Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 62


__ADS_3

Zahra sudah selesai ditangani oleh dokter, ini adalah kenyataan pahit, kenyataan yang berat untuk Arka dan Zahra. Hingga kini Zahra masih sangat murung dan bersedih. Nisa sebagai mertua sudah berulang kali membantu Zahra agar ikhlas dan membantu menenangkan suasana. Zahra belum juga kembali seperti biasanya, rasa sakit yang masih ia rasa setelah tindakan dokter membuatnya semakin mengurung diri di kamar.


Belum lagi dirinya yang di tahan dokter untuk mengubur keinginannya tuk segera hamil kembali.


"Bu Zahra sebaiknya untuk sekarang pakai KB dulu, saya sarankan tidak langsung hamil lagi dalam waktu dekat, minimal 6 bulan dari sekarang, dan kemungkinan dihamil berikutnya juga akan terus seperti ini tidak berkembang baik " ucap Dokter yang membuat Zahra semakin sedih, ucapan yang terus terngiang dipikirannya


Sudah hampir seminggu Zahra hanya terdiam di kamar, tak selera makan, juga tak bersemangat. Arka harus tetap bekerja karena perusahaannya sedikit goyah setelah kemarin ditinggal lama dan saat Ibunya kecelakaan jadi tidak fokus, ada beberapa yang melenceng dari target. Membuat Arka sangat sibuk, dan pikirannya kacau.


Arka baru saja kembali dari kantor pukul 5 sore. Nisa menyambutnya di ruang keluarga, yang sedang duduk berdua bersama Umi.


"Walaikumsalam.. Arka baru pulang, nak..." ucap Nisa saat mendengar Arka mengucap salam


"Iya Bu.. Sedikit sibuk akhir-akhir ini.." jawab Arka dengan senyum yang dipaksakan


Nisa mengangguk, lalu menyunggingkan senyumnya.


"Sabaaar ya Nak.. semua masalah pasti ada jalan keluarnya" ucap Nisa yang sebenarnya sudah tahu dengan permasalahan perusahaannya.


Arka hanya mengangguk, tanpa suara


"Temani istri mu, dia setiap hari masih selalu menangis, tak mau makan, pasti itu menyakiti dirinya sendiri" ucap Umi memberi tahukan Arka


"Iya Oma.." jawab Arka dengan cepat


Arka lalu melangkahkan kakinya dengan cepat, terburu-buru agar segera sampai ke kamarnya. Perasaanya campur aduk tak karuan, lelah bercampur cemas, kesal dan segalanya. Arka melihat Zahra yang terbaring diatas kasur, dengan selimut yang menggulung tubuhnya, wajah yang masih murung, mata sembab dan terlihat melamun. Arka juga melihat pemandangan satu piring nasi beserta lauk pauknya masih utuh dengan nasi yang sudah ada dalam sendok yang kemungkinan tak ia makan, air minum yang juga masih terisi penuh dalam gelas. Jelas Zahra tak mau makan sedikitpun.


"Sayang.." ucap Arka lembut walau lelah terlihat jelas di wajahnya


Zahra tak bergeming, pandangannya kosong ke depan, bahkan ia tak menyadari suaminya sudah pulang.


"Makan ya sedikit saja.." ucap Arka sembari membelai lembut pipi mulus istrinya itu


Lagi-lagi Zahra tak bergeming, ia masih terdiam. Arka dengan sigap langsung mengambil piring berisi makanan itu, lalu hendak menyuapinya ke mulut Zahra.


Tapi Zahra tak juga membuka mulutnya.


