Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 49


__ADS_3

Arka setiap hari larut dalam kesibukannya, Zahra tahu kesibukan Arka sebenarnya adalah menyelesaikan skripsinya, sungguh Zahra sangat mengerti. Arka yang ingin segera lulus dan kembali ke Indonesia itu sangat bersungguh-sungguh dalam skripsinya, yang dipersulit itu. Arka mengerjakannya siang dan malam, hingga terkadang ia tertidur di meja belajarnya, membuatnya jadi tak tidur bersama dengan istrinya.


Zahra dan Arka sudah menikah dan tinggal bersama di Inggris, sudah 1 bulan lamanya.


Setiap hari dengan setia Zahra selalu menunggu suaminya untuk makan bersama, sampai ia selalu lupa dengan rasa laparnya.


Penyakit maag yang Zahra derita sejak dulu, yang sudah jarang kambuh, kini setelah menikah ia kembali merasakannya lagi.


Mual, perut kembung, dan pusing selalu menyerangnya kapanpun. Zahra yang ingin mandiri tak menyusahkan suaminya, selalu berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tanpa terlihat sakit didepan suaminya.


Siang berganti malam, Zahra terbangun untuk sholat malam, di sepertiga malamnya. Ia menyadari suaminya lagi-lagi tak tidur disampingnya, Zahra menoleh kearah meja belajar yang menghadap ke jendela itu, terlihat Arka tertidur dengan tangan dilipat di atas meja, dan tesungkur diatas bukunya.


Zahra menghampiri dengan perlahan, mendekat pada suaminya yang tertidur pulas itu.


"Ya Allah Mas, hati ku miris.. Lagi-lagi kamu tak pernah tidur disamping ku, sudah jelas kami tak pernah berhubungan badan lagi.. Kiniiii..." ucap Zahra dalam hatinya, lalu terhenti karena air mata yang menetes


"Semoga lelah mu, lillah ya Mas.. Sehat selalu, mungkin suatu saat aku akan merasakan bahagianya menjadi istri mu" lanjut ucap Zahra dengan menguatkan hatinya


Zahra tak berani membangunkan suaminya, karena dirinya sedang dalam keadaan sedih yang luar biasa. Zahra berjalan dengan perlahan ke toilet untuk mengambil wudhu, lalu dengan cepat memakai mukena.


Selepas sholat lagi-lagi air matanya tak tertahan, Zahra nangis sejadi-jadinya, sesegukan yang berusaha ia tahan dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ya Allah, hati ku belum bisa sangat kuat.. Aku hanyalah manusia biasa, aku merasakan sakit hati yang luar biasa, aku belum bisa menahan hati ku.." ucap Zahra dalam doanya


Arka sebenarnya sudah terbangun, karena mendengar suara tangis dengan sesegukan. Dengan penasaran, Arka mengintip Zahra yang sedang sholat di tempat ganti pakaian.


"Ya Allah kenapa sebenarnya istri ku?" ucap Arka dalam batinnya


Arka semakin penasaran, ia tak pernah melihat istrinya menangis sejadi-jadinya seperti ini. Apa lagi ia bilang sakit hati yang luar biasa. Arka terus terdiam dari balik tembok penghalang, ia terus memperhatikan istrinya yang menangis dalam doanya.


"Ya Allah kuatkan hatiku, buat aku menjadi istri terbaik untuk suamiku, istri yang tidak membebaninya, istri yang bisa bersyukur, dan istri yang mampu kuat bertahan membersamai suami ku.. Kuat kan hatiku Ya Allah, kuatkan aku untuk terus bisa bertahan dengan suamiku, dengan semua ini.." lanjut ucap Zahra sangat lirih


Arka begitu terpukul mendengar ucapan Zahra yang mengadu pada Rabb-Nya. Arka tahu dengan semua kesalahannya, pasti semua ini karena dirinya yang tak bisa berbuat baik pada istri yang ia nikahi sebulan lalu itu. Arka begitu menyesal.


Zahra mencoba menenangkan dirinya, ia bersujud sangat lama diatas sajadahnya, sembari mencoba menghentikan tangisnya.


Matanya sangat sembab akibat tangis yang tak bisa ia tahan, Zahra berusaha untuk terlihat biasa saja, Zahra berniat untuk ke toilet untuk membasuh wajahnya lagi.


Tiba-tiba ia melihat Arka yang juga akan masuk kedalam toilet.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arka dengan lembut pada Zahra yang belum menggunakan jilbabnya, dengan rambut terikat rapi


"Tidak apa-apa Mas.." jawab Zahra dengan senyum dipaksakan


"Mata kamu sembab, kamu habis nangis yaaa?" tanya Arka seolah-olah tak tahu segalanya


"Iya Mas.. Biasa habis curhat sama Allah.." jawab Zahra lagi-lagi dengan senyum yang ia paksakan


Zahra merasa aneh, Arka kini tiba-tiba memanggilnya dengan panggilan Sayang lagi, apa karena iba melihat matanya yang sembab.


"Mas mau ke toilet ya? Ya sudah Mas saja dulu.. Maaf aku tak membangunkan tadi, aku melihat Mas sangat lelah.." ucap Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arka tak bertanya lebih jauh lagi


"Iya sayang.." jawab Arka lembut dengan senyum manis


Zahra mengurungkan niatnya untuk mencuci muka, karena suaminya sudah tahu. Zahra berusaha untuk cepat kembali tidur, agar suaminya tak lagi melanjutkan pertanyaannya yang tadi.


Zahra kembali menggunakan jilbab instantnya, lalu kembali tidur dengan menarik selimutnya.


