
Nisa sudah selesai mengisi kajian di acara Yayasan Pendidikan itu. Kini Nisa menghampiri Arka yang sedang duduk di sofa tunggu tadi, seorang diri.
"Arka sudah melihat-lihatnya?" tanya Nisa ketika menghampiri putranya sedang duduk sembari asik dengan ponselnya
"Eh Ibu.. sudah Bu.. Tadi ada Zahra juga, dia berpartisipasi berjualan untuk donasi juga disana.." jawab Arka memberitahu Ibunya itu
"Oh ya? Jualan apa Zahra?" tanya Nisa penasaran
"Mi kocok, enak deh Bu.. Tadi Arka mencobanya bersama Mbak Khadijah.." ucap Arka menjelaskan
"Oh yaaa.. Ayo ajak Ibu kesana, kita beli beberapa untuk teman di kantor.." ucap Nisa pada Arka
Arka menyetujui keinginan Ibunya itu, lalu menggandeng tangan Ibunya untuk kembali ke Stand Zahra.
Zahra yang melihat Arka dari kejauhan begitu kaget, ketika tahu Arka bergandengan.
"Ya Allah Apa Kak Arka itu memang sudah taaruf, atau bahkan sudah muhrimnya dengan Bu Khadijah itu.." ucap Zahra bertanya-tanya dalam batinnya
Arka dan Nisa yang berjalan semakin mendekat dengan stand Zahra, semakin jelas terlihat wanita yang digandeng Arka berbeda bajunya dengan wanita tadi.
Zahra terlihat begitu tenang ketika mengetahui wanita yang digandeng Arka adalah Nisa, Ibunya.
"Bu Annisa.." sapa Zahra lebih dulu
"Halooo Zahra.. Assalamu'alaikum.. Kamu berpartisipasi disini? Ibu tahu dari Arka.." ucap Nisa menyapa Zahra
"Walaikumsalam.. Iya Bu, Zahra ikut berpartisipasi.." jawab Zahra sembari mencium tangan Nisa
"Ibu mau coba Mi kocok kami? Silahkan duduk Bu.." ucap Zahra lagi
Nisa mengangguk, lalu ia duduk dikursi yang tadi Arka dan Khadijah tempati.
"Bentar ya Bu, dibuatkan dulu.." ucap Zahra dengan semangat
"Eh Nak Zahra, Buatkannya dibungkus saja. Ibu mau makan di kantor saja.." ucap Nisa memberitahu pada Zahra
"Pesan 10 bungkus yaaa.." ucap Arka menambahi
Zahra lalu mengerti, dan langsung membuatkannya dibantu oleh temannya.
__ADS_1
Nisa dan Arka menunggu dikursi makan itu.
"Oh iya, siapa yang punya ide untuk menjual mi kocok?" tanya Nisa pada Zahra yang sembari membuatkan pesanannya
"Zahra, Bu.. hehe" jawab Zahra dengan tawanya
"Kenapa kamu memilih mi kocok?" tanya Arka penasaran
"Mi kocok kan Khas Bandung, Zahra suka, juga buatnya mudah, dan di Surabaya jarang yang jual. Ya sudah kepikiran untuk memperkenalkannya disini.." jawab Zahra panjang lebar
Nisa dan Arka mengangguk mengerti dengan jawaban Zahra.
"Hebat kamu nak.. Pintar masak juga yaaa" ucap Nisa memuji Zahra
"Bu Annisa bisa saja.. Enggak terlalu pintar juga Bu, masih belajar.." jawab Zahra dengan malu-malu
Arka hanya terdiam karena ia tak mungkin memuji kehebatan Zahra, ia takut menimbulkan fitnah.
Setelah semua pesanan selesai, Arka dan Nisa lalu membayar dan pergi berlalu meninggalkan tempat acara itu, karena sudah ditunggu juga dikantor.
Sesampainya di kantor, Nisa langsung masuk kedalam ruangan pribadinya, sementara Arka masuk ke ruang meeting karena sudah ditunggu oleh karyawan lain.
Setelah meeting selesai, client dan karyawan lain sudah meninggalkan ruang meeting. Tinggallah Arka dan Rio disana.
"Pak Rio, tolong jangan dulu keluar.." ucap Arka menahan Rio pergi
Rio mengerti, lalu duduk kembali dikursinya.
"Ada yang ingin saya bicarakan dulu dengan Bapak.." ucap Arka membuat Rio langsung terkaget
"Ada apa Arka?" tanya Rio asisten pribadi Arka, yang tentu jauh lebih tua dari Arka.
