Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 94


__ADS_3

Kehamilan Zahra semakin besar, kini usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan. Seperti biasa dalam adat istiadat keluarga Zahra untuk mengadakan acara 7 bulanan dirumah orangtua Zahra.


Semua orang yang hadir mendoakan Zahra juga calon buah hatinya bersama Arka. Kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Arka juga Zahra, begitu juga dengan Nisa dan Kedua orangtua Zahra, Azam dan Tiara.


Acara 7 bulanan yang dipimpin oleh Nisa berjalan dengan lancar dan acara sudah berakhir, dan para tamu sudah kembali pulang. Sementara Nisa, Arka, Zahra dan Tiara juga Azan sedang menikmati makan malam bersama.


Waktu sudah hampir magrib, Nisa memutuskan untuk pulang kembali kerumahnya bersama Rani juga Ijah yang ikut diacara 7 bulanan Zahra untuk bantu-bantu itu.


"Arka, Zahra.. Ibu akan pulang dulu yaaa" ucap Nisa setelah merapikan piring bekas makannya itu


"Loh kok pulang sih Bu?" tanya Zahra merasa heran


"Zahra pikir Ibu juga akan ikut menginap disini dulu.." lanjut ucap Zahra pada Nisa, Ibu mertuanya itu


"Tidak sayang.. Kalian menginaplah dulu.. Ibu pulang saja" jawab Nisa dengan langsung. Padahal Nisa merasa sangat canggung pada Azam dan masih merasa takut untuk lama-lama dalam tempat yang sama dengan Azam


"Tapi Ibu nanti dirumah sendiri?" ucap Arka yang juga mengkhawatirkannya, jujur saja Arka memang tidak menginginkan Ibunya untuk menginap dirumah Zahra karena ada Azam yang takut menjadi serba tidak nyaman nantinya


"Ibu kan ada Bi Rani sama Bi Ijah.. Belum lagi ada body guard" jawab Nisa meyakinkan


"Baiklah kalau gitu.." jawab Arka langsung


"Bi Rani, Bi Ijah.. titip tolong jaga Ibu yaaa.. kalau perlu kalian tidurlah bersama Ibu" ucap Arka pada Rani juga Ijah yang duduk dibelakang Ibunya itu


"Siap Den.." jawab Rani dan Ijah bersamaan


Nisa lalu bersiap-siap untuk pulang, memasukan ponselnya kedalam tas.


"Bu Annisa mau kemana?" tanya Tiara yang baru saja menghampiri setelah merapikan makanan bekas makan bersama itu


"Saya mau pulang dulu.. Terimakasih banyak ya untuk semuanya.. Anak-anak saja yang akan menginap" jawab Nisa dengan lembut dan senyum mengembangnya


"Loh kok gitu? Bu Annisa juga menginap saja disini.. Kan nanti dirumah sepi jadinya" ucap Tiara mencoba menahan Nisa untuk pulang


Nisa hanya tersenyum lalu memegang tangan Tiara lembut yang berada di sampingnya itu.


"Kamu tidak akan menginap dulu Nis?" tanya Azam basa basi


"Tidak Kak Azam.. Anak-anak saja" jawab Nisa cepat


"Oh begitu.. Hati-hati yaaa" ucap Azam yang juga sangat canggung pada Nisa


"Iya Bu.. Ibu hati-hati ya dijalan, dirumah juga.." ucap Zahra lalu mencium tangan Ibu mertuanya itu


"Bi Rani Bi Ijah, jangan biarkan Ibu sendirian yaaa.." ucap Zahra pada Rani juga Ijah yang ikut berpamitan


"Siap Bu.." jawab Ijah dengan senyum mengembangnya


Nisa lalu menghampiri Arka, Arka mencium punggung tangan Nisa lalu memeluk erat tubu Ibunya itu.