Arka yang sudah selesai sholat tahajud, berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan istrinya. Tapi sayang, Zahra sudah kembali tertidur. Arka melanjutkan tidurnya disamping Zahra, lalu memeluk istrinya dari belakang itu.


"Sayang, maafkan aku.. maaf sering mengabaikan mu.. Aku janji untuk memperbaiki segalanya dengan mu, untuk kita" ucap Arka berbisik di telinga Zahra Lalu tidur denga memeluk erat tubuh istrinya itu.


Matahari pagi mulai terbit dan bersinar tinggi menyinari kota London itu.


Seperti biasa, Zahra tetap memasak, menyiapkan sarapan untuk suaminya, walau terkadang jarang Arka untuk sarapan dirumah, tapi Zahra selalu menyiapkan bekal makanan untuk suaminya itu.


"Selamat pagi sayang.." ucap Arka menyapa Zahra yang tengah memasukan salad kedalam wadah, menyiapkan bekal untuk suaminya


"Selamat pagi Mas.." jawab Zahra dengan senyum bahagia


Makanan sudah tersaji di meja makan, harum masakan yang sangat menggoda.


"heeemmm wangi sekali.." ucap Arka sembari menghirup aroma masakan


Zahra hanya terseyum lebar pada Arka, yang jelas terlihat, karena tak menggunakan cadar itu.


"Aku sangat lapar, ayo kemarilah kita makan bersama, sayang.." ucap Arka begitu manja


"Ayo Mas.." jawab Zahra sembari berjalan mendekat, dengan kotak bekal ditangannya

__ADS_1


"Itu apa sayang?" tanya Arka ketika melihat kotak bekal ditangan Zahra


"Bekal untuk Mas makan siang.." jawab Zahra sembari menaruhnya di dekat Arka, lalu sibuk mengambil nasi kepiring Arka


"Terimakasih sayang.." ucap Arka sembari mengusap lembut pipi istrinya itu


Setelah sarapan selesai, Arka pamitan untuk pergi ke kampus, dan akan kembali sore hari setelah Ashar, begitu janji Arka.


Zahra pun mengiyakan. Dengan perasaan senang, tapi juga Zahra merasa aneh dengan perilaku suaminya yang tiba-tiba lembut, dan hangat seperti ini.


Sesampainya di kampus, Arka langsung menghubungi Ibunya. Masih didalam mobil, Arka ingin berbicara pada Ibunya tanpa siapapun tahu.


"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Arka ketika sambungan teleponnya diterima oleh sang Ibu


"Walaikumsalam sayang, bagaimana nih pengantin baru?" jawab Nisa sembari menggoda putranya itu


"Gimana apa nya Bu.. Arka ingin menanyakan bagaimana sikap dan perilaku ayah pada Ibu di awal pernikahan? Tolong ceritakan semuanya pada Arka Bu.."


Nisa terdiam, seketika ia mengingat masa indah dan semua perilaku Almarhum Alfath, suaminya. Hingga membuat matanya berkaca-kaca.


"Ayah mu itu orang yang sangat lembut, Ibu dulu tidak mencintai ayah mu, tapi karena kelembutan hati dan sikapnya terhadap istri, membuat Ibu sangat mencintai ayah mu. Ayah mu itu sangat mengikuti Rasull dalam mencintai istrinya, dia mengutamakan kepentingan istri juga anaknya, ayah mu rela bekerja dari rumah demi menjaga Ibu" jawab Nisa dengan senyum yang dipaksakan


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu nak?" tanya Nisa heran


Arka menceritakan semua kejadian yang ia lihat sewaktu Zahra sedang sholat malam itu, lalu Arka menceritakan perilakunya selama ini pada Zahra, istrinya.


"Sebenarnya aku terlalu sibuk dengan urusan ku Bu.. sering aku tertidur sembari duduk di meja belajar, belum lagi aku yang selalu pulang larut karena pekerjaan ku" ucap Arka penuh penyesalan.


"Ya Allah nak, berbaik hatilah pada istri mu. Dia rela meninggalkan keluarga dan orangtua yang mengasihinya sejak kecil, demi mengabdi pada pria asing yang menikahinya" ucap Nisa memberi nasihat


"Iya Bu, hati ku mulai terketuk ketika melihat Zahra menangis sesegukan seperti itu.. Aku tahu semua kesalahan ku.." jawab Arka dalam penyesalannya


"Nak, Ayah mu dulu orang yang sangat romantis. Beliau menghadiahi Ibu bulan madu romantis, jujur saja Ayah mu dulu lebih sibuk, Beliau mengurusi semua perusahaannya sendirian. Contohlah Rasulullah, juga Ayah mu nak, agar keluarga mu bisa bahagia.." ucap Nisa panjang lebar


"Iya Bu, Arka janji mulai saat ini akan belajar menjadi suami yang mencintai istrinya" jawab Arka dengan lirih karena mulai menahan tangisnya


"Ini baru anak Ibu, memperbaiki segala kesalahannya.. Semoga Allah meridhoi mu, sayang.." ucap Nisa sembari meneteskan air mata, begitu terharu


"Bawalah pekerjaan mu, kesibukan mu didalam rumah, buat itu sembari bermanja dengan istri mu. Dulu juga Ayah selalu seperti itu, walau dirinya fokus terhadap pekerjaannya didalam laptop, Ibu selalu duduk dipangkuannya, sembari bermanja, membuat istri merasa tidak di cuekin.." lanjut ucap Nisa memberi saran

__ADS_1


"Baik Bu, terimakasih pendengar setia, penasihat terbaik ku.. I love you Bu.." ucap Arka karena merasa sangat lega


__ADS_2