Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 14


__ADS_3

Dokter baru saja keluar memeriksa keadaan Papa, dengan cepat dihampiri oleh kami semua.


"Bagaimana keadaan ayah kami dok?" tanya Shaina dalam bahasa Inggris yang begitu fasih


"Ayah kalian harus segera mendapatkan penanganan, Operasi pengangkatan cairan pendarahan yang ada di kepalanya karena sudah akan masuk kedalam otak.." jawab Dokter memberi penjelasan


"Lakukan itu secepatnya dokter.." ucap Alif sang menantu yang juga sangat merasa khawatir dengan Papa


"Baik, kalian lakukan administrasi dulu dan tanda tangani dulu surat perjanjiannya.." jawab Dokter memberi petunjuk


Umi yang begitu lemas, tak kuasa lagi menopang dirinya sendiri, kakinya seakan tak ada tenaga untuk berdiri. Shaina dan Nisa yang memegangi Umi sedari tadi langsung membantu untuk duduk kembali.


"Umi.. kita setujui saja tindakan dokter ini yaa.." ucap Shaina dengan lembut pada Umi


Umi hanya mengangguk perlahan, tak mampu berkata-kata lagi.


Alif kemudian pergi menuju administrasi bersama Arkana.


Sudah setengah jam berlalu, ruang operasi sudah siap, administrasipun sudah selesai. Kini Papa dibawa oleh 2 orang perawat untuk masuk kedalam ruang operasi.


Umi memegang tangan Papa yang akan dipindahkan itu.


"Kamu harus kuat Pa.. Disini ada Arkana, Nisa, Alif dan Shaina yang juga menunggu mu.." ucap Umi pelan ditelinga Papa


"Permisi Bu, kami harus segera membawa pasien ini.." ucap sang perawat meminta izin untuk kembali membawa Papa


Papa sudah masuk kedalam ruang operasi. Umi, Nisa, Arkana, Shaina juga Alif menunggu didepan ruang operasi yang tak terlihat apapun dari luar itu. Semua merasakan cemas yang luar biasa.


Ini adalah kali pertamanya Papa mengalami kecelakaan yang luar biasa.


Operasi itu berjalan 1 jam lamanya. Dokter baru saja keluar dari ruang operasi. Dengan cepat Alif menghampiri.


"Bagaimana dok? Bagaimana keadaan ayah mertua saya?" tanya Alif dengan cepat


Dokter itu melontarkan senyum lebar diwajahnya


"Syukur sekali, operasinya berjalan lancar dan semua berhasil. Kini tinggal menunggu pemulihan dulu.." jawab Dokter Smith yang menangani Papa


Semua bernafas lega mendengar semua ini. Kecemasan yang luar biasa sedari tadi, seketika hilang.


"Ayah kalian akan kami urus, dan bisa kalian temui nanti di ruang rawat.." ucap seorang perawat


Semua mengangguk mengerti dengan maksud perawat itu.


"Kita ke kantin dulu yuu, aku dan Alif belum sarapan apapun sedari tadi.." ucap Shaina pada Umi dan Nisa


"Baiklah.." jawab Umi dengan lemas


15 menit sudah semua menghabiskan waktu di kantin. Umi yang tak selera makan hanya menghabiskan sandwich buatan Nisa, dan minum teh manis hangat. Begitu juga dengan Shaina dan Alif, sama-sama tak merasa enak makan, mereka hanya memakan salad sayur yang mereka pesan.


Nisa, Arkana, Shaina, Alif dan Umi berjalan bersama kembali keruang rawat dimana Papa sedang terbaring lemah.


Dokter memanggil perwakilan keluarga untuk memberi tahu kondisi Papa.


Shaina dan Alif menjadi perwakilannya, sementara Nisa, Arkana dan Umi masih duduk didepan ruang rawat karena masih belum diperbolehkan.


Sesampainya diruang Dokter, Shaina dan Alif dipersilahkan masuk, Dokter sudah duduk menunggu.


"Permisi Dokter.." ucap Alif dengan sopan

__ADS_1


"Silahkan duduk.." ucap Dr. Smith dengan ramah sembari mempersilahkan duduk dikursi dihadapan sang dokter


"Bagaimana kondisi Ayah kami?" tanya Shaina terburu-buru karena sangat penasaran.


