Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 91


__ADS_3

Zahra lalu menghampiri Arka ke kamar, lalu melihat Arka yang sedang terbaring di atas kasur.


"Mas.." ucap Zahra dengan lembut


"Aku sangat merasa lelah, gak enak badan juga ini rasanya" ucap Arka dengan suara yang mulai serak


Zahra langsung panik dan memegang kening Arka, dan benar saja Arka sangat demam.


"Ya Allah Mas.. Kamu demam" ucap Zahra dengan paniknya


Arka tak menjawab apapun ia sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan cepat Zahra membawakan kompres untuk suaminya itu, dan menempelkannya di kening Arka.


Zahra dengan setia mengurus suaminya yang belum berganti pakaian, belum membuka sepatu. Dengan pelan Zahra membuka sepatu dari kaki suaminya, lalu menggantikan Arka baju ganti karena ia tahu dari kemarin suaminya tak berganti pakaian.


"Makasih sayang.." ucap Arka ketika sadar ia sedang digantikan pakaian oleh istrinya itu


"Sama-sama Mas.." jawab Zahra dengan senyum ikhlasnya


Setelah selesai menggantikan baju untuk suaminya, Zahra keluar dari kamar untuk membawa baju kotor suaminya itu dan berniat untuk membawakan obat penurun demam yang selalu tersedia di kotak obat.


Tiara melihat Zahra sedang membuka kotak obat.


"Sayang kamu mencari apa?" tanya Tiara pada Zahra sembari berjalan menghampiri Zahra


"Obat penurun demam, Maa.. Mas Arka demam, dan mengeluhkan gak enak badan" ucap Zahra suaranya berubah menjadi sendu


"Ya Allah.. Mungkin Arka kelelahan yaa.." ucap Tiara dengan cepa


"Iya Ma.. Gimana dengan Ibu? Jangan beri tahu dulu Ibu soal Mas Arka ya, Maaa" ucap Zahra yang belum melihat Ibu mertuanya lagi


"Bu Annisa sudah sangat membaik.. Iya jangan dulu diberi tahu takutnya membuat Bu Annisa jadi cemas.." jawab Tiara dengan langsung


"Iya Ma.. Zahra masuk dulu ya" ucap Zahra sembari berjalan meninggalkan Mamanya itu dan menuju kamarnya kembali dengan segelas air minum dan obat penurun demam


---------


Dikantor


Arka sudah bilang pada Yusuf dan Rio agar menghandle pekerjaannya sampai ia kembali masuk ke kantor. Arka juga sudah mengabari bahwa ia akan beristirahat dulu untuk hari ini.


Tiba-tiba Risa datang ke kantor, mencari Arka dan berharap ingin bertemu Arka.


Arka yang sudah memberitahukan security dan semua karyawannya untuk mencegah Risa yang sewaktu-waktu datang ke kantornya yang selalu langsung masuk keruangan Arka itu untuk menunggu di ruang tunggu saja, untuk menghindari kejadian seperti kemarin.


"Maaf Bu Risa ingin bertemu siapa?" tanya resepsionis yang melihat Risa dengan langsung menghadang langkah Risa


"Aku ingin bertemu dengan Arka!" jawab Risa dengan jutek sembari bergaya membuka kaca mata hitam yang ia kenakan itu


Salah seorang dari resepsionis yang lain itu langsung menghubungi Rio dan Yusuf untuk memberitahukan kedatangan Risa.

__ADS_1


"Tapi Pak Arka tidak ada di kantor Bu.." Ucap Resepsionis mencoba memberitahu


"Tidak usah berbohong Kau!" ucap Risa dengan tak percaya


"Tapi betul Bu, Pak Arka hari ini tidak datang" ucap resepsionis yang mencoba menghalangi Risa


Tak lama Rio datang menghampiri keributan-keributan kecil itu.


"Ada apa ini?" tanya Rio pura-pura tidak tahu


"Saya ingin bertemu dengan Arka, dan membuat perhitungan padanya!" ucap Risa yang sudah tersulut emosi


"Arka tidak datang ke kantor hari ini, Ibunya masih sakit" ucap Rio memberitahukan


"Tidak usah berbohong kalian!" ucap Risa menaikan suaranya


"Kami tidak berbohong! Perhitungan apa yang ingin kau buat?" tanya Rio yang semakin kesal dibuat Risa


"Aku ingin membuat perhitungan dengan kalian! Gara-gara kalian perusahaan ku kembali kehilangan client!" ucap Risa, lagi-lagi dengan nada ditinggikan


"Harus saya beritahu semuanya disini? Hah! Wanita licik!" ucap Rio dengan nada tegasnya


Yusuf langsung keluar berniat untuk membeberkan bukti jika Risa terus-terusan berkoar-koar seolah ingin membuat perhitungan pada Arka.


Risa hanya terdiam ketika Rio bilang dirinya wanita licik. Otaknya seakan berputar, kenapa bisa Rio mengetahui semuanya.


"Maaf Nyonya jangan kira kita tidak punya bukti apapun, Apa perlu saya beberkan disini agar semua orang tahu?" ucap Yusuf yang masih tenang itu


"Lihat saja nanti saya akan membuat perhitungan pada Arka, bos kalian itu!" ucap Risa dengan nada yang mulai di turunkan lalu berjalan pergi meninggalkan kantor Arka sebelum security menarik paksa, karena security sudah berdiri di belakang dirinya siap untuk menarik tangannya untuk keluar dari kantor.


Risa sangat malu dibuat Yusuf dan Rio dalam kejadian itu, ia langsung masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya dengan cepat.