"Begini Pak.. Ibu menyuruh saya untuk segera menikah, menyuruh saya untuk taaruf dengan salah satu wanita.." ucap Arka membuka pembicaraan
"Yaaa kalau menurut saya juga lebih baik begitu, Arka.. Agar segera ada yang mendampingi" jawab Rio menanggapi
"Iya Pak.. Apa Bapak tau tentang keluarga Zahra? Anaknya Pak Azam dosen di Universitas Karisma, kalau tidak salah.. Yang Arka tau dia teman Ibu waktu kuliah" ucap Arka pada Rio yang duduk disampingnya itu
"Oh jadi Zahra itu anaknya Azam.." ucap Rio sembari mengangguk-angguk kepalanya.
__ADS_1
"Setahu saya, Azam dulu menyukai Bu Annisa, dia pernah melamar Bu Annisa ketika sudah dilamar Pak Alfath, ayah mu.." ucap Rio panjang lebar, memberitahu setahu dirinya
"Oh ya? Lalu?" tanya Arka penasaran
"Pak Alfath juga pernah cemburu sekali pada Azam itu, tapi ya untungnya Bu Annisa sudah menerima lamaran Ayah mu, lahir deh kamu.." ucap Rio sembari diakhiri candaan
"Haha Iyalah makanya ada Arka juga, Ibu pasti nerima lamaran Ayah.." jawab Arka dengan tawanya
"Oh iya satu lagi wanita yang Ibu kenalkan pada Arka, yaitu Khadijah kembaran Yusuf.." ucap Arka pada Rio
"Khadijah adik kembarnya Yusuf?" ucap Rio mengulang ucapan Arka karena ia kaget tak menyangka
"Iya Pak, Mbak Khadijah ituu.." ucap Arka meyakinkan
"Hmm.. iya iyaaa.. Yang saya tahu tentang Khadijah dan Yusuf mereka bayi kembar yang disimpan di panti asuhan, dan diberi nama oleh Bu Annisa dan Pak Alfath. Mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas, mereka juga disekolahkan di sekolah biasa, mereka pintar.." ucap Rio panjang lebar
"Hem iya Pak.. Menurut Bapak Arka harus pilih siapa? Ibu mau sebelum kembali ke Inggris Aku sudah bisa taaruf, dan nanti nikah.." ucap Arka dengan begitu serius
"Ya kalau menurut saya sih keduanya pasti wanita sholiha, orang yang baik, dan berasal dari yang baik juga. Kalau ingin yang jelas asal usul dan keluarganya ya tentu Zahra yang memiliki itu semua, kalau Khadijah kan memang belum pernah bertemu dengan keluarga kandungnya hingga saat ini.." jawab Rio memberi gambaran
"Lebih baik kamu sholat malam, dan minta petunjuk pada Allah.." lanjut ucap Rio memberi saran
"Nah Arka sebenarnya sering meminta jawaban sama Allah, tapi entah kenapa selalu dipertemukan dengan Zahra, entah itu kebetulan, tidak sengaja atau memang jawaban atas pertanyaan ku.. Tapi tadi aku bertemu keduannya, rasanya bimbang lagi.." ucap Arka memberitahu perasaannya
Rio hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Arka.
"Gelisah mu sama persis seperti Ayah mu.. Cara mu, aaah semuanya.." ucap Rio dengan mata berkaca-kaca
"Pak Rio sangat dekat sekali yaaa dengan Ayah?" tanya Arka penasaran
"Ayah mu itu sudah seperti saudara sendiri, kami bersama sudah sangat lama, sebelum perusahaan ini berdiripun kami sudah bekerjasama dan bersahabat.." ucap Rio menahan rindunya pada sosok Alfath
Arka lalu melempar senyumnya pada Rio yang kini berdiri tepat didepan jendela, dengan pemandangan kota Surabaya dari atas itu.
"Semoga Ayah dan Pak Rio tetap bersahabat di Surganya Allah nanti ya.." ucap Arka yang mengerti perasaan pria yang kini dihadapannya itu
"Iya Aamiin.." ucap Rio sembari memaksakan senyumnya
"Untuk permasalahan mu, coba kamu minta pendapat juga pada keluarga Ayah mu di Inggris, siapa tahu mereka punya masukan juga" lanjut ucap Rio pada Arka
__ADS_1
Arka mengerti dengan maksud ucapan Rio itu. Lalu Arka dan Rio mengakhiri pembicaraan mereka dengan kembali keruangan masing-masing.