Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 23


__ADS_3

Arkana masih dalam perawatan dokter. Banyak luka lebam di wajahnya, tubuhnya lemas tak berdaya. Kedua pelayan yang diperintahkan oleh Shaina mengantar Arka sudah kembali ke Resto karena harus menghandle disana.


Dengan cepat Shaina, Aira juga Dira kerumah sakit untuk melihat keadaan Arka.


Sesampainya dirumah sakit, Shaina langsung keruangan Arka, dan kebetulan dokter baru selesai memeriksa.


"Bagaimana keadaan Arka dok?" tanya Shaina begitu khawatir


"Pasien masih dalam pemulihan, semua lukanya sudah kami rawat. Beruntung tidak ada luka didalam atau patah tulang.." ucap Dokter menjelaskan


Shaina dan Aira bernafas dengan lega. Mereka sudah diperbolehkan masuk kedalam ruangan. Dira yang tidur sedari perjalanan, kini dibaringkan di atas sofa dalam ruang rawat itu oleh Aira.


"Ya allah Arka... Apa yang harus Tante katakan pada Ibu mu.." ucap Shaina sembari meneteskan air matanya


Arka yang sebenarnya tidak tidur, ia mendengar dengan jelas ucapan Tantenya itu.


"Tante.. Arka mohon, jangan beri tahu Ibu soal ini.. Tentang keadaan Arka" ucap Arka dengan susah payah sembari menahan sakit yang luar biasa


"Iya iya Tante ngerti.." jawab Shaina dengan cepat


"Cepatlah sembuh, hati Tante begitu hancur melihat mu seperti ini.." lanjut ucap Shaina dalam tangisnya


Aira mencoba menenangkan Shaina, dengan merangkulnya dari belakang.


"Ternyata Nyonya Shaina begitu sayang pada Arka.." ucap Aira dalam hatinya


Shaina langsung menghapus air matanya, dengan cepat ia mundur dari dekat Arkana. Ia merogoh ponselnya yang ada didalam tas slempang kecil yang melingkar manis dibadannya. Shaina segera menghubungi Alif, suaminya.


"Hubby, kamu dimana? cepatla kemari.." ucap Shaina setelah panggilan teleponnya di terima oleh Alif


"Aku masih di London, kamu kenapa Sayang?" jawab Alif balik bertanya karena khawatir mendengar suara Shaina yang lirih


"Arka, Hubby.. Arka.." ucap Shaina sembari kembali menangis


"Arka dipukuli orang, cepatlah kemari.. Aku bingung bagaimana mengatakan ini pada Kak Annisa.." Lanjut ucap Shaina


"Tunggu jangan dulu kamu katakan apapun pada Kakak, jangan buat dia khawatir. Aku segera kesana.." jawab Alif dengan cepat


Aira masih mendekat di kasur Arkana.


"Arka maaf kan aku.. Maaf.. ternyata masalah ini belum berakhir.." ucap Aira sembari meneteskan air matanya tanpa berani menyentuh Arkana

__ADS_1


"Kamu tidak perlu minta maaf, Ra.. Ini bukan salah mu.." jawab Arkana sembari menahan sakit dan tetap memejamkan matanya


"Semua ini gara-gara ku, kalau saja kamu tidak menolong ku waktu itu, ini tidak akan terjadi pada mu.. Ku mohon maafkan aku" ucap Aira sembari terus meneteskan air matanya penuh penyesalan


"Jangan menangis, aku baik-baik saja.. Tenanglah.." jawab Arkana karena ia tahu Aira sedang menangis


Shaina menghampiri Aira, karena melihat Aira yang menangis dengan perasaan menyesalnya.


"Ini bukan salah mu, Aira.." ucap Shaina menenangkan Aira sembari merangkul Aira dari belakang


"Doakan Arka agar cepat membaik.." lanjut ucap Shaina


Aira tak mampu lagi berkata-kata, ia langsung memeluk Shaina dan langsung pecah tangisnya.


30 menit berlalu, Alif baru datang.


"Arka bagaimana keadaan mu?" tanya Alif dengan sangat khawatir saat melihat Arka masih terbaring lemah


"Tubuh ku serasa remuk semua.." jawab Arka sembari tersenyum walau matanya masih terpejam karena menahan sakit di pelipisnya yang lebam


"Kau ini!" ucap Alif dengan khawatirnya, lalu mengacak2 rambut Arka dengan pelan


"Bagaimana ini bisa terjadi pada Arka?" tanya Alif pada Shaina juga Aira yang sedari tadi ada dibelakangnya


"Kurangajar sekali pria ini! Lihat saja berani mengusik kehidupan keluarga kami!" ucap Alif setelah selesai melihat tayangan di ponsel Shaina


"Hubby, pelakunya adalah putra dari Nyonya Esther, keluarga Albert.." ucap Shaina sembari menghampiri Alif


"Apa? Anak orang terpandang? Tapi mengapa seperti tidak berpendidikan sekali!" ucap Alif dengan emosi


Aira terlihat diam tak mampu berkata-kata. Shaina mengajak Alif, suaminya untuk berbicara diluar ruangan.


