Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 89


__ADS_3

Sudah cukup lama Nisa kembali diperiksa oleh Dokter. Kegelisahan tampak jelas dari raut wajah Arka. Hatinya seakan bergemuruh hebat, jantungnya berdebar-debar tak karuan.


Sungguh kecemasan itu membuatnya menjadi pucat pasi. Arka sedari tadi mondar-mandir didepan ruang IGD. Zahra dan Tiara yang duduk bersama melihat jelas ke khawatiran dari raut wajah Arka.


Kali ini Arka tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya itu, hatinya teramat sakit.


"Mas kita terus berdzikir ya minta sama Allah untuk kesehatan Ibu.." ucap Zahra mencoba menenangkan suaminya yang kini tengah menempelkan tubuhnya di tembok


"Iya sayang" jawab Arka sembari menatap lembut wajah istrinya itu


"Kamu yang tenang dulu" ucap Zahra sembari menggenggam tangan suaminya itu, menguatkan


Arka hanya menganggukan kepalanya, dengan senyum tipis yang tersungging diwajahnya. Arka diajak Zahra untuk duduk di kursi ruang tunggu itu, langkahnya terhenti ketika Rio datang menghampiri.


"Arka.." ucap Rio memanggil


Seketika Arka menoleh ke arah sumber suara itu. Rio masih berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Arka dan Zahra. Rio memandang ke arah Tiara, lalu saling memeluk erat dengan Arka. Arka semakin gontai, ia tak kuat lagi memikul sedihnya itu didepan sahabat almarhum ayahnya itu.


"Kamu sabar yaaa.. Tenang dulu.. Kita terus minta sama Allah semua yang terbaik" ucap Rio sembari mengelus punggung Arka yang larut dalam pelukannya itu


Arka hanya menganggukkan kepalanya, ia sudah tak mampu berkata-kata apapun rasanya. Sedih yang teramat dalam bagi Arka.


Sudah cukup lama dokter memeriksakan Nisa di ruang IGD, tiba-tiba pintu itu terbuka, dan dokter kembali keluar, kali ini dengan langsung menghampiri Arka dan keluarga yang lain.


"Bagaimana kondisi Ibu saya dokter?" ucap Arka dengan tak sabar


"Alhamdulillah pasien sudah sadarkan diri.. Dan berita baiknya tidak ada keluhan yang sangat berarti untuk sekarang" ucap Dokter dengan menyunggingkan senyumnya


Arka dan Zahra dapat bernafas lega, begitu juga dengan Rio dan Tiara yang mendengarnya, ikut merasakan senang.


"Untuk sementara pasien masih harus di rawat di rumah sakit ya Pak, minimal untuk semalam ini.. Kami masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena takut ada pendarahan di otaknya" ucap Dokter memberitahu


"Baik Dokter.. Terimakasih" jawab Arka yang kini bisa tersenyum dengan tenang


Tak lama seorang suster keluar dari ruang IGD, dan menghampiri Arka yang masih berkerumun itu.


"Maaf Pak, pasien ingin bertemu dengan anaknya" ucap suster itu memberitahukan


"Saya boleh masuk dok?" tanya Arka karena takut belum di izinkan


"Silahkan.. tapi hanya seorang saja yaaa" jawab Dokter dengan cepat.


Arka lalu mengikuti suster untuk masuk kedalam setelah berpamitan pada istri, mertua juga Rio itu. Arka lalu diberi pakaian khusus ruang IGD sebelum bertemu dengan Nisa, setelah digunakan barulah Arka berjalan perlahan untuk bisa menemui Ibunya itu.

__ADS_1


"Buuu.." ucap Arka bibirnya bergetar, tangannya mencoba meraih tangan Nisa


Lagi-lagi air matanya tak kuasa ia tahan, kali ini adalah rasa syukurnya atas karunia Allah yang memberikan kesempatan lagi untuk dirinya tetap bersama dengan Ibunya itu


"Jangan Nangis, Nak.." ucap Nisa dengan senyum dan badan yang cukup lemas


Arka memeluk tubuhnya yang terbaring lemas itu, sungguh pikirannya sudah kemana-mana tak karuan. Ia sangat kacau jika melihat Ibunya kesakitan, itu adalah hal yang tak pernah mau ia lihat.


"Ibu yang sehat yaaa.. Calon cucu Ibu sedang berjuang untuk ketemu kita" ucap Arka dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya


Nisa hanya mengangguk, air matanya menetes karena sudah tak dapat ia bendung lagi rasanya. Ia masih belum siap jika harus meninggalkan putranya ini, apa lagi sebentar lagi dirinya akan mempunyai cucu dari putranya itu.


"Maafkan Ibu yang membuat mu sedih yaaa" ucap Nisa dengan suara lemahnya


Arka terdiam ia hanya memeluk erat Ibunya yang masih terbaring itu.


"Maaf Ibu telah merepotkan mu juga istri mu" ucap Nisa menatap Arka dengan sangat lembut


"Ibu tidak boleh berkata seperti itu.. Aku tidak direpotkan oleh Ibu.." jawab Arka menenangkan Ibunya itu


Tak lama suster masuk kembali dalam ruangan IGD itu, menghampiri Nisa yang masih bersama Arka itu.


