Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 60


__ADS_3

Nisa sudah kembali pulang kerumah. Nisa sudah dibantu oleh Zahra untuk beristirahat di kamar, Umi menghampiri lalu menemani Nisa di kamar dan membiarkan Zahra untuk beristirahat.


Zahra melihat suaminya sudah masuk kedalam kamar, ia tahu suaminya sedang marah. Zahra sebenarnya takut untuk menghadapi suaminya yang sedang marah itu, tapi ia tak bisa saling berdiam terus dengan suaminya. Zahra memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar, dan untuk menyelesaikan semuannya.


Zahra melihat Arka sedang berbaring sembari memainkan ponselnya, Zahra lalu duduk di meja riasnya, ia membuka jilbabnya, ia menggantinya dengan jilbab instan yang simpel. Zahra melihat suaminya tak sedikitpun menoleh kearahnya. Zahra memberanikan diri untuk menghampiri suaminya.


"Mas.." ucap Zaha dengan lembut dan penuh manja, Zahra menghampiri Arka lalu menidurkan kepalanya di dada Arka.


"Hmm.." jawab Arka singkat


"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Zahra tanpa mau menurunkan kepalanya dari dada suaminya itu


Arka masih terdiam, ia jelas terlihat masih marah, masih ada perasaan kesalnya.


"Maaaasss.." lagi-lagi panggil Zahra karena Arka tak menjawab pertanyaannya


"Aku mau tanya sebenarnya laki-laki tadi itu siapa?" tanya Arka dengan nada sedikit jutek


"Dia guru yang sama mengajar di sekolah yang sama juga" jawab Zahra memberitahu


"Guru? Hah! guru macam apa yang kurang baik etitudenya!" ucap Arka dengan kesal


"Mas dan dia tadi bicara apa memangnya?" tanya Zahra memberanikan diri


"Dia menghentikan langkahku, dan berani mengancam ku, dia bilang akan merebut mu jika aku menyakiti mu, dia bilang juga dia lebih pantas bersama mu bukan dengan pria bule macam aku!" ucap Arka mencoba menceritakan semua kekesalannya


"Siapa dia berani-beraninya!" lanjut ucap Arka yang masih tersulut emosi


"Ya Allah Pak Arfan, apa-apaan sih dia!" ucap Zahra yang juga jadi kesal pada Arfan setelah mendengar apa yang membuat suaminya kesal


"Kalau saja aku tak kuat iman, mungkin tadi sudah ku hajar mulutnya!" ucap Arka mendengus kesal


"Astagfirullah.. Ampuni aku ya Allah" lanjut ucap Arka tersadar


"Astagfirullah.." ucap Zahra


"Mas... Aku sangat mencintai mu, aku yakin kau akan selalu melindungi ku, aku tidak pernah berani membayangkan jika harus kehilangan mu.." ucap Zahra sembari memeluk erat tubuh suaminya, dan membiarkan terus kepalanya di dada Arka itu


Arka kembali tersenyum, ia menciumi puncak kepala istrinya itu.


"I love you sayang.." ucap Arka berbisik ditelinga Zahra


"Love you too mas.." jawab Zahra dengan cepat


"Terimakasih sudah menjadi istri sholeha.. maaf ya setelah kita kembali ke Indonesia, kamu belum lagi aku manjakan, kita belum lagi menghabiskan waktu berdua" ucap Arka sembari memandang wajah istrinya


Zahra hanya tersenyum, lalu kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan didada suaminya itu.


*****


Kini sudah waktunya makan malam, Zahra selalu memasak walau sudah ada 2 asisten rumah tangga. Zahra hanya menyuruh Ijah dan Rani untuk membantunya, dan salah satu dari mereka untuk membantu keperluan Umi dan Nisa selagi dirinya sibuk dengan pekerjaan rumah.


Sementara Arka membantu Nisa dan Umi untuk bersiap makan malam dan mengajak ke meja makan.

__ADS_1


Zahra sedang mengiris bawang, tiba-tiba baunya terasa menyengat membuatnya sangat mual.


