnya, lalu mengendarai motornya untuk ke Resto. Dira terlihat sangat senang.
Sesampainya di Resto semua pengunjung yang kebanyakan adalah remaja yang sebenarnya hanya ingin melihat Arkana yang tampan hingga mereka rela berlama-lama di Resto dan hanya menikmati secangkir kopi, semua memandang ke arah Arkana, mata mereka mengikuti langkah Arkana. Semua bingung kenapa kini Arkana membawa anak kecil yang terbilang masih bayi itu.
"Tuan, ini anak siapa?" tanya seorang pelayan yang bekerja di Resto
"Anak teman ku, kasihan dia sedang ada ujian di kampus. Makanya di titipkan kepada ku.." jawab Arkana sembari memasuki meja kasir.
"Tolong ambilkan kursi anak dan simpan disini.." ucap Arkana langsung
Pelayan itu mengerti lalu dengan cepat mengambilkannya. Lalu menyimpan kursi itu bersebelahan dengan kursi kasir yang Arkana duduki.
"Nah kamu duduk disini ya sayang.." ucap Arkana begitu lembut
Dira melihat kearah sekelilingnya, memperhatikan lingkungan baru ini. Tiba-tiba Dira menangis, karena perutnya mulai terasa lapar. Arkana kebingungan dengan ini.
"Kamu kenapa sayang? Kamu haus?" ucap Arkana mencoba menenangkan Dira
Arkana mengeluarkan barang-barang yang disiapkan Aira untuk putrinya itu. Arkana mengeluarkan botol susu dan menuangkan air kedalamnya dari botol air panas yang sudah dibuat hangat, yang sudah disediakan Aira. Dengan cepat Arkana memberikannya pada Aira, dan ternyata Aira menolaknya.
__ADS_1
"Lalu kamu mau apa Dira?" tanya Arkana yang kebingungan
Semua mata semakin memperhatikan Arkana dan Dira. Tangis Dira memang tidak sekencang itu, hanya tangis yang tidak rewel.
Karena bingung Arkana dengan cepat menghubungi Ibunya, dengan Video Call.
"Itu anak siapa, sayang?" tanya Nisa yang merasa bingung dengan anak perempuan yang ada disamping putranya itu
"Bu, ini Dira anak Aira. Sekarang dia menangis, Arka bingung harus diapakan, diberi susu juga tidak mau.." ucap Arkana dengan paniknya
"Kok bisa sama kamu sih? kemana Aira? Kan sudah Ibu bilang jangan terlalu dekat berhubungan dengan mereka Arka.." ucap Nisa langsung mengomel
"Bu maaf ya, maafin aku.. Aku nanti jelasin sama Ibu.. Sekarang kasih tau dulu aku harus bagaimana dia menangis" jawab Arkana sembari merasa bersalah pada Ibunya
"Kalau tidak mau diberi susu... hhhmmm.." ucap Nisa sembari berpikir dan melihat jam yang ada di dinding kantornya karena Nisa sedang di kantor
"Coba beri makan, mungkin dia lapar, apa sudah diberi makan? dan berilah minum air mineral siapa tahu dia haus.." ucap Nisa memberi saran
Arkana langsung melihat kearah kotak makan yang sudah disiapkan Aira. Arkana langsung membukanya dan menaruh ponselnya di dekat mesin kasir dan membiarkannya terus terhubung pada Ibunya itu. Tak disangka Dira langsung diam, dan melahap suapan yang disodorkan Arkana.
"Tuhkan benar dia lapar, Arka.." ucap Nisa yang sedari tadi masih memperhatikan putranya dan juga Dira
"Iya Ibu benar hehe.." jawab Arkana sembari tertawa kecil dan memberi gerakan-gerakan layaknya sedang menyuapi
"Bagaimana dia bisa bersama mu?" tanya Nisa lagi-lagi karena masih penasaran
"Maaf ya Bu, maafkan aku.." ucap Arkana sembari tetap fokus menyuapi Dira
"Tadi Aku bertemu Aira di parkiran kampus, membawa Dira sementara dia harus ujian, dia sedang kehabisan uang makanya tidak bisa menitipkan Dira ke penitipan anak" jelas Arkana pada Ibunya itu
"Oh begitu, ya sudah pokoknya Ibu titip kamu harus bisa jaga diri ya Nak, jangan sampai ada masalah yang salah paham seperti kemarin" ucap Nisa mengerti dan memberi nasihat pada putranya itu
"Baik Bu.. Ibu sehat-sehat ya disana, aku sangat merindukan Ibu.." jawab Arkana
Setelah itu Arkana memutuskan sambungan telepon itu. Dira sudah menghabiskan makanannya, lalu meminum air mineral dibotol lucu miliknya.
