Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 57


__ADS_3

Azam dan Tiara yang sudah mendapatkan penanganan dari tim medis, kini kondisinya sudah semakin membaik, keduanya sudah dalam keadaan sadar, dan berbaring diruangan yang sama dan berdekatan.


"Mas.. Bagaimana keadaan Bu Annisa yaa?" ucap Tiara dengan lirih


"Mas juga belum tahu.. Apa yang harus kita ucapkan pada Arka.." ucap Azam dengan gelisah sembari menahan sakitnya


Tak lama kemudian ambulan yang membawa Nisa tiba di rumah sakit, lalu dengan cepat membawa Nisa yang tak sadarkan diri itu untuk masuk kedalam ruang IGD. Pendarahan di sekitar kening, membuat cadar dan jilbabnya berlumur darah.


Pihak rumah sakit memutuskan untuk semua tim medis wanita yang menanganinya, karena sangat menghormati Nisa yang berpakaian serba tertutup lengkap dengan cadarnya.


Rio dan Yusuf pun sampai di rumah sakit pas saat waktu subuh. Rio dan Yusuf mencari kabar dahulu ke tempat informasi, setelah mendapat kabar Nisa yang masih di IGD dan belum bisa ditemui, Rio memutuskan untuk mengunjungi Azam dan Tiara, mertua dari Arka.


Rio dan Yusuf berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan berhenti disebuah ruang rawat darurat yang berisi banyak pasien kecelakaan pesawat itu.


Rio dan Yusuf menemukan Azam dan Tiara yang tidur bersampingan. Terlihat Azam yang terjaga.


"Pak Azam.." sapa Rio dengan suara yang lirih


"Assalamu'alaikum.." ucap Rio dan Yusuf bersamaan


"Eh.. Pak Rio, walaikumsalam.." jawab Azam dengan sangat lemah


"Bagaimana keadaan mu bersama istri?" tanya Rio dengan ekspresi sedih


"Alhamdulillah sedikit membaik.. Bagaimana dengan kabar Nisa? Apa dia sudah ditemukan?" tanya Azam yang juga khawatir pada Nisa


"Bu Annisa sedang ditangani dokter, Pak.. Jangan dulu menghubungi Zahra atau Arka ya Pak.. Kalian lekas sembuh yaaa.." ucap Yusuf pada Azam


Azam hanya mengangguk mencoba mengerti dengan maksud ucapan Yusuf. Rio dan Yusuf berlalu meninggalkan Azam dan Tiara.


*****


Sementara Arka yang masih berlibur di Bungalow tepi pantai itu, sudah merasakan tak enak hati sedari Ibunya menghubungi sore kemarin sebelum keberangkatannya.


Bangun tidur Arka mencoba menghubungi ponsel Ibunya itu, tapi nomornya tak bisa juga dihubungi. Arka semakin gelisah, pikirannya tak karuan, hatinya tak tenang. Arka mencoba menghubungi telepon rumah, namun sama tak dapat dihubungi karena Rio sudah memberitahu orang rumah Nisa untuk mencabut telepon rumahnya.


"Mas.." ucap Zahra yang melihat suaminya gelisah dengan ponsel ditangannya itu


Arka hanya menoleh tanpa suara pada istrinya itu.


"Kamu kenapa? Masih tidak enak hati?" tanya Zahra, yang sebenarnya ia juga merasakan apa yang suaminya rasakan hanya saja Zahra berusaha menenangkan dirinya.


"Astagfirullah.. Hati ini sungguh sangat tak enak" ucap Arka sembari menghembuskan nafas dengan kasar


"Kita sholat dhuha yuuu.." ucap Zahra mencoba menenangkan suaminya itu

__ADS_1


Arka pun mengiyakan setuju dengan ajakan istrinya, lalu melangkah ke toilet bersamaan untuk berwudhu.


"Sayang, kita batalkan acara hari ini yaaa.. Setelah ini kita pulang dulu, aku ingin menemui Oma" ucap Arka setelah selesai mengambil wudhu


"Iya Mas.." jawab Zahra dengan pasrah


Padahal hari ini adalah waktu untuk Arka dan Zahra bermain-main air di laut, tapi harus dibatalkan begitu saja.


Waktu menunjukan pukul 9 pagi, Arka dan Zahra sudah bersiap untuk pulang dan akan kerumah Shaina terlebih dulu. Shaina, Alif dan Umi yang sudah tahu akan kabar Nisa mencoba menyembunyikannya dulu pada Arka dan Zahra. Shaina sudah tahu bahwa Arka akan datang kerumahnya dengan beralasan ingin bertemu Umi, tapi nanti Shaina akan mencoba langsung mengajak Arka dan Zahra pulang ke Indonesia dengan sudah menyiapkan segalanya.


Sesampainya dirumah Shaina, Arka dan Zahra disambut dengan hangat oleh tante dan Omnya itu. Setelah berbincang-bincang sebentar, Shaina langsung mengajak Arka dan Zahra untuk makan siang bersama. Disela-sela pembicaraan makan siangnya, Arka memberitahukan perasaannya yang tak karuan sedari tadi.


