
Malam semakin larut, setelah makan malam bersama, Semuanya sholat isya berjamaah di mushola kecil yang ada di Resort, lalu Arka dan Zahra mengantar Nisa, Azam dan Tiara untuk istirahat di Bungalow yang sudah Arka siapkan. Pertama Arka mengantarkan Ibunya terlebih dulu, lalu membukakan pintu kamar untuk Ibunya itu.
"Bu.. Selamat istirahat yaa" ucap Arka lalu mencium pipi Ibunya dengan mesra
"Iya sayang, kalian juga istirahat yaaa.." ucap Nisa membalas dengan sentuhan lembut dipuncak kepala putranya itu. Lalu melambaikan tangannya pada Tiara juga Zahra.
Arka dan Zahra yang jalan bergandengan lalu menuju Bungalow yang berhadap-hadapan dengan milik Ibunya, yang hanya terhalang oleh kolam ikan dengan air mancur itu, kali ini Bungalow untuk Azam dan Tiara.
Ketika membukakan pintunya Arka lalu mempersilahkan masuk kedua mertuanya itu. Tapi tiba-tiba Arka merasa ingin buang air, hingga tak tahan, akhirnya Arka masuk ketoilet yang ada didalam Bungalow untuk mertuanya itu.
Tiara dan Zahra masih saling melepas rindu, Zahra bergelendotan ditangan Ibunya layaknya anak kecil yang sedang merengek.
Tiara mengajak Zahra untuk berbincang diluar sebentar sembari menunggu Arka.
"Bagaimana pernikahan mu dengan suami mu sayang?" ucap Tiara pada Zahra putrinya itu, karena memang Zahra hampir tidak pernah menceritakan apapun tentang pernikahannya kepada kedua orangtuanya itu, ia hanya menyimpan sedihnya seorang diri sewaktu tidak dianggap oleh Arka
"Alhamdulillah Bu, Zahra sangat bahagia. Mas Arka selalu membuat kejutan romantis untuk ku, dia juga seorang suami yang tidak menuntut ku untuk bisa segalanya.. Dia selalu lembut pada ku" jawab Zahra memberitahu semua kebahagiaannya saja
"Alhamdulillah.." ucap Tiara terpotong
"Alhamdulillah Abi sangat senang mendengarnya, Nak.." ucap Azam yang sedari tadi ternyata berdiri dibelakang Zahra dan mendengarkannya
"Iya Sayang, Ibu juga sangat bahagia. Kamu telah menemukan orang yang tepat.." lanjut ucap Tiara sembari memegang tangan putrinya itu
"Semoga kalian segera dikaruniai seorang buah hati diantara kalian ya sayang.." lanjut ucap Tiara pada Zahra lalu memeluk tubuh putrinya yang sedang duduk bersampingan dengannya itu
"Aamiin" ucap Zahra
"Aamiin yaa rabbal'alamin.." ucap Arka yang juga mendengar ucapan Ibu mertuanya itu
Sebenarnya Arka menguping pembicaraan mereka dari dalam, sungguh Arka sangat bangga terhadap istrinya. Tak sedikitpun kesedihannya waktu itu ia ceritakan pada kedua orangtuanya itu, padahal Arka sebenarnya takut kalau Zahra akan mengadukan semuanya pada kedua orangtuannya itu.
******
Malam berganti pagi. Zahra membantu suaminya untuk bersiap, mengenakan jas berwarna abu dengan kemeja berwarna biru terang, dan memasangkan dasi di leher suaminya itu.
"Gimana sayang, sudah rapi?" tanya Arka sembari memandang dirinya sendiri di kaca
"Sudah, Mas.. Kamu sangat tampan.." jawab Zahra, ini adalah kali pertamanya ia memuji ketampanan suaminya itu
"Subhannallah.. baru kali ini aku mendengar pujian dari istriku.." ucap Arka lalu mencium bibir Zahra dengan lembut
Zahra terlihat sangat malu-malu, wajahnya sungguh memerah.
"Terimakasih istriku.." ucap Arka lalu memeluk erat tubuh istrinya itu.
Zahra pun tak kalah cantik, terbalut dengan dress berwarna abu muda, dan wajah yang tetap dirias walau tertutup dengan cadarnya.
