
Seminggu berlalu kepergian Umi, Duka masih sangat terasa. Shaina yang juga masih sangat bersedih, ia belum mau kembali pulang ke Inggris. Shaina tinggal bersama dengan Nisa juga Arka dan Istrinya, sementara Alif harus bolak-balik karena harus mengurus bisnisnya.
Arka kembali menjalani hidupnya seperti biasa, Arka sudah kembali ke kantor.
Jelas raut wajahnya masih sangat sedih, Arka tak seceria biasanya. Yusuf dan Rio mereka sangat menyadari itu semua.
Arka tertegun memandang keluar jendela. Tanganya dilipat di dada.
"Satu persatu kekuatan ini hilang" ucap Arka pelan
Arka semakin mendekat kejendela, ia membuka jendela itu, membiarkan udara sore hari menyapa tubuhnya. Arka lalu berteriak sekencang mungkin, membuat semua yang mendengar terkaget.
"Pak Arka kenapa tuh?" bisik-bisik para karyawan yang tak sengaja lewat di ruangannya
Tiba-tiba Rio masuk kedalam, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ia tahu Arka masih sangat sedih, Rio takut Arka akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak.
"Arka.." ucap Rio yang terkaget melihat Arka didepan jendela seperti itu
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rio dengan kesalnya lalu menarik tangan Arka
Arka berjalan dengan malasnya lalu duduk di kursi besarnya itu.
"Kenapa.. kenapa hidup ini seperti ini! Kenapa orang-orang yang menguatkan aku diambil dengan cepat.. Kenapa!" ucap Arka dengan tangis yang mulai menetes
Rio lalu mendekat pada tubuh Arka yang sedang ada dikursi itu.
"Istigfar Arka.. Allah sedang menyayangi kamu, Allah ingin kamu lebih dekat dengannya.. Ayolah.. Jangan berpikir negati" ucap Rio berusaha menenangkan
"Inggris? Tinggallah kenangan!" ucap Arka lagi-lagi dalam tangisnya
Rio melihat kesedihan yang luar biasa dari raut wajah Arka. Rio memeluk Arka, sembari ikut bersedih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Buatlah aku kembali jadi WNI saja, aku tidak ingin lagi jadi Warga Negara Inggris, aku tidak akan lagi tinggal disana" ucap Arka setelah melepaskan pelukannya dari Rio lalu menyeka air matanya
Rio tertegun memikirkan apa maksud dari ucapan Arka.
"kenapa?" tanya Rio yang tak bisa memahami Arka
"Karena untuk apa aku tinggal disana, sementara keluarga ku sudah tidak ada" jawab Arka dengan pandangan kosong
Rio tak habis pikir dengan ucapan Arka itu, Rio merasakan down yang berat dalam diri Arka, putra sahabatnya itu sekaligus atasannya itu.
Rio tak langsung mengikuti keinginan Arka.
"Ayolah tenangkan dulu pikiran dan hati mu" Ucap Rio lalu pergi meninggalkan Arka diruangannya itu.
*****
40 hari sudah berlalu, Arka dan Nisa bisa melewati kesedihan atas kepergian Omanya.
Begitu juga dengan Zahra, kini dirinya sedikit bersantai, dirumah tak lagi harus mengurusi dan menemani Oma. Sementara Nisa suka mengisi kajian dan mempunyai kegiatan lagi.
Arka baru saja pulang dari kantor, ia terlihat sangat lelah, lalu duduk di sofa kamarnya sembari melonggarkan dasi juga kemejanya.
Zahra yang baru saja menyimpankan tas kerja Arka, kembali dan duduk disamping suaminya itu.
"Mas.. minum dulu" ucap Zahra sembari menyodorkan segelas air minum yang sudah siap di meja
"Terimakasih ya sayang.." ucap Arka lalu menerima gelas dari tangan istrinya itu
"Oh iya Mas, aku selalu kesepian dirumah kalau kamu kerja dan Ibu mengisi kajian.." ucap Zahra sembari mengumpulkan keberaniannya
"Apa boleh aku ikut dengan Ibu, atau aku mengajar lagi Mas?" lanjut ucap Zahra setelah terkumpul keberaniannya
"Aku tidak mau kau mengajar lagi di sekolah itu, yang ada pria gak jelas itu!" ucap Arka dengan juteknya
Zahra hanya tersenyum ia tahu suaminya sedang cemburu.
"Kau ikut saja dengan Ibu, atau tidak kau selalu datang ke kantorku saat jam makan siang kita makan bersama.. Kalau mau dari pagi juga boleh.." lanjut ucap Arka sembari merangkul istrinya dengan nada bercanda diakhirnya
"Heemm Mas ini.. ingin ditemani yaaa" ucap Zahra balas meledek suaminya
__ADS_1
"Aku rindu.." ucap Arka lalu mencium kening istrinya itu
"Istri sholeha ku.." lanjut ucap Zahra
"Mas ihh mandi dulu sana.. Badan mu lengket" ucap Zahra dengan senyum mengembangnya, meledek Arka bercanda
"Biarin.. Lengket juga tetap suami muu" jawab Arka malah semakin erat memeluk Zahra
Zahra lalu tertawa kecil dan menikmati pelukan dari suaminya itu.