"Aira tolong, bantu aku untuk minum.. Tenggorokan ku begitu kering" ucap Arka tiba-tiba


"Oh baiklah.." jawab Aira dengan cepat sembari mengambilkan air mineral yang tersedia diatas meja samping bed Arka


Aira menyodorkan air minum menggunakan sedotan karena Arka masih belum bisa mengangkat tubuhnya untuk duduk.


"Terimakasih banyak.." ucap Arka setelah menelan


"Kamu pulang lah, kasihan Dira.." lanjut ucap Arka karena mengkhawatirkan Dira

__ADS_1


"Tapiii.. bagaimana dengan kamu?" ucap Aira karena merasa khawatir dengan keadaan Arka yang masih begitu saja


"Tenanglah aku tidak apa-apa.. percayalah.. Ada suster yang akan membantu ku disini.." ucap Arka meyakinkan


Shaina dan Alif mendengar pembicaraan itu karena kebetulan mereka masuk kedalam ruangan Arka kembali.


"Iya Aira, Arka bener.. kamu perlu istirahat, kasihan juga Dira.." ucap Shaina


"Baiklah kalau begitu, aku pamit untuk pulang yaa.." ucap Aira lalu berpamitan sembari menggendong lagi Dira yang sedang tertidur di sofa itu


"Tunggu-tunggu.. Barenglah bersama ku, akan ku antarkan..." ucap Alif yang juga akan pulang dulu karena belum sempat berganti pakaian setelah bekerja.


Shaina masih menunggu Arka di rumah sakit. Sementara Alif pulang dulu. Shaina tadi membicarakan masalah ini sebenarnya pada Alif, dan menceritakan hubungan Zidan dengan Aira yang membuat Arkana jadi terbawa-bawa.


Aira sudah turun dari mobil Alif, mobil Alif pun sudah tak terlihat lagi. Aira hendak masuk kedalam rumah kontrakannya. Tiba-tiba dihadang dengan kaki yang menjulur dihadapannya menahan ke tembok.


Aira begitu kaget, tak disangka Zidan yang kini ada dihadapannya.


"Permisi saya harus lewat!" ucap Aira dengan santai berusaha untuk menghindari Zidan


"Tunggu!" ucap Zidan dengan tegas


Aira berusaha tidak menghiraukan Zidan, ia tidak ingin ada permasalahan lagi.


"Aku bilang Tunggu! Ya Tunggu!" ucap Zidan sedikit berteriak


Aira tahu Zidan pasti sangat marah, hatinya begitu berdebar, sungguh ia sangat takut dengan perlakuan kasar Zidan yang akan menyakiti anaknya.


Zidan yang merasa tak dihiraukan, langsung menarik bahu Aira dengan kasar, agar Aira menghentikan langkah kakinya.


"Tolong jangan sakiti anak ku! Mau apa lagi kamu? Bukannya hubungan kita telah selesai?" ucap Aira dengan tegas dan mencoba memberanikan diri


"Kamu ini masih istri saya! Dan saya berhak atas kamu!!" ucap Zidan dengan kasar


"Tidak! Semua telah berakhir! Kamu telah meninggalkan saya dan saya sudah melupakan kamu!!" jawab Aira dengan marahnya


Zidan menyeret Aira dan Dira untuk masuk kedalam rumah kontrakan mereka itu.


"Kamu tidak boleh masuk!!" teriak Aira dengan tegas


Zidan tidak menghiraukan Aira, Ia merebut Dira dari tangan Aira, lalu masuk kedalam dengan cepat, membuat Dira bangun dan langsung menangis.

__ADS_1


"Aku belum puas menghancurkan hidup mu!! Kamu membuat aku dibuang oleh keluarga ku!!!" ucap Zidan dengan sangat marah sembari menarik tubuh mungil Aira dan membantingnya ke tembok


Aira menangis menahan sakitnya, ia terus memeluk Dira agar tidak disakiti oleh Zidan. Suara keributan dan teriakan-teriakan itu membuat semua tetangga membantu Aira dan Dira dengan langsung masuk kedalam rumah itu dan mererai pertengkaran itu, dan membawa Zidan ke kantor polisi


__ADS_2