Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 64


__ADS_3

Sebelum sholat subuh Nisa sudah bolak balik ke dapur. Membuat suara-suara yang terdengar, karena rumah masih sangat sepi. Bahkan Rani dan Ijah pun belum bangun.


Zahra mendengarnya, lalu turun ke bawah karena kaget mendengar suara sesuatu yang pecah. Zahra dengan cepat menuruni anak tangga, dilihatnya sang Ibu mertua sedang membersihkan pecahan di lantai.


"Ibu.. Ibu lagi ngapain? Kenapa tidak meminta tolong pada Bi Rani dan Bi Ijah?" tanya Zahra dengan panik, sembari membantu Ibu mertuanya itu untuk membersihkan pecahan beling di lantai itu


"Umi demam dari semalam, bahkan sampai mengigau.. Ibu sangat panik, makanya Ibu melakukannya sendiri.. Barusan Ibu akan mengambil gelas tapi malah menyenggolnya lalu jatuh" ucap Nisa menjelaskan


"Ya Allah.. Oma sakit, kenapa Ibu tidak memberitahu Zahra dan Mas Arka.. Ibu pasti lelah sendirian terjaga" ucap Zahra dengan khawatirnya


"Biar ini dibereskan Zahra saja Bu, Ibu ke kamar saja.. Nanti Zahra nyusul untuk melihat Oma" lanjut ucap Zahra


Nisa menuruti ucapan menantunya itu, ia kembali ke kamar dengan segelas air hangat untuk Umi yang sudah menunggu di kamar.


Zahra membersihkan pecahan gelas itu, tiba-tiba Rani dan Ijah datang menghampiri.


"Ibu sedang apa? Mengapa tidak meminta tolong saja pada kami?" tanya Rani dengan cemas ketika melihat pecahan gelas itu sudah masuk kedalam pengki


"Tidak apa-apa kok Bi, ini tadi Ibu mau mengambil air untuk Oma, gelasnya tersenggol jadi pecah" jawab Zahra dengan ramahnya


"Biar Bibi yang lanjutkan saja Bu.." ucap Ijah lalu mengambil alih pengki dan sapu dari tangan Zahra


"Terimakasih ya Bi.. Oh iya tolong buatkan sarapan bubur ayam buat Oma yaaa" ucap Zahra


"Aku akan melihat ke kamar dulu kondisi Oma.." lanjut ucap Zahra sembari berjalan meninggalkan dapur


Zahra berjalan menuju kamar Ibu mertuanya yang kini diisi berdua bersama Omanya.


Zahra mengetuk pintu yang kebetulan sedikit terbuka itu, lalu masuk kedalam. Melihat Nisa yang kelelahan tidur dengan posisi duduk dan kepala yang disandarkan di kasur.


Zahra memegang kening Omanya, untuk memastikan demamnya.


"Ya Allah, demamnya tinggi sekali.." ucap Zahra lalu mengompres Oma dengan kompresan yang ada disamping meja tempat tidur.


"Al.. Umi rindu sekali.." ucap Umi dengan kurang jelas.


"Ya Allah Umi mengigau" ucap Zahra sembari menempelkan handuk basah di atas kening Omanya itu


Arka yang menyadari Zahra sudah tak ada di sampingnya, lalu mencari di toilet dan ruang ganti pakaian, tapi tetap tak ada. Lalu Arka turun kebawah karena Zahra selalu bangun lebih dulu darinya.


"Pasti Zahra di dapur, atau dia sudah bersiap di mushola" ucap Arka dalam batinnya.


Arka menuruni anak tangga, kondisi rumah yang masih saja sepi, lampu dimatikan membuat gelap.


"Pada kemana orang-orang, apa belum bangun?" tanya Arka dalam batinnya


Arka mencoba mencari-cari hanya terlihat Ijah baru masuk kedalam rumah habis dari halaman belakang.

__ADS_1


"Bi Ijah, apa Ibu, Oma dan istri saya ada di mushola?" tanya Arka pada Ijah yang membawa sapu itu


"Tidak ada, Den. Nyonya sedang sakit, Bu Annisa dan Bu Zahra sedang dikamar merawat Nyonya.." jawab Ijah lalu meninggalkan Arka


Arka terkesiap mendengar ucapan Ijah, ia langsung melebarkan langkahnya menuju kamar Ibunya itu. Dilihatnya Zahra, istrinya itu sedang mengompres omanya itu, Ibunya yang tidur sembari terduduk.


"Sayang.." ucap Arka pelang, sembari menyentuh punggung Zahra


"Mas, Oma demam, sedari tadi ia mengigau.." ucap Zahra ketika menyadari suaminya datang dengan suara yang pelan berbisik-bisik


Arka langsung menyentuh leher Omanya, dan betul saja demamnya masih juga tinggi. Arka sangat cemas.


"John... Tunggu aku" ucap Oma mengigau


Arka semakin cemas. Ia sedikit mengguncangkan tubuh Omanya bermaksud membangunkan.