Hari berganti, matahari kini mulai menyapa. Zahra yang sudah meminta izin pada Arka kini akan ikut dengan Ibu mertuanya untuk mengisi kajian disebuah pondok pesantren. Sementara Arka akan bekerja seperti biasa.
Zahra sedang menyiapkan sarapan di meja makan, setelah menyiapkan kebutuhan suaminya di kamar. Tak lama Arka turun dengan wajah berseri-seri.
"Selamat pagi istriku.." ucap Arka yang mulai kembali bersikap manis pada istrinya itu
"Selamat pagi mas.." jawab Zahra sebenarnya dengan malu karena ada Ijah dan Rani yang juga pasti mendengarnya
Arka lalu duduk dikursinya untuk sarapan, diikuti dengan Zahra. Tak lama Nisa ikut sarapan bersama.
"Mas, Zahra izin ya mau ikut dengan Ibu.." ucap Zahra setelah menghabiskan sarapannya
"Iya Sayang.. nanti aku jemput yaaa" jawab Arka menyetujui semuanya
Nisa hanya tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya baik-baik saja.
Arka berangkat ke kantor dengan mobilnya, sementara Nisa dan Zahra naik mobil bersama supirnya.
Sesampainya di pondok pesantren, Nisa yang sudah ditunggu langsung masuk kesebuah ruang aula dimana sudah banyak orang berkumpul. Zahra mendampingi Ibu mertuanya itu, dan duduk dibelakang Ibu mertuanya itu.
Saat acara berlangsung, Zahra tak tahan ingin buang air kecil. Ia memutuskan untuk pergi ke toilet. Acara yang sangat meriah karena juga ada bazar amal dari ke kreatifan santri di ponpes itu. Setelah dari toilet Zahra memutuskan untuk sebentar melihat-lihat bazar. Tak sengaja dirinya terdorong oleh kerumunan siswa juga santri yang begitu antusias melihat bazar lukis, Zahra jadi mendorong seseorang yang ada dihadapannya itu.
"Astagfirullah.. Maaf maaf tidak sengaja" ucap Zahra dengan paniknya
Pria itu langsung menoleh ke arah belakang yang mendorong punggungnya itu.
"Tidak apa-apa kok.." jawabnya dengan cepat
"Pak Arfan.." ucap Zahra begitu terkesiap
"Maaf pak.. Bapak sedang apa ya disini?" tanya Zahra sangat penasaran
"Saya sedang mengantar siswa ikut bazar amal ini. Kamu sendiri sedang apa? Bukannya kamu sudah tidak lagi mengajar?" tanya Arfan balik bertanya
"Aaah saya tahu, kamu rindu dengan mengajar bukan?" lanjut ucap Arfan langsung tanpa membiarkan Zahra menjawab lebih dulu
Zahra jadi terdiam, ia bingung dengan orang yang ada dihadapannya ini.
"Mari ikut aku, kau pasti rindu dengan para siswa" lanjut ucap Arfan lalu berjalan duluan mengajak Zahra untuk menemui murid-muridnya
Zahra disapa dengan antusias oleh para murid yang pernah ia ajar. Zahra pun merangkul mereka semua dengan hangat, sembari susah payah menahan air matanya.
Zahra lalu berpamitan pada mereka semua karena takut Ibu mencarinya. Semua melepas Zahra pergi, Arfan tak begitu saja melepaskan Zahra, ia terus mengikuti Zahra yang akan kembali masuk keruang Aula melalui pintu samping.
"Zahra tunggu.." ucap Arfan menghentikan langkah kaki Zahra
Zahra menoleh setelah ia merasa siap bertatap muka kembali setelah ia menyeka air matanya
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, sedang apa kau disini? Bukankah sudah tidak lagi mengajar?" tanya Arfan kini suaranya sedikit lembut
"Iya memang saya sudah lama tidak mengajar, saya kesini menemani Ibu mertua sedang mingisi kajian" jawab Zahra dengan jujur
"Ibu mertua?" ucap Arfan mengulang kembali ucapan Zahra, merasa tak percaya
"Iya, itu Ibu mertua saya.. Ibu dari suamiku" jawab Zahra sembari menunjuk spanduk bertuliskan nama Ibu mertuanya itu
Arfan mengaga ketika mendengar semuanya itu, ia tak percaya suami bule Zahra itu adalah anak dari ustadzah ternama.
Dilain tempat, Kini jam makan siang, seperti janji Arka ia akan menjemput Ibu juga istrinya itu.
Arka bersiap untuk pergi, dan memberitahukan dulu bahwa hari ini ia pulang lebih cepat pada Rio dan Yusuf.
