Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 68


__ADS_3

Arka sudah kembali kerumah sebelum magrib, ia memutuskan untuk pulang cepat karena merasa khawatir pada Ibunya.


Sesampainya dirumah ia sangat merasa lelah, pikirannya jadi semakin bertambah, belum selesai pikirannya akan Ibu juga Ayah mertuannya, kini ditambah dengan kehadiran Aira kembali. Arka duduk di sofa ruang keluarga, ia sudah mengucapkan salam tapi tak ada yang menjawab. Kedengarannya Rani dan Ijah sedang sibuk di dapur, tapi Nisa dan Zahra belum terlihat.


"Buuu.." ucap Arka lembut sembari mendekat ke kamar Ibunya itu


"Iya, Nak.. Kamu sudah pulang?" jawab Nisa yang mendengar suara putranya itu


"Sudah Bu.. Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Apa sudah membaik?" tanya Arka dengan sangat khawatir


"Ibu tidak apa-apa sayang, tadi hanya merasa pusing karena kurang tidur saja.. Sekarang setelah tidur dan istirahat sudah baikan kok.." jawab Nisa sembari mengelus lembut tangan putrannya itu


"Arka sayang sama Ibu" ucap Arka lalu memeluk erat tubuh Ibunya


Arka lalu mencari Zahra dengan masuk kedalam kamarnya, ia menebak Zahra pasti sedang mandi, karena biasanya ia sedang mandi sore jika jam segini pikir Arka.


Arka membuka kamarnya betul saja, terdengar gemercik air dari dalam toilet.


Arka duduk di sofa dekat kasur, ia kembali membuka tab nya untuk mengecek laporan yang belum sempat ia periksa tadi.


Sewaktu ia menscroll laporan itu kebawah, ia melihat surat kontrak kerjasama dengan PT. Mistakes Crishtian, tiba-tiba ingatannya teringat pada wajah Aira yang baru pertama kali ia lihat tadi sewaktu di kantor.


"Astagfirullah.." ucap Arka pelan sembari menepis bayangan dalam ingatannya itu.


Zahra baru saja keluar dari toilet, dengan rambut yang digulung dalam handuk di atas kepalanya karena basah habis keramas.


"Eh Mas sudah pulang.. Maaf aku tidak menyambut mu pulang..'" ucap Zahra sedikit menyesal


"Tidak apa-apa sayang.." jawab Arka lalu mencium kening Zahra setelah Zahra mencium punggung tangannya


Zahra lalu menyodorkan segelas air minum yang sudah biasa ada di kamarnya itu.


"terimakasih sayang.." ucap Arka menerima segelas air minum itu


Arka memperhatikan Zahra yang masih menggelung rambutnya dengan handuk itu.


"Astagfirullah! tidak boleh memikirkan wanita lain, Arka! Kamu sudah beristri" ucap Arka dalam batinnya sembari mengelus lembut wajah istrinya itu


Arka teringat dengan ucapan Ibunya "jika tergoda dengan wanita lain diluar rumah, segeralah pulang dan temui istri mu, sesungguhnya ia punya segalanya"


Ucapan Nisa yang menasihati Arka saat itu.


Dengan perasaan tergoda, Arka lalu mendaratkan ciumannya di bibir istrinya itu.


"Mas.. mandi dulu sana, sudah sore" ucap Zahra mencoba mendorong tubuh Arka yang mulai semakin mendekat pada tubuhnya, tapi usahanya sia-sia, tentulah tenaga Arka lebih kuat darinya dan mengunci Zahra tetap dalam pelukannya. Mau tidak mau Zahra menikmati semua gerakan suaminya itu. Arka menggendong Zahra ke atas kasur, lalu hanyut dalam percintaanya.


Malam semakin larut, setelah selesai makan malam Zahra sudah mulai tertidur. Arka kembali dengan Tabnya, dan duduk di sofa kamarnya itu. Ia kembali teringat dengan kedatangan Aira di Indonesia.


"Sebaiknya aku harus menceritakan semuanya pada Zahra, sebelum dia mengetahuinya sendiri.." ucap Arka dalam batinnya sembari memperhatikan istrinya yang tertidur dari tempat duduknya


Pagi menjelang, seperti biasa Arka sudah bersiap untuk bekerja. Zahra sedang menyiapkan pakaian untuk suaminya itu, sementara Arka masih mandi di toilet.


