
Arka masih saja terdiam di kursi kebesarannya, di ruangannya. Ia masih memikirkan untuk apa Risa ingin menemuinya. Arka masih ragu, haruskan ia datang atau tidak, ia takut bila datang hanya akan membuat dirinya marah dan sampai memaki Risa lagi.
"Datang.. Jangan.. Datang.. Jangan.." ucap Arka pelan sembari menghitung dengan jarinya
Arka kembali ragu, ia kembali melamun.
"Jika aku datang dan membuat amarah ku naik lagi, lalu sampai aku memaki Risa.. Untuk apa aku datang? Menambah dosa ku saja.." ucap Arka dalam ragunya dengan suara pelannya
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, mengejutkan Arka, dan membuyarkan keraguannya.
"Tok.. tok.. toookkk" suara pintu diketuk
"Iya, masuk.." ucap Arka sedikit berteriak, agar terdengar oleh orang yang mengetuk pintunya.
Pintu terbuka sedikit demi sedikit, dan terlihat Rio dan Yusuf masuk secara bergantian ke ruangan Arka.
"Ka, PT. Hanjaya menelepon barusan.. mengajak kita untuk meeting di kantor polisi" ucap Yusuf pada Arka
Arka seketika makin terdiam, ia mengingat kembali dengan telepon dari kantor polisi tadi pada dirinya.
"Tadi juga polisi nelepon aku dan bilang Risa ingin bertemu dengan ku.." ucap Arka pada Yusuf dan Rio
"Apa mungkin dia akan meminta bantuan pada kita?" ucap Rio yang juga sembari berpikir itu
"Bisa jadi.." jawab Yusuf dengan cepat
"Kamu sudah bacakan berita pagi ini?" tanya Rio memastikan pada Arka
Arka hanya mengangguk-anggukan kepalanya, menandakan iya.
"Tadi juga utusan PT. Hanjaya bilang kalau Tuan Hanjaya semakin melemah kesehatannya.." ucap Yusuf memberitahukan
"Ya sudah dari pada penasaran gimana kalau kita datangi saja mereka, dari pada kita terus menerka-nerka tanpa tahu kepastiannya.." ucap Arka pada Rio dan Yusuf
Akhirnya Rio dan Yusuf menyiapkan berkas-berkas lalu berangkat dengan mobil pribadi Arka, dengan Rio sebagai supirnya.
Sesampainya di kantor polisi Arka berjalan lebih depan, dengan Yusuf dan Rio dibelakangnya. Ternyata di ruang tunggu sudah ada Haris asisten pribadi Risa juga sekertarisnya. Rio semakin yakin bahwa kini akan meeting.
Arka disambut dengan ramah oleh Haris, lalu persilahkan duduk oleh pihak PT. Hanjaya.
Arka hanya tersenyum setelah menerima jabatan tangan Haris dan sekertaris Risa itu, lalu duduk berdampingan dengan Rio dan Yusuf.
Tak lama, Risa yang dikawal oleh polisi wanita itu keluar dan berjalan menghampiri orang yang sudah menunggunya.
"Arka.. Terimakasih sudah mau datang" ucap Risa dengan bibir yang bergetar, karena ia menahan malunya
Arka hanya mengangguk, ia tak ingin banyak bicara, begitu juga dengan Rio dan Yusuf, mereka masih saja terdiam, membiarkan PT. Hanjaya itu yang akan memulai segalanya.
"Kok tumben si Arka tak banyak bicara!" ucap Risa dalam hatinya, sembari diam-diam memperhatikan wajah Arka yang tertunduk menatap kosongnya meja di hadapan mereka.
"Arka.. Saya mau minta maaf sedalam-dalamnya.. Maafkan saya, saya sudah membuat ke kacauan dengan niat jahat saya.. Maaf.. Saya benar-benar menyesali segalanya" ucap Risa dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya dengan suara lirih, dan menundukan pandangannya
Arka tak juga berbicara apapun, ia masih mengamati Risa.
"Apa orang angkuh ini sedang berakting?" ucap Arka dalam hatinya
"Apa mau mu sampai kau meminta maaf seperti itu pada ku?" ucap Arka seketika membuat orang-orang mengalihkan perhatiannya pada Arka yang berucap dingin itu
"Aku ingin kau memaafkan aku.. Maafkan aku Arka!" ucap Risa lagi-lagi dengan air mata yang mengalir deras
"Aku sangat membutuhkan bantuan mu.. Tolong.." ucap Risa kini memberanikan diri dengan menatap Arka
"Apa yang kau butuhkan?" tanya Arka dengan wajah dingin tanpa ekspresi berarti
"Tolong bantu perusahaan ku, tolong demi ayah ku.." ucap Risa dengan menguncupkan kedua tangannya dan wajah memelas
"Ayah ku semakin drop, kesehatannya sudah tidak membaik.. Ucapannya sudah melantur kesana kemari" lanjut ucap Risa menjelaskan kondisi ayahnya
"Baik.. Aku akan membantu perusahaan mu, kita buat kontrak kerjasama. Tolong ikuti permainan ku!" ucap Arka dengan suara tegasnya
__ADS_1
Arka lalu memberikan syarat-syarat yang harus di setujui oleh Risa dan perusahaannya itu. Arka ingin memberi saham untuk perusahaan Risa, dengan catatan semua itu atas nama PT. Swain yang kini Arka kelola, dan keuntungan-keuntungan lainnya yang membuat perusahaannya pun ikut maju.