__ADS_1
Arka lalu melajukan mobilnya dengan cepat, agar segera sampai di ponpes. Sesampainya di tempat acara, Arka lalu memarkirkan mobilnya tepat disamping pintu Aula tempat acara itu. Arka melihat Arfan bersama Zahra, dengan cepat ia turun dari mobilnya, dan berjalan perlahan agar bisa mendengar ucapan pria itu.
"Ini ada kenang-kenangan untuk mu, diterima yaaa" ucap Arfan menyerahkan sebuah lukisan karikatur berwajah Zahra sedang di lingkungan sekolah
"Aku tahu kau sangat rindu mengajar, jikalau saat itu kau menikah dengan ku, aku tidak akan melarang mu untuk terus mengajar, karena mengajar juga sangat mulia, bukan?" lanjut ucap Arfan dengan suara lembut
Arka mendengar semuanya, amarahnya mulai menaik, dengan langkah lebar ia menghampiri Zahra dan Arfan.
"Bukankah sebaik-baiknya seorang istri pekerjaan terbaiknya ada di dalam rumahnya? Bayaran termahalnya adalah ridho suaminya?" tiba-tiba ucap Arka mengejutkan Arfan dan Zahra
"Mas.." ucap Zahra sembari memegang tangan Arka, Zahra tahu suaminya pasti sangat marah
"Jaga sikap anda terhadap istri orang! Jangan biarkan harga diri anda direndahkan! Jangan membuat anda menerima makian dari saya!" ucap Arka penuh penekanan dengan tangan yang menunjuk ke arah Arfan
Arfan terdiam karena tak menyangka dengan kehadiran Arka.
"Mas, sudah Mas.. Ayo kita pergi" ucap Zahra berusaha mencoba menenangkan situasi
"Sekali lagi saya melihat anda tak bisa jaga sikap terhadap istri saya, lihatlah apa yang bisa saya lakukan untuk anda!" ucap Arka lagi dengan penuh emosi, sembari membetulkan Jasnya yang terlihat rapi dibadannya itu
Zahra sangat ketakutan melihat suaminya yang semarah itu, ia memeluk lengan Arka dari belakang.
Arfan jadi tak bisa berkata-kata, ia begitu terkesiap mendengar perkataan Arka, ia tak percaya bahwa Arka si pria bule yang ia anggap pria lemah, kini melihatkan taringnya.
Arka tidak jadi masuk kedalam gedung Aula, ia kembali masuk kedalam mobilnya, Zahra mengikuti dari belakang.
Arka lalu melajukan mobilnya, pergi meninggalkan ponpes itu. Di dalam mobil suasana jadi sangat canggung, Arka mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, dirinya masih terbawa emosi.
"Mas, istigfar.. Suami ku yang aku kenal adalah seorang yang sabar.. Istigfar Mas.." ucap Zahra dengan merasa ketakutan.
Arka tak juga menjawab ucapan istrinya itu.
Arka menghentikan mobilnya di sebuah danau buatan, lalu memukul strinya itu dengan kencang dan sedikit berteriak.
"Aaargh!" teriak Arka
Zahra semakin takut pada suaminya itu, Arka turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke arah danau.
Zahra masih terdiam di dalam mobil ia teringat pada Ibu mertuanya, ia takut Nisa mencarinya. Zahra langsung mengirim pesan singkat pada Nisa.
"Bu, Zahra pulang duluan sama Mas Arka. Pak supir masih menunggu. Ibu hati-hati dijalan yaaa" isi pesan Zahra yang dikirmkan pada Nisa, yang ia ketik secepat mungkin
Zahra lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu mengikuti suaminya turun dari mobil dan mendekat ke arah danau.
"Mas.." ucap Zahra dengan ketakutan
Arka menoleh ke arah Zahra, lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Maafkan aku.. Maaf" ucap Arka berbisik ditelinga istrinya itu
"Aku terkuasi emosi.. Astagfirullah.. Maaf telah membuat mu takut" ucapnya lagi lalu menatap mata istrinya itu
"Maafkan aku mas.. Aku tidak sengaja bertemunya tadi, aku sudah berusaha menghindari, tapi ia mengikuti ku, lalu.." ucap Zahra terhenti ketika Arka menempelkan telunjuknya di bibir Zahra yang terhalang cadar itu
Arka lalu mengambil lukisan yang ada ditangan Zahra itu, lalu melemparkannya ke danau. Zahra begitu terkesiap dengan tingkah suaminya itu.
"Maaf aku sangat cemburu" ucap Arka setelah melempar lukisan berukuran tidak terlalu besar itu
Zahra hanya melemparkan senyum pada suaminya. Zahra merasa senang karena suaminya merasakan cemburu
----------
Hallooo kakak-kakak readers.. Jangan lupa vote dan like nya yaaa
Biar author semakin semangat up nya, karena ceritanya akan semakin seru 😁
Jangan lupa juga komentarnya, boleh mengkritik sewajarnya yaaa.
Maaf untuk salah-salah, typo dan segala kekurangannya 🙏🏻
Kira-kira endingnya Zahra dan Arka akan happy atau sad ending ya??? 😁
__ADS_1