__ADS_1


"Bu.. hati-hati yaaa, besok aku pulang" ucap Arka berbisik ditelinga Ibunya


Nisa hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan putranya itu, lalu ia masuk kedalam mobil yang pintunya sudah terbuka itu lalu diikuti oleh Rani juga Ijah.


Zahra, Arka, Tiara dan Azam mengantar sampai depan pintu, dan sampai mobil Nisa tak lagi terlihat dari halaman rumah Zahra.


Setelah mobil itu menjauh dan tak lagi terlihat, Zahra dan Arka yang saling bergandengan itu langsung kembali masuk kedalam begitu juga dengan Tiara dan Azam.


Zahra sungguh merasa senang bisa menginap dirumah orangtuanya, setelah sekian lama tak lagi menempati kamarnya itu. Arka terlihat biasa saja, tapi merasa ikut senang jika istrinya senang.


Waktu semakin larut malam, Zahra dan Arka sudah berbaring untuk tidur selepas sholat isya berjamaah dengan semua keluarga Zahra.


Seperti biasa Arka dan Zahra selalu berbincang sebelum tidur, Arka sering merasakan tendangan tendangan kecil dari dalam perut istrinya itu, Arka selalu berbincang dengan sang calon buah hati.


"Masya Allah tabarakallah anak Papa aktif sekali.. Sehat terus ya nak sampai waktunya tiba kita akan bertemu.. Sehat juga bersama Mama yaaa, sayang" ucap Arka berbisik lembut pada perut istrinya itu seolah-olah sedang berinteraksi dengan anaknya


Zahra selalu bersholawatan dan mendengarkannya pada calon buah hatinya itu, ia hanya tersenyum medengar suaminya yang selalu berbicara pada perutnya itu.


"Sayang.. Sepertinya anak kita kembar deh.." ucap Arka menerka-nerka, yang masih merasakan tendangan-tendangan kecil dari dalam perut istrinya itu


"Masa sih? Tapi dokter tidak bilang apa-apa sewaktu aku USG saat usia kandungan 5 bulan yang lalu" jawab Zahra dengan tak percaya


"Iya deh, ini tendangan-tendangannya ada 2 aja gitu, disini ada gerakan, disini juga.." ucap Arka sembari menunjukan kedua sisi perut Zahra yang bergerak itu


"Jangan terlalu berharap Mas.." Ucap Zahra yang tak ingin banyak berharap.


Malam semakin larut, Arka dan Zahra terlelap dalam pelukan hangat satu sama lain, seperti biasanya. Perut yang semakin membesar membuat Zahra gampang terbangun ditengah malam, belum lagi ia harus bolak balik ke toilet untuk buang air kecil yang semakin sering.


Malam berganti pagi, waktu sudah masuk sholat subuh, Adzan pun sudah terdengar berkumandang dengan merdunya.


Arka terbangun lebih dulu, sementara istrinya masih terlelap disampingnya itu.


"Sayang.. Ayo bangun kita sholat subuh" ucap Arka dengan sangat lembut, dan sentuhan lembut dipipi istrinya itu


Zahra masih saja memejamkan matanya, rasanya sangat ngantuk karena tidurnya selalu terganggu.


"Hhhmmmm" Zahra hanya mengeluarkan suara dehemannya.


"Aku mau siap-siap untuk sholat ke masjid dulu yaaa sayang.. Kamu Ayo bangun sholat bersama Mama" ucap Arka sembari membelai lembut istrinya itu


"Iya Mas.." jawab Zahra cepat


Arka lalu bangun dan berjalan masuk kedalam toilet untuk berwudhu lalu berganti pakaian menggunakan baju takwa juga sarung dan pecinya, lalu keluar kamar meninggalkan Zahra yang masih terduduk dan merapikan ikat rambutnya.


Zahra lalu berjalan pelan kedalam toilet. Tiba-tiba Perutnya terasa sakit dan terasa semakin kebawah. Zahra menghentikan langkahnya, dan tangannya menahan menopang tubunya ke lemari.


