
Tiba-tiba ponsel yang ada dalam tas Tiara itu berdering, membuatnya terkaget. Dengan cepat Tiara mengambilnya dan melihat ke layar ponselnya.
"Panggilan.. Bu Annisa" tulisan dalam ponsel Tiara
Tiara tertegun seketika, ia baru menyadari bahwa sedari tadi Nisa tak di kabari.
"Siapa Ma?" tanya Azam yang melihat Tiara hanya tertegun melihat ponselnya
seketika Arka pun menoleh, karena suara ponsel yang berdering itu tak kunjung berhenti.
"Bu Annisa.." jawab Tiara dengan kelu
"Bagaimana ini Arka?" tanya Tiara pada Arka karena tidak ingin membuat Nisa terkaget dengan berita ini
"Angkat saja Ma.. Tidak apa-apa bilang saja seadanya, kasihan Ibu pasti menunggu kabar dari aku sedari tadi" jawab Arka dengan senyum yang menyungging tipis diwajahnya, terlihat dipaksakan
Tiara tak menjawab Arka lagi, ia langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan Nisa.
"Ah alhamdulillah akhirnya di angkat juga.." ucap Nisa yang sudah menunggu sedari tadi
"Assalamu'alaikum.." langsung ucap Nisa menyapa duluan Tiara yang masih saja terdiam itu
"Wa-walaikumsalam Bu Annisa.." jawab Tiara dengan suara yang terdengar sangat berat dan terbata-bata itu
"Begini saya ingin menanyakan Arka juga Zahra, kok mereka tidak menjawab telepon saya ya?" tanya Nisa sebenarnya sudah penasaran dengan suara Tiara yang seperti itu
"Bu Annisa.. Zahra sedang operasi sesar, tadi subuh mengalami pendarahan juga kontraksi hebat, terpaksa bayi harus dilahirkan prematur" ucap Tiara dengan sesegukannya
"Innalillahi.. Ya Allah, terus bagaimana keadaan Zahra sekarang?" tanya Nisa, wajahnya berubah menjadi panik dan sangat cemas
"Sekarang masih di tangani dokter Bu.. Arka membawa Zahra ke rumah sakit setelah sholat subuh dari masjid, jadi ia tak membawa ponselnya" ucap Tiara menjelaskan
"Iya iya saya mengerti.. Sekarang dirumah sakit mana?" tanya Nisa karena ingin segera melihat kondisi menantu juga calon cucunya itu.
Setelah mengetahui dimana Zahra sedang dirawat, Nisa dengan cepat meminta untuk diantar kesana pada supir.
Suster memanggil Arka untuk menemani proses kelahiran anak kembarnya itu, Zahra sudah mulai sadar walau belum pulih. Dengan setia Arka menemani Zahra, dan terus berdzikir di samping istrinya sembari memeluk kepala istrinya.
Sudah hampir satu jam, proses operasi yang dilakukan sangat berhati-hati itu berjalan dengan lancar. Suara tangis bayi terdengar.
"Alhamdulillah Pak, Bu.. anaknya sempurna, anak kalian kembar, laki-laki.." ucap suster sembari menunjukan 2 bayi laki-laki berukuran kecil tidak wajar yang merengek menangis itu
__ADS_1
Air mata Zahra dan Arka kini berganti bahagia. Tapi kegalauan mereka tidak cukup sampai disitu, muncul kecemasan-kecemasan lain yang baru.
Suster memberikan kedua bayi yang masih kotor itu kepelukan Arka, lalu di adzankan oleh Arka. Tak sampai 10 menit Arka mendekap kedua buah hatinya, sudah suster ambil untuk dibersihkan, dengan cekatan bayi kembar itu dibersihkan di bungkus oleh kain berwarna biru.
Zahra yang masih terbaring dimeja operasi itu sangat ingin segera bertemu kedua putranya itu. Lalu Suster memberikan kesempatan untuk kedua bayi itu berdekatan dengan kepala Ibunya. Semakin pecah tangis Zahra melihat kedua buah hatinya yang lahir prematur itu, ia belum sempat menggendongnya. Tak lama Suster langsung membawa kedua bayi kembar itu ke tempat lain untuk menjalankan tes kesehatan.
Arka masih setia menemani Zahra diruang operasi.
Bayi itu keluar dalam box inkubator, di dorong perlahan oleh Suster menuju ruangan lain. Didepan ruang operasi sudah ada Nisa, Tiara dan Azam yang menunggu dengan tak sabar.
"Bagaimana kondisi cucu ku?" ucap Nisa penasaran dan ingin menggendongnya itu
"Ini cucu Ibu dan Bapak.. Kembar laki-laki.." ucap Sang Suster itu menunjukan 2 bayi yang dalam inkubator itu
Nisa, Tiara dan Azam mendekat ke arah inkubator itu untuk melihat bayi yang dilahirkan Zahra.
"Subhannallah.." ucap Nisa senang bercampur sedih karena bayi prematur yang berukuran sangat kecil tidak senormal bayi biasanya tetap ia syukuri karena dapat bertahan hidup
"Permisi Pak, Bu.. saya harus segera membawa bayi ini untuk diperiksa lanjutan" ucap Suster berpamitan pada Nisa, Tiara juga Azam yang terpana melihat cucunya lahih ke dunia itu
Nisa, Tiara dan Azam mundur menjauh dari inkubator yang terus di dorong menuju ruangan pemeriksaan.
