Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 95


__ADS_3

Ahsan berlari dengan cepat keluar dari rumahnya, terburu-buru untuk menuju ke Masjid. Sementara Tiara membantu Zahra untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya itu, lalu menyiapkan Zahra untuk pergi ke rumah sakit, memasang cadar Zahra begitu juga dengan dirinya Tiara sudah melepas mukena putih yang ia kenakan tadi dan bersiap untuk mengantar putrinya ke rumah sakit.


"Maaaa.. Maafkan Zahra yaaa, ampuni semua kesalahan Zahra sama Mama selama ini.." ucap Zahra pada Tiara, dengan menahan sakitnya itu


"Ya Allah Nak.. Mama selalu memaafkan sayang.. Kamu yang kuat yaaa, kalian harus bertahan.." ucap Tiara menenangkan sembari ia gelisah menunggu Arka dan Azam kembali


Zahra terus merintih kesakitan, sakit yang luar biasa dibagian perutnya itu membuatnya merasa tak mampu menahan rasa sakit itu.


Ahsan baru saja tiba di Masjid. Sholat subuh berjamaah itu baru saja selesai, Arka sedang berdzikir diikuti oleh para jamaah. Ahsan tak mampu bersikap tenang, ia sangat mengkhawatirkan Kakaknya itu, membuat ia juga terburu-buru


"Abi.. Mas Arka.. Cepat pulang.. Mbak Zahra.. itu Mbak Zahra..." ucap Ahsan sedikit kencang karena rasa cemasnya dan suara yang terbata-bata


Arka langsung menoleh ke arah Ahsan, begitu juga dengan jamaah lain yang masih ikut berdzikir bersama Arka.


Arka melihat wajah Ahsan yang sangat panik, tiba-tiba perasaannya berubah menjadi tak enak dan tak karuan. Dengan cepat Arka bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Ahsan, lalu diikuti Azam.


"Zahra kenapa San?" tanya Arka dengan sangat panik


"Mbak Zahra..." ucap Ahsan tiba-tiba terhenti, ia begitu gugup, terbata-bata lidahnya mendadak kelu.


"Mbak mu kenapa San?" tanya Azam yang juga jadi penasaran


"Mbak Zahra sakit perutnya, cepat pulang" ucap Ahsan dengan langsung dan cepat melangkah keluar dari Masjid kembali kerumahnya.


Ahsan berjalan dengan sedikit berlari, begitu juga dengan Arka dan Azam. Arka langsung merasa gak enak perasaan, ia mempercepat langkahnya dengan berlari lebih dulu.


Arka yang sampai lebih dulu, langsung menuju kamar yang ia tempati tidur bersama istrinya itu. Benar saja, Zahra sedang merintih kesakitan, darah mengucur sampai ke kakinya. Wajah Arka berubah jadi sangat cemas.


"Sayang... kamu yang kuat yaaa" ucap Arka lalu menggendong istrinya menuju keluar rumah hendak membawanya kerumah sakit.


Zahra tak mampu menjawab ucapan suaminya itu, ia terus menahan sakitnya yang semakin terasa sakit. Air mata bercampur peluh terus bercucuran membasahi wajahnya, Zahra terus mencoba menenangkan dirinyaa sendiri dengan menarik nafas dan membuangnya dengan berat.


Tiara membukakan pintu mobil suaminya itu, agar Arka lebih mudah memasukan Zahra kedalam mobil. Azam baru saja tiba dirumah bersama Ahsan dan melihat Arka yang menggendong Zahra untuk masuk kedalam mobil.


"Kamu temani saja Zahra, biar Abi yang nyetir" ucap Azam yang ikut cemas langsung dengan cepat berlari mutar kearah bagian supir.


Arka menuruti ucapan Ayah mertuanya itu, ia langsung duduk di jok tengah bersama istrinya, sementara Tiara duduk di kursi depan disamping suaminya.


"Ahsan, kamu tunggu rumah yaaa.. Ponsel selalu aktifkan ya biar jika ada kebutuhan Mama bisa menghubungi mu" ucap Tiara dengan tergesa-gesa pada putra bungsunya itu


"Iya Maaa.." jawab Ahsan denga cepat


Mobil yang Azam kendarai melaju dengan sangat cepat menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Ra.. kamu bertahan yaaa.." ucap Azam yang juga sangat khawatir


"Ayoo Bi cepetan.." ucap Tiara pada Azam, yang tak sabar ingin segera sampai rumah sakit


Dengan gelisah Tiara terus menoleh ke arah putri juga menantunya yang duduk dibelakang itu, Arka yang terus menenangkan Zahra, juga terlihat sangat panik air matanya mulai menetes terus tanpa henti karena melihat istrinya yang merintih kesakitan itu.


Sesampainya di rumah sakit, Azam langsung berlari mencari bantuan para suster. Dengan cepat suster membawa bed dorong untuk membawa Zahra keruang IGD. Arka terus mengikuti sembari berlari cepat.


Zahra lalu di masukan keruang IGD, pendarahan terus mengalir hingga ke kakinya.


Dengan cepat dokter memeriksa kondisi Zahra.


"Sus cepat ambil tindakan" ucap dokter pada suster untuk mempersiapkan tindakan.


"Baik dok.." jawab suster dengan cepat


Lalu mempersiapkan injeksi untuk meredakan rasa sakit akibat kontraksi hebat. Zahra yang semakin tak kuat menahan sakitnya, ia sampai kehilangan kesadarannya, Zahra pingsan.


