
Sebulan berlalu, Zahra dan Arka mulai kembali menata hidup mereka. Mencoba bangkit dari kesedihannya, dan mulai berjalan seperti biasa kembali.
Arka sibuk dengan urusan kantornya, sementara Zahra kembali mengurus rumahnya, ia tak berpikir kembali untuk mengajar kambali, karena ia merasa Ibu mertuanya membutuhkan dirinya.
Hari ini adalah hari Sabtu, perusahaan libur, Arka hanya keluar untuk meeting dengan client asal Madura sebentar, lalu tak sengaja bertemu teman-temannya sewaktu SMA di Cafe tempat dirinya meeting dengan clientnya.
"Arkaaa.." teriak seorang teman sembari melambaykan tanganya kearah Arka
Arka lalu menoleh pada sekumpulan pria, yang ternyata adalah semua teman sekolah sewaktu SMA dulu. Sudah lama sekali dirinya tak pernah bertemu dengan teman-temannya itu, karena Arka kuliah di luar Negri, membuatnya kehilangan kontak teman-temannya. Dengan ekspresi bahagia, Arka menghampiri teman-temannya itu.
"Pak Rio, Yusuf pulanglah.. Aku akan bertemu mereka dulu.." ucap Arka pada dua orang kepercayaannya itu
Lalu Rio dan Yusuf berlalu meninggalkan Arka yang masih di dalam cafe dan memilih bersama teman-temannya itu.
Arka melambaikan tangannya, lalu bersalaman dengan semuanya, senyumnya begitu mengembang diwajahnya.
"Wiiih beneran jadi Bule nih lama tinggal di Inggris" ucap Dimas yang kebetulan dekat sekali dengan Arka dan mereka adalah teman sekelas
"Iya nih bro, sibuk banget.." ucap Arka sembari duduk disamping Dimas
"Eh eh bagaimana sekarang kegiatan kalian? Sudah menikah?" tanya Arka pada semuanya karena merasa penasaran
"Wiiihhh ya sudah dong.." jawab semuanya dengan kompak
Arka hanya angguk-angguk dengan senyum mengembang.
"Aku bahkan sudah mau punya 2 anak, Ka.." ucap Dimas pada Arka
"Oh ya? Alhamdulillah sekali.. Istri mu siapa?" tanya Arka karena tidak tahu teman-temannya menikah kapan dan dengan siapa
"Eh eh kamu pasti belum tau.. Dimas ini berjodoh dengan perempuan yang selalu dia katain sewaktu dulu" ucap Indro teman Arka yang lain
"Oh ya? Dengan Ayu?" tanya Arka tak percaya
Dimas tersenyum malu, karena dulu Ayu dan dirinya selalu saling ledek-ledekan dalam kelas, penampilan Ayu yang ndeso membuatnya jadi bullyan teman-temannya.
"Oh ya kalau kamu bagaimana? Kamu terlihat sangat tertutup bahkan di medsos sekalipun" tanya Dimas yang juga penasaran dengan kehidupan Arka sekarang
Seketika wajah Arka menjadi murung, ia ingat kembali tentang pernikahannya dengan Zahra, tentang kehilangan anaknya.
"Kamu kenapa, Ka? Hidup mu kan pasti enak, kamu kuliah tak perlu banyak biaya karena beasiswa, juga tak perlu melamar pekerjaan karena sudah langsung jadi pemilik perusahaan orangtua mu itu" ucap Adit pada Arka
"Kalau itu sih Alhamdulillah.. Cumaaa.." ucap Arka terhenti, seketika ia mengingat kembali akan kehilangan calon buah hatinya
"Cuma kenapa, Ka?" tanya Dimas dengan lembut karena tahu sahabatnya ini sedang ada masalah dan kesedihan
__ADS_1
"Aku sudah menikah hampir setahun ini, dan aku baru saja kehilangan calon anak kami" ucap Arka dengan sedih
"Astagfirullah, kamu yang tegar ya Ka.. Semua pasti karena seizin Allah, dan pasti ada hikmahnya" ucap Dimas sembari menepuk pundak Arka dengan lembut
"Iya, Dim makasih yaaa.. Bukan cuma itu yang aku sedihkan.." tiba-tiba ucap Arka
Semua fokus mendengarkan Arka, semua matanya menatap lekat pada Arka yang duduk dengan jas nya rapi.