"Oma, kita periksa ke dokter ya?" ucap Arka dengan wajah yang sangat cemas


"Tidak usah, Arka.. Oma hanya butuh berbaring dan minum obat" jawab Oma dengan lemah, dirnya mulai tersadar


Nisa yang mendengar itu langsung terbangun, Nisa mendukung putranya untuk membawa ibu mertuanya itu ke rumah sakit. Tapi tetap tidak mau.


Adzan subuh sudah berkumandang, Nisa, Arka dan Zahra sholat subuh berjamaah. Oma ditunggui oleh Rani dan Ijah.


"Ini bubur ayam untuk Nyonya sudah matang.." ucap Rani sembari menyodorkan mangkuk diatas nampan


"Terimakasih Bi.. Biarkan dingin dulu.. Nanti setelah sholat subuh biar Zahra yang menyuapinya, Oma sudah ingin segera minum obat" jawab Zahra lealu meninggalkan Rani


Arka kembali masuk kedalam kamar dengan air minum hangat dan obat penurun demam.


Nisa mengabarkan semuanya pada Shaina, dengan sangat cemas Shaina langsung mempersiapkan dirinya untuk terbang ke Indonesia siang ini bersama suaminya.


Umi yang baru selesai makan, hanya menghabiskan setengah mangkuk itu langsung diberi obat penurun demam oleh Arka, lalu dibantu untuk berganti pakaian oleh Nisa dan Zahra.


Arka memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor, ia sudah menghubungi Rio dan Yusuf untuk mengirim laporan melalui email.


Arka, Zahra dan Nisa tak sedikitpun meninggalkan Umi karena sangat merasa cemas.


Waktu semakin siang, Arka kembali mengecek kondisi Omanya itu.


"Alhamdulillah demam Oma sekarang udah turun" ucap Arka dengan merasa lega


Zahra yang baru saja tiba masuk kedalam kamar Nisa itu, datang dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan semangkuk sup ayam rempah-rempah. Zahra langsung menyuapi Oma makanan itu.


Oma memuji makanan yang enak itu, dan makan dengan lahapnya.


Arka dan Nisa yang sama-sama melihat itu begitu merasa senang.

__ADS_1


Arka dan Nisa langsung keluar, karena sudah menerima kabar Shaina dan Alif sudah tiba dirumahnya.


Arka dan Nisa menyambut kedatangan Shaina dan Alif di ruang tamu, lalu berbincang-bincang membicarakan Umi.


Tiba-tiba Zahra datang menghampiri, memanggil suaminya.


"Mas.." ucap Zahra terlihat sangat panik, sembari sedikit berlari


Membuat semua yang sedang diruang tamu menoleh ke arah Zahra yang panik itu


"Ada apa sayang?" tanya Arka dengan cepat menanggapi istrinya itu


"Oma badannya tiba-tiba mejadi dingin, panggil saja dokter untuk memeriksa.." ucap Zahra pada suaminya itu.


Semua jadi ikut panik, Arka dengan cepat mengeluarkan ponsel dalam saku celananya lalu menelepon dokter.


Shaina, Alif, Nisa dan Zahra berjalan lebih dulu menghampiri kamar dimana Umi berada.


"Assalamu'alaikum Umi.." ucap Shaina dan Alif bersamaan


"Umi sehatlah.. Shaina sangat khawatir.." lanjut ucap Shaina sembari memegang tangan Ibunya yang sudah semakin tua itu


"Shaina janganlah bersedih, Allah sangat menyayangi Umi.." ucap Umi dengan suara bergetar


Shaina tak mampu membendung air matanya, cairan bening itu mulai menetes dari sudut-sudut matanya.


"Shaina ingin Umi kembali sehat, maka Shaina tidak akan bersedih dan menangis" ucap Shaina lalu mengelus lembut pipi Ibunya yang keriput itu


Umi hanya menyunggingkan senyum diwajahnya, tiba-tiba matanya terpejam. Tak lagi ada suara yang ia keluarkan. Shaina panik, jantungnya berdebar lebih cepat.


"Umi.. Umi.." ucap Shaina dengan pelan seolah membangunkan Ibunya itu


Tapi tak ada respon apapun dari wanita tua yang terbaring lemah itu. Air mata Shaina pecah, ia menangis sejadi-jadinya.


"Hubby.." teriak Shaina sembari menoleh ke arah suaminya itu


Alif mencoba merangkul Shaina, ia mendekat pada tubuh Ibu mertuanya itu.


Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, Alif sebenarnya sudah tahu jika Ibu mertuanya itu sudah tidak lagi bernafas.


Tak lama dokter datang, semua mundur beberapa langkah menjauh, membiarkan dokter untuk memeriksa.


Air mata Nisa, Zahra, Arka ikut pecah saat dokter sudah memberi tahukan bahwa orang yang mereka sayang itu sudah tidak lagi bernyawa.


Shaina tak kuasa menopang lagi dirinya, ia lemas dan membuatnya tak sadarkan diri.


Pemakaman Umi dilakukan hari ini juga sebelum magrib tiba. Umi di makamkan di samping makam Alfath putranya itu.

__ADS_1


Nisa dan Arka harus menguatkan hatinya menerima segalanya. Satu persatu orang yang mereka sayang harus pergi meninggalkan mereka selama-lamanya.


"Hari yang penuh duka" ucap Arka dalam tangisnya


__ADS_2