Tak lama Arka keluar, melihat pakaiannya sudah tertata diatas kasur. Istrinya sedang merapikan tempat tidur.


"Masya Allah sebahagia ini memiliki dia, istri pengertian.. Aku harus lebih mencintainya, menghargainya" ucap Arka masih di pintu toilet sembari memandang ke arah istrinya itu

__ADS_1


"Mas, kok masih diam aja disitu? Gak mau cepat pake baju mu? Dingin Mas.." ucap Zahra dengan senyum pada suaminya


"Mau dong sayang.." jawab Arka dengan cepat


Arka menggunakan pakaiannya, kali ini dia lebih formal karena akan pergi bersama clientnya, Rivans itu.


"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan sebenarnya.." ucap Arka pada Zahra menahan Zahra untuk keluar kamar


"Apa Mas?" tanya Zahra yang sangat penasaran dan kembali mendekat ke arah suaminya dengan tangan membawa cucian kotor itu


"Aku sering cemburu pada mu, jadi aku harus katakan ini semua pada mu" ucap Arka dalam batinnya


"Mas mau bilang apa?" tanya Zahra lagi karena Arka belum membuka suara lagi, dan membuyarkan lamunannya.


"Hem begini Sayang, kolega kita PT. Mistakes itu milik Tuan Rivans, sekertarisnya itu adalah temen aku yang waktu itu kita menjenguk anaknya itu" ucap Arka dengan tertahan-tahan


"Oh Aira itu?" tanya Zahra sembari membulatkan mulutnya


"Iya, Sayang.." jawab Arka dengan cepat


"Bagus dong berarti kalian sudah saling mengenal, ajak main kerumah sekalian Mas, mumpung ada di Indonesia.." ucap Zahra menanggapi suaminya itu


Arka hanya terdiam mendengar perkataan Zahra, Zahra memang tidak pernah tahu akan perasaannya pada Aira.


"Ahh Mungkin Zahra tidak akan salah paham pada ku dan Aira, karena Zahra tidak pernah tahu akan aku denga Aira" ucap batin Arka


"Mas?" sapa Zahra lagi membuyarkan lamunan Arka


"Eh Iya sayang.. Insya Allah yaaa, soalnya kan dia bersama Tuan Rivans, semua akan terasa canggung" ucap Arka menanggapi ucapan Zahra tadi


Sesampainya di kantor Arka hanya mengambil beberapa berkas, lalu pergi bersama Rio juga Yusuf menuju lahan proyek yang akan dibangun dengan PT. Mistakes itu.


Sesampainya di lahan proyek, Arka langsung turun dari mobil, diikuti dengan kedua orang kepercayaannya itu. Tak menunggu lama, Rivans pun datang bersama dengan 3 pegawainya itu.


Arka dan Rivans saling berjabat tangan, lalu membuka map berisi rencana desain yang telah di buat oleh perusahaan Arka, lalu Arka menjelaskannya pada Rivans.


"Ini desain yang bagus Tuan Arkana.." ucap Rivans dengan merasa setuju


"Terimakasih Tuan.. Untuk bahan bangunannya mari kita cari solusinya bersama" ucap Arka untuk melanjutkan pembicaraannya.


Arka melanjutkan pembicaraannya dengan Rivans, kali ini mengenai biaya anggaran dan merk bahan bangunan.


Aira yang sedari tadi bersampingan dengan Rivans diam-diam memperhatikan Arka, wajah bule Arka yang tersorot sinar matahari, peluh yang mulai membasahi kening terlihat begitu jelas membuat Arka semakin bersinar ketampanannya.


"Jika kita bekerjasama terus seperti ini, gagal sudah aku melupakan mu... Andai aku bisa memiliki suami pekerja keras seperti mu.." ucap Aira dalam batinnya


Tuan Rivans meminta Aira untuk mencatat.


"Catat apa yang tuan Arka katakan yaaa.." ucap Rivans tanpa menoleh ke arah Aira


Tapi Aira tak juga menjawab, membuat tuan Rivans langsung menoleh ke arah Aira.


Aira yang jelas melamun, sembari memperhatikan wajah Arka itu.


