Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 100


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Zahra kritis tak kunjung sadarkan diri, tak ada juga tanda-tanda membaik dari kondisi Zahra.


Dengan setia Arka selalu menunggu Zahra istrinya di rumah sakit, tanpa pernah merasakan tidur di kamar yang super nyaman lagi, karena Arka menunggu Zahra setiap harinya, belum lagi bolak-balik mengunjungi kedua putranya yang kini sudah semakin membaik, bahkan berat badannya sudah normal seperti anak bayi pada umumnya.


Keluarga yang selalu mendukung dan membantu keperluan Arka juga Zahra, bahkan sampai keperluan bayi Nisa dan Tiara yang mempersiapkannya.


Setiap pagi Arka menyeka tubuh Zahra dengan air hangat, dan mengganti pakaian Zahra, setelah usai Arka duduk termenung di dekat tubuh istrinya itu yang masih terbujur lemah di kasur rumah sakit dengan banyak alat menempel.


"Sayang.. Aku bukan lelah mengurus mu, aku tidak mengeluh menjalani hari ku dan menghabiskan waktu ku untuk dirimu juga anak kita.. Tapi aku sedih, anak-anak kita butuh kamu, anak-anak kita ingin sekali merasakan belaian lembut tangan kamu, Mamanya.." ucap Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Semoga Allah menyiapkan surga tanpa hisab untuk mu sayang.. Setelah perjuangan mu ini" lanjut ucap Arka, dengan air mata yang mulai menetes setetes demi setetes membasahi pipinya itu


Hari-hari Arka lalui di rumah sakit, ia tak bisa meninggalkan istrinya juga anak-anaknya, ia merasa saat seperti ini cintanya diuji.


Arka sudah tidak pernah datang lagi ke kantor, Nisa menggantikan Arka untuk menghandle perusahaannya, walau hanya sesekali.


Waktu sudah menunjukan pukul 12, waktu dzuhur sudah masuk, Arka memutuskan untuk sholat dzuhur diruangan Zahra di rawat.


Tak lupa ia panjatkan semua doa-doa dan harapan atas kesembuhan istrinya juga anak-anaknya, air matanya selalu mengalir deras diatas sajadahnya.


"Ya Allah semoga engkau menganugrahi surga tanpa hisab untuk istriku, Ibu yang melahirkan 2 putra ku.." ucap Arka dalam doanya


"Tolong berikan kami waktu untuk bersama lagi ya Allah.. Izinkan kami untuk berkumpul menjadi keluarga seutuhnya, dengan bahagia bersama anak-anak kami.. Ridhoi segala harapan-harapan ini ya Allah" lanjut ucap Arka sembari mengusap wajahnya mengaminkan doa-doanya


Sungguh Arka tak mampu menyembunyikan semua kesedihannya di hadapan Tuhannya.


Setelah semua doa terpanjatkan, Arka menoleh pada istrinya yang terbaring itu.


Arka melipat sajadahnya dan menyimpannya rapi di sofa ruang rawat Zahra, lalu ia menghampiri istrinya yang masih terbaring itu. Arka menyentuh tangan Zahra dengan lembut, dan perlahan.


Tiba-tiba jari tangannya Zahra bergerak perlahan, dan membuka matanya perlahan-lahan. Sungguh terkejut Arka melihat istrinya yang mulai tersadar itu.


"Alhamdulillah ya Allah.." ucap Arka sangat bersyukur


Arka langsung memencet tombol darurat untuk memanggil dokter dan suster agar datang memeriksa kondisi Zahra.


"Sayang.." ucap Arka pada istrinya itu


Zahra tersenyum manis pada suaminya itu.


"Mas.." ucap Zahra dengan suara berat dan terbata-bata


Arka lagi-lagi meneteskan air matanya, tak kuasa menahan harunya. Arka memegang erat tangan istrinya itu.