"Lalu kenapa, Ka?" tanya Adit penasaran
"Istriku harus pasang KB karena tidak boleh hamil lagi dulu dalam waktu dekat, juga di nyatakan kehamilan selanjutnya pun akan terus beresiko seperti kemarin kami kehilangannya, karena lemah kandungan" ucap Arka matanya tak bisa berbohong, tapi bibinya menyunggingkan senyum tipis
"Sabar ya bro.. itu cuma ucapan manusia, belum tentu Allah rencana Allah" ucap Indro dengan perasaan Ibanya
"Aamiin mudah-mudahan.." ucap Arka pelan
"Kalau kau takut tidak bisa punya anak, cobalah nikah lagi dengan yang baru, siapa tahu kamu langsung punya anak. Secara materikan Kamu juga terbilang mampu kalau berpoligami" ucap Adit seenaknya sembari bercanda karena memang dirinya suka ceplas-ceplos
Semua orang tertawa dan larut dalam nostalgianya sewaktu masa sekolahnya, Arka tak menanggapi serius ucapan Adit karena memang dirinya orang yang suka becanda dan ceplas ceplos
Zahra tak sengaja mendengarnya, begitu juga dengan Nisa. Mereka datang ke cafe itu karena kebetulan sudah berbelanja, saat bertemu Rio di parkiran mall, Zahra dan Nisa menanyakan keberadaan Arka, lalu diberitahu sedang di cafe itu bersama teman-temannya.
"Ayo Bu kita pulang saja, Mas Arka mungkin masih rindu pada teman-temannya" ucap Zahra seketika wajahnya berubah menjadi sendu
Nisa lalu mengiyakan, belum sempat Arka melihat keduanya, Zahra dan Nisa sudah meninggalkan cafe itu.
Arka kembali kerumah sebelum sholat Ashar, ia langsung ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya dikasur. Zahra sedang di toilet, membersihkan tubuhnya, jadi tidak mengetahui suaminya pulang.
Arka benar-benar tidak tahu dengan kehadiran Zahra di bersama Ibunya ke cafe, lalu mendengar ucapan teman-temannya.
"Sayang.. aku tadi tidak sengaja bertemu teman-teman SMA di cafe setelah meeting. Makanya pulang telat" ucap Arka pada Zahra yang baru saja selesai berpakaian lalu duduk di meja riasnya
"Oh begitu.." jawab Zahra dingin, ia sibuk menyisir rambutnya yang basah itu
"Iya, aku senang bisa bertemu mereka lagi.. Berasa punya teman lagi" ucap Arka dengan senyum mengembangnya
Zahra terdiam, ia mengumpulkan keberaniannya untuk memulai percakapan. Sedari tadi ia sudah memikirkannya dengan matang-matang. Setelah selesai menyisir rambut Zahra berjalan mendekat pada suaminya, lalu duduk dipinggir kasur.
"Mas.." ucap Zahra pelan
Arka seketika menoleh, padahal baru saja memejamkan matanya.
"Iya kenapa?" langsung jawab Arka pada istrinya itu
"Heemm.." Zahra masih mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Arka ketika melihat istrinya sedang ragu itu
"bicara saja, sayang.." lanjut ucap Arka ketika Zahra lama tak juga bersuara
"Mas.. apa kamu mau menikah lagi?" tanya Zahra memberanikan dirinya
"Kok kamu tanya seperti itu?" jawab Arka merasa heran, tak percaya istrinya berkata seperti itu
"Kemungkinan aku akan mengalami kehamilan seperti kemarin, membuat kamu belum tentu bisa punya anak dari ku.." ucap Zahra dengan suara yang bergetar
"Kau pasti ingin punya anak bukan?" lanjut ucap Zahra suaranya pelan, matanya sendu menahan beratnya air mata yang sudah menggenang disana.
