
Arka sudah berangkat ke kantor seusai sarapan. Nisa yang kini kembali beraktivitas, juga sudah pergi ke Panti diantar oleh supir dan akan dijemput sore hari.
Zahra dengan cepat membereskan dulu pekerjaan rumahnya, dibantu oleh Ijah.
Setelah selesai membereskan meja makan, Zahra masuk kedalam kamarnya, lalu sibuk dengan ponselnya.
Zahra menghubungi Abinya itu, yang ia yakini pasti sudah di kampus.
"Assalamu'alaikum Abi.." ucap Zahra dengan sopan
"Walaikumsalam ndoo.. Tumben nelepon pagi-pagi" jawab Azam yang baru saja tiba di kampus dan baru selesai memarkirkan mobilnya
"Tidak apa-apa Abi, Abi sedang dimana?" tanya Zahra lebih dulu karena takut ayahnya itu masih dirumah
"Abi sudah di kampus, kenapa? Kamu mau bicara pada Mama ya?" tanya Azam menerka-nerka
"Oh iya.. Tidak kok Abi, Zahra mau ngajak Abi makan siang berdua, Zahra ingin berbicara berdua saja dengan Abi.." ucap Zahra sebenarnya dengan perasaan dagdigdug tak karuan
Azam terdiam seketika, perasaannya campur aduk, ada rasa cemas yang luar biasa dalam hatinya.
"Apa tidak dengan Arka juga?" tanya Azam sebenarnya bingung
"Tidak Abi.. Hanya kita berdua yaaa.. Zahra sudah izin pada Mas Arka kok. Zahra tunggu Abi di Restoran ILY. Wassalamu'alaikum Abi" ucap Zahra panjang lebar lalu memutuskan sambungan telepon itu
Zahra mengumpulkan kekuatan hatinya untuk berbicara pada Abinya itu, selama ini belum pernah Zahra berbicara seberani itu pada Abinya, jika ada sesuatu ia lebih sering berbicara dulu pada Mamanya, kali ini sungguh sangat berbeda.
Zahra mondar-mandir di depan jendela kamarnya dan menghadap keluar, sesekali udara pagi menyapa kulit wajahnya.
"Aku harus memberanikan diri.. Ya harus.. Demi kebaikan semuanya.." ucap Zahra pelan pada dirinya sendiri lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, Zahra dengan cepat mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur sebelum pergi makan siang bersama Abinya itu. Setelah sholat, Zahra lalu berganti pakaian, setelah dirasa siap Zahra langsung masuk kedalam mobil karena supir yang sudah menunggu.
Dalam perjalanan Zahra mengabari suaminya dengan mengirim pesan singkat WA.
"Mas, Aku pergi ya menemui Abi di Restoran ILY.." pesan singkat Zahra
"Iya sayang, hati-hati.. Jangan lupa jaga diri, dan jaga ucapannya yaaa" jawab Arka dalam pesan singkat WA
__ADS_1
Sesampainya di Restoran, Zahra melihat mobil Abinya yang juga baru saja masuk kedalam halaman parkir restoran itu. Tentunya Zahra turun lebih dulu karena tak perlu memakirkan mobil, ia diturunkan pas depan pintu masuk oleh supir, lalu mobilnya di parkirkan oleh supir. Sementara Azam masih sibuk merapikan posisi parkir mobilnya. Zahra masuk lebih dulu untuk mencari meja yang kosong.
Azam berjalan perlahan masuk kedalam restoran itu, dengan langkah kaki yang mantap. Perasaannya dagdigdug tak karuan, ia takut anaknya akan membicarakan soal ucapannya pada Nisa waktu itu.
Setelah masuk kedalam restoran yang cukup ramai karena jam makan siang, Azam sedikit kesulitan untuk mencari Zahra.
Zahra tak mungkin untuk berteriak karena suasana yang ramai, melambaikan tangan pun masih tak terlihat oleh Azam, Abinya itu. Zahra lalu mengirim pesan dari WAnya.
"Zahra di meja nomor 16.." ucap Zahra dalam pesan singkatnya
Azam yang sudah membuka pesan itu langsung menuju kesana, dan melihat putrinya sudah duduk manis disana sembari menatapnya.
"Sudah lama menunggu nak?" tanya Azam dengan senyum tersungging diwajahnya
"Belum Abi.." jawab Zahra dengan cepat lalu mencium punggung tangan Abinya itu
"Oh Iya, Zahra sudah memesankan makanan untuk kita, karena pasti akan dibuat sangat lama" ucap Zahra memberitahukan
"Iya tidak apa-apa, Nak.. Terimakasih yaaa" jawab Azam dengan senang
"Terimakasih banyak Mbak.." ucap Zahra dengan ramahnya
Zahra dan Azam lalu melahap makanan yang sudah ada dihadapannya itu dengan lahap, karena sudah merasa sangat lapar juga. Azam lebih dulu menghabiskan nasi dipiringnya, kini ia sedang menikmati secangkir kopinya.