Acara sudah hampir mulai, semua mahasiswa diberi kursi untuk duduk disebelah kanan, sementara keluarga yang mendampingi. Zahra duduk bersama Nisa, dan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Acara sedang berlangsung, seorang pria yang tak lain adalah dosen sedang berbicara banyak tentang perjalanan juga nilai mahasiswa-mahasiswinya.
"Terimakasih untuk semua para Mahasiswa dan Mahasiswi yang sudah mau berjuang, bersusah payah untuk mencapai semua hasil yang maksimal" ucapnya dalam pengeras suara
Tiba-tiba Nisa, Zahra, Tiara dan Azam di kagetkan dengan kehadiran Shaina, Alif juga Umi yang datang dengan terlambat, lalu duduk bersampingan dengan Nisa. Nisa menyambut dengan gembira bertemu kembali dengan adik iparnya, juga mertuannya itu.
"Disini kami akan mengumumkan satu orang yang mendapatkan nilai terbaik dan tertinggi seuniversitas, dan akan mendapat keuntungan tentunya" ucap sang dosen yang diatas podium, hingga membuat semua orang menghentikan obrolannya masing-masing dan seketika hening.
"Baik saya akan memberitahukannya. Mahasiswa asal Indonesia ialah..." ucapnya membuat semua orang tegang
"Muhammad Arkana Swain putra dari Tuan Muhammad Alfath Swain dan Nyonya Annisa, Dari Indonesia. Yang bersangkutan silahkan naik ke atas podium" lanjut ucapnya
Arka mendengar nama nya sungguh tak percaya, ia begitu kaget. Usahanya selama ini tak sia-sia. Nisa langsung meneteskan air mata bahagianya, ia tak menyangka lagi-lagi prestasi putranya membanggakan.
Zahra, Tiara, Azam yang juga mendengarnya ikut larut dalam kebahagiaan, Juga Umi, Omanya Arkana, Shaina dan Alif sama-sama ikut bahagia.
Arka naik keatas podium bersampingan dengan dosennya.
"Selamat Ya Arkana.. Kamu seorang yang luar biasa, terbaik dari yang baik" ucap dosen itu sembari menyalami Arka
"Terimakasih Pak.." jawab Arka dengan senyum begitu bahagia
"Daaan kami beritahukan keuntungan yang didapat, yang pertama mendapatkan beasiswa S3 di kampus ini, juga akan disalurkan dalam pekerjaan dan jenjang karir" ucapnya membuat semua peserta wisuda dan tamu yang mendampingi bersorak ramai
Kali ini Arka dipersilahkan untuk berbicara diatas podium.
Semua teman-teman Arka tak menyangka bahwa Arka menyebut "istriku", semua mata langsung melirik kearah keluarga Arka, untuk mencari tahu mana istri Arka, tapi mereka semua tidak bisa menerka-nerka karena memang 3 wanita yang duduk berdekatan semua menggunakan cadar.
Acara sudah usai, kini waktunya berfoto bersama keluarga. Semua peserta wisuda berfoto bersama keluarganya, begitupun dengan Arka. Arka berfoto dengan semua keluarganya yang hadir, lalu berfoto berdua dengan Zahra istrinya.
Saat asik berswafoto, tiba-tiba seorang pria mendekat, memanggil Arka.
"Arka, temui pembimbing di ruangannya datang bersama wali mu, ia ingin berbicara pada mu" ucapnya sembari ngos-ngosan karena sudah berlari-lari mencari Arka
Arka pun mengerti, ia langsung mengajak istri juga Ibunya untuk menemani. Sementara keluarga yang lain menunggu.
Sesampainya diruangan kecil dalam aula, Arka pun dipersilahkan masuk bersama kedua wanita yang ia gandeng.
"Selamat siang Pak Edwin.." ucap Arka dengan sopan
"Siang Arka.. Begini saya ingin memastikan apa kamu akan mengambil beasiswa itu atau tidak? Kuliah S3, bukankah ini cita-cita mu?" ucap Edwin, dosen yang sangat mengenal Arka dari awal Arka mengambil pendidikannya.
"Iya Pak, tapi.." ucap Arka terhenti, matanya langsung melirik kearah istrinya
"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, saya harus berdiskusi dulu bersama Istri juga Ibu saya" lanjut ucap Arka
Zahra merasa tak enak dengan ucapan Arka itu, Zahra merasa jadi penghalang untuk suaminya.
