
Disepanjang perjalanan yang sangat lama itu, Arka terus memutar otaknya, menerka-nerka dengan motif dan tujuan mereka sebenarnya.
"Aku merasa tidak punya musuh.." ucap Arka tiba-tiba pada Rio
"Aku percaya pada mu.." jawab Rio sembari menoleh ke arah Arka lalu kembali fokus pada jalan kembali.
Dirumah Nisa yang benar-benar ketakutan itu langsung berdiam di kamarnya, ditemani dengan kedua asisten rumahtangganya, Rani dan Ijah. Terlihat jelas dari wajahnya ia menyimpan ketakutan yang luar biasa.
Arka dan Rio sudah menempuh perjalanan selama 3 jam dari daerah kota ke perkebunan jati itu. Sungguh sangat melelahkan, perjalanan yang sangat rusak membuatnya semakin lama.
Sesampainya di depan gubuk yang usang, dan ada 2 mobil yang terparkir disana. Benar saja satu mobil hitam itu berflat nomor sama dengan mobil yang membawa paksa Zahra saat dilihat di cctv.
Arka, Rio dan semua anak buahnya masuk kedalam dengan mengepung semua sisi gubuk itu. Baru saja sampai Arka dan Rio sudah terpaut baku hantam dengan anak buah dari bos Hanjaya itu.
Zahra mendengar keributan itu, hatinya merasa lega dengan mendengar suara Arka suaminya yang pasti datang untuk menjemput dirinya.
"Diam kau! Kalau berani bersuara pisau ini tak akan segan melukai mu!" ancam wanita yang betubuh seksi itu sembari membekam mulut Zahra dengan telapak tangannya, juga menyimpang pisau didekat leher Zahra sebagai ancamannya
Arka dan Rio mampu melumpuhkan 2 orang anak buah yang berjaga di pintu depan, sementara yang lain masih saja terdengar suara pukulan di belakang gubuk dan sisi luar itu. Arka menemukan satu ruangan kecil tanpa pintu, benar saja istrinya sedang duduk terikat dengan mulut ditutup oleh wanita yang ternyata Arka mengenalinya.
"Risa?" ucap Arka begitu terkesiap melihat wanita bertubuh seksi dengan pakaian serba ngetat itu
"Kau masih mengenali ku, Arka?" ucap Risa yang ternyata dalang dari penculikan ini, dengan suara sinisnya
"Untuk apa kau melakukan semua ini? Ada masalah apa kau dengan ku?" tanya Arka dengan wajah memerah, mulai naik emosinya
"Kau ingin tahu Arka?" ucap Risa pada Arka yang sebenarnya bukan pertanyaan yang harus di jawab.
"Kau sudah mengambil apa yang aku mau! Tak hanya zaman sekolah dulu, kau selalu mengalahkan aku menjadi ranking 1, dan kini kau sudah mengambil beberapa kolega ku dan berpindah pada perusahaan mu!" ucap Risa dengan sinis penuh penekanan
"Lalu kau mau apa? Masalah mu dengan ku, jangan kau menyakiti istriku! Hadapi aku!" ucap Arka yang sudah keburu emosi
"Enak saja kau bilang! Kau meraih semua kebahagiaan dengan mudah! Kau mengambil kolega ku dan membuat aku bangkrut bukan cuma aku, tapi keluarga ku jadi susah!" ucap Risa dengan sangat marahnya
"Lalu kau mau apa?" tanya Arka dengan suara yang tak kalah tinggi
"Apa kau akan menuruti semua kemauanku?" tanya Risa dengan mulai senang
__ADS_1
Tanpa ia sadari, Rio sudah lebih dulu ada di belakang dirinya dan menodongkan pistol yang ia bawa dari kedua anak buahnya yang sudah ia kalahkan tadi.
"Lepaskan dia atau peluru ini akan bersayang di otak mu!" ucap Rio balik mengancam Risa
Risa jelas ketakutan sekali ketika melihat pestol yang sudah di tempelkan di pinggir keningnya itu. Risa dengan spontan mengangkat tangannya dan menjatuhkan pisau yang ia genggam sedari tadi ke lantai.
Dengan cepat Arka mengambil pisau itu lalu membuka ikatan tangan dan kaki Zahra.
Tak lama polisi datang dengan ikut mengepung seluruh bangunan gubuk usan itu. Anak buah Arka menyerahkan anak buah yang mampu mereka lumpuhkan pada polisi, dengan cepat polisi memborgol kedua tangan mereka masing-masing.
2 orang polisi yang masuk kedalam, langsung menemui Arka, Rio, dan Risa yang ada di tangan Rio itu.
"Nyonya Risa anda resmi menjadi tahanan!" ucap polisi sembari memborgol tangan Risa.