"Cairan dan pendarahan di otaknya memang sudah kami buang, sudah tidak ada sama sekali" ucap Dr. Smith menjelaskan sembari menunjukan hasil foto rongent kepala Papa yang ada di layar komputernya


"Lalu dok?" tanya Alif dengan penasaran


"Apa Ayah saya akan segera pulih?" tanya Shaina lagi-lagi dengan tak sabar


"Kemungkinan besar tidak, hanya sedikit kemungkinannya untuk kembali hidup sehat dan normal seperti biasa.." jawab dr. Smith begitu hati-hati


"Maksudnya? Bagaimana?" tanya Shaina dengan begitu marah


"Ayah kalian sudah mencapai usia 69 tahun, artinya sudah tidak muda lagi. Sama kasusnya dengan anak 19 tahun, tapi berbeda hasilnya.." ucap Dr. Smith mencoba menjelaskan dengan baik


"Artinya tubuh yang kini tak muda lagi akan sulit menerima ini. Jika Ayah kalian masih diberi umur panjang oleh tuhan, pasti akan hidup berbeda dari sebelumnya, jika tubuh ayah kalian tidak kuat menahan lagi itu artinya kalian akan kehilangan beliau.." lanjut dr. Smith panjang lebar


"Lalu? artinya kemungkinan besar ayah kami akan meninggal?" tanya Shaina dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya


"Mohon maaf, saya menjelaskan seperti ini karena takut jadi salah paham dengan keluarga kalian... Jadi saya jelaskan ini semua di awal" ucap Dr. Smith


"Iya Dokter.. Terimakasih banyak atas semua yang telah dokter lakukan untuk ayah kami.." ucap Alif dengan suara lirihnya


Dokter hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sementara Shaina mulai meneteskan air matanya.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya dok.." ucap Alif berpamitan sembari menggandeng pundak istrinya itu


Setelah keluar dari ruangan Dr. Smith, Alif melihat Shaina istrinya itu terus bercucuran air mata, yang tak henti-hentinya, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Shaina.


"Sayang, aku mohon hentikanlah tangis itu.. Kita kembali kepada Umi, jangan biarkan Umi tahu.." Ucap Alif berusaha mengajak istrinya untuk menyembunyikan semua itu


"Aku tidak kuat mendengar semua yang terjadi pada ayahku, raja dihidup ku!" jawab Shaina sembari berusaha menghentikan tangisnya


"Aku sangat mengerti.." ucap Alif lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat


*****


Nisa, Arkana dan Umi sudah dipersilahkan masuk kedalam. Begitu gembiranya Umi bisa kembali memegang tangan belahan jiwanya lagi, walau belum sadarkan diri.


"Sayang... Disini ada cucu mu, jagoan mu.. ayolah bangun.." ucap Umi dengan nada yang getir


Nisa berusaha terus menenangkan Umi. Nisa selalu disamping Umi, sembari mengelus-elus pundak Umi yang ia rangkul.


"Opaaa.. Ayo bangun, cepat sembuh.. Arka disini mau main lagi sama opa.." ucap Arkana dengan polosnya sembari memegang tangan Opanya itu


Tapi tak ada juga jawaban apapun dari Papa, tubuhnya terlihat begitu kaku, tak ada gerakan sedikitpun.


Nisa, Umi dan Arkana memutuskan untuk sholat dzuhur berjama'ah diruang rawat Papa dan mendoakan Papa bersama-sama. Ketika Nisa, Umi dan Arkana sedang megangkat tangannya untuk berdoa, Shaina dan Alif masuk ke dalam.


Tak lama, Papa menggerakan jari jemarinya pelan, lalu Papa membuka matanya perlahan-lahan.


"Umi Umi.. Papa sadar.." ucap Shaina dengan begitu gembira


Umi, Nisa dan Arkana yang masih duduk diatas sejadah langsung bangun terburu-buru dan menghampiri Papa.


"Papa.." ucap Shaina dengan air mata bahagianya


"Opaaa..." ucap Arkana dengan gembira

__ADS_1


Papa membuka matanya lalu menatap orang-orang disekelilingnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" ucap Umi dengan air mata dipipinya


"Aku hanya sedikit merasa pusing.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" jawab Papa dengan berbalik bertanya


Lalu Umi menceritakan semua yang telah terjadi. Papa hanya terdiam, tak bersuara sepatah katapun.