"Seharusnya kami kembali besok, tapi Aku sangat merasa tak enak hati, perasaan ku tak karuan rasanya" ucap Arka disela-sela makannya


Shaina dan Alif hanya saling pandang, tak mampu berkata-kata lagi rasanya.


"Ikatan batin Arka dengan Kak Nisa sangatlah kuat" ucap batin Shaina


Alif mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Arka, Zahra kalian ikutlah bersama kami ke Indonesia, hari ini jam 3 kami akan terbang.." ucap Alif tiba-tiba


"Mendadak sekali Om? Kami belum punya tiket keberangkatannya.." jawab Arka dengan begitu terkesiap rasanya


Arka dan Zahra tentu sangat senang. Mereka menyetujui semuanya, tanpa pikir panjang Arka dan Zahra ingin ikut.


"Dengan senang hati, Om.." ucap Zahra dengan sopannya


Alif dan Shaina hanya melemparkan senyum manis pada keduanya.


Waktu sudah mendekati pukul 3 sore, Arka, Zahra, Shaina, Alif dan Umi sudah siap dalam pesawat untuk menuju Surabaya, Indonesia.


Tanpa perasaan curiga apapun, Arka dan Zahra mencoba tenang dalam perjalanannya.


Sesampainya di Surabaya, Alif sudah merencanakan segalanya, orang suruhannya sudah siap dengan mobil untuk menjemput kedatangannya. Sewaktu sudah dijalan, Arka merasa bingung, jalan ini bukan jalan untuk kerumahnya.


"Loh kok kita jalan sini? Mau kemana?" tanya Arka dengan merasa kebingungan


Semua hanya terdiam, Zahra juga merasa bingung, tapi dia tak bisa berkata-kata karena malu.


"Kalian ikut Om dulu yaaa.." ucap Alif mencoba menenangkan suasana


Arka semakin bingung kenapa mobil yang mereka tumpangi menuju rumah sakit.


"Sebenarnya siapa yang sakit? Mau apa kita kesini?" ucap Arka bertanya-tanya dalam hatinya

__ADS_1


Arka hanya pasrah dan ikut turun dari mobil. Alif menggandeng Arka, sementara Shaina dan Zahra menggandeng Umi. Sesampainya di ruang ICU, Arka diajak duduk bersama dengan Alif.


"Arka.." ucap Alif kini suaranya berubah menjadi getir


Arka menoleh kearah Alif, perasaannya semakin berdebar-debar tak karuan.


"Arka harus kuat yaaa.. Maafkan Om, bukan kami ingin membohongi mu, tapiii.." ucap Alif dengan lirih, seketika terhenti


"Tapi tak ingin membuat mu khawatir.. Ibu mu, Nak.. Ibu mu.." ucap Alif kini dengan air mata yang mulai meleleh dari sudut matanya


"Ibu kenapa Om? Ibu kenapaaaa?" tanya Arka penuh penekanan, dengan suara tingginya


"Ibu kecelakaan pesawat, dan harus mendarat darurat di hutan.." ucap Shaina dengan penuh kekuatan


Arka menangis sejadi-jadinya, Zahra sangat terenyuh melihat suaminya yang lemah dalam tangisnya itu. Zahra mencoba menghampiri suaminya, Zahra mulai menyadari berarti orangtuanya pun mengalami yang sama.


"Bagaimana dengan orangtua ku?" tanya Zahra sembari memandang Shaina


"Alhamdulillah orangtua mu sudah membaik, bisa kau temui diruang rawat" jawab Rio tiba-tiba yang baru saja datang.


"Bagaimana dengan Ibu, Pak?" tanya Arka sembari mendesak penuh kekesalan pada Rio


"Bu Annisa masih koma di ruang ICU.." jawab Rio dengan sangat berat.


Seketika Arka merasakan kaki yang begitu lemas, seakan tak mampu menopang dirinya. Seketika ia terjatuh kelantai, terduduk.


"Ibuuuu..." teriak Arka dengan air mata yang tak bisa berhenti rasanya


Tiba-tiba seorang suster keluar dari kamar ICU, setelah mencek kondisi Nisa. Arka yang melihatnya langsung menghampiri suster itu.


"Bagaimana kondisi Ibu saya, suster?" tanya Arka sembari mencoba berdiri dengan kakinya yang masih sangat lemas itu


"Belum ada kemajuan dari pasien, Pak.." ucap Suster itu lalu berlalu meninggalkan kerumunan keluarga Nisa itu


Arka diperbolehkan masuk, hanya seorang diri. Sementara Zahra menemui kedua orangtuanya.


Arka menangis sejadi-jadinya disamping tubuh Nisa yang sangat lemah itu.


"Buuu.. Arka mohon, Ibu bangun yaaa" ucap Arka sembari memeluk tubuh Ibunya yang tak berdaya itu


-------


Jangan lupa vote nya yaaa kakak-kakak readers, karena ceritanya akan semakin seru. Jika banyak votenya episodenya bakal ditambah, dan up episode perharinya akan tambah juga 😉


Terimakasih sudah mendukung karya author untuk para readers yang telah mengirimkan votenya

__ADS_1


__ADS_2