Doa-doa baik selalu Nisa panjatkan seusai melihat kelahiran cucu-cucunya itu.
"Maaf dengan keluarganya Pasien atas nama Azzahra?" tanya suster yang mendekat itu
"Iya dok.. Kami keluarganya.. Kami orangtuanya" ucap Azam dengan langsung
"Pasien kekurangan darah Pak.. Dan stok darah B + rumah sakit sedang kosong, Suami pasien golongan darahnya berbeda, apa ada yang bisa mendonorkan?" ucap suster dengan langsung karena kondisi sedang darurat
"Golongan saya dengan putri saya sama, Sus. Saya yang akan mendonorkan darah untuk Zahra" ucap Azam tanpa ragu dan merasa sangat siap
"Baik Pak.. Mari ikut bersama saya" ucap Suster sembari menunjukan jalan ke ruang donor darah.
Azam berjalan mengikuti langkah suster menuju ruang donor darah. Sesampainya diruangan itu, Azam di cek tensi dan kesehatannya dulu agar memenuhi kriteria.
Hasilnya baik, Azam bisa mendonorkan darahnya untuk Zahra.
Nisa dan Tiara yang menunggu diruang tunggu depan ruan operasi semakin merasa cemas, dengan kabar Zahra yang kekurangan darah itu. Operasi sudah hampir selesai, hanya saja Zahra kembali tak sadarkan diri setelah kekurangan darah akibat keluarnya darah yang berlebihan.
Arka terus berdzikir pelan dekat telinga istrinya itu, berusaha menguatkan, dengan setianya.
__ADS_1
"Dok bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Arka ketika melihat para dokter sedang membuka sarung tangan yang berlumur darah itu
"Pasien mengalami kritis Pak.. Akibat kekurangan darah.." jawab Dokter menyampaikan berita pahit
"Astagfirullah.." ucap Arka lalu air matanya tak terbendung lagi mengalir deras melalui pipinya itu
"Tolong dokter, tolong selamatkan istri saya.." ucap Arka disela-sela tangisnya
"Operasinya sudah selesai Pak, dan berhasil.. Kini tinggal pemulihan pasien.. Pasien akan mendapat pemeriksaan lanjutan setelah ini" jawab Dokter memberitahukan kabar gembiranya
Arka hanya terdiam, air matanya terus mengalir deras. Tak kuasa ia melihat istrinya yang terbaring lemah tak berdaya seperti itu.
"Silahkan Bapak tunggu diluar, Pasien akan kami pindahkan kembali ke ruang IGD" ucap Suster memberi arahan pada Arka
Arka menuruti ucapan Suster itu, kakinya berjalan gontai melangkah keluar dari ruangan operasi itu. Wajahnya tertunduk lemas, rasanya hancur sehancur-hancurnya.
Nisa melihat putranya itu keluar dari ruang operasi, lalu menghampirinya dengan cepat lalu memeluk erat tubuh putranya itu.
"Sayang.. bagaimana kondisi Zahra?" tanya Nisa dengan lembut
Arka tak mampu berkata-kata, lidahnya seakan kelu. Ia terus menangis dalam pelukan Ibunya itu.
"Arka.. Bagaimana kondisi Zahra?" tanya Tiara sekali lagi mengulang pertanyaan Nisa
Arka kemudian mencoba menghapus air matanya, ia menenangkan dirinya, kemudian ia bersimpuh lemah dihadapan kedua wanita yang telah melahirkan dirinya juga melahirkan istrinya itu.
"Bu.. Mama.." ucap Arka tiba-tiba pada Nisa juga Tiara
"Mohon maafkan semua kesalahan-kesalahan Arka juga Zahra selama hidup ini, maaf kami belum juga bisa membahagiakan kalian.. Tolong maafkan kami" ucap Arka kembali meneteskan air matanya
"Arka ada apa ini?" tanya Nisa dengan sangat penasaran
"Iya Arka sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tiara semakin tak sabar
"Tolong Maa.. Bu.. Ampuni kami yaaa, ridhoi kami" ucap Arka lagi-lagi yang masih bersimpuh dikaki kedua wanita itu
"Iya Arka, Ibu memaafkan segala kesalahan mu, Ibu ridho pada mu" ucap Nisa sembari ikut berlutut lalu mengusap lembut punggung putranya itu, dan larut dalam tangisnya
"Iya Arka.. Mama juga selalu memaafkan semua kesalahan anak-anak Mama.. Mama meridhoi semua" ucap Tiara yang ikut berlutut itu sembari terus menangis
"Zahra sekarang kritis, Maaa.. Bu.." ucap Arka tiba-tiba matanya masih terus mengalirkan air mata dengan deras
__ADS_1
"Innalillahi.." ucap Tiara dan Nisa bersamaan
Pecah air mata yang tak dapat dibendung lagi, Arka semakin lemah ia tak mampu berbuat apa-apa lagi, rasanya semua hancur, ia memeluk tubuh Ibunya berharap sebuah kekuatan disana.