
Arkana seperti kebingungan, entah kenapa dia merasakan kehilangan sekali sosok Aira.
Sudah hampir 2 minggu, ia tak bertemu lagi dengan Aira.
Hari ini adalah hari terakhir ujian semester, itu artinya musim liburan akan segera datang, dan tentunya Arkana akan pulang ke Indonesia. Setelah pulang dari kampus, Arkana yang tidak bersemangat itu langsung kembali pulang kerumah, rumah Shaina yang kini ia tinggali dari semenjak kejadian itu.
Terlihat Arka sedang melamun sembari berjalan-jalan di halaman belakang rumah, ditepi kolam berenang.
"Arka.." ucap Shaina mengagetkan lamunan Arka
Arka seketika menoleh kearah Shaina yang datang dengan membawa segelas teh hangat yang sedang ia nikmati.
"Ayo duduk, mari berbicara.." ucap Shaina yang tahu sebenarnya Arka sedang memikirkan sesuatu
"Baik Tante.." jawab Arka dengan lemas, sembari mengikuti langkah kaki Shaina untuk duduk di ayunan kayu dekat kolam berenang itu.
"Kamu kenapa? sepertinya sedang ada sesuatu yang kamu pikirkan? Bukankah musim liburan akan segera datang? Biasanya kamu sangat antusias untuk pulang ke Indonesia, dan membeli oleh-oleh untuk Ibu mu.." ucap Shaina panjang lebar
"Iya Tante, Arka akan pulang ke Indonesia.." jawab Arka tetap terlihat sangat lesu
"Arka ada apa? Ceritalah pada Tante.. Tante tahu, pasti ada sesuatu yang membuat mu seperti ini.." ucap Shaina yang begitu tahu ada sesuatu yang mengganjal, Shaina begitu mengenal keponakannya ini
"Gak tau kenapa Tante.. Arka kok merasa kehilangan Aira yaaa..." ucap Arka dengan jujur, tapi terlihat malu-malu
Shaina mengangguk-anggukan kepalanya, ia belum berani berkomentar dengan ucapan Arka itu.
"Semenjak hari itu, saat aku tau Aira tak ada lagi di kota ini, aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengan dirinya, aku juga sudah mencoba mencari dirinya kemana-mana, tapi tidak ada.." lanjut ucap Arka sembari dengan pandangan lurus kedepan, menatap kosong
"Apa kamu mendapatkan informasi berharga tentang kepergian Aira?" tanya Shaina penasaran
"Aku tanya pada pihak kampus kalau Aira tiba-tiba memutuskan untuk cuti kuliah, menanyakan pada teman-temannya pun tidak ada yang tahu.. Saat aku datangi rumah kontrakannya pun dia sudah meninggalkan tempat itu, tetangganya bilang dia pulang ke desa, tapi tidak ada yang tahu desanya dimana.." jawab Arka memberitahu semua informasi yang ia dapatkan
"Arka..." ucap Shaina hati-hati
Arka seketika langsung menoleh ke arah Shaina, karena ia tahu Tantenya pasti akan berbicara sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Tante sih cuma saranin sama kamu, jangan terlalu berperasaan pada Aira, jangan terlalu dalam.." ucap Shaina begitu hati-hati
"Maksud Tante?" tanya Arka tak mengerti
"Yaaa.. maksud Tante, kamu jangan menyimpan perasaan pada Aira, bebaskan saja pikiran kamu, perasaan kamu.. Tante bisa melihat kamu mulai menyukainya, mulai berperasaan padanya.." ucap Shaina dengan lembut dan berhati-hati
"Bagaimanapun Aira sudah menjadi istri orang lain, walaupun sudah bercerai dengan suaminya Aira akan menjadi janda dan memiliki masa lalu yang buruk, yaaa walau memang tidak ada salahnya tapi Tante ingin kamu mendapatkan wanita yang sepadan dengan mu, muslim seagama, gadis dan sholeha.." lanjut ucap Shaina
Arka menatap Shaina begitu dalam, ia tahu Tantenya akan mengatakan ketidak setujuannya pada perasaannya ini.
"Maaf.. Bukannya Tante ingin mencampuri perasaan Arka.. Tapi Tante ingin semua yang terbaik untuk Arka.." ucap Shaina lagi setelah melihat Arka yang tak merespon ucapannya dan hanya kembali terdiam itu
"Iya Tante, Arka ngerti.." jawab Arka singkat
"Ya sudah kalau begitu Arka akan keluar untuk membeli beberapa barang untuk Ibu, Arka siap-siap dulu ya Tante.." lanjut ucap Arka pada Shaina, sembari beranjak dan berlalu meninggalkan Shaina
Shaina langsung menghubungi Nisa, Ibu dari Arkana itu dan memberitahu semua yang ia ucapkan pada Arka.