"Permisi Pak, pasien akan dimasukan obat dan akan diperiksa lanjutan untuk CT Scan malam ini.. Bapak di mohon untuk menunggu diluar" ucap suster dengan ramahnya pada Arka


"Arka selalu menemani Ibu.. Arka diluar ya Bu.. Ibu yang kuat" ucap Arka lalu mencium kening Ibunya dengan sangat lembut


Arka keluar ruangan, matanya sembab karena menangis sedari tadi, langkahnya mulai gontai. Zahra memperhatikan betul suaminya yang baru saja keluar dari balik pintu ruang IGD itu.


"Mas bagaimana keadaan Ibu?" tanya Zahra dengan cemas


"Ibu sudah sadar, dan lebih baik. Sekarang Ibu akan diberi Obat lalu persiapan untuk melakukan CT Scan nanti malam.." jawab Arka memberitahu pada semua yang sudah menunggu sedari tadi


"Alhamdulillah.." ucap Zahra dan Tiara bersamaan


"Alhamdulillah.." ucap Arka ikut mengucap syukur


"Sayang kamu lebih baik pulang dulu yaaa, kamu harus istirahat, kamu juga kan belum makan sedari tadi.." ucap Arka pada istrinya, mengkhawatirkan Zahra, istrinya itu


"Mama tolong yaaa temani dulu Zahra dirumah" lanjut ucap Arka pada Tiara


"Iya, Nak.." jawab Tiara dengan cepat sembari mengangguk mengiyakan


Zahra akhirnya menuruti perintah suaminya itu, ia kembali pulang kerumah bersama Mamanya diantar kembali oleh supir. Sementara Arka masih menunggu kondisi Nisa bersama Rio dan menunggu kedatangan Alif. Rio ikut menemani Arka, dengan setianya. Rio terus memberikan dukungan pada Arka, berharap bisa menguatkan Arka.

__ADS_1


Waktu dzuhur sudah lewat, Arka baru tersadar kini waktu sudah pukul 1 siang. Arka bersama Rio sholat dzuhur di mushola rumah sakit. Dalam sujudnya Arka penuh dengan doa-doa untuk Ibunya itu, lagi-lagi Arka meneteskan air matanya. Rio memperhatikan wajah Arka yang lagi-lagi menangis. Seusai mengusap wajahnya, Rio langsung mengajak Arka untuk makan siang.


"Ka.. Kamu juga pasti belum makan kan, kita makan dulu yuuu, jangan sampai kamu juga sakit, kasihan istri mu akan kerepotan nanti" ucap Rio dengan langsung memberitahukan akibatnya, karena ia tahu Arka tidak akan selera makan disaat seperti ini.


"Tapi aku tidak lapar.." jawab Arka dengan cepat


Betul saja dugaan Rio, Arka jika ada masalah dan sedang sedih selalu melupakan urusan perutnya dan juga lupa akan memperhatikan dirinya sendiri.


"Makan sedikit saja walau kau tak lapar.. Jaga kesehatan mu, itu sangat penting saat sekarang! Ibu juga istri mu sedang membutuhkan diri mu, ingat itu!" jawab Rio sembari memaksa dan meraih tangan Arka untuk ikut bersamanya ke kantin rumah sakit


Di kantin Rio memesankan 1 porsi makan siang, nasi beserta lauknya untuk Arka, dan 1 porsi lagi untuk dirinya, juga 2 cangkir kopi.


Arka terlihat asik dengan secangkir kopinya saja, tanpa menyentuh nasinya.


"Ka.. Ayo makan sedikit saja.." ucap Rio membuyarkan lamunan Arka


Arka lalu menatap kearah makanan yang ada dihadapannya itu, rasanya tak sangat berselera. Dengan sangat merasa terpaksa sedikit demi sedikit masuk kedalam mulut Arka.


Alif baru saja tiba di rumah sakit, ia langsung mendatangi tempat informasi untuk menanyakan Nisa.


"Sus maaf, saya mau bertanya.. Pasien atas nama Annisa berada dimana ya?" tanya Alif dengan sopan dan dengan bahasa Indonesia yang kaku


"Masih di ruang IGD, Pak.." jawab suster setelah melihat sebuah data dalam komputer dihadapannya itu


Alif langsung tergesa-gesa menuju ruang IGD, dilihatnya ruang tunggu yang sepi, tak terlihat Arka ataupun Zahra disana. Dengan cepat Alif menghubungi Arka melalui ponselnya itu.


"Kamu dimana Ka? Om sudah di ruang tunggu IGD ini" ucap Alif setelah sambungan teleponnya diterima oleh Arka


"Arka segera kesana Om" jawab Arka lalu memutuskan sambungan teleponnya itu


Arka dan Rio sedikit berlari, dan dengan langkah lebar menuju kembali ke ruang tunggu depan IGD itu. Arka melihat seorang pria dengan baju rapi, dan stelan jasnya sedang memperhatikan kearah pintu IGD, dengan cepat Arka menghampiri Alif.


"Om.." ucap Arka sembari sedikit berlari lalu memeluk erat tubuh Omnya itu


"Arka.." ucap Alif menyapa ketika Arka langsung memeluk tubuhnya itu


"Arka gak sanggup Om jika harus lewatin ini sendirian, Arka sedang memikul beban yang sangat berat" ucap Arka lirih dalam pelukan Omnya itu


"Kamu tenang ya, ada Om disini.." ucap Alif menenangkan


"Aku memang sudah menjadi suami, aku juga sudah dewasa. Tapi aku adalah tetap seorang anak laki-laki yang membutuhkan bahu orangtua" ucap Arka sembari melepaskan pelukan itu perlahan


"Om mengerti.." jawab Alif cepat

__ADS_1


__ADS_2