Perusahaan Risa kembali ditinggalkan oleh koleganya yang membatalkan sepihak atas kerjasama yang sedang mereka buat, karena kolega Risa tahu bahwa PT. Swain milik Arka disingkirkan namanya dalam kerjasama itu membuat kolega itu tak percaya pada Risa.


"Sial! Bisa kembali bangkrut perusahaan ku! belum lagi hutang yang harus ku bayar setelah mengeluarkan ku dari penjara" ucap Risa menggerutu sembari memukul stirnya


Risa kembali datang ke kantornya, dengan wajah kesal ia masuk kedalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.


Risa memanggil Haris asistennya menggunakan telepon yang tersedia di meja kantornya itu. Tak lama Haris datang menghampiri Risa, wajah Haris terlihat sangat ketakutan karena melihat raut wajah Risa yang sedang kesal itu.


"Bagaimana dengan PT. Din, apa sudah dibujuk untuk melanjutkan proyek kita?" tanya Risa pada Haris


"Sudah, Nyonya.. Tapi Tuan Dinata tetap ingin membatalkannya saja, jika PT. Swain tidak membersamai proyek kerja ini" jawab Haris sembari menundukan pandangannya


"Aaaah Sial!" ucap Risa sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya itu.


"Nyonya apa sebaiknya kita tetap bekerjasama dengan PT. Swain? Tuan Arka yang sudah banyak membantu kita" ucap Haris dengan menahan perasaan takutnya


"Kenapa kau selalu mengungkit kebaikan si Arka itu?" tanya Risa dengan sangat ketus

__ADS_1


"Karena Tuan Arka sudah membantu semua karyawan bisa digaji kembali dan tetap bertahan" jawab Haris tanpa pikir panjang


Risa langsung menatap tajam ke arah Haris, tatapan yang membunuhnya.


"Kauuuuu!" ucap Risa bersungut dengan sangat kesal lagi-lagi sembari menggebrak mejanya.


Haris benar-benar merasa ketakutan, ia langsung keluar dari ruangan Risa tanpa permisi. Ia sudah sangat tahu kalau Bosnya itu marah besar.


Haris keluar dari ruangan Nisa dan menuju ruangan karyawan yang berkumpul itu.


"Hah.. Hah.. Hah..." suara Haris yang ngos ngosan setelah terburu-buru itu


"Kamu kenapa Haris?" tanya seorang karyawan yang memperhatikan kedatangan Haris itu


Haris mencoba menenangkan dirinya, dan menghilangkan capeknya dulu. Setelah dirasa lebih lega, Haris menceritkan semuanya pada seluruh karyawan yang berkumpul mendengarkan Haris itu.


"Nyonya Risa ingin kembali mengambil alih semua sahamnya, tanpa PT. Swain lagi.. Kenyataannya PT. Din saja sekarang mengundurkan diri sepihak, perusahaan ini pasti bangkrut lagi, kita pasti tidak akan digaji lagi.." ucap Haris membeberkan semuanya dan berniat memprovokasi, suaranya pelan agar tak terdengar oleh Risa


Semua karyawan lain mendengarkan dengan sangat fokus dan serius mencerna semua ucapan Haris.


"Kita harus mogok kerja kalau Nyonya Risa benar-benar memutuskan kerjasama dengan PT. Swain, Tuan Arka yang membantu kita.." ucap Haris lagi


"Kau benar, keluarga kita pasti kena imbasnya kalau kita tidak di gaji lagi.. Saya setuju kita harus membuat perhitungan pada Nyonya Risa jika benar semua itu terjadi.." ucap seorang karyawan yang menyetujui


"Iya saya juga setuju.. Nyonya Risa pasti takut kalau kita bersama menentangnya.. Semua ini demi kebaikan" ucap seorang lagi yang setuju


Akhirnya kesepakatan terjadi antara semua karyawan itu, yang di komandoi oleh Haris itu. Mereka semua langsung keluar kantor dan menghentikan semua aktivitas kerja mereka.


Risa belum menyadari jika semua karyawannya sudah mogok kerja dan demo di depan gedung kantor miliknya itu.


Tiba-tiba suara-suara bising, yang sedang berorasi itu terdengar oleh Risa.


"Kami menolak menghentikan kerjasama dengan PT. Swain" ucap semua karyawan bersamaan membuat suara yang cukup kencang


Risa yang masih termenung diruangannya, seketika terkesiap mendengar suara-suara kencang dari luar itu.


"Suara-suara kegaduhan apa itu?" ucapnya pada diri sendiri, lalu melihat keluar jendelanya


Sungguh terkesiap Risa ketika melihat seluruh karyawannya itu sudah bersatu membuat sebuah ormas baru rasanya, sembari berteriak-teriak.


Risa langsung keluar dari ruangannya, benar saja tidak ada seorangpun di dalam ruangan, ia langsung berlari keluar gedung kantornya.


Demo itu hingga menarik perhatian para wartawan, dan menjadi berita dadakan hingga disiarkan di televisi, membuat Arka dan Zahra tahu karena diberitahu oleh Yusuf juga Rio.


"Mas sebenarnya ada masalah di perusahaan?" tanya Zahra setelah mengetahui berita itu


"Aku sih merasa tidak ada masalah sayang.. Mereka saja yang bermasalah" ucap Arka sembari bersandar manja di pangkuan istrinya itu


"Benar Mas?" tanya Zahra meyakinkan, sembari terus memainkan rambut suaminya yang lembut itu

__ADS_1


"Iya sayang.. Percaya ya sama Aku.." jawab Arka dengan cepat


Zahra hanya melemparkan senyum manis pada suaminya yang masih lemas itu walau sudah turun demamnya.


__ADS_2