Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 6


__ADS_3

Arkana menikmati udara pagi di Inggris dari jendela kamarnya. Matanya terus memandang kesana kemari, melihat pemandangan kota itu dipagi hari, sesekali menghirup udara begitu panjang.


Semalam Arkana tidur sendiri di kamar almarhum ayahnya, kamar yang membuatnya bisa merasakan harum tubuh ayahnya.


"Ayah.. Sekarang Arka disini, dimana dulu ayah tinggal dan besar. Semoga aku bisa menjadi pria seperti ayah.." ucap Arkana sembari memejamkan matanya


Arkana terus menghembuskan nafasnya dalam-dalam, tiba-tiba aroma masakan yang baunya sangat wangi dihidung menggoda dirinya.


"Aaaahh.." suara hembusan nafas Arkana


"Wangi apa ini? Oma masak deh kayaknya.." ucap Arkana pada dirinya sendiri


Arkana menuruni anak tangga, hendak menghampiri sumber bau wangi masakan itu berada.


"Hallooo.. Jagoan, Selamat pagi" sapa Papa saat melihat cucunya menghampiri


"Selamat pagi Oma, Opa.." sapa Arkana juga ketika melihat kakek neneknya di dapur


"Selamat pagi sayang, ayoo sarapan.." ucap Umi dengan senyum lembutnya


"Nanti siang kita jalan-jalan, kita temui Tante Shaina yaaa.." ucap Papa sembari menepuk pundak cucunya yang sedang berdiri disampingnya


*******


Nisa merasa kesepian, biasanya ia menyiapkan segelas susu hangat untuk putranya, kini ia hanya menyiapkan teh hangat untuk Umma, Aba dan dirinya.


"Sepiii ya gak ada Arka.." ucap Nisa setelah menuangkan teh hijau kedalam gelas Aba, matanya seakan kosong, melamun


"Iyaaa, Umma kehilangan banget.." jawab Umma yang juga merasakan sepi

__ADS_1


"Iya rumah ini jadi sepi gak ada yang lari-lari" ucap Aba menambahi.


Hari ini Nisa ada undangan pernikahan teman sesama pengajar di ponpes. Umma dan Aba pun di undang. Nisa, dan kedua orangtuanya akan menghadirinya, dengan datang bersama.


Waktu sudah semakin siang. Nisa, Umma dan Aba sudah bersiap untuk pergi ke acara itu dengan mobil kesayangan Nisa. Aba yang semakin tua, membuatnya jadi tidak bisa mengendarai mobil sendiri, karena penglihatannya sudah mulai tidak jelas lagi.


Sesampainya di sebuah gedung yang cukup mewah, Nisa, Aba dan Umma langsung masuk kedalam untuk mengucapkan selamat pada mempelai yang juga guru pengajar di ponpes milik Aba itu.


"Selamat yaaa Bu Ira dan suami, semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah yaaa.." ucap Nisa memberi selamat pada Ira yang juga punya pertemanan yang dekat dengan dirinya


Nisa, Umma dan Aba langsung menuju meja perasmanan, dimana disediakan banyak menu makanan dan dilengkapi dengan beberapa makanan penutup juga minuman.


Nisa yang kurang berselera makan dikarenakan pikirannya pada Arkana, memilih untuk tidak mengambil hidangan nasi dan lauk pauk. Nisa langsung menghampiri sebuah meja yang berisikan tempat puding dan minuman.


Sewaktu Nisa mencari tempat duduk untuk menikmati makanan yang ia bawa itu, tiba-tiba ia menabrak seseorang dari belakang. Matanya mencari tempat duduk yang kosong kesana kemari, kakinya melangkah tidak sama dengan pandangannya.


"Astagfirullah... maaf maafkan saya tidak sengaja..." ucap Nisa ketika minuman yang ia bawa membasahi sepatu pria yang ia tabrak


Nisa menoleh perlahan ke atas, ke arah dimana wajah seseorang memanggil dirinya.


Seketika wajah Nisa berubah menjadi sangat panik, cemas tak karuan. Tubuhnya salah tingkah, terlihat jelas Nisa begitu gugup.


"Kak Azam..." ucap Nisa terbata-bata, seakan berat ada yang menahan dalam mulutnya


"Kak Azam, Nisa minta maaf, semua itu tidak sengaja.." ucap Nisa dengan langsung karena ia merasa tidak enak


Ini adalah kali pertama, pertemuan Nisa kembali dengan Azam setelah hari dimana waktu itu Azam ingin melamar Nisa menjadi istrinya.


"Oh.. tidak apa-apa Nisa" jawab Azam dengan santai

__ADS_1


"Sekali lagi mohon maaf.." ucap Nisa sembari tak berani menatap wajah Azam


"Santai aja Nis.." jawab Azam dengan ramahnya


"Kok Kak Azam bisa di Undangan yang sama?" tanya Nisa sebenarnya pelan, agar tak terdengar oleh Azam, dan hanya bermaksud berbicara pada diri sendiri.


"Aku berteman dengan Adi sang mempelai pria, dia teman ku.." jawab Azam pada Nisa


"Ohh begitu yaaa.." jawab Nisa merasa tak enak telah menanyakan hal seperti itu


"Mari kak Azam, Nisa permisi.." lanjut Nisa terburu-buru, seperti biasa Nisa tidak ingin berlama-lama bersama Azam, ia juga merasa tak nyaman


Nisa berlalu meninggalkan Azam yang sedang bersama seorang pria, yaitu temannya. Nisa memutuskan untuk kembali mengambil minuman. Terlihat 2 orang wanita berjilbab tanpa cadar sedang berbincang didepan stand minuman yang Nisa hampiri.


Suaranya seakan keras karena terganggu oleh bisingnya suara spiker yang melantunkan lagu dari grup Marawis, membuat Nisa tak sengaja mendengarnya.


"Yun, wanita bercadar tadi yang berbicara dengan Azam itu adalah Annisa, wanita yang Azam suka sedari zaman kuliah dulu. Kamu ingat tidak?" ucap seorang wanita berjilbab hijau


"Oh jadi itu wanita yang membuat si Azam gak nikah-nikah sampe sekarang?" jawab Yuni yang berjilbab Biru


"Iyaaa itu, si Azam segitunya suka sama wanita itu.. Sampe dia nolak Aku untuk taaruf dulu tuh.. Azam juga sampe coba melamar Annisa pas tahu sudah menjadi janda coba" ucap Gita yang ternyata pernah menyimpan rasa pada Azam sewaktu dulu.


Nisa tidak sengaja mendengarnya, ia masih mengantri untuk mendapatkan segelas minuman itu, karena banyak anak-anak yang juga berebut untuk mengambilnya.


"Tapi mungkin sekarang Azam udah move on, kemarin dia sudah mengkhitbah Tiara, yaaa walau penampilam Tiara gak sesempurna Annisa yang bercadar" lanjut ucap Gita yang ternyata adalah teman Azam sewaktu SMA sampai kuliah sebelum Azam pindah ke Khairo waktu itu.


Nisa mendengar lagi ucapan itu, walau sebenarnya ia akan pergi berlalu dari belakang kedua wanita itu, tapi suara mereka terdengar jelas di telinga Nisa.


"Alhamdulillah kalau Kak Azam sekarang sudah menemukan calon istrinya.." ucap Nisa dalam hati, hatinya sedikit merasa lega.

__ADS_1


"Mungkin sekarang tidak akan ada lagi yang akan mencoba melamar aku.." lanjut ucap Nisa dalam hatinya


__ADS_2