Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 44


__ADS_3

Arka yang cemas akan ucapan Zahra dari pesan WA itu, langsung menghubungi Azam, ayah dari Zahra.


"Assalamu'alaikum Pak.." ucap Arka mendahului


"Walaikumsalam nak Arka.." jawab Azam dengan ramahnya


"Ada apa nak?" tanya Azam penasaran


"Begini Pak, Zahra tadi menghubungi saya melalui WA, dia memberitahu bahwa ada teman sesama guru yang juga ingin mengkhitbahnya langsung.." ucap Arka dengan gemetar


"Oh iya nak.. Saya sudah mendengarnya, tapi saya menyuruh untuk memastikannya dulu dengan mu, karena kalian sedang bertaaruf, saya sangat menghargai itu" jawab Azam panjang lebar


Arka mengerti dengan jawaban Azam, ia juga tahu bahwa seorang wanita tidak bisa menunggu terlalu lama.


"Iya Pak, maafkan Arka.. Arka masih sibuk dengan skripsi Arka, nanti Arka bicarakan dulu dengan Ibu ya Pak gimana baiknya.." ucap Arka merasa tak enak karena sebenarnya ia jarang berkomunikasi dengan Zahra ataupu keluarga Zahra


"Oh iya Nak.. Jadi sebenarnya bagaimana dengan perasaan mu nak? Apa sudah yakin pada Zahra?" tanya Azam ingin memastikan


"eeehmmm" Arka belum bisa menjawab apapun, ia masih terdiam sembari memikirkan harus menjawab apa


Tiba-tiba teringat ucapan Omanya, kalau terus mengikuti sibuk takut jadi lupa menikah. Padahal menikah adalah yang menyempuranakan ibadah.


"Insya Allah sudah yakin Pak.." jawab Arka dengan lugasnya


"Alhamdulillah kalau begitu.." ucap Azam


Lalu sambungan telepon itu terputus. Arka yang sedari tadi mondar mandir didepan jendela kamarnya itu terus berpikir, hatinya gelisah tak karuan.


"Insya Allah aku harus yakin dengan Zahra. Wanita mana yang rela menunggu tanpa diberi kabar, tanpa sebuah kepastian, dan tanpa bertemu. Insya Allah Zahra wanita sholiha, jodoh terbaik. Bismillah.." ucap Azam pada dirinya sendiri


Hari berganti hari, Arka sudah membicarakan semuanya dengan Nisa, semua sudah diatur sedemikian rupa. Nisa mengkhitbah Zahra tanpa kehadiran langsung sosok Arka, hanya melalui video call.


Persiapan pernikahan dibantu oleh Rio dan keluarga Zahra.


Sementara Nisa mempersiapkan seserahan, mas kawin juga WO, dibantu oleh Zahra langsung.


Arka yang benar-benar tidak bisa membantu, hanya pasrah dengan semua pilihan Zahra dan Nisa.


Waktu pernikahan akan berlangsung 2 minggu lagi. Arka sudah berniat untuk mengajak Zahra tinggal sementara di Inggris, menemaninya. Arka langsung menyiapkan tempat tinggal untuk mereka berdua, Apartement yang cukup mewah sudah Arka siapkan. Arka dan Zahra sudah saling berkomitmen pada saat acara khitbah waktu itu. Untuk sementara Zahra akan cuti mengajar.

__ADS_1


Arka sudah membicarakan ini dengan Shaina, Alif juga Omanya. Sayangnya, Alif dan Shaina tidak akan bisa datang karena memang mendadak, dan sudah ada jadwal lain untuk pekerjaan. Kalau Oma akan Arka ajak ke Indonesia, untuk menyaksikan pernikahannya.


Perasaan Arka yang masih biasa saja pada sosok Zahra, tak ada sedikitpun getaran cinta dalam hatinya. Arka berpikir akan mencoba mencintai Zahra setelah menikah.


Arka yang akan langsung mengajak Zahra hanya tinggal berdua itu, berpikir agar bisa lebih fokus belajar bersama, Arka juga takut membuat Zahra tak nyaman untuk tinggal bersama disini, belum lagi sikap Arka yang masih bingung untuk memperlakukan Zahra nantinya takut membuat semua orang tahu akan perasaannya sebenarnya.


Hari-hari Arka lewati, hingga waktunya tiba, perasaannya mulai harap-harap cemas.


Pernikahan Arka akan dilangsungkan hari Jum'at besok. Arka baru pulang ke Indonesia kamis siang bersama Oma berdua. Tak banyak barang yang Arka bawa, ia hanya membawa tas gendongnya, juga satu tas kecil milik Omanya.


Sesampainya di Bandara Surabaya, Arka dijemput oleh Nisa juga Rio. Umi disambut dengan bahagia oleh Nisa.


"Assalamu'alaikum Umi.." ucap Nisa sembari mencium tangan Umi, mertuanya itu


"Walaikumsalam sayang.." jawab Umi, lalu mencium pipi Nisa yang terhalang cadar itu


"Cucu ku sudah semakin besar, besok dia akan menjadi seorang Imam untuk wanita pilihannya" ucap Umi pada Nisa


"Iya Umi, doakan yaaa" jawab Nisa sembari berjalan bergandengan bersama Umi


Sesampainya dirumah, terlihat ruang tamu yang begitu berantakan oleh barang-barang seserahan yang sudah dihias, rumah yang ramai oleh sanak saudara Nisa dari ponpes, lalu Arka masuk kedalam kamarnnya, disofa sudah tersusun rapi baju yang akan ia kenakan.