"Airaaa" ucap Tuan Rivans dengan tegas

__ADS_1


"Maaf Tuan.." jawab Aira dengan cepat


Akhirnya semua sudah selesai, Arka mengajak koleganya ini untuk makan siang di sebuah resto yang dekat dari lahar proyek yang memang jauh dari kota itu.


Restorannya berkonsep out door, membuat suasana sangat sejuk. Hamparan rumput dan pemandangan yang cukup indah menjadi santapan untuk setiap mata yang melihatnya.


"Indonesia sunggu Indah bukan.. Masih banyak lingkungan Asri seperti ini.." ucap Tuan Rivan memuji


"Betul sekali Tuan.. Masih banyak yang seperti ini, hanya lumayan jauh dari kota" jawab Arka dengan tersenyum


"Indonesia membuat aku betah berlama-lama disini" ucap Rivans lagi-lagi


Aira langsung membulatkan matanya, ia tak mau harus semakin berlama-lama di Indonesia.


"Ya Allah bagaimana aku bisa berhasil melupakan Arka jika harus terus di Indonesia seperti ini" batin Aira dengan perasaan yang berdebar kencang.


Makan siang pun sudah berlangsung, Rivans tak ingin terburu-buru. Ia ingin meeting dilakukan disana aja, karena ia sangat menyukai tempatnya.


Sementara Rivans dan kedua asistennya itu pergi ke toilet untuk membersihkan diri, dan ingin sekedar melihat-lihat keindahan yang lain juga fasilitas Restoran itu, begitu juga dengan Rio. Tinggallah Yusuf dan Arka, juga Aira. Yusuf sibuk teleponan dengan wanita yang akan dia nikahi. Arka dan Aira jadi ngobrol berdua.


"Istriku mengajak mu untuk main kerumah kami.." ucap Arka pada Aira


kini posisi duduknya Arka yang bersampingan dengan Aira sembari memandang pemandangan indah itu dan saling membelakangi dengan Yusuf


"Hemm.. Tidak mungkin kesana, aku harus izin dulu pada Tuan Rivans.." jawab Aira dengan cepat


"Iya kau benar.." ucap Arka


"Tak terasa yaaa, waktu cepat berlalu.. Kini kau sudah menikah.." ucap Aira dengan senyum tipis diwajahnya


Arka hanya mengangguk, sembari menoleh ke arah wajah Aira


"Dan aku masih saja sendiri, tetap begini.." lanjut ucap Aira dengan tatapan terus menatap kelain arah


"Kini Allah malah mempertemukan kita lagi, membuat aku gagal melupakan mu, melupakan tentang kita, aku harap tidak akan berlama-lama disini" ucap Aira lagi-lagi kini wajahnya menjadi sendu


Arka masih saja terdiam, ia memperhatikan wajah Aira.


Tanpa Arka tahu, Zahra datang ke Restoran itu untuk mengantarkan Tab kerja Arka yang tertinggal. Zahra sangat kaget mendengar ucapan Aira pada Arka suaminya, membuat Zahra menghentikan langkah kakinya.


"Kamu pasti sudah melupakan semuanya bukan? Kamu sudah bahagia.. Aku seharusnya lebih tahu diri.." ucap Aira dengan lirih


Sungguh Arka hanya bisa terdiam, ia tak mampu berkata-kata apapun untuk menanggapi Aira.


"Maaf.. maafkan aku.. Maaf membuat mu tak nyaman" ucap Aira yang merasa Arka mulai tak nyaman karena Arka hanya terdiam


"Hmm.. tidak tidak.. Aku tidak apa-apa" ucap Arka dengan senyumnya


"Ya kau benar sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu, karena perasaan itu akan ada yang tersakiti.. Bukan hanya kau, tapi juga istriku" lanjut ucap Arka pada Aira


Zahra masih saja terdiam mendengarkan semuanya. Hatinya sakit seperti tergores, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Iya Kau benar.. tolong lah buat kerjasama secara jauh saja dengan Tuan Rivans agar kita tak sering bertemu.." jawab Aira dengan senyum tipis lalu meninggalkan Arka yang masih terdiam itu.


Aira berlari menjauh dari pandangan Arka. Ia menyendiri, dan duduk dengan mengeluarkan secarik kertas kosong dan balpoin, lalu ia menulis menumpahkan perasaannya.

__ADS_1


Sementara Zahra sudah kembali tanpa sepengetahuan Arka.


__ADS_2