"Sayang aku rinduuu.." ucap Arka sembari menatap dalam wajah istrinya itu


Tak lama dokter datang bersama dua orang suster dengan terburu-buru itu, karena merasa panik karena tombol darurat bunyi dari kamar pasien yang sudah sangat lama kritis itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah yaaa Bu Zahra sudah sadar" ucap dokter yang ikut berbahagia


Arka tersenyum manis pada dokter yang sedang memeriksa Zahra itu.


Dokter dengan cepat memeriksa semua, dan melihat semua hasil dari monitor alat-alat yang terpasang di tubuh Zahra


"Alhamdulillah sekali Pak.. Alat-alat ini juga sudah tidak dibutuhkan oleh Bu Zahra. Bu Zahra sudah sembuh.. Tinggal pemulihan total saja" ucap dokter yang juga merasa ikut senang dengan kesembuhan Zahra


"Alhamdulillah ya Allah.." ucap Arka lalu memeluk istrinya yang kini terduduk bersandar itu lalu menciumi kepala istrinya


Air matanya bahagia terus mengalir


Begitu juga dengan Zahra ia menangis dalam pelukan suaminya.


"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri Mas?" tanya Zahra ketika dokter dan suster sudah keluar kembali


"Sudah sebulan sayang.." jawab Arka dengan langsung, tetap dengan ekspresi bahagianya


"Ya Allah.." ucap Zahra tak menyangka


Arka dengan cepat meraih ponselnya dan menghubungi Ibunya, dan kedua mertuanya memberitahu bahwa Zahra sudah sadar.


Sudah cukup lama, Zahra menyadari bahwa perutnya yang mulai rata kembali, dan kakinya lemas badannya lemas karena sudah lama tidak gerak dan hanya tertidur saja. Zahra berusaha menggerakan tangan dan kakinya dengan susah payah.


"Kenapa sayang?" tanya Arka ketika melihat istrinya berusaha bergerak-gerak


"Nanti kita coba untuk berjalan perlahan ya sayang.." ucap Arka pada Zahra untuk membantu menenangkan


Zahra mengangguk mengiyakan dan setuju dengan ucapan suaminya itu. Kali ini Zahra tersadar dengan anak-anaknya.


"Mas.. Anak kita?" tanya Zahra sembari memegang perutnya dengan ekspresi panik


Arka tersenyum manis pada Zahra, karena kini Arka bisa bernafas lega dan memberikan kabar baik pada istrinya tentang keadaan Alvano dan Alvino.


"Anak kita sudah lahir dengan selamat sayang, tapi sekarang anak-anak kita masih di rawat di ruang NICU.." jawab Arka tetap dengan senyum manisnya


"Anak-anak?" tanya Zahra karena lupa bahwa anak yang ia lahirkan adalah 2 bayi kembar.


"Iya sayang.. Anak kita kembar, laki-laki.." jawab Arka meyakinkan


"Aku memberikan nama Alvano dan Alvino.. Apa kamu suka?" lanjut ucap Arka menanyakan pendapat Zahra


"Nama yang bagus Mas.. Aku ingin sekali menggendong anak-anak ku, aku ingin menyusuinya seperti ibu-ibu lain" ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca


Selama ini Alvano dan Alvino minum asi dari Zahra yang sengaja di perah oleh Arka, walau hanya sedikit, dan dibantu oleh susu formula yang tinggi vitamin dan mineral dengan merk yang paling bagus untuk menunjang berat badannya yang kurang itu.


"Kenapa anak kita di ruang NICU Mas? Sejak lahir?" tanya Zahra dengan penasaran

__ADS_1


"Iya sayang, anak kita lahir prematur dan berat badannya sangat kecil membuatnya butuh perawatan khusus di ruang NICU, selama kamu kritis, anak kita juga diruang NICU, tapi alhamdulillah anak-anak kita anak yang kuat mereka mampu bertahan dan hidup normal hingga saat ini.. Aku sangat yakin kita akan pulang dan melanjutkan hidup dengan bahagia berkumpul bersama kembali" ucap Arka panjang lebar sembari terus memegang tangan istrinya itu


"Iya Mas.. Insya Allah yaaa.. Berat sekali cobaan untuk mu Mas.. Maaf yaaa" ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca


"Aku bisa kuat karena kalian" ucap Arka lalu mengecup kening Zahra dengan lembut


Arka memperlihatkan foto-foto dan video Alvano dan Alvino disetiap moment yang Arka ambil disetiap jadwal ia membesuk keduanya. Zahra lalu memeluk erat tubuh suaminya itu, ia merasa sangat sedih tak bisa membersamai kedua putranya itu.