"Baiklah... Untuk keuntungan mu selanjutnya, mendapatkan sebuah jabatan bagus di perusahaan ternama di kota Paris, tapi saya tahu kamu pewaris dan menjadi CEO diperusahaan mu sendiri, jadi kita hanya akan menawarkan kerjasama dengan perusahaan De' Paris itu.." lanjut ucap Edwin memberitahu
__ADS_1
"Ok baiklah, terimakasih banyak ya Pak.. Untuk masalah kerjasama kita akan bicarakan di perusahaan" jawab Arka lalu menyalami Edwin dan keluar dari ruangan tersebut
Arka kini terlihat gelisah. Zahra dan Nisa tahu betul.
"Mas.." ucap Zahra menghentikan langkahnya
Arka dan Nisa langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Arka sembari menatap istrinya
"Kalau kamu mau ambil beasiswanya, ambilah Mas.. Mumpung ada kesempatan, jangan terhalangi oleh aku. Aku akan mendampingi mu terus walau harus lebih lama tinggal disini" ucap Zahra sembari memegang lembut tangan suaminya itu
"Iya sayang.. Terimakasih yaaa" ucap Arka lalu mencium puncak kepala Zahra
"Zahra betul, Nak.." ucap Nisa pada putranya itu
"Iya Bu, tapi Arka juga memikirkan pekerjaan Arka di Indonesia Bu.. Arka gak mau Ibu cape seorang diri terus" ucap Arka kali ini matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang sudah terbendung
"Kan ada Pak Rio, Yusuf, Lia.. mereka bekerja dengan ikhlas kok, mereka pasti siap membantu" ucap Nisa menenangkan
Ternyata Azam, Tiara, Umi juga Tante dan Ombya itu datang mendekat.
"Ibu mu benar, lagian perusahaan kalian tetap dalam pantauan ku kok.. Tenanglah Arka" ucap Alif ikut menenangkan
"Terimakasih banyak ya Om.. Om sudah seperti ayah untuk ku" ucap Arka lalu memeluk tubuh Alif, Om nya itu
Alif hanya membalas mengelus punggung keponakannya itu
"Tapi jujur saja, Arka ingin menata rumah tangga Arka bersama Zahra. Mempunyai rumah, untuk membesarkan anak-anak kita kelak. Arka juga ingin memberikan kehidupan yang nyaman untuk Zahra, kasihan dia tinggal di Negara asing ini" ucap Arka sembari mencoba menyeka air matanya
"Arka.. Pendidikan lanjutan ini tidak akan selamanya kok, Zahra pasti akan mengerti.." ucap Azam pada Arka menantunya
Arka hanya mengangguk, mengerti. Ia berpikir harus membicarakan lagi nanti berdua bersama istrinya.
"Untuk masalah rumah, Ibu sarankan tidak perlu membeli rumah baru, karena rumah Ibu dan Ayah, akan menjadi milik mu nak.." ucap Nisa sembari memandang Arka dan Zahra bergantian
"Ibu mu benar, rumah itu jangan dibiarkan terbengkalai nantinya.." ucap Umi membenarkan
"Iya Oma, Ibu.. Arka akan membicarakannya lagi nanti bersama Zahra.." jawab Arka yang mulai tenang
Arka mengajak semua keluarganya untuk makan siang bersama di Resort. Kebetulan Resort itu adalah Resort yang bekerjasama dengan perusahaan Alif, Om nya. Jadi mudah saja untuk menyediakan tempat untuk keluarga itu. Mereka semua larut dalam menikmati hidangan, karena sudah sangat lapar. Setelah menghabiskan makanannya, mereka semua kembali ke kamar dan Bungalow masing-masing untuk sholat dzuhur dan beristirahat. Sementara Umi, Alif dan Shaina berpamitan untuk pulang.
"Kami pamit yaaa.. Semoga liburan kalian menyenangkan.." ucap Shaina dengan ramahnya
"Oh iya, Kakak Ipar.. Tinggallah disini lebih lama, tinggal bersama dirumah kami" lanjut ucap Shaina pada Nisa
"Insya Allah yaaa.." jawab Nisa lalu menyalami Shaina dan saling berpelukan, lalu Nisa memeluk ibu mertuanya itu, mencium tangannya, dan mencium pipinya
"Umi sehat-sehat yaaa, nanti Nisa akan berkunjung untuk Umi.." ucap Nisa pada Umi
__ADS_1