"Berikan penguat kandungan dosis yang cukup" ucap dokter setelah memerika kembali kandungan Zahra


"Baik dok.." jawab suster dengan cepat


Dokter terus memeriksa kandungan Zahra untuk mengawasi kondisi janin yang ada didalam rahim Zahra itu.


"Apa obat penguat kandungan sudah masuk?" tanya dokter setelah 10 menit kemudian


"Sudah dok.." jawab suster langsung


Dokter langsung terlihat merasa aneh, tak ada juga perbaikan dari kondisi Zahra.


"Kenapa dok?" tanya suster dengan cepat ketika melihat dokternya terdiam


"Buat surat persetujuan pada keluarganya, untuk tindakan lebih lanjut.. Sepertinya kontraksi ini udah sangat kuat, sehingga bayi harus lahir prematur" ucap Dokter dengan nada sendu


"Beri satu kali dosis lagi penguat kandungan untuk setengah jam sekarang.." lanjut ucap Dokter memberi arahan


"Baik dok" jawab suster dengan langsung


Suster keluar lebih dulu dan berlari dengan cepat menuju ruangan lain untuk membuat surat persetujuan. Lalu diikuti oleh dokter keluar dari ruang IGD itu.


Arka, Azam dan Tiara yang melihatnya langsung menghampiri dokter.


"Dokter bagaimana keadaan istri juga calon anak saya?" tanya Arka dengan suara lirihnya

__ADS_1


"Iya dokter bagaimana keadaan anak kami, juga calon cucu kami?" tanya Tiara tak sabar


"Mohon maaf, Pak.. Bu.. Saya harus menyampaikan berita buruk.. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi.. Anak Bapak harus sesegera mungkin di lahirkan prematur, karena kalau tidak bisa meninggal dalam kandungan.." ucap Dokter dengan wajah sedih dengan berita buruk itu


"Astagfirullah.." ucap Arka sembari menutup mulutnya, penuh kesedihan


"Kenapa ini bisa terjadi pada anak saya dok?" tanya Azam dengan tak percaya


"Dari awal kehamilan Bu Zahra sudah di vonis lemah kandungan, dan itu biasa terjadi pada orang-orang yang mengalaminya.. Itu biasa terjadi kapan saja" jawab Dokter menjelaskan.


"Lalu apa kemungkinan anak saya akan hidup selamat?" tanya Arka dengan suara lirihnya


"Insya Allah Pak.. Oh iya ternyata bayi yang dikandung oleh Bu Zahra itu kembar, membuatnya jadi berukuran kecil satu sama lain, tapi kondisinya sempurna" ucap Dokter memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Arka selama ini


"Ya Allah.. Alhamdulillah.." ucap Tiara bersyukur mendengar berita baiknya


"Setelah lahir dan selamat, bayi bapak akan kami rawat sampai siap untuk di rawat mandiri oleh keluarga.." ucap Dokter lagi memberitahukan


"Tindakan operasi sesar harus segera di lakukan Pak, Bu.. Pasien sudah semakin lemah.. Kalau dipaksakan bertahan, bisa jadi Ibunya juga tidak akan selamat.. Maaf saya menyampaikan berita buruk ini" lanjut ucap dokter lagi-lagi harus memberitahukan berita buruk


"Baik Dok.. lakukan apa saja, selamat istri juga anak saya.." ucap Arka yang semakin sedih dan pasrah


"Baik Pak.. Insya Allah saya akan selalu melakukan yang terbaik, semua atas izin Allah ya.." ucap Dokter mencoba menenangkan


Tak lama seorang suster datang dengan 3 lembar surat persetujuan dan pernyataan. Lalu memberikannya pada Arka untuk di tanda tangan, surat itu berisi persetujuan tindakan sesar dan melahirkan prematur.


Setelah Arka setuju dan menandatangani surat itu, dokter dan suster langsung bersiap untuk tindakan operasi sesar. Arka semakin merasa kacau, pikirannya, hatinya semua terasa semakin berat. Air matanya tak henti terus mengalir, asma allah dan dzikir selalu ia ucapkan. Tiara dan Azam yang sama-sama mengkhawatirkan, memperhatikan Arka yang sedang gelisah itu, sungguh cinta dan sayang Arka sangat terlihat dikala seperti ini.


Waktu sudah semakin siang, Arka, Tiara dan Azam melewatkan waktu sarapan.


Tiba-tiba ponsel yang ada dalam tas Tiara itu berdering, membuatnya terkaget. Dengan cepat Tiara mengambilnya dan melihat ke layar ponselnya.


"Panggilan.. Bu Annisa" tulisan dalam ponsel Tiara


Tiara tertegun seketika, ia baru menyadari bahwa sedari tadi Nisa tak di kabari.


"Siapa Ma?" tanya Azam yang melihat Tiara hanya tertegun melihat ponselnya


seketika Arka pun menoleh, karena suara ponsel yang berdering itu tak kunjung berhenti.


"Bu Annisa.." jawab Tiara dengan kelu


"Bagaimana ini Arka?" tanya Tiara pada Arka karena tidak ingin membuat Nisa terkaget dengan berita ini

__ADS_1


"Angkat saja Ma.. Tidak apa-apa bilang saja seadanya, kasihan Ibu pasti menunggu kabar dari aku sedari tadi" jawab Arka dengan senyum yang menyungging tipis diwajahnya, terlihat dipaksakan


__ADS_2