"Memang aku ingin sekali punya anak, kehadiran seorang anak di tengah-tengah kehidupan rumah tangga kita. Tapi aku tidak pernah terpikirkan untuk menikah lagi dengan siapapun" jawab Arka dengan lembut, kini posisinya jadi duduk dan memeluk Zahra dari belakang
"Kamu jangan berpikir itu ya sayang.. kita berusaha saja sebaik mungkin, kita terus meminta pada Allah.." lanjut ucap Arka pelan, sembari berbisik ditelinga Zahra karena Arka menempelkan dagunya di bahu Zahra dari belakang
Zahra merasa lega dengan jawaban suaminya, ia lalu balik memeluk tubuh suaminya itu.
Arka lalu berpamitan pada Zahra untuk turun ke bawah, melihat ikan peliharaannya dulu, dan menunggu untuk sholat berjamaah di mushola nanti dan Zahra mengerti.
Arka turun kebawah, lalu menuju kolam ikan karena itu adalah kesukaannya. Arka melihat Ibunya sedang menyiram tanaman di halaman belakang, sementara Omanya sedang duduk dihalaman belakang sembari membaca al-qur'annya.
"Buuu.." ucap Arka dengan manjanya
"Iya sayang.." jawab Nisa dengan lembut
Arka lalu menceritakan ucapan Zahra tadi pada Nisa, karena semua itu terngiang-ngiang di pikirannya. Bukan Arka jadi ingin menikah lagi, tapi karena merasa takut tak bisa punya anak.
"Nak, dalam Islam memang diperbolehkan untuk seorang suami memiliki istri lebih dari 1, batasnya 4. Tapi jika suami mampu, bukan cuma mampu secara finansial, tapi juga mampu dalam bersikap adil" ucap Nisa menasihati Arka
"Tapi seorang wanita berat untuk bisa berbagi suaminya dengan wanita lain, wanita itu pecemburu. Hanya wanita-wanita pilihanlah yang mampu di poligami. Mungkin Zahra mengatakan seperti itu karena tadi dia mendengar ucapan teman mu sewaktu di cafe.. " lanjut ucap Nisa panjang lebar, sembari tetap menyirami tanaman dengan air dari selang yang ia pegang
"Zahra mendengar ucapan Adit di cafe?" tanya Arka tak percaya
"Iya Nak. Tadi Ibu dan Zahra sudah belanja kebutuhan rumah tangga, dan bertemu Pak Rio di parkiran Mall, lalu kami menanyakan mu dan Pak Rio memberitahu, jadi kami berniat untuk menyusuli mu, eh baru saja mendekat Zahra sudah mendengar ucapan itu" ucap Nisa menceritakan semuanya
Arka terdiam pikirannya kemana-mana.
"Pantas saja tadi dia jutek juga" ucap Arka dalam batinnya
"Arka tidak sama sekali kepikiran untuk menikah lagi. Arka ingin seperti Ayah hanya mencintai 1 wanita, dan setia sampai akhir hayatnya" ucap Arka pada Nisa
Umi yang sedari tadi mendengarkan ucapan mereka lalu ikut menimpali.
"Kamu benar Arka.. Ayah mu seorang yang setia, sebelum beliau menikah dengan Ibu mu banyak wanita yang datang mendekatinya berharap di nikahi, tapi Ayah mu sudah sangat jatuh cinta pada sosok Ibu mu, padahal baru mendengar cerita tentang Ibu mu dari Almarhum Kakek mu.." ucap Umi pada Arka
__ADS_1
Nisa hanya tersenyum malu mendengar ucapan mertuanya itu, begitu juga dengan Arka ia tersenyum mendengarkannya.