Risa hanya menyerah pasrah. Dirinya tak mampu lagi berkata-kata.
"Tuan Arka, Nyonya.. Kami tunggu kesaksian kalian semua di kantor" ucap satu orang polisi lagi pada Arka dan Zahra
"Baik Pak.. " jawab Arka dengan cepat
"Saya minta jaminan keselamatan untuk keluarga saya, Pak.." lanjut ucap Arka dengan sangat hormat
Malam semakin larut, Rio mengantarkan Arka dan Zahra untuk kembali pulang. Terlihat jelas saut wajah Zahra masih trauma, ia tak bisa duduk dengan tenang, Arka yang menemaninya duduk dibelakang sangat merasakan kegelisahan itu.
"Sayang tenang yaaa.. Kita akan pulang" ucap Arka lalu memeluk Zahra dengan sangat erat
Rio memperhatikan Arka dan Zahra dari balik cermin yang ada di depan.
"Arka, apa kita perlu ke Rumah sakit dulu?" tanya Rio menawarkan karena khawatir melihat kondisi Zahra
"Aku hanya ingin cepat pulang.." ucap Zahra dengan tangis yang meleleh dalam dada Arka
"Kita pulang saja dulu, Pak Rio.. Istri saya masih sangat ketakutan" jawab Arka pada Rio
Rio hanya mengangguk, lalu terus mengendarai mobilnya dengan sangat cepat karena waktu yang sudah malam juga.
Nisa mendengar kabar baik dari pesan WA yang dikirimkan putranya itu, kini hatinya sangat merasa lega, menantunya sudah selamat dan dalam perjalanan pulang. Nisa juga bingung kenapa disekeliling rumahnya banyak orang dengan badan tegap yang berjaga-jaga di luar.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Zahra yang masih sangat trauma itu langsung masuk kedalam kamar, Arka menemaninya dengan sangat setia. Nisa yang ingin sekali memastikan kondisi Zahra juga ikut keatas melihat keadaan menantunya itu, bersama dengan Rio.
"Pak Rio, terimakasih banyak untuk hari ini.." ucap Arka ketika telah membaringkan Zahra
"Sama-sama, Ka.." jawab Rio dengan cepat sembari menepuk pundak Arka itu
"Oh iya, mereka jangan dulu pulang, berjaga sampai pagi disini, aku masih khawatir dengan keselamatan keluarga ku.." ucap Arka lagi pada Rio
"Iya siap.." jawab Rio dengan cepat
"Aku akan mengurus ke kantor polisi besok pagi saja. Sekarang aku akan menenangkan istriku dulu" ucap Arka lagi
"Iya kau benar. Bila ada apa-apa segeralah telepon saya, yaaa?" ucap Rio sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang.
******
Pagi menyapa, Zahra sudah lebih tenang dari semalam. Ia sudah terlihat lebih fresh karena sudah mandi, begitu juga dengan Arka.
"Sayang, kita ke dokter yuuu.. Untuk memastikan kesehatan kamu" ucap Arka dengan lembut pada istrinya itu
"Tidak perlu Mas, aku merasa baik-baik saja kok" jawab Zahra dengan cepat
"Ya sudah kalau gitu, tapi kalau ada sesuatu yang sakit cepat beri tahu aku yaaa.." ucap Arka dengan lembut lalu mencium mesra kening Zahra
"Hari ini aku akan pergi ke kantor polisi dulu, dan akan meminta pengawalan untuk rumah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi yang membahayakan keselamatan kamu dan Ibu" lanjut ucap Arka memberitahu kan pada Zahra
"Iya Mas janji.. Iya Mas aku juga masih sangat takut untuk keluar rumah sendiri" jawab Zahra dengan cepat
"Untuk beberapa hari kedepan kamu dan Ibu jangan dulu keluar rumah yaaa.. Maaf mungkin kalian akan terganggung dengan adanya orang-orang berbaju hitam itu.." ucap Arka pada Zahra
Zahra hanya menganggukan kepalanya, ia mengerti dengan niat suaminya.
Sarapan pun berlangsung, Nisa sudah menunggu di meja maka bersama kedua asisten rumah tangganya itu. Arka dan Zahra baru saja turun kebawah.
"Arka bagaimana dengan orang-orang itu, mereka juga butuh makan bukan?" tanya Nisa pada Arka
"Iya Bu.. Ibu tenang saja, jangan memikirkan mereka, mereka sudah di atur oleh Pak Rio, mereka juga akan bergantian sebentar lagi.." jawab Arka dengan santai
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Nisa dan Zahra ikut ke kantor polisi bersama Arka, tetap di ikuti oleh 2 body guard yang terpisah mobil.
Di kantor Polisi, Zahra akan di mintai keterangan akan kejadian kemarin yang menimpanya itu.