"Uuuweeekkk.." Zahra mengeluarkan suara seperti ingin muntah, Zahra melepaskan pisaunya lalu mengahmpiri wastafel cuci piring


Ijah yang membantu Zahra, terkesiap mendengar majikannya seperti itu.


"Ibu.. Ibu kenapa?" ucap Ijah dengan paniknya


Arka yang juga mendengar langsung menghampiri istrinya itu


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arka dengan panik, lalu memijat lembut kedua bahu istrinya itu


"Bi Ijah tolong ambilkan air hangat untuk istriku" lanjut ucap Arka pada Ijah yang terlihat panik disamping Zahra itu


"Sayang, sudah ya kita tunggu dan istirahat. Biar Bi Ijah dan Bi Rani saja yang memasak" ucap Arka lalu sembari mengajak Zahra untuk duduk di meja makan


Zahra masih tak bersuara, karena ia menahan mualnya.


Ijah menyodorkan air minum hangat untuk Zahra, Nisa dan Umi juga terlihat cemas.


"Coba ambilkan minyak kayu putih Bi Ijah, agar lebih lega" ucap Nisa menyuruh Ijah


"Baik Bu.." jawab Ijah lalu dengan cepat ke kotak obat yang disimpan dekat ke dapur


Arka lalu mengoles leher Zahra dengan minyak kayu putih, lalu membantu Zahra untuk minum air hangat itu.


"Sayang kamu sudah merasa lega?" tanya Arka yang panik sedari tadi


"Aku panggilkan dokter saja ya, biar diperiksa dirumah saja.." ucap Arka sembari ingin bangkit dari duduknya


"Kamu kelelahan yaaa karena sibuk merawat kami.." ucap Umi dengan raut wajah sedih


"Tidak Oma.. Zahra tadi telat makan siang karena tidak merasa lapar" jawab Zahra menenangkan Umi dan Ibu mertuanya itu


"Iya Zahra, setelah makan malam kamu tidur, istirahatlah.. Biar Oma dan Ibu dibantu oleh Bi Ijah dan Bi Rani saja" ucap Nisa sembari mengelus lembut tangan menantunya itu


Zahra hanya mengangguk mengerti, akhir-akhir ini Zahra memang selalu tidur terlalu malam karena harus membantu Umi untuk berganti pakaian, membersihka diri, setelah itu baru bisa kembali ke kamar. Bahkan Zahra sudah tak lagi saling bermanja dengan Arka, apa lagi menghabiskan waktu berduaan seperti bulan madu, karena Zahra yang kelelahan karena seharian yang sibuk, begitu juga dengan Arka yang kelelahan karena bekerja yang langsung tidur.


Setelah makan malam, Arka langsung membawa Zahra masuk kedalam kamar. Zahra terlihat begitu pucat, ia langsung berbaring di kasur, sementara Arka membawakan obat dan air minum hangat untuk Zahra.


"Terimakasih banyak Mas.." ucap Zahra pada Arka yang menyuapinya obat


"Sama-sama sayang.." jawab Arka dengan senyum manisnya


"Mas aku ingin pakai minyak kayu putih lagi, aku ingin menghangatkan tubuhku" ucap Zahra


Lalu Arka membantu menggosokan minyak kayu putih ke punggung Zahra, tangan, leher, perut. Tubuh Zahra yang sedikit terbuka itu membuat Arka ingin menggodanya.


"Sayang yuuu.. aku ingin" ucap Arka sembari menyentuh-nyentuh area sensitif Zahra denga manja


Zahra hanya tersenyum, dan terlihat lemah.


Arka mengurungkan niatnya karena kasihan istrinya sedang sakit. Arka hanya menggoda saja.

__ADS_1


"Hehe becanda sayang, kasihan kamu lagi sakit" ucap Arka dengan tawanya lalu terlelap berdua dengan istrinya sembari berpelukan


Waktu sudah masuk adzan subuh, Zahra yang bangun kesiangan tepat saat adzan berkumandang, terkaget karena tak biasanya ia bangun jam segini, Zahra terbiasa bangun dari sebelum adzan subuh. Ia melihat suaminya sudah berganti pakaian, menggunakan sarung dan baju takwa, rapi dengan peci di kepalanya.