"Aku sudah rindu rumah" ucap Zahra dengan senyumnya


Arka tersenyum pada istrinya, karena ia juga merasakan hal yang sama dengan istrinya. Tak sia-sia rasanya Arka membayar mahal rumah sakit, semua terbayarkan oleh kesembuhan istri juga anaknya.


Tak lama Nisa, Azam dan Tiara datang bersamaan keruangan rawat Zahra. Tangis bahagia diperlihatkan oleh Nisa, Azam dan Tiara yang sama-sama menanti kesembuhan Zahra juga kedua cucunya yang hingga saat ini belum mereka temui.


Nisa, Tiara dan Azam bergantian memeluk Zahra dan bersama saling melepas rindu, dan rasa syukur yang tiada hentinya.


Sementara Arka ia sibuk dengan ponselnya, menghubungi Rio dan Yusuf, meminta bantuan untuk menyiapkan rumah untuk menyambut kepulangan Zahra yang entah kapan itu. Arka ingin mendekor kamar dan minta untuk mempersiapkan kamar bayi untuk kedua anaknya itu.


Rio dan Yusuf langsung mengikuti perintah bosnya itu.


Setelah cukup lama berbincang dengan keluarga, dan saling mengungkapkan kebahagiaannya Zahra ingin melihat putranya.


Arka menaikan Zahra ke kursi roda lalu mengajaknya ke ruang NICU. Begitu juga dengan Azam, Tiara, dan Nisa mengikuti ke ruang NICU walau hanya bisa melihat dari jendela saja.


Pertemuan pertama yang sangat mengharukan, Zahra diperbolehkan untuk menggendong kedua putranya itu.


"Vano, Vino.. Ini Mama dan Papa datang" ucap Arka pada kedua bayinya yang tidak tidur itu dan seperti tahu bahwa Mamanya akan mengunjunginya


Dengan beruntungnya karena kondisi Alvano dan Alvino sudah membaik, diperbolehkan untuk di gendong oleh Zahra.


Begitu terharunya Zahra saat menggendong kedua putranya itu bergantian.


"Alhamdulillah ya Ibunya sekarang sudah sehat, Anaknya juga sudah sehat dan bisa segera dibawa pulang.." ucap dr. Bayu memberikan kabar gembira


Arka dan Zahra saling bertatap, matanya seolah berbicara kebahagiaan yang amat bahagia.


"Alhamdulillah.. Terimakasih banyak dok.." ucap Zahra dan Arka bersamaan, pada dr. Bayu


"Sama-sama Pak.. Bu.." jawab Dr. Bayu dengan ramahnya


"Oh iya setelah pulang bisa langsung diajari untuk menyusu langsung pada Ibunya yaaa" lanjut ucap dr. Bayu memberi arahan


"Baik dok.." jawab Arka dan Zahra bersamaan


Setelah hari itu, Zahra juga diperbolehkan pulang, bersamaan dengan Alvano dan Alvino, kedua putranya itu. Kebahagiaan yang sangat lengkap rasanya, Zahra dapat meggendong putranya lagi.


Sesampainya dirumah, rumah yang sudah di dekor untuk menyambut kepulangan Zahra juga Alvano dan Alvino, semakin lengkap dengan ucapan dari para sahabat juga kerabat lainnya, lalu disambung dengan acara syukuran dan Aqiqah kedua putra Arka dan Zahra.

__ADS_1


--------- THE END -----------


__ADS_2