Tiba-tiba Shaina datang, dengan langsung kebingungan ada anak siapa ini. Arkana menjelaskan, sejelas-jelasnya pada Tantenya itu, Shaina pun mengerti. Shaina sangat menyukai Dira, anak perempuan yang menggemaskan, seperti yang ia impikan dalam pernikahannya itu tapi hingga kini belum diberi keturunan juga, padahal Shaina sudah mencoba program bayi tabung tapi masih belum berhasil.
"Tante, aku bawa dia ke kamar dulu ya sepertinya dia mengantuk" ucap Arkana sembari menggendong Dira kembali
"Iya dia sudah mengantuk.." ucap Shaina
__ADS_1
Arkana lalu membawa Dira ke kamarnya yang sebenarnya rumah dan Resto adalah satu bangunan dan hanya saja rumah berada di atasnya. Arkana menidurkan Dira, bahkan sampai dirinya ikut tertidur disamping Dira.
*****
Aira yang baru selesai mengerjakan ujiannya langsung teringat pada putrinya, Dira. Ia lupa tidak bertukar nomor ponsel dengan Arkana, bahkan lupa tidak menanyakan akan dibawa kemana anaknya. Aira mulai panik, mencari kesana kemari. Ia mencari ke taman dekat kampus, tempat dimana pertama kali dirinya bertemu dengan Arkana. Ternyata juga tidak ada, Aira terus mencarinya. Sampai Aira izin tidak masuk kerja di Laundry.
Aira langsung teringat, ke Resto yang waktu itu bosnya memesan makanan.
"Apa Arka membawa Dira ke Resto tempatnya bekerja ya? Kan dia pasti harus bekerja.." ucap Aira pada diri sendiri
"Iya iya aku harus coba kesana.." ucap Aira lalu berlari mencari taxi untuk hendak ke Resto
Sesampainya di Resto, mata Aira melirik kesana kemari berharap melihat Dira dan Arkana, tapi nyatanya nihil. Tak ada Arkana dan Dira di sudut manapun.
Aira memutuskan untuk bertanya pada Shaina yang saat itu sedang menjaga kasir.
"Permisi nyonya, apa betul disini ada yang bermana Arkana?" tanya Aira dengan sopan dan berhati-hati pada Shaina
"Iya betul, kamu siapa?" jawab Shaina dengan balik bertanya
"Saya Aira, temannya. Apa hari ini Arkana masuk untuk bekerja?" tanya Aira
Shaina langsung tersenyum, mungkin semua orang tahunya Arkana pekerja disini, padahal dia adalah cucu pemilik Resto ini.
"Oh jadi kamu Ibu bayi itu?" tanya Shaina dengan senyum ramahnya
"Oh apa Arkana membawa Dira kemari? Membawanya sembari bekerja?" tanya Aira panik
"Haaa iyaa namanya Dira.. Mari aku antar kau bertemu mereka.." ucap Shaina lalu mengajak Aira menaiki anak tangga
Aira semakin bingung, kenapa ia diajak ketempat sepi yang tak ada pengunjung sama sekali. Matanya semakin melirik kesana kemari.
Sampailah disebuah ruangan, yang pintunya masih tertutup.
"Mereka pasti disini.. Ayo masuk" ucap Shaina sembari membuka kan pintu kamar Arkana
Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dira tidur dalam dekapan pria, dan terlihat sangat pulas.
Aira meneteskan air matanya.
"kamu kenapa?" tanya Shaina yang melihatnya menangis
__ADS_1
"Pemandangan yang ku lihat ini begitu indah, Dira belum pernah tidur dalam dekapan ayahnya sendiri, tapi dengan Arkana ia didekap sampai tertidur pulas" ucap Aira dengan jujur
Shaina langsung mengelus bahu Aira dengan lembut.