"Mas kok tidak membangunkan ku.." ucap Zahra setelah selesai membaca doa bangun tidurnya


"Iya sayang, Mas kasihan melihat mu. Wajah mu masih pucat jadi Mas biarkan untuk beristirahat" jawab Arka pada Zahra


Zahra hanya menyunggingkan senyum manisnya, ia lalu berjalan ke toilet untuk wudhu dan sholat subuh berjamaah bersama suaminya.


Setelah sholat subuh Zahra langsung menghampiri Ibu mertua juga Omanya itu. Dilihatnya, Oma juga Ibu mertuanya juga sudah sholat bersama. Zahra berlalu dan langsung menuju dapur, hari ini adalah hari minggu, Arka masih libur tak kemana-mana.


Zahra seperti biasa ia menyiapkan sarapan, Ijah dan Rani yang juga sudah memulai bekerja melihat Zahra dan tak ingin membiarkannya memasak sendiri.


"Ibu sebaiknya istirahat saja.. Ibu masih terlihat pucat" ucap Rani mencegah Zahra yang akan memasak


"Saya tidak kenapa-kenapa kok Bi.." jawab Zahra lalu tersenyum pada Rani


"Biar kami saja Bu yang membuatnya, Ibu cukup beritahu saja.. Lalu istirahat" ucap Ijah yang juga mengkhawatirkan Zahra


Tiba-tiba Arka menghampiri Zahra di dapur karena tahu istrinya pasti ke dapur.


"Iya sayang, sebaiknya kamu istirahat saja yaaa.." ucap Arka lalu menarik bahu Zahra dengan pelan lalu mengajaknya untuk duduk di ruang tengah


Zahra masih terlihat pucat, tubuhnya masih belum sepenuhnya sehat. Zahra merasakan sangat lemah tapi ia berusaha terlihat baik-baik saja.


Arka memutuskan untuk memanggil dokter saja, tanpa sepengetahuan Zahra, karena memang Zahra masih sangat lemah.


Setelah sarapan, dokter Mira datang. Zahra terkejut mengapa ada dokter.


Dengan pasrah Zahra membiarkan dirinya di periksa oleh dokter Mira.


"Bu Zahra, kondisi anda baik-baik saja. Apa anda telat haid?" tanya Dokter Mira pada Zahra


Arka menatapnya dengan sangat dalam, ia terlihat begitu menyimak


"Terakhir haid tanggal 10 bulan kemarin dok.." ucap Zahra sembari mengingat-ingat tanggal


"Berarti sudah telat ya Bu, sekarang sudah tanggal 28. Ibu cek pake tespect dulu ya.." ucap Dokter Mira lalu mengeluarkan alat tespect dari dalam tasnya


Zahra menuruti perkataan dokter, Zahra langsung masuk kedalam toilet yang ada di kamarnya itu, dibantu oleh Arka untuk berjalan masuk ke dalamnya.


Arka menunggu Zahra dengan setianya, Zahra malu sebenarnya, tapi Arka memaksa. Setelah selesai, Zahra terlihat gugup menunggu hasil yang keluar dari alat itu.


"Apa hasilnya sayang?" tanya Arka dengan ikut berdebar


Zahra belum mau membuka alat tespect yang ia genggam dengan tangannya itu.


Zahra menggeleng saat Arka bertanya. Lalu mereka berdua keluar dari toilet, lalu memberikan alat testpect itu pada dokter Mira.


"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya Arka penasaran


"Alhamdulillah hasilnya positif, Pak.. untuk lebih jelasnya periksa ke dokter kandungan yaaa secepatnya. Saya berikan obat yang aman untuk ibu hamil yaaa" ucap Dokter Mira lalu memberikan 3 strip obat dan menjelaskannya pada Zahra

__ADS_1


"Alhamdulillah.. terimakasih banyak dokter.." ucap Arka sangat bersyukur


"Jaga kesehatan ya Bu, jangan dulu kecapean.. jangan aktivitas berat" ucap Dokter Mira lalu meninggalkan Zahra dan Arka berlalu


__ADS_2