Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 58


__ADS_3

Nisa sudah dialam bawah sadarnya.


Kali ini ia sedang duduk termenung disebuah tempat yang tak begitu jelas, hanya putih yang ia lihat. Nisa melihat suaminya, Alfath tersenyum pada dirinya sembari melambaikan tangannya.


"Mas Alfath?" ucap Nisa sangat senang bertemu dengan Alfath


"Aku sangat rindu kamu Mas.." ucap Nisa lalu memeluk erat tubuh suaminya itu


Tak ada kata-kata lain yang ingin Nisa ucapkan pada suaminya, selain kata rindu. Sungguh ia menahan rindu yang luar biasa selama ini.


"Aku tak mampu melihat mu sakit seperti ini, apakah kau mau ikut bersama ku? Kembali hidup dengan ku" ucap Alfath sembari memegang wajah Nisa dengan kedua tangannya


"Aku mau mas.." jawab Nisa tanpa pikir panjang


Alfath dan Nisa saling beradu senyum terindahnya, Alfath menggandeng Nisa untuk berjalan menuju cahaya yang sangat terang.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika mendengar suara tangis putranya, Arka.


"Arkaaa.. Jangan menangis Nak.. Ini Ibu dan Ayah" ucap Nisa sembari menghentikan langkahnya dan mencari-cari dari mana asal suara Arka putranya itu


"Arka gak mau kehilangan Ibu, Arka sayang sama Ibu.. Arka janji, Arka tidak akan lagi membiarkan Ibu seorang diri.. Ampuni Arka Bu.." ucap Arka dengan tangis yang begitu pecah


Lagi-lagi Nisa mencari-cari Arka, tapi tak terlihat dimana anaknya itu.


"Kembalilah.. kuatkan diri mu, anak kita sangat butuh diri mu.. Anak kita sudah kehilangan ku.. bertahanlah untuknya, aku disini akan selalu menunggu mu bidadari ku" ucap Alfath pada Nisa


Alfath melepaskan genggaman tangannya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit dirinya menjauh meninggalkan Nisa.


"Mas Alfath.." teriak Nisa dengan tangis yang pecah


"Buuu Arka mohon Bu.." lagi-lagi ucap Arka terdengar oleh Nisa


*Dalam kenyataannya


Denyut jantung Nisa melemah, bahkan sampai tidak berdenyut lagi. Dokter langsung menangani Nisa, dengan memacu detak jantungnya. Arka yang enggan meninggalkan Ibunya, Arka terus menanggil Ibunya itu.


Tak lama denyut jantung Nisa kembali normal, terlihat air matanya keluar dari sudut matanya, tangannya mulai bergerak perlahan.


Tim medis sangat bernafas lega ketika Nisa memperlihatkan kemajuan yang berarti.


Seketika Arka memeluk tubuh Ibunya itu.


"Alhamdulillah.. Allah maha baik.." ucap Arka dengan senyum menyungging diwajahnya setelah melihat kemajuan dari Ibunya


Tak lama Nisa membuka matanya dengan perlahan, menandakan dirinya sudah sadar.


Dokter langsung memeriksa tubuh Nisa. Nisa belum bisa berbicara, karena dirinya masih dipasang uap oksigen yang menutupi mulutnya juga. Nisa menggunakan jilbab, walau kepalanya di perban membuat jilbabnya tidak terpasang rapi seperti biasa, hanya menutupi rambutnya saja. Khadijah yang sudah merawat Nisa, menggantikan pakaian Nisa, bahkan jilbab Nisa. Kali ini Nisa tanpa cadar, karena beberapa alat yang masuk ke dalam mulut dan hidungnya.


"Alhamdulillah, keadaan Bu Annisa sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga tambah membaik lagi yaaa.." ucap Dokter pada Arka, lalu meninggalkan ruangan itu


Arka langsung sujud sukur di lantai, ia tak tahu harus bagaimana meluapkan kebahagiaannya.


Tangan Nisa bergerak sedikit demi sedikit, lalu menyentuh tangan Arka, putranya itu.

__ADS_1


*****


Disisi lain, Zahra menemui orangtuanya yang juga sedang terbaring lemah. Luka dibeberapa tubuhnya, membuat Zahra menangis melihatnya.