"Aku sangat senang, kalian begitu perhatian padaku.." ucap Papa ketika melihat menantunya, Nisa, Alif dan Arkana berada disampingnya


Semua hanya mengangguk


"Aku ingin sholat, sudah lewat waktu dzuhur bukan?" ucap Papa ketika melihat jam dinding yang berada pas dihadapannya


Umi membatu untuk Papa tayamum, lalu sholat dzuhur. Semuanya menunggu dan duduk diatas sofa yang tersedia.


Tak lama Sholatnya selesai. Papa memanggil Nisa, Arkana, Alif juga Shaina untuk mendekat pada dirinya.


"Shaina anakku.." ucap Papa dengan lemah


"Iya Paaa.. Papa mau makan? atau mau minum?" jawab Shaina lalu menanyakan apa keinginan ayahnya


"Papa titip Nisa dan Arkana.. Sayangi mereka seperti kamu menyayangi Almarhum kakak mu.." ucap Papa dengan terbata-bata, susah payah


"Iya Pa, Shaina pasti akan terus menyayangi mereka.. Kak Nisa masih kakak iparku, apa lagi Arkana, dia keponakan ku sampai kapanpun.." jawab Shaina sembari memegang tangan Papanya


"Iyaaa.. terimakasih yaa.. Buat kalian semua hidupnya yang akur yaa, jaga Umi dan selalu sayangi Umi.." ucap Papa lagi-lagi seakan-akan berpesan


"Pasti Paaa.. Kami sangat menyayangi Umi dan Papa" jawab Alif lalu memegang tangan Papa yang sangat dingin itu


"Kamu cepat sembuh, cucu mu kemari ingin bermain lagi dengan mu.." ucap Umi sembari memegang bahu Papa


"Insya Allah yaaa nanti kita main lagi.." jawab Papa sembari menoleh kearah cucunya


"Oh iya, hartaku tidak banyak.. Aku harap Nisa dan Arkana bisa kebagian sedikit dari hartaku ketika aku sudah tidak ada lagi nanti.." ucap Papa sembari menggenggam tangan Nisa dan Arkana yang sama-sama memegang tangan Papa itu


"Jangan khawatirkan itu.. Fokus saja pada kesembuhan mu" jawab Umi dengan cepat


"Iya Pa.. Papa harus sembuh yaa.." ucap Nisa dengan air mata yang membasahi pipinya


"Aku sudah tidak kuat lagi, nafas ini begitu berat..." ucap Papa dengan susah payah, lalu menyebut syahadat, tak lama mata itu kembali menutup.


"Papa.." teriak semua yang ada didalam itu


Alif dengan cepat menekan tombol darurat memanggil dokter, tak lama dr. Smith datang dengan 2 orang perawat.


Semua keluarga yang ada, mundur menjauh karena Papa akan diperiksa.


"Mohon maaf harus saya katakan dengan berat hati, tuan John sudah tidak ada.." ucap Dr. Smith


Pecahlah tangis semua orang yang menunggu kesembuhan Papa. Umi tak mampu lagi menangis rasanya, karena sedari tadi menangis terus, kini dirinya terlihat begitu tegar. Umi menghampiri Papa yang kini sudah terbujur kaku.


"Sekarang kamu sudah tidak akan merasakan sakit lagi, tunggu aku di keabadian sana.." ucap Umi dengan senyum yang terlihat dipaksakan


Pemakaman pun semua diurus oleh Alif. Sampai waktu Ashar tiba, Papa sudah selesai dimakamkan. Semua sudah kembali kerumah. Umi jelas terlihat begitu tegar, sementara Shaina begitu susah payah untuk menahan tangisnya.


"Aku sekecil ini harus banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang aku sayang.. Kemarin Kakek, sekarang Opa.. Aku sudah yatim sedari bayi.." ucap Arkana dalam tangisnya


Nisa yang mendengar ucapan dari mulut anaknya itu tak kuasa menahan tangis, Nisa tak mampu berkata-kata, ia lalu memeluk putranya begitu erat.

__ADS_1


Semua mata tak henti memandang kearah Arkana.


__ADS_2