"Tenang saja, aku tidak akan menjatuhkan! Apa lagi aku serakah! Aku masih takut dengan Tuhanku! Aku hanya ingin kau berjanji tidak akan melupakan jasa ku apa lagi sampai kembali ingin menyakiti keluarga ku!" ucap Arka penuh dengan penekanan
Dengan cepat Yusuf menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian dengan kertas materai yang harus ditanda tangani oleh Risa sebagai perjanjian.
"Terimakasih banyak Arka.. Kau benar-benar orang baik.." ucap Risa setelah menandatangi perjanjiannya, lalu menyeka air matanya dengan kedua tangannya.
"Boleh aku minta tolong sekali lagi?" tanya Risa dengan suara yang masih bergetar
"Apa?" jawab Arka dengan singkat
"Tolong kau temui ayahku.. Bilang kau akan membantu ku, agar ia percaya dan membuatnya semakin semangat dengan hidupnya" ucap Risa sembari menguncupkan kedua tangannya itu
"Insya Allah.. Aku akan menjenguk ayah mu" jawab Arka dengan cepat karena sangat kasihan pada ayahnya Risa
Haris lalu mengurus semua berkas kerja sama PT. Hanjaya dengan PT. Swain dengan cepat. Yusuf menghandle dengan baik, begitu juga dengan Rio yang siap siaga untuk langsung bergerak.
"Kau tenang saja! Jika kau benar-benar merubah diri mu menjadi lebih baik, aku akan membebaskan mu dari sini!" ucap Arka sembari beranjak untuk berdiri
"Aku permisi!" ucap Arka berpamitan lalu diikuti kedua pekerjanya, Rio dan Yusuf.
"Kau urus kerjasama kita!" ucap Arka sembari melangkah pergi pada Haris juga sekertaris Risa
"Baik Tuan.." jawab Haris bersamaan dengan Sekertarisnya
Tanpa Risa tahu, Arka menemui Polisi untuk mengatakan sesuatu tentang Risa. Jelas saja Arka tidak langsung percaya dengan air mata Risa, ia sangat curiga jika Risa hanya mempermainkannya. Arka meminta pada kepolisian untuk mengawasi sikap Risa di tahanan.
Arka lalu kembali pulang setelah mengantar Yusuf dan Rio ke kantor. Karena ia merasa sudah tidak ada pekerjaan lagi.
Arka kembali dengan mobilnya, sebelum ashar Arka sudah tiba dirumahnya.
Body Guard yang bekerja padanya langsung menyapa Arka, dan membukakan pintu untuk majikannya itu.
"Sore Bos!" ucap sang body guard dengan suara tegasnya
"Datang, Bos.. Dia masih ada di dalam" jawabnya dengan penuh kepastian.
Arka langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Arka melihat Ibunya yang sedang bersandar di sofa dengan al-qur'an kecil kesayangannya.
"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Arka lalu mencium tangan Ibunya itu lalu mencium kening Ibunya dengan penuh cinta
"Walaikum salam, Nak.. Kamu sudah pulang?" ucap Nisa setelah menerima ciuman dari anaknya itu
"Sudah Bu.. Zahra mana?" tanya Arka sembari clingak clinguk mencari Zahra yang biasanya menyambut kepulangan dirinya
"Zahra ada di dalam sayang, sepertinya sedang memasak di dapur bersama sahabatnya itu, Anjani.." jawab Nisa memberitahu
Arka lalu masuk kedalam, hendak langsung ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, tanpa ingin mengganggu istrinya yang sedang asik bersama sahabatnya itu. Tiba-tiba Zahra melihat kepulangan suaminya itu, lalu bergegas menghampiri suaminya, membuat Anjani melihatnya.
"Mas sudah pulang?" tanya Zahra sembari menghampiri Arka lalu mencium punggung tangan suaminya itu yang dibalas dengan ciuman pada keningnya
"Sudah, sayang.. Kalian sedang apa?" tanya Arka yang juga melihat Anjani di belakang Zahra
"Kami sedang memasak resep baru yang kami temukan, Mas.." jawab Zahra dengan cepat
"Iya Tuan.." ucap Anjani sembari menguncupkan tangannya layaknya memberi salam
"Tidak perlu memanggil saya tuan, Panggil saja saya Arka.." ucap Arka yang malu dengan panggilan Anjani
Anjani hanya tersenyum ramah pada Arka. Selama datang berkunjung kerumah Zahra, baru kali ini ia bisa bertatap muka langsung dengan Arka, suami sahabatnya itu.
"Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan saja masaknya.. Aku mau mandi dulu.." ucap Arka pada Zahra
"Biar aku siapkan dulu ya Mas.." ucap Zahra yang biasa menyiapkan baju ganti Arka
"Tidak perlu sayang, tidak apa-apa.. Nanti setelah mandi aku akan turun untuk makan bersama" jawab Arka lalu menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya
Sementara Zahra dan Anjani kembali ke dapur meneruskan masakan mereka.
__ADS_1
Tak lama masakan mereka sudah jadi, harum wangi masakan sungguh menggoda. Arka yang sudah selesai mandi lalu berganti pakaian, perutnya yang sudah sangat lapar langsung turun ke bawah karena mencium aroma wangi masakan.
"Heeemmm... harum sekali" ucap Arka sembari mencium-cium aroma yang masuk ke hidungnya
"Ayo kita makan bersama, Mas.." ucap Zahra yang melihat Arka masih di tangga itu
"Iya sayang.." jawab Arka dengan lembutnya
Arka turun dengan sarung terbalut rapi di tubuhnya, dengan baju takwa pendek berwarna coklat muda. Membuatnya semakin terlihat tampan, bule menggunakan stelan sholat yang rapi.
Anjani memperhatikan Arka sedari tadi, tanpa Zahra mengetahuinya, dan Arka yang juga tak menyadarinya.
"Sebentar ya Mas.. Aku panggilkan dulu Ibu" ucap Zahra lalu hendak ke kamar Ibu mertuanya itu
"Iya Sayang.." jawab Arka dengan cepat lalu duduk di kursi makan biasanya
Anjani semakin terlihat canggung hanya berdua dengan Arka. Tak ada obrolan berarti sebenarnya, Arka juga tidak terlalu memperhatikan Anjani.
"Oh iya Anjani, apa sudah menikah dan punya anak?" tanya Arka pada Anjani yang sedari tadi diam saja dan menundukan pandangannya
"Belum Tuan.. Eh Kak" ucap Anjani dengan gugupnya
Arka hanya tersenyum melihat Anjani yang salah tingkah dan canggung di depannya itu.
Zahra masih berjalan setelah dari kamar Ibu mertuanya itu
"Kenapa belum menikah? Sahabat mu Zahra, sudah menikah dan berkeluarga.." ucap Arka dengan penasaran.
"Dia masih bimbang, Mas.. Mau pilih yang mana, ya kan Jani?" ucap Zahra yang menjawabkan pertanyaan suaminya, lalu meminta kepastian pada sahabatnya itu
Anjani hanya tersenyum karena malu dibuat oleh Zahra.
"Kamu bisa aja deh.." jawab Anjani dengan malunya
Zahrnya hanya tertawa kecil melihat sahabatnya yang memendam malu itu.
"Ini makanan apa namanya, sayang? Kok aku baru melihatnya.." ucap Arka penasaran dengan semangkuk makanan yang dihidangkan Zahra pada dirinya
"Ini namanya seblak, Mas.." jawab Zahra
"Iya Kak.. Ini seblak bandung.." ucap Anjani yang ikut menimpali
"Oh pantas saja aku baru tahu.." jawab Arka dengan sangat penasaran lalu ia melahapnya dengan menyeruput kuah merah di hadapannya.
Arka terlihat kepedasan, setelah menyeruput kuah seblak itu. Dengan cepat Anjani menyodorkan air minum yang baru saja ia tuang dalam gelas yang tadinya untuk dirinya sendiri.
"makasih" ucap Arka lalu meminum air itu
Zahra hanya memandangi suaminya yang terlebih dulu diberikan air minum oleh sahabatnya itu, padahal Zahra juga sedang menuangkan air dalam gelas untuk suaminya.
Tanpa rasa cemburu, Zahra mengganti gelas Anjani dengan yang baru ia tuangkan barusan.
"Maaf ya Raaa.. Replek tadi" ucap Anjani merasa tidak enak pada Zahra
"Gak apa-apa, Jan.. Makasih yaaa" jawab Zahra dengan senyum yang menyungging di wajahnya
"Mas makannya pelan-pelan, ini tidak terlalu pedas kok.." ucap Zahra pada suaminya itu
Setelah selesai makan camilan itu, Arka lalu bergegas ke mushola, diikuti oleh Zahra juga Anjani, yang disusul oleh Nisa ibu mertua Zahra, untuk sholat Ashar berjamaah.
Setelah selesai sholat, Anjani berpamitan untuk pulang.
"Terimakasih ya.. Maaf selalu merepotkan" ucap Anjani pada Zahra juga Arka yang sudah memberikan tumpangan dengan mengutus supir untuk mengantarnya pulang.
"Sama-sama.. tidak repot kok" jawab Arka dengan cepat
"Terimakasih ya selalu menemani istri saya.." lanjut ucap Arka dengan ramahnya
"Sama-sama Kak.. Zahra aku pamit yaa, Kak permisi" ucap Anjani pada Zahra yang dalam rangkulan Arka itu, lalu berpamitan pada Arka juga karena supir sudah menyalakan klaksonnya menandakan sudah siap
__ADS_1