"Sudah sayang, kami sudah membaik kok.." ucap Tiara mencoba menenangkan putrinya


"Iya Nak, semua ini terjadi atas izin Allah.. Insya Allah ada hikmahnya" ucap Azam mencoba ikut menenangkan


Zahra mencoba menghapus air matanya, menyekanya denyan jarinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ma? Bagaimana kejadiannya?" tanya Zahra yang sebenarnya penasaran.


Azam menceritakan semuanya, dari awal dipesawat hingga medarat di hutan yang membuat pesawat rusak parah karena banyaknya pepohonan.


"Innalillahi.. Lalu bagaimana dengan Bu Annisa, kenapa dia separah itu?" ucap Zahra setelah mendengar cerita ayahnya itu


"Bu Annisa susah terlepas dari kursinya, beliau tertimpa puing-puing badan pesawat, juga pohon yang tumbang. Makanya tim sar tidak tahu kalau masih ada korban, Bu Annisa di evakuasi setelah kami di rawat disini" jawab Tiara menjelaskan semuanya


"cepat kamu temui suami mu, dia pasti membutuhkan mu" ucap Azam menyuruh Zahra kembali


Zahra yang mengertipun langsung kembali ke ruang tunggu ICU itu.


*****


Diruang ICU, Arka diminta untuk keluar dulu karena ada beberapa alat yang akan dilepas, juga pemeriksaan ulang.


Kini diruang tunggu sudah berkumpul semuanya, Alif, Shaina, Rio, Yusuf, Khadijah dan Umi, Zahra belum juga kembali.


Arka terduduk dikursi ruang tunggu, wajah lelah bercampur sedihnya terlihat jelas. Ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya tak bisa berbohong, sembab jelas terlihat.


"Oma, doakan Ibu yaaa.. Alhamdulillah sekarang Ibu mulai membaik" ucap Arka sangat lirih


"Iya sayang.." jawab dengan cepat sembari terus menangis lalu mengusap lembut kepala Arka


"Oma jangan menangis lagi, Ibu pasti sedih" ucap Arka lalu memeluk erat tubuh Umi yang semakin renta itu


"Kenapa semua itu terjadi pada wanita sholiha, wanita baik.. Kasihan menantu ku" ucap Umi dalam pelukan Arka, suaranya bergetar karena masih larut dalam tangisnya


Arka tak mampu berkata-kata ia hanya memeluk erat tubuh Omanya itu.


Khadijah dipanggil sang suster karena Nisa membutuhkan bantuannya. Nisa minta untuk dipasangkan cadar, dan merapikan jilbabnya agar tidak terlihat rambutnya. Setelah selesai Nisa dibawa oleh para perawat untuk dipindahkan ke ruang rawat. Khadijah keluar mengikutinya, lalu semua keluargapun mengikutinya dan meninggalkan ruang tunggu ICU itu.


Zahra baru saja sampai kembali keruang tunggu ICU, tapi semua orang sudah tidak ada. Ia berusaha mencari keberadaan Nisa tapi juga tidak ada. Seorang suster memberitahu bahwa Nisa sudah dipindahkan. Zahra lalu mencari ruang rawat itu. Sesampainya disana Zahra melihat keluarga yang lain masih terduduk didepan ruangan itu, karena tidak boleh banyak orang yang masuk. Zahra mengintip dari pintu, ternyata yang didalam adalah Arka suaminya, juga Khadijah yang sedang membantu merawat Ibu mertuanya itu.


"Ibu terlihat sangat dekat dengan Mbak Khadijah, padahal aku yang menantunya" ucap Zahra dalam hati, air matanya mulai meleleh


"Mas Arka juga terlihat sangat akrab dengannya" lanjut ucap batin Zahra


Arka didalam sedang menyuapi Ibunya, dibantu oleh Khadijah yang memang sudah merawat Nisa sedari kemarin. Nisa juga sudah menganggap Khadijah sebagai anaknya, makanya ia tak malu untuk meminta Khadijah untuk mengganti pakaiannya atau apapun.


Zahra melihat lagi pemandangan Arka bersama Khadijah yang kompak menyuapi Ibunya itu. Semakin sesak rasanya, senyuman-senyuman Arka, juga Ibu mertuanya itu, mereka terlihat sangat akrab.


Zahra yang semakin merasa sakit, ia berlari entah kemana. Semua tak menyadari bahwa Zahra menangis.