"Oh Iya bagaimana dengan persiapan acara resepsi pernikahan kalian nak?" tanya Azam pada Zahra
"Alhamdulillah sudah 100% siap, Abi.. Nanti baju dan persiapan yang lain untuk Abi, Mama dan Ahsan akan dikirim 3 hari sebelum hari H ya.." jawab Zahra setelah meneguk orange jusnya
"Alhamdulillah kalau gitu.." ucap Azam dengan perasaan senangnya
"Abi, Zahra ingin berbicara serius dengan Abi.." ucap Zahra dengan perasaan yang tiba-tiba berdebar-debar
"Bicara saja sayang.." jawab Azam yang sebenarnya juga dengan perasaan sangat berdebar-debar
"Jujur saja, Abi masih mempunyai perasaankan pada Bu Annisa? Abi masih belum melupakannya bukan?" ucap Zahra matanya sudah membulat, dan air mata yang mulai menggenang
Azam terdiam, seketika lidahnya kelu. Benar saja dugaannya, ini yang akan dibahas oleh putrinya itu.
__ADS_1
"Tolong, bi.. Tolong jangan hancurkan keluarga kita, tolong jangan menyakiti Mama.. Mama sangat tulus mencintai Abi.." ucap Zahra tanpa menunggu jawaban Azam, ucapan yang sangat berat dari mulutnya
"Aku mendengar ucapan Abi pada Ibu sewaktu dirumah waktu itu" lanjut ucap Zahra suaranya mulai lirih
Azam masih saja terdiam, ia mencerna dengan baik semua ucapan putrinya itu. Benar saja putrinya mendengar ucapannya waktu itu, pasti menantunya juga. Pikiran Azam semakin kacau tak karuan.
Azam dan Zahra tidak menyadari ada seseorang yang akan menghampiri mereka, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena mendengar ucapa Zahra, dan melihat Zahra yang mulai meneteskan air matanya dan memilih terdiam sembari mendengar percakapan Zahra dengan Azam.
"Zahra tahu, Bu Annisa memang cinta Abi sewaktu dulu, wanita yang pertama kali membuat Abi jatuh hati, jelas Bu Annisa berpendidikan sepadan dengan Abi, jauh berbeda dengan Mama.. Tapi tolong Bi, Mama sudah berkorban banyak dan merelakan hidupnya untuk kita.. Jangan sakiti Mama" ucap Zahra panjang lebar, kini air matanya mulai meleleh membasahi cadar hitam yang ia kenakan
"Maafkan Abi, nak.." ucap Azam dengan bibir yang bergetar
"Abi sedang melupakan semuanya.. Maaf telah menyakiti perasaan mu.." lanjut ucap Azam dengan sentuhan lembut diatas tangan Zahra, putrinya itu.
"Tolong Abi bisa bersikap biasa saja, karena Abi dan Bu Annisa sudah menjadi keluarga karena pernikahan aku dan Mas Arka.. Dan akan membuat kita selalu berbuhungan, jangan membuat hubungan kekeluargaan ini menjadi tak nyaman ya bi.." ucap Zahra lagi panjang lebar sembari menahan sesegukannya dengan susah payah
Azam hanya mengangguk, mengiyakan ucapkan putrinya itu.
"Maafkan Abi.. tolong jangan beri tahu Mama.." ucap Azam dengan memohon pada putrinya itu
"Zahra tidak mau Mama sakit hati, Bi.. Zahra pamit pulang, Assalamu'alaikum.." ucap Zahra berpamitan sembari menaruh uang didalam tagihan bil makan siangnya, lalu mencium punggung tangan Azam dan berlalu dari hadapan Ayahnya itu.
Zahra berjalan dengan cepat meninggalkan restoran itu, dan masuk kedalam mobilnya kembali. Zahra mencoba menyeka air matanya, melap basahnya air mata dengan tissue yang ia ambil dari dalam tasnya.
Supir yang sedari tadi memperhatikan, membuatnya jadi bertanya.
"Bu Zahra baik-baik saja?" tanya supir yang mengkhawatirkan Zahra
"Tidak kok Pak, tidak apa-apa.. Antarkan saya pulang yaaa" jawab Zahra dengan ramahnya, lalu meminta untuk diantar pulang dengan nada sopannya
Mobil Zahra berjalan dengan kecepatan sedang dan meninggalkan halaman Restoran itu.
Azam yang merasa sudah sedikit membaik setelah percakapannya dengan putrinya itu, lalu berjalan keluar meninggalkan restoran.
Sewaktu akan masuk kedalam mobil, tiba-tiba seseorang menghentikan geraknya, pintu mobil yang sudah terbuka di dorong tertutup kembali oleh tangan seseorang yang ada di belakang Azam itu.
Azam langsung menoleh kearah seseorang yang ada dibelakangnya itu. Sangat terkejut Azam ketika mengetahui siapa orang yang ada di belakangnya itu.
__ADS_1