"Sayang, makanlah sedikit untuk ku.. Jika kamu tak menyayangi dirimu, lakukan untuk ku.." ucap Arka memohon dengan sendok tetap dihadapan Zahra


"Aku tidak lapar Mas.. Aku tidak punya selera" jawab Zahra akhirnya membuka suara, tapi tatapannya tetap kosong


"Sedikit saja, Sayang.. Demi aku.. Jangan membuat ku tambah sedih, jangan membuat aku tambah terbebani dengan kondisi mu yang seperti ini" ucap Arka dengan nada lembut, matanya sayu, pikirannya sedang kacau


"Aku bilang aku tidak selera Mas, singkirkan makanan itu" ucap Zahra tetap tanpa ekspresi

__ADS_1


"Aku sedang bersedih, dan aku juga masih merasakan sakit yang luar biasa" lanjut ucap Zahra dengan cairan bening yang terus menetes


"Kamu pikir kamu saja yang sedih? Aku juga!" ucap Arka kini sedikit menaikan suaranya


"Kamu itu egois! kamu tidak memikirkan aku, keluarga ku, dan keluarga mu, semua orang yang menyayangi kamu! Orang yang juga menanti kelahiran anak kita! Kamu terus larut dalam kesedihan mu, tanpa harus aku menunjukan sedih seperti mu, jauh dilubuk hatiku aku sangat bersedih, aku kecewa! Dan orang-orang yang menunggu kelahirannyapun sama seperti mu mereka sedih!" lanjut ucap Arka, ia mulai kehabisan sabarnya


"Aku jauh lebih sedih dibanding kamu Mas, aku harus terima keadaan yang tidak boleh dulu hamil dengan waktu yang ditentukan, belum lagi kemungkinan tidak akan bisa hamil lagi! Kenyataan itu Semua jauh lebih sakit Mas!" ucap Zahra yang juga mulai menjelaskan sakit hatinya


"Kamu tidak sendirian! Aku juga sama dengan mu, Aku jauh sangat kecewa!" ucap Arka dengan begitu kesal


"Kamu itu egois!" lagi-lagi Arka mengucapkan kata itu


Dengan perasaan yang sangat kesal, Arka keluar dari kamar meninggalkan Zahra sendirian, dan membiarkannya menangis.


Pertengkaran itu tidak terlalu kencang membuat Nisa dan Umi tidak mendengarnya, dan memang Nisa dan Umi sedang duduk di ruang keluarga.


Arka berjalan dengan wajah kesal, langkahnya lebar-lebar, menuju keluar rumah, padahal waktu sudah hampir magrib.


"Arka, kamu mau kemana?" tanya Nisa begitu melihat Arka yang berjalan terburu-buru


Arka hanya terdiam tak bergeming, seolah Nisa dan Umi tak terlihat di matanya karena ia terlanjut sangat kesal. Arka menaiki mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan super hingga membuatnya hampir kehilangan kendali. Arka lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia merenung sebentar, lalu memukul stir mobilnya lalu berteriak.


"Aaarrrgggghhhh...." teriak Arka dengan kesal


Adzan magrib terdengar, Arka yang pergi tanpa tujuan, langsung berputar menuju masjid yang cukup besar disamping jalan raya.


Zahra merasa tak enak hati pada Arka. Ia sudah merenungkan segalanya.


"kamu benar Mas.." ucap Zahra dengan bibir yang bergetar


Zahra ingin mencari Arka, ia berusaha meraih ponselnya lalu menghbungi suaminya itu. Nomor yang Zahra tuju sebenarnya aktif, hanya saja tak Arka bawa, ponselnya tergeletak disamping tas kerja milik Arka.


"Kamu kemana Mas.." ucap Zahra mulai kebingungan


Zahra lalu menghapus air matanya, lalu memasang cadarnya, dan meraih tas selempang kecil miliknya, lalu berjalan keluar kamar dengan menahan sakitnya karena memang tindakan dokter kemarin sama seperti melahirkan.


Nisa, Umi dan juga kedua asisten rumah tangganya sedang sholat berjama'ah di mushola belakang, membuat Zahra keluar rumah tidak ada yang tahu. Zahra berjalan selangkah demi selangkah sembari menahan sakitnya. Zahra lalu menghentikan taxi yang kebetulan lewat.


Disisi lain, Arka sholat magrib berjamaah di masjid besar itu. Hatinya gundah, ia mencoba menenangkan dirinya, hatinya juga amarahnya. Pikirannya seperti ingin meledak, karena banyaknya yang ia pikirkan.