"Astagfirullah.. kenapa sakit sekali" ucap Zahra merintih kesakitan


Zahra tak berani melanjutkan langkahnya, ia terus menahan sakitnya yang tak kunjung mereda.

__ADS_1


"Mamaaaaa..." teriak Zahra yang semakin tak kuat merasakan sakit diperutnya itu


Tiara yang masih sholat subuh tidak langsung menghampiri Zahra, putrinya yang berteriak kesakitan itu.


Ahsan, adik Zahra yang tak sengaja mendengar teriakan kakaknya itu langsung berlari cepat kearah sumber suara yang ada didalam kamar itu.


"Mbak.. Mbak kenapa?" ucap Ahsan dengan panik, ia tak berani membuka kamar Kakaknya itu


"Tolong Mbak, Dek.." ucap Zahra semakin merintih kesakitan


Ahsan dengan cepat membuka pintu kamar Kakaknya itu yang tidak dikunci, ia tahu Kakak iparnya sedang ke masjid bersama Ayahnya. Ahsan yang juga akan ke masjid jadi membatalkan Niatnya dan langsung menghampiri Kakaknya itu.


"Ya Allah Mbak.. Mbak kenapa?" ucap Ahsan dengan panik ketika melihat Zahra yang berdiri menahan tubuhnya ke lemari itu.


"Perut Mbak sakit banget, dek.." ucap Zahra sembari terus beristigfar menyebut nama Allah


Ahsan panik melihat Kakaknya yang terus merintih kesakitan itu, ia bingung harus ngapain.


"Aku panggilkan dulu Mama ya, Mbak.. Mbak sabar dulu.. " ucap Ahsan lalu berlari keluar kamar Zahra dan mencari Ibunya yang sedang sholat di kamarnya


Zahra hanya mengangguk ketika Ahsan bicara itu. Zahra tak henti-hentinya menyebut asma Allah, untuk sedikit meredakan rasa sakitnya.


"Astagfirullah.. Astagfirullah.." ucap Zahra terus mengingat Allah


Ahsan berlari dan menggedori kamar Ibunya itu.


"Mama.. Mama.." ucap Ahsan yang panik sembari mengetuk pintu kamar orangtuanya tanpa sabar


Tiara yang baru selesai sholat dan masih terbalut dalam mukena putihnya itu langsung membukakan pintu kamarnya dan menghampiri Ahsan, putra bungsunya yang begitu cemas itu.


"Kenapa San?" tanya Tiara yang mulai ikut panik ketika melihat raut wajah putranya yang ada dihadapannya itu


"Mbak Zahra, Ma.. Mbak Zahra.." ucap Ahsan kaku, rasanya sulit untuk menjelaskan semuanya


Ahsan lalu menarik tangan Mamanya untuk ikut ke kamar Zahra. Tiara Dengan berjalan sempoyongan karena ditarik oleh putranya itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


"Mbak Zahra kenapa, San?" tanya Tiara penasaran sembari terus mengikuti langkah kaki putranya itu


Sementara Arka dimasjid diminta untuk menjadi imam sholat subuh, jamaahnya cukup banyak, semua warga sangat menyukai Arka yang tampan juga baik agamanya dan selalu sopan dan ramah pada semua orang.


Tiara langsung menemui Zahra di kamarnya, ia melihat Zahra yang sedang merintih kesakitan itu, wajahnya penuh oleh peluh yang terus mengalir.


Tiara langsung menghampiri dengan perasaan cemasnya.


"Zahra.. kamu kenapa nak?" tanya Tiara dengan paniknya sembari ikut mengusap perut Zahra


"Astagfirullah.. Sakit sekali Maaa.." ucap Zahra dalam rintihannya, dengan suara lirih


"Ya Allah.. Cepat kamu panggilkan Abi dan Mas Arka yaaa" ucap Tiara pada Asan untuk menyusul ke masjid

__ADS_1


__ADS_2