__ADS_1


Nisa sudah selesai digantikan pakaian jilbab, juga sudah selesai makannya. Kini Khadijah keluar, karena bergantian dengan keluarga yang lain. Begitu juga dengan Arka, Arka keluar lalu duduk disamping Rio.


"Oh iya Pak, apa melihat istri ku?" tanya Arka pada Rio


"Tadi dia mengintip di pintu, tapi barusan ia berjalan terburu-buru, entah kemana. Mungkin kembali menemui orangtuannya." ucap Rio memberitahu


"Oh iya orangtuanya juga sama kecelakaan, antarkan aku untuk menemuinya.." ucap Arka pada Rio


Arka dan Rio berjalan bersamaan menuju kamar rawat mertuannya itu.


Khadijah memperhatikan Arka yang berjalan menjauh dari hadapannya.


"Mas Arka.. hati ini senang bisa kembali dekat dengan mu, tapi aku sadar kau sudah milik orang lain" ucap Khadijah dalam batinnya


Arka sampai diruangan Azam dan Tiara, tapi tak ada juga Zahra disana. Arka tak mau bertanya pada mertuanya itu, ia takut mereka jadi cemas. Setelah selesai berbincang-bincang dengan mertuanya itu, Arka lalu pamit meninggalkan ruangan itu. Kini hatinya sangat cemas, ia mencoba mencari Zahra, sementara Rio ia biarkan untuk kembali keruangan Ibunya.


Arka mencoba menghubungi ponsel Zahra, sambungan teleponnya berdering menandakan aktif, tapi Zahra tak juga mengangkatnya. Arka mencoba mencari Zahra ke toilet wanita, ia menunggu diluar toilet dan menanyakan pada siapa saja yang keluar dari dalam, lalu seorang office girl keluar dari toilet yang sudah ia bersihkan itu.


"Maaf Bu, mau tanya.. Apa di dalam masih ada orang? Wanita bercadar dengan baju biru tua?" tanya Arka pada seorang office girl itu


"Didalam sudah tidak ada orang, Mas.." jawabnya dengan cepat


Arka semakin merasa khawatir, kemana sebenarnya Zahra. Arka terus mencari Zahra, tapi tak juga menemuinya, Arka memutuskan untuk ke parkiran, ke mobil, mungkin Zahra sedang mengambil barangnya yang ketinggalan pikir Arka.


Ternyata benar, Arka melihat punggung Zahra. Arka langsung menghampirinya.


"Sayang.." ucap Arka sembari menepuk pundak Zahra dengan lembut


Zahra mencoba mengusap air matanya, sebelum ia menoleh berbalik pada suaminya itu.


"Iya Mas.." jawab Zahra terdengar suara habis menangis


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Arka dengan khawatir


"Tidak Mas, aku tidak apa-apa.. Bagaimana dengan keadaan Ibu?" tanya Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan


"Jawab dulu kamu kenapa?" tanya Arka sedikit mendesak tapi tetap dengan kelembutannya


Arka ingat ucapan Rio tadi, Zahra mengintip dari pintu lalu berlari meninggalkan ruangan Ibunya begitu saja.


"Kamu cemburu ya?" ucap Arka dengan nada menggoda


"Apa.. enggak kok, memangnya cemburu kenapa?" ucap Zahra terlihat malu


"Cemburu yaaa.. Aku tahu kok kamu tadi mengintipkan dari pintu.." ucap Arka lagi-lagi dengan menggoda


Zahra hanya tersenyum tipis, ia malu terpergok seperti ini.


"Aku senang kamu cemburu gitu.. Sayang jangan marah yaaa, Khadijah hanya membantu merawat Ibu, karena sedari kemarin Khadijah lah yang merawat Ibu.." ucap Arka menjelaskan semuanya


Zahra hanya tersenyum lalu memeluk tubuh suaminya itu.


"Eh eh eh malu sayang ini di tempat umum.." ucap Arka tapi tak mencoba melepaskan pelukan istrinya itu, malah menggoda istrinya

__ADS_1


Arka dan Zahra berjalan bergandengan kembali masuk ke rumah sakit menuju ruangan Nisa lagi. Arka sudah menceritakan pada Zahra, bahwa Arka juga sudah menjenguk orangnya itu, yang kini menjadi mertuanya itu.


__ADS_2