Nisa yang mengikuti Arka keatas sampai ke kamarnya itu, bermaksud untuk menjelaskan pakaian yang ada itu.


"Iya Bu.." jawab Arka sembari memandanginya


"Kamu coba, ukurannya pas atau tidak.." lanjut ucap Nisa


Arka mencobanya dan masuk kedalam ruang ganti pakaian yang bersebelahan dengan toilet itu. Setelah cukup lama langsung keluar untuk memperlihatkannya pada Nisa.


"Bagaimana Bu?" ucap Arka sembari mencoba memperlihatkan baju di tubuhnya itu


"Masya Allah.. Tampan sekali putra Ibu.. Sudah pas ya ukurannya?" ucap Nisa menanggapi


Arka hanya mengangguk sembari tersenyum, lalu kembali masuk kedalam untuk melepaskan pakaian itu. Setelah membukanya kembali, Arka duduk disamping Nisa.


"Subhannallah.. Putra Ibu sekarang sudah semakin dewasa, dan besok sudah akan menjadi seorang suami.. Jadilah suami teladan, yang mencontoh Rasulullah ya sayang.." ucap Nisa sembari mengelus-elus rambut putranya itu


"Insya Allah Bu, Arka akan selalu mencontoh Rasulullah juga Ayah.." jawab Arka lalu memeluk tubuh Ibunya itu

__ADS_1


*****


Hari ini adalah hari Jum'at, hari dimana Arka akan menjadi seorang suami, dan menikahi Zahra. Acara pernikahan yang digelar dirumah Zahra, karena memang acaranya tidak akan berlangsung lama, dan hanya mengundang keluarga dekat saja. Walau hanya acara Akad, tapi tetap semua terlihat rapi, elegan walau dengan dekor sederhana.


Penghulu sudah siap, para saksi pun sudah siap. Arka sudah duduk didepan penghulu, hatinya begitu berdebar-debar tak karuan.


Nisa dan Umi yang duduk bersamapun, merasakan cemas yang luar biasa.


Acara dimulai, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ahsan, adik Zahra. Setelah selesai, lanjut untuk prosesi akad nikah. Penghulu menjelaskan segalanya pada Arka. Setelah siap, Azam dan Arka bersalaman lalu mengucap Akad.


Semua para saksi berkata sah, setelah Arka menjawab dalam satu tarikan nafas.


Tak lama, Zahra digandeng keluar oleh Tiara untuk duduk disamping Arka, lalu menandatangani surat-surat pernikahan itu.


Arka lalu menatap Zahra, yang terbalut manis dalam gaun pengantin berwarna putih, dengan sedikit hiasan, membuatnya terlihat sangat sederhana, anggun, dan elegan.


Tangan yang dihias hena putih menjadi sangat terlihat indah. Untuk pertama kalinya, Zahra mencium tangan Arka yang kini menjadi sah suaminya. Perasaan Arka masih saja gugup. Setelah acara akad, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Begitu juga dengan pengantin, diberikan meja untuk makan berdua saja.


Untuk kali pertamanya Zahra melayani Arka.


Setelah acara selesai, semua tamu sudah kembali pulang. Arka berniat untuk malam ini tinggal dirumah Zahra.


Zahra mengajak Arka kedalam kamarnya, yang sudah disulap menjadi kamar pengantin itu. Jelas Arka terlihat begitu gugup, begitu juga dengan Zahra, ia sangat malu ingin berganti pakaian. Kamar yang hanya ada toilet tidak ada ruang ganti, sudah pasti akan terlihat oleh pasangannya.


Arka sudah membuka jasnya, kini hanya menggunakan kaos berlengan pendek dan celana yang tadi.


Zahra terlihat begitu canggung, ia merasa gerah, ingin membuka gaunnya, juga cadarnya Arka yang sedari tadi duduk bersandar di kasur, sembari selonjoran. Sementara Zahra duduk didepan meja riasnya.


"Kak.." ucap Zahra membuka obrolan


"Iya kenapa?" jawab Arka dengan langsung memperhatikan Zahra


"eeemmm Zahra mau ganti pakaian, Bisa kakak untuk merem atau ditutupi dulu bantal.." ucap Zahra dengan kaku


"Aku kan suami mu, gak apa-apa dong.." jawab Arka menggoda Zahra


Zahra terlihat senyum malu-malu. Sebenarnya Arkapun malu, ia malu untuk melihat Zahra.


Arka langsung merebahkan tubuhnya, lalu menutup matanya seolah tidur.

__ADS_1


Zahra yang melihat Arka sudah terpejam, lalu membuka cadarnya, lalu mencari pakaian rumahan miliknya didalam lemari.


Arka tak berani melihatnya, ia merasa begitu malu. Zahra pun begitu, ia terlihat buru-buru untuk berganti pakaian.


__ADS_2