Seusai sholat Arka berdzikir, cairan bening dari matanya menetes, setetes demi setetes hingga membasahi kemejanya yang berwarna biru cerah itu. Arka lalu mengambil Al-Qur'an yang tidak jauh dari tempatnya duduk, lalu membaca ayat-ayat suci itu, membuat hatinya lega.


Zahra mencari suaminya, hatinya penuh penyesalan. Tapi Zahra bingung tak tentu arah harus mencari kemana.

__ADS_1


"Maaf Bu, mau diantar kemana?" tanya supir taxi itu sembari memandang ke arah Zahra dari kaca depan


Zahra masih terdiam, ia masih saja menangis.


"Bu.." ucap supir taxi lagi, karena Zahra terdiam terus, mana terlihat sangat sedih membuat dirinya bingung


"Antar berkeliling, tenang saja saya akan membayar penuh" ucap Zahra sembari menyeka air matanya


"Tapi tujuannya mau kemana Bu?" tanya supir taxi lagi tambah bingung


"Antar kemana saja" ucap Zahra cepat


Zahra sangat bingung sebenarnya, tapi ia tak mungkin untuk pulang kerumah orangtuanya. Tapi ia lelah rasanya ingin mengadu dan sedang ingin di dengarkan.


*****


Arka yang sudah merasa tenang dan lega, lalu keluar dari dalam masjid, ia melihat awan malam yang mulai meneteskan airnya, gerimis menyapa kulit Arka. Arka langsung masuk kedalam mobil, ia sangat merindukan ayahnya, Arka memutuskan untuk ke makam Ayahnya dulu.


Sesampainya di pemakaman yang cukup mewah itu, dengan penerangan yang cukup terang, Arka langsung menyusuri jalannya hingga sampai pada makam Ayahnya, yang sangat terawat itu. Arka bersimpuh dengan bertumpuan lutut di samping makam Alfath. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.


"Ayah.." ucap Arka setelah membacakan doa-doa untuk ayahnya itu, lalu mengusap nisan yang bernamakan ayahnya itu


"Arka rindu Ayah.. mungkin jika ada ayah semua tidak akan seperti ini" ucap Arka dengan lirih dalam tangisnya


"Maafkan Arka Ayah.. Maaf Arka belum bisa seperti ayah, Arka kasar pada istri sendiri, Arka di kuasi amarah, Arka menyesal!" ucap Arka lagi-lagi dengan bibir yang bergetar


Zahra tadi sewaktu dijalan, setelah berputar-putar mengelilingi kota. Zahra memutuskan untuk mencoba mendatangi makam ayah mertuanya itu, karena ia tak juga menemukan suaminya dimana-mana.


Zahra melihat Arka yang sedang bersimpuh disamping makam ayahnya itu. Zahra membiarkan suaminya yang masih bersimpuh itu dan mendengarkannya.


Arka tak menyadari kedatangan Zahra yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Enggak, Mas.. Aku yang salah.. Kamu tidak kasar pada ku, maafkan aku" ucap Zahra yang ikut bersimpuh disamping suaminya lalu menundukan pandangannya, memperlihatkan penyesalannya


"Sayang?" ucap Arka terkaget ketika melihat Zahra sudah ada disampingnya


"Maafkan aku mas.." ucap Zahra lagi-lagi


Arka lalu memeluk tubuh istrinya itu, mereka masih sama-sama bersimpuh di makam Alfath, dengan air hujan yang turun lebih deras dari pada tadi.


"Maafkan aku sayang, maaf aku sudah kasar.. Aku sangat menyesali segalanya.. Kita perbaiki segalanya" ucap Arka lalu mencium kening istrinya itu


Hujan turun semakin deras, Arka dan Zahra menjadi basah kuyup.

__ADS_1


"Ayah, terimakasih untuk semuanya, terimakasih sudah mengukir cerita indah dan terbaik untuk jadi panutan.. Arka dan Zahra pamit" ucap Arka lalu mencium nisan Alfath


Arka lalu mengajak Zahra pulang. Arka menggandeng tangan Zahra, tapi Zahra tak bisa berjalan cepat karena ia masih sangat merasa kesakitan. Sementara hujan turun lebih deras, Arka lalu menggendong Zahra untuk masuk kedalam mobil.


__ADS_2