"Menurut Kakak, apa aku salah?" tanya Shaina setelah menceritakan semuanya
"Terimakasih yaaa sudah menasihati Arka.." lanjut ucap Nisa pada Shaina
"Sama-sama Kak.. Aku sangat menyayangi Arka, sudah seperti anak ku sendiri" jawab Shaina lalu mengakhiri sambungan telepon itu.
Sementara Arka masuk kamar dan langsung mandi di toilet yang ada di kamarnya itu, dan berganti pakaian. Setelah siap, Arka yang masih didepan cermin lemarinya itu terus memandangi dirinya sendiri.
"Apa iya ya aku jadi mempunyai perasaan pada Aira?" ucap Arka pada dirinya sendiri
"Sebenarnya aku hanya menyukai Aira karena dia bisa di arahkan kepada kebaikan, dia juga penurut. Belum pernah aku menemui wanita seperti itu.. Sayang sih dia pernah menikah dengan Zidan dan mempunyai masa lalu yang buruk.." lanjut ucap Arka sembari terus memandangi dirinya yang ada pada cermin
Arka malah duduk di tepi kasurnya, lalu membaringkan tubuhnya, sembari menunggu sambungan video call pada Ibunya di angkat.
"Halooo Ibu, Assalamu'alaikum.." Arka ketika sudah terlihat wajah Ibunya di ponselnya
"Walaikumsalam nak.. Kamu sehat?" jawab Nisa, lalu menanyakan kabar putranya itu
__ADS_1
"Alhamdulillah Bu, Arka baik-baik saja. Ibu sehat?" jawab Arka balik bertanya pada Ibunya
"Alhamdulillah sayang.. Sama Ibu juga sehat. Bagaimana ujiannya? Lancar?" ucap Nisa pada Arkana
"Lancar Bu, Alhamdulillah besok sudah mulai liburan. Ibu mau dibawain oleh-oleh apa sama Arka?" jawab Arka, lalu menanyakan keinginan Ibunya itu
"Tidak usah membawa apapun nak, Ibu tidak ingin apa-apa kok.. Kamu pulang saja Ibu sangat senang sayang" jawab Nisa tanpa berpikir panjang
"Kapan kamu akan pulang?" lanjut ucap Nisa
"Nanti ya Bu, Arka kabari lagi pastinya kapan.. Arka akan mencari beberapa barang untuk oleh-oleh, untuk karyawan di kantor juga.." jawab Arka yang sedari tadi memang sembari tiduran diatas kasurnya itu
Nisa mengerti dengan maksud anaknya. Nisa memutuskan sambungan telepon itu, karena memang masih di kantor.
Sementara Arka, memutuskan untuk pergi keluar. Sebenarnya tak tahu mau kemana, ia melajukan motornya begitu saja. Sampailah disebuah taman, taman yang begitu banyak penjual makanan. Arka membeli secangkir capucino dan langsung mencari tempat untuk menikmatinya. Tiba-tiba ada seorang yang mendekat pada Arka dan langsung duduk disebelah Arka.
"Arka..." sapanya pada Arka yang sedang larut dalam lamunannya
"Ehhh.. maaf maaf saya tidak tahu kedatangan kamu" ucap Arka karena kaget dengan kehadirannya
"Kamu pasti sedang mencari tahu Aira dimana kan?" ucapnya tanpa menghiraukan kagetnya Arka.
Arka terdiam seketika. Ia mengingat-ingat, siapa wanita yang duduk disampingnya itu. Setelah sekian lama ia baru menyadari, bahwa wanita yang disampingnya ini adalah rekan kerja Aira di Laundry kala itu.
"Apa kamu tahu dimana Desa tempat tinggal orangtua Aira?" tanya Arka dengan penasaran
Lalu wanita itu memberikan secarik kertas, bertuliskan alamat lengkap desa Aira.
"Itu adalah alamat Aira yang ditinggalkan untuk data diri di tempat kerja" ucapnya memberi penjelasan
"Semoga bermanfaat.." lanjut ucapnya tetap dengan ekspresi datarnya, pandangan lurus ke depan dan bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Arka
"Apa alasan mu memberi ini pada ku?" ucap Arka penasaran dengan niatnya
"Aku berharap kamu bisa membantu menyelamatkan hidup Aira" jawabnya singkat lalu berjalan menjauh dari Arkana
__ADS_1