
Arka sudah mulai membaik, ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Shaina dan Alif yang menjemput Arka untuk pulang kerumah.
"Arka, kamu untuk sementara tinggal dirumah kami dulu, jangan dulu di Resto. Keadaan masih bahaya.." ucap Alif mengkhawatirkan Zidan lebih nekad lagi
"Iya, Arka.. Biar kamu lebih aman dan ada yang mengurusi juga.." ucap Shaina menambahi
"Ya sudah gimana Tante dan Om saja, gimana baiknya.." jawab Arka pasrah
"Oh iya Tante, kok Aira tidak ada menjenguk ku lagi ya?" tanya Arka sangat kehilangan sosok Aira yang memang tak menampakan lagi dirinya dihadapan Arka dan Shaina setelah kejadian hari itu
"Iya ya kemana ya Aira sebenarnya? Kemarin-kemarin dia sempet mengirim pesan pada Tante kalau dia tidak bisa bekerja dulu, terus waktu Tante balas tidak terkirim pesan itu.." jawab Shaina dengan jujur
"Kemana ya Aira? Apa mereka baik-baik saja?" ucap Arka sebenarnya pada diri sendiri
Alif dan Shaina memperhatikan Arka dari kaca depan, terlihat Arka begitu kehilangan dan mengkhawatirkan sosok Aira.
Sesampainya dirumah, yang begitu megah dan besar itu Arka langsung dibantu masuk kedalam oleh Alif karena masih kesulitan untuk berjalan.
Arka duduk di sofa ruang tamu, ia terlihat masih kepikiran tentang Aira. Sementara Shaina dan Alif memasukan barang Arkana kedalam kamar yang persiapkan untuk Arkana.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi. Bi Ayu, asisten rumah tangga dari Indonesia yang membukakannya.
"Permisi tuan, ada tamu ingin bertemu dengan Nyonya Shaina dan Tuan Alif.." ucap Bi Ayu pada Arkana
"Oh baiklah.." jawab Arka, ia mengerti bahwa ia harus meninggalkan sofa itu.
Alif dan Shaina yang baru keluar dari kamar, langsung melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Esther dan Albert orangtua dari Zidan. Arkana kembali disuruh duduk oleh Alif, dan Arkana menurutinya.
"Permisi Tuan, Nyonya.." ucap Albert yang tentu umurnya jauh lebih tua dari pada Alif dan Shaina
"Mari silahkan duduk.." ucap Shaina dengan senyum ramah yang terpaksa
__ADS_1
"Kami datang kemari ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya khususnya pada Arkana, juga Tuan dan Nyonya.." ucap Albert membuka pembicaraan
"Bagaimana keadaan kamu Arka?" ucap Esther perhatian pada Arka yang duduk disamping Shaina
"Alhamdulillah, sudah membaik.." jawab Arka dengan datarnya
"Mohon maaf atas kesalahan Zidan ya Arka.. Kami yang akan memastikan Zidan tidak akan lagi melakukan ini semua.." ucap Albert sangat ramah
Arka hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa bisa kalian mencabut tuntutan kalian untuk Zidan?" ucap Nyonya Esther dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Maaf tuntutan apa yaa?" jawab Alif yang sebenarnya tidak mengerti maksud Esther
"Tuntutan di kantor polisi.." ucap Esther menjelaskan
"Maaf kami tidak melaporkan Zidan.. Kami masih menunggu niat baik dari kalian" jawab Shaina dengan cepat
Esther dan Albert saling pandang, mereka sudah salah sangka pada keluarga Swain ini.
"Jadi Zidan masuk penjara?" tanya Arka dengan penasaran
"Iya.. malam tadi kami mendapat telepon dari kantor polisi, mengabarkan Zidan kini menjadi tahanan" jawab Albert dengan wajah bingung
"Mungkin Zidan dilaporkan atas kasus lain?" ucap Alif yang sudah mencap Zidan si pembuat masalah
"Kami juga belum tahu, Tuan.." jawab Esther dengan cepat
Esther dan Albert dengan cepat berpamitan, dan berlalu hendak ke kantor polisi.
"Aneh yaa.." ucap Shaina tiba-tiba setelah kembali ke sofa, setelah mengantar Esther dan Albert kepintu
__ADS_1
"Mungkin gak karena kasus dengan Aira lagi?" ucap Arka yang sedang melamun banyak pikiran
"Bisa jadi.. yaa kalau kata Om sih, Zidan emang pembuat onar, pasti saja membuat kerusuhan ditempat lain.." ucap Alif menanggapi semua itu
********
Hari-hari berlalu, Arka sudah masuk kuliah seperti biasa, dan sudah mulai kembali ke Resto seperti dulu setelah sekian lama ia tak beraktifitas.
Dikampus Arka sangat berharap bertemu Aira, bahkan dengan sengaja Arka mencari Aira ke fakultasnya dan malah mendapatkan jawaban yang membuatnya tambah kaget.
"Aira, memberi kabar bahwa ia memutuskan untuk cuti dari kuliahnya dengan waktu yang belum bisa ia tentukan" ucap seorang dosen pengurus fakultas Aira
Arka jadi tambah bingung kemana Aira sebenarnya. Setelah selesai kelas, Arka memutuskan untuk tidak langsung pulang, ia duduk di tangga, wjalan dekat ke parkiran.
"Jujur saja aku kehilangan kamu Aira.. Aku juga merindukan Dira.." ucap Arka pelan sembari menatap kosong kedepan
Sabrina mendengar ucapan Arka itu, lalu menghampiri Arka dengan melingkarkan tangannya di pundak Arka.
"Apa kamu bilang Arka? Oh my good! Please Arka janganlah kamu tertarik sama janda!" ucap Sabrina dengan wajah sombongnya
"Astagfirullah.." ucap Arka sembari melepaskan tangan Sabrina di bahunya
"Please Arka banyak sekali pria yang ingin dekat dengan Sabrina, beruntunglah kamu Sabrina yang mendekat!" ucap Yasmin sembari melipat kedua tangannya lalu diikuti suara tawa ketiga wanita itu
"Ha-ha-haaa"
"Maaf kamu bukan muhrim saya" ucap Arka lagi-lagi menolak untuk dirangkul oleh Sabrina
Arkana lalu bangkit dan berlalu meninggalkan ketiga wanita itu, langsung menaiki motornya dan menjauh meninggalkan kampus.
Arka berniat untuk mendatangi rumah kontrakan Aira, yang pernah ia mengantarkannya dulu. Sesampainya disana terlihat rumah itu begitu sepi, tak ada penghuni.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, Apa anda melihat Aira dan Dira yang mengontrak disini?" ucap Arka berusaha menanyakan pada seorang yang lewat
"Oh iya iya, Pagi buta sekali Aira dan anaknya pergi, bilangnya mau pulang ke desa. Entah dimana tapi.." jawabnya dengan cepat sembari berlalu meninggalkan Arkana